Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 111. Penjelasan Zain


__ADS_3

Zain berlari menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar istrinya, di belakangnya Tania terlihat tergopoh-gopoh menyeimbangi langkah tuan mudanya yang tidak sebanding dengan langkahnya.


Brak!


Zain membuka pintu kasar pintu kamar Zahra tanpa mengetuknya terlebih dahulu membuat semua orang di dalam ruangan itu terkejut dan menatap ke arahnya yang berdiri di ambang pintu.


“Honey! Kamu tidak apa-apa, kan?” tanya Zain panik dan berjalan ke arah istrinya yang sudah terbangun dan duduk di atas brankarnya.


“Honey!” panggil Zain panik lalu menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan mengabaikan keberadaan dua perawat yang sedari tadi berada di dalam kamar Zahra namun tidak sedikit pun Zain melihat keberadaan mereka.


Sedangkan Tania baru berhasil menyusul Zain, ia berhenti di depan pintu dengan nafas yang tak beraturan. Tania mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum ikut masuk ke dalam kamar rawat nona mudanya.


“Sayang, lepaskan pelukanmu.”


“Tidak, aku tidak akan melepaskannya dan akan selalu memeluk kamu.” Zain semakin memeluk erat tubuh Zahra.


“Tapi-”


“Kenapa? Apa kamu tidak mau aku peluk?” tanya Zain dengan nada tak suka.


“Aku tidak bisa bernafas, Zain!” pekik Zahra kesal karena suaminya tidak mau mendengarkannya.


“Maaf.” Zain mengurai pelukannya dan diganti dengan memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah pucat istrinya, mengabsen setiap inci wajah cantik istrinya.


“Zain!” Zahra mendorong tubuh suaminya dengan sepenuh tenaga namun Zain sedikit pun tidak bergeming.


“Kenapa, Honey? Apa kamu membenciku?” Zain memasang wajah sedihnya dan menyatukan keningnya dengan milik istrinya membuat Zahra semakin malu dibuatnya.


“Zain, ada banyak orang di sini,” ucap Zahra malu.


“Hmm? Siapa? Apa kamu malu jika orang lain melihat kita seperti ini?” goda Zain membuat pipi Zahra semakin memerah.


“Kalian keluarlah!” perintah Zain kepada kedua perawat tersebut dan juga Tania yang sedari tadi hanya menunduk malu hanya dengan melihat kemesraan sepasang suami istri di depan mereka.


“Kami permisi, Tuan Muda, Nona Zahra,” ucap kedua perawat itu sebelum pergi meninggalkan kamar Zahra.


Zain kembali menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya bersamaan dengan suara pintu yang tertutup.


“Honey, aku merindukanmu.”


“Zain, tunggu-”


“Apa lagi?” sela Zain merasa tidak sabar karena istrinya terlihat selalu menghindarinya.


“Itu.” Zahra menunjuk Tania yang belum beranjak dari tempatnya. “Masih ada Tania di sini.”


“Ck!” Zain berdecak kesal. “Kenapa kamu belum juga pergi?” tanyanya tidak suka karena merasa terganggu.


“Ma-maaf, Tuan. Saya hanya ingin memastikan keadaan nona Zahra saja,” jawab Tania sopan.


“Bukannya kamu sudah melihatnya baik-baik saja! Sekarang cepatlah keluar! Mengganggu sa- akh!” Zain merintih kesakitan karena Zahra mencubit pinggangnya.


“Kenapa kamu mencubitku, Honey!” sungut Zain.


“Kenapa kamu begitu kasar kepada Tania? Dia hanya ingin melihatku saja, hanya sebentar tidak lama.”


Zain akhirnya mengalah dan mengizinkan Tania untuk melihat keadaan Zahra, namun ia hanya memberikan waktu selama 5 menit saja tidak boleh lebih.


Setelah meminta maaf dan memastikan keadaan nonanya baik-baik saja, tanpa membuang lebih banyak waktu Tania segera pamit dari pada harus menerima tatapan membunuh dari tuan mudanya itu.


“Zain,” panggil Zahra lirih.


“Hmm, ada apa? Apa kamu merindukanku, Honey?”


Zain duduk di sisi brankar menghadap wajah istrinya yang tertunduk.


“Maaf,” lirih Zahra dengan suara parau menahan tangis.


Sejak tadi Zahra degan susah payah berhasil mengendalikan perasaannya, namun untuk saat ini ia tidak bisa lagi menahannya. Apalagi di ruangan itu hanya ada mereka berdua, dirinya dan juga suaminya saja.


“Sssstt, kenapa meminta maaf? Kamu tidak salah, Honey.” Zain kembali menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya, kali ini ia bebas memeluk istrinya itu tanpa ada orang lain yang mengganggunya lagi.


“Aku yang salah ... maafkan aku.”

__ADS_1


“A-aku yang salah, Zain. Aku tidak bisa melindungi anak kamu, padahal kamu dan mommy sangat menantikan kehadirannya,” ucap Zahra dalam isaknya, kali ini ia benar-benar menangis menyalurkan perih di dalam dadanya.


“Sssttt ... sudahlah jangan menangis lagi, Honey. Aku tidak suka melihat kamu menangis seperti ini.” Zain mengusap punggung istrinya pelan.


“Kamu tahu?” tanya Zain.


 “Apa?”


“Kamu terlihat sangat jelek saat sedang menangis, apalagi ingus kamu yang keluar masuk lubang hidung kamu itu, jorok!” ejek Zain.


“Zain! Kamu ih.” Zahra semakin terisak mendapat ejekan suaminya itu, sedangkan Zain malah tertawa melihat istrinya antara malu dan kesal dengan dirinya.


Bukannya Zain tidak merasa sedih karena kehilangan calon buah hatinya, namun Zain harus tetap tegar dan terlihat kuat agar bisa menghibur orang-orang yang disayanginya, Zahra dan juga ibunya yang sangat menginginkan cucu darinya.


Sakit memang, namun Zain lebih merasa sakit ketika melihat orang yang di sayanginya menangis di depannya.


“Sudahlah, berhenti menangisnya. Bukankah nanti kita bisa membuatnya lagi? Kita buat anak yang banyak, ok!”


“Tidak mau!” tolak Zahra spontan membuat Zain mengerutkan kedua alisnya lalu mengurai pelukan mereka.


“Kenapa? Apa kamu tidak mau lagi hidup bersamaku? Apa kamu membenciku? Apakah menikah denganku membuat kamu begitu tertekan? Apa aku begitu menyakitimu?” tanya Zain bertubi tidak memberikan kesempatan kepada Zahra untuk menjawabnya.


“Apa kamu berniat pergi dariku?” tanya Zain marah. “Jangan pernah berpikir kamu bisa menjauh dariku, Zahra!”


Zahra menatap tak percaya ke wajah suaminya yang memerah menahan amarah, bahkan ia tak pernah berpikir untuk meninggalkan suaminya itu.


“Sayang,” panggil Zahra pelan, namun tak ditanggapi sedikit pun oleh Zain.


“Zain,” panggil Zahra sekali lagi, kali ini dengan sedikit membentak suaminya.


“Apa?” jawab Zain.


“Bukan itu maksudku.”


Zain menatap ke dalam mata Zahra meminta penjelasan.


“Aku tak pernah sekalipun berpikir untuk pergi darimu, Sayang.” Zahra menjelaskannya dengan pelan takut suaminya kembali salah paham.


“Lalu?”


“Kenapa kamu tidak mau membuat anak lagi denganku?”


“Astaga, Zain! Kamu tahukan aku baru saja keguguran, kamu menyuruhku begituan. Lagian perutku masih sangat sakit,” omel Zahra merasa gemas dengan suaminya itu.


“Eh, bukan itu maksudku, Honey. Mana yang sakit, apakah rasanya sangat menyakitkan?” tanya Zain khawatir.


“Sudah mendingan,” jawab Zahra berbohong. “Makanya kamu jangan marah-marah lagi!” kesal Zahra.


“Iya, aku janji tidak akan marah lagi. Tapi, kita masih bisa memiliki anak lagi nanti di lain waktu, Honey. Mau itu setahun dua tahun lagi aku tidak masalah, asalkan kamu selalu berada di sampingku selamanya.”


“Aku mencintaimu, Zain.” Zahra memeluk tubuh suaminya dan Zain pun membalas pelukan itu.


“Honey, ada yang ingin aku tanyakan.”


“Apa?” jawab Zahra tanpa melepaskan pelukan mereka.


 “Tapi kamu harus janji akan menjawabnya dengan jujur.”


“Hmm.”


“Apa yang membuat kamu tertekan? Kamu memikirkan apa?” tanya Zain namun Zahra hanya diam membisu.


“Apa karena foto-foto itu?” tebak Zain.


Zahra hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sedikit pun suaranya.


“Honey, percayalah! Itu hanya masa laluku saja, dan aku tidak pernah menyentuh mereka sedikit pun,” jelas Zain.


“Apa yang kamu takutkan? Apa kamu takut aku akan meninggalkan kamu demi wanita-wanita itu?”


Zahra menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya yang masih bisa dirasakan pergerakannya oleh suaminya.


“Lalu? Jika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu ceritakan lah padaku atau mommy, jangan memendamnya sendirian. Kamu memiliki keluarga, Zahra.”

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Zain sekali lagi.


“A-aku takut sesuatu yang menimpa mommy suatu saat nanti juga akan datang kepadaku,” jawab Zahra lirih.


“Apa maksudmu?”


“Aku takut jika ada nasib pernikahanku akan sama seperti mommy dan akan ada Yang Zi yang lainnya datang dan menghancurkan kita, aku tidak sekuat mommy, Zain!”


Zahra kembali menangis, dadanya terasa sesak membayangkan sesuatu yang tak ia inginkan akan merenggut kebahagiaannya, namun disisi lain ia merasa lega karena sudah menyuarakan beban di hatinya.


“Astaga Zahra! Jadi itu yang selama ini kamu pikirkan?” Zain melepas pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Zahra dengan kedua tangannya.


“Dengarkan aku, Zahwa Zahratunnisa!”


Deg!


Tubuh Zahra menegang, ia takut mendengar apa yang akan disampaikan oleh suaminya, apalagi Zain sampai menyebutkan nama lengkapnya.


Jika hal buruk yang akan ia dengar, jujur saja Zahra belum siap sama sekali, apalagi kondisinya saat ini sangat lemah.


“Aku akui aku memang bukan lelaki baik. Tapi aku bukan lelaki brengsek yang tidur dengan sembarang wanita, Zahra!” ucap Zain tegas.


“Aku tahu batasannya dan aku hanya tidur dengan istriku saja!” tegas Zain meyakinkan Zahra.


“Itu pun dulu hanya beberapa kali saja aku tidur dengan jal*ng itu!” lanjut Zain kesal karena harus mengingat mantan istrinya itu.


Zahra menatap lekat wajah suaminya mencari kebohongan yang mungkin saja suaminya tinggalkan di sana, namun Zahra tidak menemukannya.


“Apa kamu masih belum mempercayaiku?” tanya Zain menyelidik. “Kamu bisa bertanya kepada mommy, atau kapan-kapan aku ajak kamu ke klub yang ada di foto tersebut.”


“Untuk apa?” tanya Zahra bingung.


“Untuk memastikan kalau aku berkata jujur dan tidak membohongi kamu. Bahkan dulu aku pernah melakukan RISUG untuk mencegah memiliki anak dengan wanita yang tidak aku cintai.”


“Apa itu RISUG?”


“Sejenis suntik KB untuk pria yang dilakukan setiap 8 minggu sekali, dan harus rutin melakukannya.”


Zain kemudian menceritakan bahwa dulu ia tidak berniat untuk memiliki anak dan memutuskan untuk melakukan RISUG tanpa sepengetahuan siapa pun.


Kemudian setelah menikah dengan Zahra dan mulai menerima pernikahan mereka, Zain kembali memutuskan untuk menyudahi BK-nya. Bahkan Zain selalu memberikan suplemen untuk Zahra dan dirinya sendiri selama beberapa bulan ini.


“Emh, berarti sekarang kamu sudah mencintaiku, kan?” tanya Zahra dengan memasang wajah imutnya.


“Apa masih perlu aku jawab?”


“Hehe, aku hanya ingin memastikannya saja.”


“Bukankah setiap hari aku sudah membuktikan cintaku kepadamu? Apa perlu saat ini juga aku tunjukkan cintaku kepadamu?”


“Eh, bagaimana kondisi Yang Zi? Apa bayinya sudah lahir?” tanya Zahra mengalihkan topik pembicaraan.


“Bayi? Bayi siapa yang kamu maksud?” tanya Zain bingung, ia bahkan melupakan alasan dirinya tadi terburu-buru datang ke rumah sakit setelah menerima panggilan sepintas dari ibunya.


“Yang Zi sedang melahirkan, Zain! Apa kamu belum tahu?” tanya Zahra tak percaya.


“Oh, bukankah sudah ada mommy yang menemaninya?” Zain menebak jika mommynya menemani adiknya melahirkan.


“Kamu tidak ingin melihatnya?”


“Tidak!” jawab Zain cepat.


“Sudah ada mommy di sana, juga pasti ada dokter dan perawat juga, lalu untuk apa aku ke sana jika di sini ada hal yang lebih menarik dan lebih penting bagiku.”


“Kamu tidak ingin melihat babynya?” tanya Zahra pelan.


“Tidak, disini ada baby yang jauh lebih menggemaskan untukku.”


“Zain, jangan pernah tinggalkan aku!”


“Iya, aku berjanji kita akan selalu bersama apa pun yang terjadi ke depannya dan untuk selamanya hingga maut memisahkan kita.”


“Aku mencintaimu, Honey.”

__ADS_1


 


__ADS_2