
“Makanlah!” perintah Zain sembari menyodorkan dua bungkus sandwich kepada Zahra yang duduk di sebelahnya.
Zahra menerima bungkusan tersebut dalam diam, ia masih merasa agak kesal kepada suaminya tersebut. Bayangkan saja, waktu sudah menunjukkan pukuk 14.00 namun perutnya belum menerima asupan apa pun sejak pagi.
“Makanlah dan jangan cemberut seperti itu jika kamu tidak ingin aku menerkammu saat ini juga!” ancam Zain yang tahu bahwa istrinya tengah merajuk.
Mendengar ucapan suaminya yang ia anggap memalukan Zahra memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela sambil memakan sandwich yang ada ditangannya. Bayangkan saja, mereka tengah duduk di dalam mobil dengan Barra dan Hani di kursi belakang, sedangkan Yitian dan Mr. Ma duduk di kursi depan, Mr. Ma yang menjadi sopir mereka.
Waktu 10 menit yang Zain janjikan di dalam panggilannya ternyata berubah menjadi 1 jam lebih karena ia harus menunggu sang istri yang tengah keasyikan merelakskan tubuhnya dengan berendam, mungkin jika Zain tidak membuka pintu kamar mandi dengan kunci cadangan, istrinya itu masih tertidur di dalam bathub.
“Ingat! Nanti di lokasi kamu dan Hani tunggu di dalam mobil dan jangan keluar!” peringat Zain untuk ke sekian kalinya.
“Hmm,” jawab Zahra sambil mengunyah sandwich dimulutnya.
“Jaga Zahra untukku, Hani!”
“Baik, Tuan.”
“Kamu tidak lapar, Sayang?” tanya Zahra yang tersadar bahwa suaminya juga belum makan sejak pagi.
“Aku sudah makan tadi saat menunggumu tidur di dalam bathub,” jawab Zain santai.
“Sayang!” tegur Zahra karena merasa malu dengan orang-orang di dalam mobil tersebut. Karena dirinya mereka harus menunggu lebih dari satu jam lamanya.
“Makanlah!” ucap Zain lalu mengacak rambut istrinya.
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah pelabuhan yang ramai dengan orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan masing-masing. Zain kembali mengingatkan istrinya agar tetap menunggu di dalam mobil sebelum ia turun dari mobil.
“Tetap berada di dalam mobil, ingat itu!” ucap Zain tegas, hanya ada mereka bertiga di dalam mobil, Barra dan yang lainnya sudah keluar terlebih dahulu.
“Iya,” jawab Zahra cepat.
“Baik, Tuan,” jawab Hani hampir bersamaan.
Cup!
Hani segera memalingkan wajahnya ketika melihat tuan mudanya tersebut mencium bibir istrinya tepat di depan matanya. Bahkan bukan hanya sekedar kecupan saja, namun Zain bermain dengan benda yang menjadi candunya tersebut.
‘Astaga! Kenapa aku bisa berada di sini? Mereka yang berciuman kenapa aku yang merasa malu dan kenapa pula jantungku yang berdebar seperti ini? Bodohnya kamu Hani ...,’ rutuk Hani dalam hati.
“Bernafas bodoh! Apa kamu ingin mati dan meninggalkanku sendiri?” tanya Zain dengan nada mengejek setelah ia melepaskan pagutannya.
“Zain!” Zahra berteriak ketika tersadar telah dipermainkan oleh suaminya tersebut, ia teringat bahwa di dalam mobil ada orang lain selain mereka berdua lalu mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.
“Manis, aku sangat menyukainya.” Zain menyentuh bibir istrinya yang terlihat kemerahan akibat ulahnya.
“Sayang, ada Hani di sini!” peringat Zahra dengan menahan malu di wajahnya, ia tak habis pikir suaminya itu melakukan hal tersebut di depan Hani.
“Apa kamu melihatnya, Hani?” tanya Zain tanpa mengalihkan matanya dari wajah sang istri.
“Eh, tidak Tuan, sa-saya tidak melihat apa pun,” jawab Hani tergagap karena mendapat pertanyaan mendadak dari tuan mudanya tersebut.
“Jangan menjadikan Hani sebagai alasan, Honey. Dia sendiri yang mengatakan bahwa tidak melihat apa pun.”
“Tapi-”
__ADS_1
“Sudahlah, aku pergi dulu. Ingat tetap berada di dalam mobil!” ulang Zain.
“Iya-iya, cepat sana pergi!”
Cup!
Zain mengecup kening Zahra sebelum benar-benar keluar dari mobil tersebut.
“Ha-Hani, maaf ya ...,” lirih Zahra merasa canggung kepada Hani.
“Tidak apa-apa Nona, saya benar-benar tidak melihatnya,” jawab Hani semakin membuat Zahra malu.
Zain melangkahkan kakinya dengan lebar menghampiri kerumunan orang di ujung dermaga, terlihat Yitian dan Barra sedang berbincang serius bersama beberapa orang berseragam biru. Sedangkan para pengawalnya bersebaran di sekitar lokasi.
“Good afternoon Mr. Yang Yang,” sapa salah seorang petugas polisi tersebut.
“Selamat siang,” jawab Zain datar.
“Tuan, diperkirakan kapalnya akan tiba dalam waktu 15 menit.” Barra menjelaskan apa yang sudah dijelaskan oleh petugas polisi tersebut kepadanya.
“Kenapa lama sekali? Mencari satu orang saja sampai berhari-hari,” kesal Zain.
“Piuko!” tegur Yitian merasa ucapan sepupunya tersebut terlalu kasar.
“Apa?” tanya Zain tidak mau disalahkan.
“Keberadaan piumui berada di luar negara kita, jadi kita hanya bisa menunggu kabar dari petugas negara tersebut,” jelas Yitian, kali ini ia berbicara dengan serius tanpa diselingi candaan.
*(Piumui adik sepupu perempuan, piujie/piuce kakak sepupu perempuan).
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Dia adik kamu, bagaimana cara kamu menjaganya? Bukannya malah menyalahkan kami di sini!” Yitian tidak terima karena sepupunya itu menyalahkan keluarganya atas menghilangnya adik sepupu perempuannya.
“Kamu!”
“Tuan!” Barra dengan sigap mencegah tangan tuan mudanya itu yang hendak melayangkan pukulan kepada Yitian.
“Tuan, tenang. Jangan menyalahkan tuan Yitian, kita tunggu penjelasan dari pihak Macau yang bertugas.” Barra mencoba melerai keduanya, bahkan beberapa polisi di dekat mereka bersiaga untuk menjaga keduanya agar tidak terjadi keributan.
“Ck! Br*ngsek!” maki Zain entah ditujukan kepada siapa, ia hanya ingin melampiaskan kekesalannya tersebut.
Di dalam mobil, Zahra yang merasa bosan karena tidak melakukan kegiatan apa pun, berusaha membujuk Hani agar mau diajak keluar melihat laut yang begitu menggodanya.
“Ayolah Hani, sebentar saja. Aku sangat ingin melihat laut itu ...,” rayu Zahra dengan wajah melasnya.
“Tapi Nona, tuan muda melarang kita untuk meninggalkan mobil. Di luar juga ada banyak penjaga yang mengawasi kita.”
“Ck! Benar-benar membosankan,” kesal Zahra.
“Anda bisa menonton drama Korea atau drama China, Nona. Pasti Anda tidak akan merasa bosan,” usul Hani.
“Zain melarangku menonton segala macam drama, Hani. Jika aku nekat menontonnya bisa-bisa pria dingin itu akan membubuhku!” ucap Zahra kesal karena teringat akan larangan konyol suaminya tersebut, segala gerak geriknya selalu diawasi langsung oleh sang suami. Zain selalu tahu apa pun yang Zahra buka melalui ponselnya tersebut.
“Tidur saja, Hani! Aku masih mengantuk.” Zahra mencoba memejamkan matanya, namun tidak berhasil karena bayang-bayang lautan biru yang begitu mengusiknya.
“Hani, aku mau ke toilet.”
__ADS_1
“Tapi, Nona ....” Hani merasa ragu untuk sekedar mengiyakan ucapan nonanya.
“Ck! Hanya ke toilet, tidak mungkin aku buang air di dalam mobil, kan?” Zahra mengedarkan pandangannya seperti sedang mencari sesuatu.
“Ayo cepat, Hani!” ajak Zahra tak sabar, ia meraih sesuatu di jok belakang sebelum keluar dari mobil tersebut.
“Nona, Anda dilarang untuk keluar dari mobil,” tegur salah satu penjaga yang bertugas di luar mobil.
“Aku hanya ingin pergi ke toilet, Mr., sebentar saja.”
“Baiklah, mari saya antarkan kalian ke toilet.”
Zahra dan Hani mengekor di belakang penjaga tersebut yang mengantar mereka menuju salah satu toilet umum di sekitar sana. Meskipun hanya toilet umun, namun kebersihan dan kenyamanannya tetap terjaga dengan baik.
Zahra masuk ke dalam toilet diikuti oleh Hani, sedangkan penjaga tadi menunggu mereka di luar tidak jauh dari toilet tersebut.
“Nona, kenapa Anda memakai mantel tersebut?” tanya Hani yang melihat nonanya sedang memakai mantel yang diambil tadi, padahal cuaca di luar terasa begitu panas.
“Kamu tidak lihat pakaianku sedikit tipis? Aku merasa tidak nyaman dan tidak membawa jaket. Jadi aku meminjam mantel ini, entah punya siapa tapi pas ditubuhku,” jawab Zahra santai.
Mereka berdua masuk ke dalam bilik secara bersamaan, tak berselang lama Hani keluar dari biliknya dan mendapati bilik yang tadi dipakai oleh nonanya masih tertutup.
“Nona, apakah Anda belum selesai?” tanya Hani yang merasa telah menunggu cukup lama, namun nonanya belum juga keluar dari bilik tersebut.
“Nona!” ulang Hani memastikan keberadaan nonanya.
Karena tidak mendapat jawaban, Hani merasa cemas. Ia takut terjadi sesuatu kepada nonanya tersebut.
Ceklek.
Terdengar pintu bilik yang terbuka, pintu dimana Zahra masuk tadi.
“No-” Hani terpaku mendapati bahwa bukan Zahra yang keluar dari dalamnya, melainkan orang lain.
“Nyonya, apakah Anda melihat wanita yang tadi masuk ke dalam bilik ini?” tanya Hani dengan wajah paniknya.
“Ngo em ci nei gong mat yea, leng loi,” jawab wanita paruh baya tersebut semakin membuat Hani bertambah bingung karena ia tidak paham apa yang diucapkan oleh wanita itu, Hani hanya bisa berbahasa Inggris saja.
*(Saya tidak tahu apa yang kamu ucapkan, gadis cantik).
“Nona!” panggil Hani lagi, ia memutuskan untuk menunggu semua bilik terbuka, ada 6 bilik di dalam toilet tersebut, namun hingga bilik terakhir terbuka Hani tetap tidak menemukan keberadaan nonanya tersebut.
“Nona!” Hani keluar dari toilet dengan wajah kusam, antara takut, cemas dan panik.
“Nona, ke mana Anda pergi? Bagaimana caranya saya menjelaskan kepada tuan muda,” lirih Hani dengan mata berkaca-kaca, ia menghampiri penjaga yang berada tak jauh darinya.
“Tuan, apa Anda melihat nona Zahra keluar dari toilet?” tanya Hani cemas.
Penjaga tersebut terlihat bingung, sedari tadi ia tidak melihat nonanya keluar dari toilet. Ia bahkan merasa heran karena menunggu kedua wanita itu begitu lama berada di dalam toilet, hampir 30 menit lamanya.
“Apa maksud Anda, Nona? Sedari tadi saya menunggu di sini dan belum melihat keberadaan nona Zahra, bukankah Anda bersama nona Zahra?” tanya balik penjaga tersebut.
“Tuan, no-nona Zahra tidak berada di dalam, saya sudah menunggunya lama bahkan menunggu hingga tidak ada orang lagi di dalam sana,” jelas Hani dengan suara parau, ia tidak bisa lagi untuk membendung air matanya.
“Ck! Sial! Aku kecolongan.” Penjaga tersebut terlihat cemas namun sebisa mungkin ia menutupinya dengan tetap tenang di hadapan Hani yang terlihat kacau.
__ADS_1