Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 57. Kecemasan Semua Orang


__ADS_3

“Zain! Kamu gila ya? Aku tidak mau mati konyol bersamamu!”


Zahra berteriak ketakutan, baru kali ini Zahra naik mobil dengan laju yang sangat cepat membuat tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Ia memilih untuk memejamkan matanya rapat-rapat berharap dapat mengurangi rasa takutnya.


“Zain! Pelankan mobilnya, kalau mau mati sana mati sendiri jangan mengajak orang lain! Aku masih mau hidup, aku masih muda, aku mau kuliah dan punya anak, aku juga mau ketemu kakak aku!” racau Zahra tidak jelas, ia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat seakan ingin keluar dari tempatnya.


Zain mengabaikan istrinya dan fokus dengan jalan di depannya. Beruntung jalanan terlihat senggang di malam hari, sehingga tidak ada kendala di sepanjang perjalanan.


Saat mobil mereka mulai memasuki area perhutanan menuju mansion utama, Zain semakin gila melajukan mobilnya membuat istrinya semakin histeris dalam teriakannya.


5 menit kemudian mobil Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Talesto berwarna merah menyala milik Zain sudah sampai di halaman mansion utama. Zain menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama rumahnya.


Zain keluar dari mobil dan berjalan ke arah pintu samping, ia mendapati tubuh istrinya yang masih duduk tegang dengan mata yang tertutup.


“Ck! Cepat turun, apa kamu ingin tidur di dalam mobil?” tanya Zain kesal, tubuhnya terasa lelah seharian pulang pergi ke luar kota, ditambah hatinya yang dibuat kacau oleh tindakan istrinya yang menghilang tanpa kabar dan berani melanggar pertautan yang sudah dibuatnya, yaitu untuk selalu izin kepadanya ke mana pun Zahra pergi.


Zain yang melihat tidak ada pergerakan dari istrinya langsung membuka seat belt dan dengan entengnya mengangkat tubuh Zahra yang sudah lebih berisi sejak awal pertemuan mereka.


“Akh!” teriak Zahra terkejut karena merasakan tubuhnya melayang akibat ulah suaminya.


“A-apa yang kamu lakukan?” tanya Zahra yang tersadar dari keterkejutannya.


Zain mengabaikan pertanyaan istrinya, ia justru semakin melebarkan langkahnya masuk ke dalam rumah dengan tubuh istrinya yang berada dalam gendongannya.


Zahra yang masih sibuk menetralkan napas dan detak jantungnya hanya bisa pasrah dalam gendongan suaminya, kakinya juga masih terasa lemas mungkin tidak akan sanggup untuk berjalan sendiri.


Zain melangkah menuju lift dan mengabaikan Barra dan pelayan lainnya yang menunggu kedatangan mereka dengan wajah cemas, karena sebelumnya Zain meninggalkan rumah dalam keadaan marah.


Semua orang di ruangan itu merasa cemas menatap tuan mereka yang menghilang di balik pintu lift yang tertutup. Apalagi melihat nona mereka yang terlihat tak berdaya dalam gendongan suaminya.


Brak!


Suara pintu yang ditutup kasar dari lantai tiga membuat semua orang memejamkan mata mereka. Satu yang ada dalam pikiran mereka, tuan mereka pasti dalam keadaan marah besar, bahkan suara pintu kamarnya sampai terdengar di lantai dasar.


‘Tuan, semoga Anda bisa mengontrol emosi Anda. Ingat bahwa psikis nona masih belum stabil, jangan sampai terjadi sesuatu ke depannya yang akan membuat Anda menyesal.’ Barra merasa waswas dalam hatinya.


‘Nona, semoga Anda baik-baik saja.’ Batin bi Nur yang juga mencemaskan keadaan nona mudanya tersebut.


‘Semoga nona Zahra tidak kenapa-kenapa,’ batin pelayan lainnya.


‘Semoga tuan Zain tidak menghukum nona Zahra,’ doa pelayan lainnya.


Semua orang menghawatirkan Zahra, karena mereka tahu jika tuannya sangat mengerikan ketika sedang marah.


“Zahra!” teriak Ny. Amara yang masuk dengan terburu-buru.

__ADS_1


Belum sempat hilang keterkejutan semua orang di ruangan itu, kedatangan Ny. Amara sekali lagi berhasil membuat mereka semua terkejut.


“Huft! Zah-Zahra mana?” tanya Ny. Amara dengan napas yang tersengal-sengal.


“Di kamar tuan Zain, Nyonya.” Barra menjawab dengan setenang mungkin.


“Hah!” Ny. Amara semakin cemas, ia berjalan cepat ke arah tangga dan mengabaikan panggilan Barra dan bi Nur yang meneriakinya. Ny. Amara menaiki satu persatu anak tangga menuju ke lantai tiga.


“Kenapa kamu sudah ada di sini?” tanya Ny. Amara kaget dengan napas tak beraturan melihat Barra yang sudah berdiri diujung tangga di lantai tiga.


“Saya naik menggunakan lift, Nyonya.”


“Kenapa kamu diam saja melihat aku menaiki tangga sialan ini!” kesal Ny. Amara karena ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa berada di lantai tiga.


“Tadi saya sudah mema-”


“Bodoh!” seru Ny. Amara memotong ucapan Barra yang belum sempat terselesaikan.


‘Tadi saya sudah memanggil Anda, nyonya. Hanya saja Anda mengabaikannya,’ gerutu Barra dalam hati.


Ny. Amara berjalan ke arah pintu kamar putranya lalu mengedor pintu di depannya.


Brak! Brak! Brak!


“Zain! Buka pintunya!”


Ny. Amara memutar tubuhnya menghadap ke arah Barra lalu ia menatap tajam pemuda di depannya. “Cepat dobrak pintu ini, Barra!”


Barra melebarkan matanya mendengar perintah ibu dari tuannya tersebut. Tidak mungkin ia mendobrak pintu kamar tuannya, bisa dipastikan bukan hanya kariernya saja


yang terancam. Nyawanya pun bisa terancam kerenannya.


“Cepat Barra! Kamu tidak ingin kan, jika tuan gilamu itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Zahra!” desak Ny. Amara.


Barra semakin bingung, di satu sisi ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada nona mudanya, namun di sisi lain ia takut kepada tuan mudanya. Di sini karier dan nyawanya yang dipertaruhkan.


“Tapi, Nyonya ....” Barra terlihat ragu.


“Cepat Barra!”


Di saat keduanya sibuk berselisih, pintu kamar Zain terbuka dari dalam dan muncullah sosok yang menjadi penyebab timbulnya masalah, yaitu Zain.


“Kenapa malam-malam kalian ribut di depan kamarku?” tanya Barra dingin.


“Di mana menantu mommy?” Ny. Amara hendak menerobos masuk namun dihalangi oleh tubuh putranya.

__ADS_1


“Kenapa Mommy mencari istriku? Bukankah seharian dia sudah bersama Mommy?”


“Zain! Kamu jangan macam-macam ya! Tadi adik-adik kamu bilang bahwa kamu menculik menantu mommy bahkan kamu menariknya dengan kasar!”


“Hah, yang benar saja! Dia istriku Mom, tidak mungkin aku menculiknya,” elak Zain.


“Tapi mereka bilang kamu datang dan membawa Zahra pergi dengan wajah yang mengerikan seperti monster,” ucap Ny. Amara mengingat perkataan dari anak-anak Ziya’s House yang segera melapor kepadanya setelah kepergian Zain dari tempat itu.


“Hmmb!” Barra mengatupkan mulutnya rapat-rapat, hampir saja ia kelepasan untuk tertawa jika saja Zain tidak menatapnya dengan mata tajam elangnya.


“Ck! Mengganggu saja, turunlah Mom, jika mommy menginginkan seorang cucu maka jangan menggangguku!”


Ny. Amara menelisik wajah putranya, menilai apakah putranya tidak akan berbuat hal buruk kepada menantunya itu.


“Jangan macam-macam kamu, Zain!”


Setelah berhasil meyakinkan ibunya, Zain kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu kamarnya. Meraih benda pipih di atas nakas dan menekan beberapa tombol yang ada di remote kontrol tersebut.


“Honey!” Zain memanggil istrinya yang belum juga keluar dari dalam walk in closet untuk berganti pakaian.


“Sebentar!” teriak Zahra dari dalam walk in closet.


“Apa perlu aku ke sana dan membantu memakaikan pakaian untukmu?”


“Jangan! Tunggu sebentar lagi.”


Zain duduk di tepi ranjang, tangannya sibuk mengetik sesuatu pada layar ponselnya.


“Sa-sayang ....,” panggil Zahra yang sudah berganti pakaiannya.


Zain mengangkat wajahnya, ia terpesona melihat penampilan istrinya. Dilemparkannya ponsel miliknya ke sembarang arah, lalu ia bangkit dan berjalan ke arah sang istri berdiri mematung di tempatnya.


“Honey, kamu terlihat sangat sexy malam ini.” Zain menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


“Sa-sayang.” Zahra merasa gugup dan merasa tidak nyaman dengan pakaian yang menempel lekat pada tubuhnya.


“Kenapa, hmm?”


“A-aku tidak nyaman dengan pakaian ini,” keluh Zahra lirih, apalagi tangan suaminya mulai bergerak liar di tubuh bagian belakangnya.


“Sudah aku katakan kamu akan terbiasa, Honey. Bahkan aku akan mebelikan lebih banyak lagi baju seperti ini dengan berbagai model yang berbeda. Kamu akan memakainya setiap malam, Honey!”


*****


__ADS_1


"Tolong matanya di kondisikan, Tuan." keluh Barra saat mendapat hadiah lirikan dari tuan mudanya.


__ADS_2