
“Bibi, dimana Yang Zi?” tanya Barra yang tidak melihat keberadaan istrinya bersama kedatangan bibinya itu.
“Kenapa kamu menanyakan dia kepada bibi?” tanya balik sang bibi dengan nada ketus karena masih merasa kesal dengan keponakannya itu.
“Bukannya tadi Bibi meninggalkan pesta bersama Yang Zi? Kenapa Bibi tidak kembali bersamanya?” tanya Barra menyelidik.
“Kenapa kamu menatap bibi seperti itu? Apa kamu mencurigai bibi?” ketus bibi Yang Zi tak terima dengan sorot mata yang dipancarkan Barra.
“Maaf, bukan begitu maksudku, Bi. Aku hanya khawatir dengan keadaan Yang Zi saja,” jelas Barra tak ingin bibi istrinya itu salah paham kepadanya.
“Apa dia belum kembali?” tanya sang Bibi dengan kening berkerut. “Tadi bocah itu pergi meninggalkan bibi begitu saja, bibi pikir dia sudah lebih dulu kembali ke dalam.”
“Apa sudah lama?” selidik Barra tidak sabar.
“Sekitar 15 menit lalu, bibi tadi tidak langsung kembali dan menenangkan diri di luar karena bocah itu membuat bibi kesal,” sungut bibi Yang Zi. “Lalu, ke mana perginya bocah itu?” lanjutnya.
“Aku akan mencarinya, Bibi tenang saja dan kembalilah bergabung dengan yang lainnya.”
Barra meninggalkan sang bibi dengan wajah cemasnya, dengan langkah lebar ia berjalan menuju pintu keluar namun langkahnya harus terhenti karena seseorang memanggil namanya.
“Barra!”
Zain yang ingin meninggalkan pesta dan menemui kekasih hatinya, namun ia kebetulan melihat asistennya berjalan terburu-buru dengan wajah tegang dan ia pun refleks memanggil namanya.
“Tuan,” jawab Barra tanpa bisa menyembunyikan kecemasannya.
“Aku bukan tuan kamu, Barra! Dan jangan memasang wajah seperti itu! Apa kamu ingin menakuti tamuku?” tegur Zain berniat menggoda asistennya namun Barra malah menanggapinya dengan serius.
“Maaf, Tuan. Tapi ada sesuatu yang-”
“Ada apa? Cepat katakan!” ucap Zain tegas memotong perkataan Barra.
“Yang Zi belum juga kembali setelah tadi keluar bersama bibinya,” jawab Barra cepat sebelum membuat Zain semakin marah.
“Lalu? Kenapa wajahmu seperti itu? Dia bukan anak kecil lagi, Barra. Dia hanya keluar bersama bibinya, mungkin bocah itu sedang melepas rindu bersama bibinya,” ucap Zain dengan nada mengejek.
“Tapi Tuan-”
“Kenapa kamu seperti Zahra? Terlalu mencemaskan hal-hal yang tak perlu.”
“Yang Zi menghilang, Tuan!” seru Barra merasa tidak sabar menghadapi tuan mudanya yang kini telah resmi menjadi kakak iparnya.
“Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi? Kenapa kamu malah diam disini dan tidak mencarinya?” marah Zain.
“Aku ingin mencarinya namun ditahan oleh Anda!” kesal Barra tanpa memedulikan lagi sikapnya terhadap tuan mudanya itu.
“Ck! Bodoh! Cepat pergi dan temukan dia!” perintah Zain tidak mau disalahkan.
“Ali, cepat periksa ruang keamanan, cek CCTV cari keberadaan Yang Zi secepatnya! Aku akan segera kesana,” perintah Zain kepada Ali di seberang telepon.
Zain memutuskan panggilan tersebut sebelum mendengar jawaban dari Ali, lalu ia berjalan keluar meninggalkan acara diikuti Barra di belakangnya.
Sepanjang perjalanan Zain tak henti-hentinya mengomeli Barra yang hanya diam mendengarkan ocehan kakak iparnya itu. Entah Barra benar-benar mendengarkannya atau hanya berpura-pura mendengarkannya, ia sudah terbiasa mendengar ocehan dan keluhan Tuan Kutub yang telah berhasil dicairkan oleh ahlinya, tidak sekaku dan sedingin dahulu.
“Kenapa lift ini begitu lama terbukanya?” keluh Zain tidak sabar, kini mereka berdua tengah berdiri di depan pintu lift.
__ADS_1
‘Nona, saya berterima kasih karena Anda telah membuat tuan muda tak sedingin dulu. Tapi tidak juga harus seperti sekarang, terlalu merepotkan,’ keluh Barra dalam hati, bukan karena ia tidak suka dengan perubahan tuannya itu, tetapi saat ini ia sedang merasa khawatir dengan keberadaan istrinya ditambah sikap tuan mudanya yang membuatnya semakin pusing karenanya.
Ting.
Drrrt. Drrrt.
Zain merasakan ponselnya bergetar tepat bersamaan dengan pintu lift didepanya yang terbuka. Ia meraih ponselnya dan menahan pintu lift dengan sebelah kakinya agar tidak tertutup.
“Bagaimana?” tanya Zain tanpa basa-basi setelah menerima panggilan tersebut.
‘Tuan, saya sudah menemukan keberadaan Nona Yang Zi. Sekitar 2 menit lalu ada seorang pria menyeretnya masuk ke dalam kamar 1030 di lantai 9,’ jelas Ali dari seberang sana.
“Brengsek!” geram Zain dan lagi-lagi ia langsung memutuskan panggilan tersebut tanpa berucap apa pun kepada lawan bicaranya.
“Cepat ke lantai 10!” perintah Zain tanpa menjelaskan apa pun kepada Barra yang sedari tadi menunggu di belakangnya.
Tanpa menunggu lama, lift tersebut segera membawa keduanya menuju lantai yang dituju. Zain segera melangkah keluar bahkan saat pintu lift baru terbuka setengahnya, Barra yang melihat kemarahan di wajah kakak iparnya langsung menduga bahwa terjadi sesuatu terhadap istrinya.
“Tuan,” panggil Barra meminta penjelasan.
“Cepat cari kamar 1030!” perintah Zain dan berlari ke lorong sayap kanan.
“Tuan, kamar 1030 ke arah sana!” teriak Barra yang masih berdiri di depan lift sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dengan arah Zain berlari.
“Ck! Kenapa tidak mengatakannya sejak tadi?” kesal Zain dan hanya dibalas kedikan bahu boleh Barra yang sejak tadi selalu disalahkan oleh Zain.
Tiiit.
Dalam sehari Zain kembali menggunakan kartu khusus miliknya untuk membobol pintu di hotelnya sendiri.
Zain dan Barra bersamaan membuka pintu kamar tersebut dengan cukup keras membuat orang di dalamnya terkejut dan mengeluarkan umpatan kasar dari mulutnya.
“Brengsek! Siapa yang berani menggangguku?” teriak Mr. M dari dalam kamar.
“Mike!” pekik Zain merasa terkejut karena mengenali sosok pria yang tengah kesusahan mengikat kaki Yang Zi dengan dasinya, Yang Zi terus saja meronta dan melawan namun tenaganya tak sebanding dengan pria itu.
“Apa yang kamu lakukan?” geram Zain dengan wajah marahnya apalagi melihat tubuh adiknya yang tersungkur di atas ranjang dengan mulut ditutup kain dan tangan yang sudah terikat.
“Mr. Yang Yang, ini tak seperti yang Anda pikirkan, kami saling mengenal dan hanya sedang bercanda, maaf ... bukannya saya ingin mengusir Anda, tapi bisakah Anda tidak mengusik privasi saya,” ucap Mike tanpa merasa bersalah.
Bugh!
Tanpa peringatan, Barra langsung melayangkan bogemnya dan tepat mengenai rahang Mike.
Bugh!
“Brengsek! Bajing*n! Berani-beraninya kamu menyentuhnya!” teriak Barra penuh emosi, ia berulang kali melayangkan bogemnya ke wajah Mike.
Zain yang melihat hal tersebut tak sedikit pun berniat untuk menahan Barra, biarkan adik iparnya itu melampiaskan kemarahannya. Zain lalu mengeluarkan kain yang menutup mulut Yang Zi dan melepaskan ikatan di tangannya.
“Kenapa lama sekali!” ketus Yang Zi yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
“Yang terpenting tidak terjadi apa pun denganmu, bukan?” jawab Zain berpura-pura cuek membuat Yang Zi mencebikkan bibirnya, ia lalu duduk di sebelah adiknya dan menyaksikan perkelahian antara dua pria di depan mereka.
“Kenapa kamu memukulku hanya karena wanita j*lang itu, Xiao Zhan!” tanya Mike setelah berhasil menghindar dari amukan Barra.
__ADS_1
“Brengsek! Akan aku hancurkan mulut busukmu itu agar tak bisa lagi menghina wanitaku!”
“Siapa j*lang itu bagimu? Kenapa kamu begitu-”
Bugh!
“Dasar b*jingan!” Barra kembali melayangkan bogemnya sebelum Mike berhasil menyelesaikan kalimatnya.
“Sudah cukup, Barra!” cegah Zain menghentikan Barra yang hendak kembali menyerang Mike yang sudah babak belur olehnya.
“Aku belum puas, Tuan!” protes Barra.
“Apa kamu mau membunuhnya dan meninggalkan istrimu karena kamu harus masuk bui dengan kasus pembunuhan?” bentak Zain menyadarkan Barra yang dipenuhi akan kemarahan.
Tak lama kemudian, datanglah tim keamanan yang telah dipanggil oleh Zain disusul dengan kedatangan kakeknya dan seorang pria paruh baya bersamanya.
“Apa yang terjadi Yang a?” tanya kakek Zain terlihat bingung dengan keadaan yang begitu kacau di depannya.
“Maaf telah mengganggu waktu Anda, Tuan Ying Xu. Saya mewakili ZM Corporation dan Zhehan Group akan membatalkan semua kerja sama dan menarik semua investasi kami dengan perusahaan Anda!” ucap Zain tegas membuat semua orang di sana terpaku karenanya.
“Apa yang Anda bicarakan, Tuan. Mungkin ada kesalahpahaman di antara kita, jika ada masalah lebih baik kita bicarakan secara baik-baik,” bujuk tuan Ying Xu, ayah mertua Mike.
“Keputusan saya sudah bulat, Tuan Ying Xu. Sudah tidak ada lagi yang ingin saya bicarakan,” jawab Zain dingin.
“Tapi Tuan-” tuan Ying Xu berbalik menghadap ke arah kakek Zain dan memohon kepadanya. “Tuan Besar, Tuan Zhang Zhehan ... saya mengharap belas kasih dari Anda, jangan memutuskan hubungan di antara kita, Tuan. Bukankah perusahaan kita sudah saling bekerja sama cukup lama?”
“Aku yakin apa yang diputuskan oleh cucuku sudah dipikirkan dengan baik, jadi aku tidak akan menolaknya,” ungkap tuan Zhang Zhehan.
“Tuan-”
“Sebaiknya kamu berikan penjelasan kepada tuan Ying Xu agar dia memahami apa yang membuatmu mengambil keputusan ini, Yang a!” perintah sang kakek kepada Zain.
Dengan singkat dan jelas, Barra mewakili tuannya menceritakan kejadian yang diperbuat oleh Mike, menantu dari tuan Ying Xu dan berhasil membuat sang kakek naik pitam mendengarnya.
“Berani-beraninya kamu mengganggu cucu kesayanganku!” teriak marah sang kakek, meskipun tuan Zhang memiliki banyak anak perempuan dan hanya ayah Zain satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya, Yang Zi merupakan cucu perempuan satu-satunya dalam keluarga Zhang.
“A-apa? Cucu?” ucap Mike tak percaya.
“Ya, dia adalah adikku! Satu-satunya adikku yang telah kamu hancurkan hidupnya dulu!” geram Zain.
“Oh ya Tuan, maaf jika saya menyela. Apakah Anda adalah ayah mertuanya?” tanya Yang Zi kepada tuan Ying Xu sambil menunjuk ke arah Mike dengan jemarinya.
“Benar,” jawabnya singkat.
“Oh, jadi Anda yang pernah dimaki olehnya. Katanya Anda adalah orang tua yang merepotkan dan menyebalkan, dan asal Anda tahu ... dia juga mengatakan bahwa istrinya adalah wanita penyakitan dan sebentar lagi pasti akan mati. Jika bukan karena hartanya, mana mungkin dia mau menikahi wanita cacat seperti putri Anda,” ucap Yang Zi sengaja membuat suasana semakin panas.
“Kamu! Jangan percaya omongan pelacur itu, Pa! Dia berbohong untuk mengadu domba kita!” kilah Mike mencoba mempengaruhi ayah mertuanya.
“Diam kamu!” bentak Zain dan Barra bersamaan, di saat itu juga Yang Zi merasakan tubuhnya lemas dan perutnya keram.
“Akh!” Yang Zi merintih sambil memegangi perutnya.
Semua orang mantap ke arahnya dan merasa panik melihat wajah Yang Zi berubah menjadi pucat dengan keringat yang membasahi keningnya.
“Yang Zi!” teriak Barra, Zain dan kakeknya yang melihat Yang Zi tak mampu lagi menopang tubuhnya sendiri.
__ADS_1