
Sehari setelah Barra mengutarakan keinginannya untuk menikahi Yang Zi, Zain langsung menyuruh asistennya tersebut kembali ke Indonesia untuk mengurus perusahaannya, karena ia tidak bisa membiarkan pekerjaannya terbengkalai terlalu lama meskipun sudah ada orang kepercayaannya yang membantunya selama kepergiannya.
Namun berhubung China sudah membuka jalur penerbangan internasionalnya, Barra meminta izin untuk sekalian mengunjungi kerabat ibunya dan menjemput sang ibu agar pulang bersamanya. Tentu saja Hani ikut dengannya karena Zain menyuruhnya untuk pulang ke Indonesia mengingat Hani masih bersekolah.
“Hai, Ma. Apa kabar?” tanya Barra setelah keluar dari bandara Internasional PEK dan menjumpai sang ibu yang sudah menunggu kedatangannya.
“Hai, Sayang. Mama kangen sekali sama kamu,” ucap Ny. Agam dan langsung memeluk serta mencium kedua pipi putranya secara bergantian.
“Ma!” pekik Barra karena dicium oleh mamanya.
“Kenapa? Kamu tidak mau mama cium?” tanya Ny. Agam dengan memasang wajah sedihnya.
“Aku bukan anak kecil, Ma ... dan jangan memasang wajah seperti itu, aku tidak akan tertipu!”
Plak!
“Akh! Sakit, Ma!” rintih Barra sambil mengusap lengannya yang terasa sakit akibat mendapat pukulan tas dari sang ibu.
“Salah siapa sok cuek sama mama, padahal dulu selalu merengek minta dicium mama. Apa karena kamu sudah menemukan pawang baru?” selidik Ny. Agam sambil melirik ke arah Hani yang sedari tadi hanya menatap interaksi antara ibu dan anak tersebut.
“Apa sih, Ma. Itu kan dulu saat aku masih kecil,” sangkal Barra.
“Hmm, sudah kamu tandai belum dia?”
“Ma!”
“Apa?” tanya Ny. Agam garang dengan menatap tajam ke arah putranya lalu beralih menatap lembut ke arah Hani yang sedari tadi terabaikan.
“Lama tidak berjumpa, bagaimana kabar kamu, Hani?”
“Saya sehat Nyonya, bagaimana dengan kabar Anda sendiri?” tanya Hani sopan.
“Seperti yang kamu lihat, masih bisa menjemput anak nakal ini,” jawab Ny. Agam sambil menepuk bahu putranya.
“Ma, ayo kita pulang! Lanjut nanti saja kalian mengobrolnya,” ajak Barra yang merasa kasihan dengan keadaan Hani yang terlihat sedikit pucat karena belum terbiasa naik pesawat terbang.
...*****...
__ADS_1
Di waktu yang sama, Zain terlihat lebih pendiam dari biasanya. Sejak pagi ia hanya diam dan bersuara seperlunya saja, membuat Zahra merasa bingung dengan perubahan suaminya tersebut.
“Sayang, cepat dimakan makanannya, jangan hanya dilihat saja!” perintah Zahra namun tak direspons oleh suaminya tersebut.
“Zain!” teriak Zahra membuat Zain terkejut dan menjatuhkan sendoknya.
“Maaf,” lirih Zain lalu meninggalkan kamar rawat Yang Zi membuat Zahra, Yang Zi dan Mrs. Hu saling bertukar pandang merasa heran melihat tingkah aneh Zain.
“Kenapa dengan anak itu?” tanya Mrs. Hu terheran.
Zahra hanya mengangkat bahunya tanda bahwa ia juga tidak tahu penyebab suaminya itu murung.
Meski masih merasa penasaran, namun Zahra hanya bisa menebak-nebak dalam hatinya saja. Ia tidak mau mengganggu suaminya karena takut akan semakin memperkeruh suasana hati sang suami, Zahra berpikir jika suasana hati suaminya sudah tenang pasti suaminya akan bercerita kepadanya.
“Biarkan saja, lanjutkan saja makan kamu, Sayang!” perintah Mrs. Hu mencoba menutupi kegundahannya, sebenarnya ia juga merasa penasaran dengan sikap keponakannya tersebut namun memilih untuk mengabaikannya.
“Iya, Ma.”
...*****...
Keluarga lainnya juga tidak kalah bahagianya dengan kedua pasangan tersebut, Barra secara bergantian memberi salam dan memeluk paman dan bibinya, kedua kakak ibunya beserta istri dan anak cucunya, serta adik laki-laki ibunya yang usianya hanya berbeda beberapa tahun darinya.
“Apakah dia calon menantu kamu, Wang?” tanya kakek Barra kepada Ny. Agam dengan menyebutkan nama aslinya, Xiao Wang.
Xiao merupakan marga dari keluarga kakeknya, karena Dr. Agam merupakan orang asli Indonesia maka nama China Barra memakai marga dari ibunya.
“Kungkung a, dia bukan calon istri saya,” jawab Barra cepat namun sopan sebelum ibunya menjawab pertanyaan dari kakeknya tersebut.
“Zhan a, akung bertanya kepada ibu kamu. Kenapa kamu yang menjawabnya?”
“Maaf atas ke tidak sopanan Xiao Zhan, Kungkung,” ucap Barra sambil mengepalkan tangan kirinya yang dibungkus tangan kananya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya tanda hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
“Hmm, sudahlah tidak perlu bersikap formal,” ucap kakek Barra sambil mengibaskan tangannya menyuruh sang cucu untuk kembali berdiri.
“Ayo silakan masuk, kita makan bersama,” ajak nenek Barra yang terlihat masih sehat di usianya yang sudah 80 tahunan.
“Mari kita makan hidangannya, sebelum dingin,” ucap bibi Barra setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing.
__ADS_1
“Selamat makan!” ucap semua orang bersamaan.
Susana di ruang makan tersebut sangatlah berbanding terbalik dengan suasana ruang makan di rumah Zain yang selalu terasa sunyi. Mereka makan dengan diselingi obrolan dan gurauan membuat suasana terasa semakin hidup.
Barra yang melihat Hani kesulitan menggunakan sumpit berinisiatif menyuruh pelayan di rumah tersebut untuk mengambilkan sendok dan garpu untuk Hani. Hal tersebut justru membuat seluruh anggota keluarga menatap curiga ke arah Barra.
“Makanlah yang banyak, Nak!” ucap bibi Barra sambil menaruh lauk ke dalam mangkuk nasi Hani dengan sumpit di tangannya.
Hani yang tidak mengerti dengan ucapan wanita tersebut hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan, ia hanya bisa menebak bahwa wanita tersebut menyuruhnya makan makanan tersebut.
Di dalam masyarakat China, sudah menjadi kebiasaan untuk menyumpitkan lauk dan diletakkan di atas mangkuk nasi orang lain saat makan bersama. Hal tersebut untuk menunjukkan kedekatan dan keramahan, bukan berarti mereka tidak menginginkan makanan tersebut atau berpikir orang tersebut tidak bisa melakukannya sendiri.
“Xiao Zhan, kamu pintar juga mencari wanita. Dia terlihat cantik, sopan dan baik,” ucap bibi Barra yang lain memberikan penilaiannya terhadap Hani.
“Bibi, jangan salah paham. Kebetulan tuan Zain menitipkan dia kepada saya karena tidak tega menyuruhnya kembali ke Indonesia seorang diri, maka saya sekalian mengajaknya berkunjung ke sini,” sangkal Barra sopan karena sejak tadi keluarganya seakan memojokkannya dengan Hani, namun Hani terlihat biasa saja karena ia tidak paham dengan pembicaraan mereka.
“Jangan malu, Xiao Zhan. Mama kamu sepertinya juga menyukai gadis itu,” imbuh paman Barra semakin membuat suasana semakin ramai.
“Sepertinya akan segera diadakan pesta besar di rumah ini, Pa.” Paman Barra, yaitu adik laki-laki Ny. Agam ikut memprovokasi ayahnya.
“Iya, pesta pernikahanmu, Xiao Yu Liang!” ucap kakek Barra membuat semua orang tertawa kecuali Hani yang sama sekali tidak paham.
“Paman, usia paman sudah hampir kepala 4. Kapan paman akan membawakan calon menantu untuk kakek?” ejek Barra yang merasa senang karena niat pamannya untuk memojokkannya malah menyerang dirinya sendiri.
“Nanti setelah kamu menikah, aku baru akan mencari wanita untuk dijadikan istri!” ketus Xiao Yu Liang merasa kesal.
“Jangan terlalu lama, Paman. Nanti tidak akan ada wanita yang mau dengan paman yang sudah berumur,” ejek sepupu Barra yang terlihat seumuran dengan Hani.
“Diam kamu, Xioa Yan! Aku bocorkan rahasiamu tentang pangeran-pangeran pujaanmu itu kepada papamu!” ancam paman Barra.
“Paman!” pekik Xiao Yan merasa kesal dengan ancaman pamannya.
“Ingat, usiaku baru 35 tahun, masih jauh dari angka 40, Xiao Zhan! jadi untuk apa buru-buru untuk menikah?”
“Yah ... terserah apa kata paman saja,” ucap Barra membuat semua orang tersenyum melihat perdebatan mereka.
__ADS_1