
“Papa!” seru Zahra dan berlari ke arah ayahnya yang berdiri di dekat pintu dan memeluknya.
Sedangkan Zain terbengong karena diabaikan oleh istrinya, padahal dia berada lebih dekat dengan tempat tidur Zahra.
“Pa, Zahwa kangen sama papa,” lirih Zahra di dalam pelukan papanya.
“Papa juga kangen sama kamu, Sayang.” tuan Harun balas memeluk tubuh putrinya, ia melirik ke arah menantunya yang terus menatapnya tajam dengan wajah yang sulit untuk diartikan.
‘Enak saja main peluk-peluk, aku saja harus bersusah payah hanya untuk berada di dekatnya. Dasar gadis nakal, awas saja nanti akan aku balas kamu!’ gerutu Zain di dalam hati, sungguh ia merasa kesal dengan perbuatan istrinya itu.
“Kapan Papa pulang?” tanya Zahra lalu melepaskan pelukan mereka dan mengajak ayahnya untuk duduk di sofa tanpa melepas pelukannya di lengan ayahnya.
“Tadi pagi, Sayang.”
“Papa sudah pulang ke rumah? Bagaimana kabar mama dan kak Nindy? Mama belum pernah menjenguk Zahwa, Pa.” Zahra duduk di sebelah papanya sambil bergelayut manja di bahu ayahnya.
“Papa belum pulang ke rumah, Sayang. Tadi papa ada urusan di kantor suami kamu dan langsung kesini.” Tuan Harun melirik ke arah menantunya yang terlihat ingin menerkamnya. Entah kali ini apa salahnya sehingga menantunya itu memasang wajah tidak suka kepada dirinya.
“Kak Nindy beberapa hari yang lalu datang ke sini, Pa. Dia bilang katanya kangen sama Zahwa, kapan-kapan juga ingin mengajak Zahwa jalan-jalan. Boleh ya, Pa.”
“Em, tanya sama suami kamu, Sayang. Nanti kalau kamu sudah sembuh Papa janji akan mengajak kamu dan kak Nindy pergi bersama.”
Zahra kembali memeluk tubuh ayahnya, wajahnya terlihat begitu bahagia.
“Terima kasih, Pa. Aku sayang sama Papa, sudah lama sekali nggak bisa peluk Papa,” ucap Zahra pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
“Ehem!” Zain berdehem karena merasa kesal melihat istrinya yang selalu menempel kepada ayahnya.
“Apaan sih kamu, Zain. Zahra kan memeluk papanya masa kamu cemburu!” ledek Ny. Amara karena melihat putranya dengan wajah yang ditekuk.
“Siapa yang juga cemburu!” elak Zain, ia lalu duduk di atas brangkar lalu meraih ponselnya dan berpura-pura sibuk memainkan benda pipih miliknya itu. Namun sesekali matanya melirik ke arah sofa.
Ny. Amara tersenyum melihat tingkah putranya, ia ikut duduk di dekat menantu dan besannya. Sedangkan Zahra kembali bermanja kepada ayahnya.
“Bagaimana kabar kamu, Harun?” tanya Ny. Amara berbasa-basi.
“Saya baik-baik saja, Nyonya. Terima kasih sudah merawat putri saya,” ucap tuan Harun dengan sopan.
“Tidak masalah, aku sudah menganggap Zahra sebagai putriku sendiri. Apalagi kelihatannya Zahra tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua ibunya.”
“Zahra sudah mengetahui semuanya, bahkan aku mengetahui hal ini dari putrimu yang malang ini,” ucap Ny. Amara dengan santai karena melihat keterkejutan di wajah besannya.
“Sayang ...,” panggil tuan Harun kepada Zahra, tangannya menangkup kedua pipi putrinya. Sedangkan Zahra hanya mampu menundukkan kepalanya.
“Apa benar kamu sudah tahu kalau mama bukan ibu kandung kamu?” tanya tuan Harun pelan dan dijawab dengan anggukan kecil oleh putrinya.
“Maaf.” Tuan Harun menarik tubuh Zahra dalam pelukannya. “Papa nggak bermaksud untuk menutupi semuanya dari kamu, Sayang. Maafkan papa, apa mama yang mengatakannya kepadamu?” tanya tuan Harun dengan hati-hati.
Sekali lagi Zahra hanya menganggukkan kepalanya di dalam pelukan ayahnya, Zahra mengeratkan pelukannya agar isakannya tidak keluar dari mulut mungilnya.
“Apa lagi yang dikatakan mama kepadamu?” tanya tuan Harun ingin tahu lebih banyak, namun Zahra hanya diam tanpa mengucapkan apa pun, tubuhnya terlihat bergetar dengan suara isakan kecil yang tak mampu lagi untuk ditahannya.
__ADS_1
Tuan Harun membiarkannya, tangannya mengusap pelan kepala Zahra dan membisikkan kata-kata untuk menenangkan putrinya.
“Jangan katakan jika kamu tidak ingin mengatakannya, Sayang. Papa sekarang sudah ada di sini. Papa akan selalu bersamamu, akan menjaga kamu. Ada juga suami dan ibu mertua kamu yang menyayangi kamu, kamu tidak lagi sendirian.”
Zain menatap ke arah mereka dengan wajah dinginnya, ada rasa luka, sedih, dan kebencian yang terpancar dari sorot matanya.
Juga terlihat kesedihan di wajah Ny. Amara, ada sesuatu yang terasa sesak di dalam dadanya ketika melihat kerapuhan dalam diri Zahra, ia kembali teringat dengan seseorang. ‘Apakah gadis itu sama terlukanya seperti Zahra? Mangkinkah aku harus mencoba untuk menerimanya? Nanti akan aku coba tanyakan kepada Zain tentang keberadaannya.’
“Sstt ... tenang, Sayang. Jangan menangis lagi ya, papa tahu kamu gadis yang kuat.”
Tuan Harun melepas pelukan mereka dan menghapus air mata di pipi putrinya dengan ibu jarinya. Lalu perlahan tangannya turun meraih tangan putrinya dan menggenggamnya.
“Maafkan papa ya, papa gagal menjadi ayah yang baik untuk kamu. Papa lalai, terlalu sibuk dengan pekerjaan papa.”
“Papa kenapa meminta maaf kepada Zahwa? Papa tidak bersalah.”
“Sayang-” tuan Harun tidak melanjutkan perkataannya ketika mengingat sesuatu. Dengan gerakan cepat ia menyingkap lengan baju putrinya.
Deg.
Bagaikan ditusuk sebilah pisau tepat di jantungnya, tuan Harun terpaku melihat langsung bekas luka di tangan putrinya. Sedari tadi tuan Harun mencoba untuk menyangkal kebenaran terkait foto-foto itu, berharap semuanya hanyalah sebuah kebohongan.
“Si-siapa yang melakukan ini kepadamu, Sayang?” tanya tuan Harun dengan suara bergetar, setetes air mata menetes membasahi pipinya.
Hai, salam dari author! Jangan lupa like dan komennya ya .... Terima kasih.
__ADS_1