
Zain berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan membawa buket mawar putih kesukaan sang istri di tangannya. Sedangkan Barra sang asisten berjalan di belakangnya dengan menenteng paper bag berisi makanan pesanan Ny. Amara.
Setelah mendengar kabar dari ibunya bahwa istrinya sudah sadarkan diri dan kondisinya lebih stabil, Zain segera menyelesaikan urusannya dengan klien yang di temuinya. Dan bergegas menuju rumah sakit ingin segera menemui gadis kecilnya.
Zain menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Zahra, ia merasa sedikit ragu untuk masuk ke dalamnya, takut jika istrinya masih belum siap untuk bertemu dengannya.
Zain menarik napasnya panjang lalu membuangnya perlahan. Dengan pelan tangannya mengetuk pintu di depannya.
Tok! Tok! Tok!
“Kamu sudah datang, Zain?” tanya Ny. Amara yang muncul dari balik pintu.
“Hmm, boleh aku masuk, Mom?” tanya Zain ragu.
“Tunggu sebentar, mommy bicara sama Zahra dulu ya. Tunggu di sini, jangan masuk dulu!” tegas Ny. Amara lalu kembali masuk ke dalam kamar dan sengaja membiarkan pintu ruangan tersebut sedikit terbuka.
Zain berdiri mematung di depan pintu sambil mencuri dengar pembicaraan ibunya dengan istrinya di dalam kamar. Tak lama kemudian Ny. Amara kembali menghampiri Zain dan menyuruhnya untuk masuk.
“Masuklah, Zain. Tapi ingat, jika Zahra merasa tidak nyaman dengan kehadiranmu, jangan dipaksa!” tegas Ny. Amara.
Ny. Amara tidak ingin kejadian tadi pagi terulang kembali, namun disisi lain Ny. Amara merasa kasihan melihat putranya yang tersiksa karena terpisah dari istrinya.
“Saya tidak akan ke kantor, kamu kembalilah ke kantor!” perintah Zain kepada Barra.
“Baik, Tuan.” Barra menundukkan kepalanya tanda hormat kemudian menyerahkan paper bag ditangannya kepada tuan mudanya.
“Hati-hati,” ucap Ny. Amara.
Kini Ny. Amara pun menjadi lebih ramah terhadap Barra, ia tidak lagi menjadikan Barra sebagai pelampiasan setiap kali merasa kesal terhadap putranya.
Barra memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan tempat tersebut setelah memastikan tuan muda dan Ny. Amara masuk ke dalam kamar rawat Zahra.
“Sayang,” panggil Ny. Amara dan menghampiri menantunya yang sedang duduk di ranjang sambil menyandarkan tubuhnya.
Zahra mengangkat wajahnya dan seketika wajahnya sedikit tegang karena melihat suaminya berdiri di depan pintu. Ia sudah mengiapkan diri untuk mengizinkan suaminya masuk ke dalam kamar, namun ternyata tubuhnya belum bisa diajak bekerja sama.
“Are you okay, Sayang?” tanya Ny. Amara yang menyadari perubahan raut wajah menantunya.
Zahra tetap membisu, matanya menatap ke arah suaminya tanpa berkedip. Sedangkan Zain merasa bingung harus melakukan apa, jadi ia memilih untuk tetap diam diposisinya.
“Sayang ....” Ny. Amara menggenggam tangan menantunya dan membuat Zahra menoleh menatap ke arahnya.
Ny. Amara menganggukkan kepalanya. “It’s okay ... no problem,” ucap Ny. Amara menenangkan Zahra.
Zahra kembali menatap ke arah suaminya yang tak bergeming sedikit pun. Matanya melihat buket mawar di tangan suaminya membuat seulas senyum merekah dari bibir Zahra.
Zain mengikuti arah pandangan istrinya lalu ia mengangkat sebelah alisnya. “Kamu menginginkan ini?”
__ADS_1
Zahra menganggukkan kepalanya dengan mata yang berbinar, namun hanya sekilas.
“Berhenti!” serunya karena melihat suaminya yang hendak melangkah ke arahnya.
Zain dan Ny. Amara merasa sedikit tegang, takut jika Zahra akan kembali tantrum.
“Kamu tidak ingin aku di sini?” tanya Zain pelan.
“Bu-bukan begitu, Tu-tuan.” Zahra tergagap menjawab pertanyaan suaminya.
“Lalu?”
“Em, a-aku ...”
“Aku tidak akan menyakitimu, Zahra. Jangan takut, okay!” perintah Zain namun masih dengan suara yang sedikit rendah.
“Maaf,” lirih Zahra lalu menundukkan kepalanya.
“Jangan meminta maaf, kamu tidak bersalah, Zahra.” Zain berjalan ke arah sofa dan meletakkan paper bag di atas meja lalu mendekat ke arah istrinya.
“Ma-maaf, Tuan ...,” lirih Zahra masih menundukkan kepalanya, ia tidak menyadari jika suaminya sudah berdiri di samping brankarnya.
“Angkat kepalamu, aku bukan tuanmu, Zahra.”
Zahra refleks mengangkat kepalanya karena suara suaminya terdengar begitu dekat di telinganya.
Zain mengangkat tangannya ingin menyentuh kepala istrinya namun dengan cepat langsung ditepis oleh Zahra. Sebenarnya Zain tidak tega melihat wajah pucat Zahra, namun ia juga tidak ingin Zahra selalu terkurung di dalam ketakutannya.
“Hai, tenang, lihat aku! Jangan panik, okay.” Zain menenangkan istrinya dengan lembut.
Ny. Amara hanya diam mengamati interaksi antara sepasang suami istri di depannya. Ia merasa heran sekaligus bersyukur dengan perubahan sikap putranya.
Sedangkan Zain sendiri juga merasa heran, kenapa dia bisa setenang dan selembut ini di depan istrinya, sangat berbanding terbalik dengan sifatnya yang dingin dan kejam dulu.
“Tenang ... tenang Zahra, jangan panik, okay!” ulang Zain.
Zain yang melihat wajah istrinya yang mulai rileks lalu ia mengulurkan kembali tangannya untuk menyentuh kepala istrinya.
“Good girl, tetap tenang gadis manja,” puji Zain setelah berhasil membuat istrinya tidak menepis tangan besarnya dari kepala Zahra.
Zahra perlahan mulai tenang dan terbiasa dengan usapan tangan suaminya di kepalanya, namun masih ada sedikit rasa waswas di dalam hatinya.
“A-pa bunga itu untuk saya?” tanya Zahra dengan suara lirihnya.
Zain memberikan buket mawar di tangannya langsung ke atas pangkuan istrinya, membuat Zahra berjingkat kaget.
“Maaf,” ucap Zain menyesal karena membuat istrinya terkejut.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Tuan.”
“Ck! Sudah aku katakan aku bukan tuan kamu, Zahra.” Zain berdecak karena istrinya masih memanggilnya dengan sebutan tuan.
“Maaf,” lirih Zahra.
“Sudahlah, apa aku boleh duduk di sini?” Zain menunjuk tepi ranjang.
Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya Zain langsung duduk di tapi ranjang. Lagi-lagi perbuatannya itu membuat tubuh Zahra berjingkat kaget.
“Zain!” tegur Ny. Amara yang merasa kasihan melihat menantunya dikerjai oleh putranya.
“Itu makanan pesanan mommy ada di atas meja,” ucap Zain tanpa menoleh ke arah ibunya, bahkan mengabaikan teguran darinya.
Zain duduk menyamping menghadap istrinya. Zain menatap lekat wajah yang sudah lama hanya bisa ia tatap dari layar ponselnya, kini benar-benar nyata ada di depan matanya. Sedangkan Zahra yang ditatap hanya menundukkan kepalanya.
“Apa kamu sangat menyukai mawar itu?”
Zahra menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku tahu mawar itu sangat indah, tapi apakah suamimu ini tidak menarik dimatamu?”
Zahra mengangkat wajahnya dan menautkan alisnya bingung. “Apa maksud, Tuan?”
Zain meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibir istrinya, seketika membuat tubuh Zahra menegang.
“A-apa yang Tuan lakukan?” tanya Zahra.
“Sudah aku bilang jangan panggil tuan!” kesal Zain lalu menarik kembali tangannya karena melihat wajah tegang istrinya.
“Maaf.”
“Zain!” seru Ny. Amara yang duduk di sofa. “Cukup, jangan ganggu menantu mommy!”
“Dia istriku, Mom. Aku-” Zain menghentikan ucapannya karena mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.
“Huft!” Zain membuang napas kasar lalu kembali memutar tubuhnya ke arah istrinya.
Ketika Zahra sedang menaruh buket mawarnya di atas nakas, tiba-tiba Zain menarik tangan Zahra karena tanpa sengaja ia melihat lengan baju Zahra yang terangkat dan memperlihatkan luka di tagannya.
“Tangan kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja!” ketus Zahra lalu menarik tangannya dari genggaman suaminya.
Zain menatap wajah istrinya yang tetap kekeh menyembunyikan penyebab luka-luka di tubuhnya.
‘Aku akan mencari tahu semua tentangmu, gadis kecil.’
__ADS_1