Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 114. Bertemu Iblis Betina


__ADS_3

Malam harinya setelah semua keluarga dari pesantren berpamitan dan memutuskan untuk menginap di rumah tuan Harun, Zain menemani istrinya hingga memastikan bahwa Zahra benar-benar tertidur.


Seharian Zain sudah menahan diri untuk tetap tinggal di rumah menghormati tamu dari keluarga istrinya, kali ini ia sudah berada diambang batasannya.


“Aku akan segera ke sana!” ucapnya kepada seseorang di seberang telepon.


Setelah memutuskan panggilannya, Zain mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian kerjanya lalu ia duduk di samping istrinya yang tertidur pulas.


“Maaf, Honey. Aku tinggal sebentar dan aku akan segera pulang, oke.” Zain pamit kepada Zahra meskipun ia tahu bahwa istrinya itu tidak bisa mendengarkan ucapannya.


Cup!


Zain mencium kening istrinya lalu mengusap lembut wajah Zahra yang terlihat damai dalam tidurnya.


Sebelum pergi Zain meminta ibunya untuk menemani Zahra di dalam kamarnya.


“Mom!” panggil Zain yang melihat ibunya sedang menonton film di ruang keluarga bersama bi Nur dan beberapa pelayan lainnya.


“Hmm,” jawab Ny. Amara tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


“Mom, boleh aku minta tolong sebentar?” tanya Zain datar.


Meskipun nada ucapan Zain masih terdengar dingin di telinga orang lain, namun susunan kalimatnya sudah banyak berubah seperti menambahkan kata tolong, permisi dan terima kasih yang selalu Zahra tekankan kepadanya.


“Apa?” jawab Ny. Amara cuek.


“Mom!” kesal Zain karena diabaikan oleh ibunya. “Apa layar televisi itu lebih menarik dari putra Mommy ini!”


“Apa Zain? Putra mommy yang paling tampan sedunia,” balas Ny. Amara menatap gemas wajah datar putranya. “Tapi dingin sedingin salju!” imbuh Ny. Amara menyindir Zain membuat para pelayan menahan senyum mereka.


“Mom!”


“Kamu mau pergi kemana?” tanya Ny. Amara menyadari pakaian yang melekat di tubuh putranya.

__ADS_1


“Ada urusan sebentar, tolong temani Zahra di kamar,” pinta Zain.


“Zahra mengizinkan kamu pergi?” selidik Ny. Amara.


“Dia sudah tidur, Mom. Nanti kalau Zahra mencariku katakan saja ada pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini.”


“Hmm, ya sudah sana cepat pergi!” usir Ny. Amara.


“Ck!” Zain berdecak kesal lalu berjalan pergi.


...*****...


Zain mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, beruntung keadaan jalan malam ini cukup sepi, hanya ada beberapa mobil yang berlalu lalang menemani mobil mewah milik Zain.


Zain dengan cekatan menyalip beberapa mobil di sekitarnya, tak membutuhkan waktu lama ia telah sampai di depan gedung perusahaannya.


Ciiitt...


Tanpa memarkir mobilnya, Zain keluar dan meninggalkan begitu saja mobilnya tanpa merasa takut terjadi apa-apa dengan mobil mewahnya itu.


Tidak hanya satu dua orang saja yang menjaga gedung itu, namun Zain menugaskan puluhan orang untuk menjaga perusahaannya dengan tugas masing-masing.


Ting!


Pintu lift khusus untuknya terbuka, Zain segera masuk ke dalamnya dan menekan tombol lantai paling atas gedung itu.


‘Kali ini aku tak akan melepaskan kamu lagi, dasar iblis betina!’


Ting!


Zain segera keluar dari lift dan sudah di sambut oleh Ali yang menunggunya di sana.


“Selamat malam, Tuan Muda, “ sapa Ali memberi hormat.

__ADS_1


“Hmm,” balas Zain singkat sambil berjalan menuju lokasi dimana wanita itu berada.


“Ada informasi apa?” tanya Zain.


“Maaf, Tuan. Dia bersikukuh tidak mau mengakuinya,” jawab Ali takut karena Zain hanya diam saja menanggapinya.


Ceklek!


Zain masuk ke dalam ruangan gelap tanpa pantulan cahaya sedikit pun, ia menyapukan pandangannya ke seluruh sudut ruangan mencari keberadaan sosok yang dicarinya.


Tepat disudut ruangan Zain menemukan orang itu, dengan langkah lebar Zain berjalan mendekat dan tanpa aba-aba ia menarik rambut wanita itu ke belakang hingga membuat wajah sang wanita yang semula tertunduk harus terangkat bertatapan wajah dengan Zain.


“Brengsek! B*jingan! Beraninya kalian menyiksa wanita seperti ini! Dasar Banci!” umpat wanita itu tanpa menyadari siapa yang berdiri di depannya karena ruangan itu benar-benar gelap.


“Kalau berani lawan gue! Lepaskan ikatan gue! Beraninya main keroyokan kalian! Banci!” wanita itu terus berkata kasar tanpa henti.


“Diam  j*lang!” bentak Zain lalu melepaskan cengkeramannya pada rambut wanita itu sedikit kasar hingga membuat wanita itu sedikit terhuyung ke belakang.


“Cuih! Siapa yang lo sebut j*lang hah? Lo yang B*jingan beraninya sama cewek, cemen lo!”


Plak!


Zain melayangkan tamparan keras yang tepat mendarat di wajah wanita itu membuatnya meringis kesakitan.


“Beraninya kamu mengotori pakaianku! Dasar j*lang murahan!” marah Zain bersamaan dengan seluruh lampu di ruangan itu menyala.


Deg!


Wanita itu terpaku melihat wajah Zain yang memerah dengan rahang mengeras terlihat sangat menakutkan di mata wanita itu.


“Tu-tuan Zain.” Wanita terkejut dan semakin ketakutan karena ia mengenali wajah Zain sebagai pebisnis muda sukses yang juga terkenal kecerdasan dan kekejamannya.


Zain tersenyum mengejek melihat perubahan wajah wanita di depannya.

__ADS_1


“Lama tak jumpa Nona Mahardika!” sapa Zain dengan tatapan mata tajamnya.


__ADS_2