
Pagi itu Zain kembali menyerahkan semua pekerjaannya kepada sang asisten, ia sendiri sibuk merayu istrinya untuk mau diajak keluar dari ruangan yang disebut penjara oleh Zain.
“Ayolah Zahra, coba sekali saja kita keluar dari kamar ini! Apa kamu tidak bosan terus-menerus terkurung di dalam penjara ini?” kesal Zain merasa frustrasi menghadapi istrinya yang keras kepala.
“Jika kamu selalu seperti ini kapan kamu akan sembuh? Lawan ketakutanmu, hanya dirimu sendiri yang dapat membantumu!” ucap Zain lalu melangkah keluar meninggalkan Zahra yang duduk di sofa tengah bergelayut di lengan ayahnya.
Zain ingin menenangkan dirinya, ia tidak mau lepas kendali di hadapan istrinya yang belum sembuh total.
“Sayang, apa yang dikatakan suami kamu benar. Cobalah untuk melawan ketakutan kamu, jangan takut, ada banyak orang yang menyayangi dan ingin melindungi kamu.” Tuan Harun mencoba membujuk putrinya.
Zahra mengangkat wajahnya, ia menatap lekat wajah ayahnya seakan ingin mengatakan sesuatu namun tak ada yang keluar dari mulut Zahra lalu ia kembali menyenderkan kepalanya ke bahu sang ayah.
“Jika kamu terus terjebak dari masalah ini, maka selamanya kamu tidak akan bisa mengunjungi makam umma kamu dan bertemu kakak laki-laki kamu,” ucap tuan Harun setelah beberapa menit hanya ada keheningan di antara mereka berdua.
“Umma?” Zahra menautkan alisnya bingung, ia memperbaiki posisi duduknya sehingga menghadap ke ayahnya.
“Umma. Kakak kamu waktu kecil memanggil ibumu dengan sebutan umma. Dia sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang hafiz sesuai harapan umma kalian, umma kalian pasti bahagia di sana.” Tuan Harun menatap ke arah langit-langit ruangan, berharap ia bisa membendung sesuatu yang hendak menerobos keluar.
“Zahwa takut, Pa.”
“Sayang, cobalah perlahan. Jika kamu tidak mencobanya, maka kamu tidak akan pernah bisa keluar dari labirin yang telah terbentuk dalam pikiranmu.”
Tuan Harun mengusap kepala putrinya, ia terlihat begitu menyayangi Zahra. ‘Andaikan waktu bisa diputar, tak akan pernah aku menyia-nyiakan keberadaan kamu, Sayang. Putri papa dan umma.’
“Kenapa kakak tidak pernah berkunjung ke rumah?” tanya Zahra penasaran.
“Maafkan papa, Sayang. Semua salah papa, papa egois tidak memikirkan perasaan kalian,” sesal tuan Harun.
“Papa jangan meminta maaf terus dong, Zahwa sudah memaafkan Papa.”
Tuan Harun tidak dapat lagi menahan tangisnya, ia menangkup wajah putrinya dengan kedua tangannya lalu mencium kening Zahra.
“Berjanjilah untuk segera sembuh, Sayang. Temani papa untuk bertemu keluarga umma kamu, papa banyak salah sama mereka, terutama kakak kamu yang tidak mengetahui tentang keberadaan orang tua kandungnya.”
Tuan Harun menarik tubuh putrinya ke dalam pelukannya, begitu pun dengan Zahra yang membalas pelukan sang ayah.
“Ehem!”
Zain berdiri di depan pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
“Jangan bertingkah seperti anak kecil! Tidak malu dengan statusmu yang sudah bersuami!” ucap Zain dingin, merasa jengah melihat sang istri tidak sedikit pun lepas dari ayahnya.
“Maaf, Tuan.” Tuan Harun merasa tidak enak karena mendapatkan tatapan membunuh dari menantunya.
Zain melangkah masuk di ikuti oleh seorang perawat yang mendorong troli makanan.
“Makanlah! Dan jangan pernah melupakan obatmu, jangan mentang-mentang mommy tidak berada di sini kamu tidak memakan vitamin ini.” Zain meletakkan vitamin Zahra yang ia ambil dari nakas ke telapak tangan Zahra.
“Saya tidak pernah melewatkannya, Tu- Sa-sayang,” jawab Zahra dan membuat wajahnya memerah karena kata terakhir yang di ucapkannya.
“Good girl.”
‘Jangan pernah melewatkan suplemen yang aku berikan jika tidak ingin mommy membuatmu dimadu karena belum bisa memberikan cucu untuknya,’ ucap Zain dalam hati sembari tangannya mengacak-acak kepala Zahra membuat rambutnya sedikit berantakan.
“Makanlah, jangan sampai ada sisa sedikit pun! Aku ada perlu sebentar di luar. Jangan macam-macam selama aku tinggal," ancam Zain.
“Iya,” jawab Zahra patuh, bagaikan kucing yang begitu penurut dengan tuannya.
‘Bisa-bisa aku gendut jika tuan Zain terus menerus memberiku makan dengan porsi sebanyak ini,’ gerutu Zahra menatap menu makan siangnya yang sudah ditata rapi oleh perawat tadi di atas meja.
“Jangan menggerutu di dalam hati, nanti cepat tua!” tegur Zain yang melihat Zahra mengerucutkan bibirnya.
Zahra menoleh ke arah suaminya berada. ‘Bagaimana tuan Zain selalu tahu saat aku mengeluh di dalam hati?’ batinnya.
“Tidak,” jawab Zahra cepat sambil menggelengkan kepalanya.
Zain tersenyum samar melihat wajah istrinya yang ia anggap sangat lucu dan menggemaskan.
“Bohong!” tuduh Zain.
“Tidak, mana berani saya berbohong kepada Anda,” sangkal Zahra.
“Coba tatap mata saya jika kamu tidak berbohong.”
Tanpa curiga Zahra menurut begitu saja, Zain membalas tatapan mata istrinya sehingga pandangan mereka terkunci. Perlahan Zain mulai mendekatkan wajahnya dan ....
Cup!
“Manis.” Zain segera menjauh dari wajah istrinya.
__ADS_1
“Jaga istriku selagi aku keluar!” perintah Zain kepada ayah mertuanya lalu meninggalkan Zahra yang masih terbengong dengan keterkejutannya.
“Baik Tuan.” Tuan Harun mengantar menantunya hingga di depan pintu lalu membungkukkan kepalanya tanda hormat.
“Sayang! Apa yang kamu lakukan?” tanya tuan Harun yang terkejut melihat putrinya masih membeku dengan kedua tangan yang menutup mulutnya.
“Eh, emh, i-itu, Pa.” Zahra terlihat gugup di hadapan ayahnya.
“Sudahlah, cepat makan dan habiskan makananmu kalau tidak ingin suamimu membunuh papamu ini,” ucap tuan Harun berniat untuk menggoda putrinya namun malah dianggap serius oleh Zahra.
“Aku akan menghabiskannya, Pa.”
Tuan Harun tersenyum dan duduk di samping putrinya, ia meraih makanan miliknya dan mulai memakannya perlahan.
‘Semoga kebahagiaan menyertai rumah tangga kalian, tuan Zain terlihat sangat menyayangimu.’
Zahra mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan kasar.
‘Huft, dasar tuan muda arogan. Kulkas berjalan, dikira aku cewek apaan main cium-cium tanpa izin!’ kesal Zahra mengingat sering kali suaminya itu mencium bibirnya sesuka hati tanpa izin darinya bahkan tidak melihat keadaan di sekitarnya. Bagi Zain bibir Zahra adalah candu baginya.
Sedangkan di sebuah mobil mewah yang melaju kencang menerobos keramaian jalanan kota tanpa sedikit pun merasa terganggu dengan suara klakson dan umpatan dari pengguna jalan lainnya.
Mobil yang hanya berisi dua makhluk dingin namun semakin membuat aura ketampanan terpancar dari wajah mereka. Siapa lagi jika bukan tuan muda Zain dan asistennya.
“Di mana mereka sekarang?” tanya Zain tanpa menatap ke arah lawan bicaranya, matanya fokus menatap layar ponsel di tangannya.
“Sedang menuju kediaman tuan Harun,” jawab Barra yang tengah fokus dengan kemudinya.
Setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang ditugaskan menjadi sopir sekaligus bodyguard Ny. Amara, Barra bergegas meninggalkan kantor dan memberi kabar kepada tuannya.
“Apa yang mommy lakukan datang ke rumah j*lang itu?”
“Saya juga tidak tahu, Tuan.”
30 menit kemudian mobil Zain sampai di depan rumah ayah mertuanya, ia bergegas turun tanpa menunggu Barra membukakan pintu untuknya.
“Apa yang kamu lakukan dasar j*lang!” teriak Zain dengan rahang mengeras dan wajah memerah yang masih berdiri di ambang pintu.
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ... ☺️🤗
maaf beberapa hari tidak up karena othor ada kesibukan di real life.