
Zain duduk di kursi kerjanya namun pandangan matanya fokus menatap layar ponselnya dengan sebuah hansfree berwarna hitam yang menempel di telinga kanannya. Entah apa yang sedang dilihatnya sehingga tidak menghiraukan seseorang yang sejak tadi berdiri di depannya.
“Tuan, ada nona Anindya yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap Barra namun Zain tidak mendengarkannya.
“Tuan, apa saya harus mengusirnya?” ulang Barra.
“Tuan!” Barra menaikkan sedikit suaranya karena tuan mudanya mengabaikan panggilannya dan masih sibuk dengan layar ponsel di tangannya.
Zain mengangkat wajahnya dan menatap tajam ke arah asistennya.
“Maaf, Tuan. Ada nona Anindya di depan. Apa saya harus mengusirnya?”
“Ck! Mengganggu saja! Apa perlu saya menjelaskannya padamu?” kesal Zain lalu kembali sibuk dengan layar ponselnya.
Barra mencoba melirik layar ponsel tuannya karena penasaran dengan apa yang di lihat oleh Zain. Namun, terkejut ketika mendengar suara lantang tuannya.
“Apa lihat-lihat! Cepat kerjakan tugasmu!” perintah Zain sambil menutup layar ponselnya didadanya.
“Baik, Tuan.”
Brak!
Baru saja Barra menyelesaikan kalimatnya, mereka dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka paksa dari arah luar.
Mereka menatap ke arah pintu tersebut dan terlihat dua sosok wanita masuk ke dalam ruangan, satu wanita berpenampilan sopan dan rapi, sedangkan satunya lagi berpenampilan terbuka dengan pakaian sexynya.
“Ma-maafkan saya, Tuan. Nona ini memaksa untuk masuk,” ucap sekretaris Zain dengan wajah takutnya.
Sedangkan wanita yang berpakaian sexy terlihat melebarkan senyumnya tanpa merasa bersalah lalu berjalan ke arah meja kerja Zain.
“Hai adik ipar! Apa kabar?” sapa Anindya lalu duduk di kursi yang tersedia di depan meja Zain.
Zain memutar bola matanya malas, lalu kembali fokus melihat layar ponsel di tangannya.
“Kamu boleh pergi!” perintah Barra kepada sekretaris tuan mudanya.
‘Pergi sana dasar wanita pengganggu!’ kesal Anindya dalam hati, ia memastikan sekretaris Zain menghilang di balik pintu yang tertutup lalu beralih menatap ke arah Zain.
“Hai, Zain. Kamu sungguh tidak sopan mengabaikan aku!” tegur Anindya.
“Nona, tolong jaga ucapan Anda!” peringat Barra.
“Diam kamu! Aku tidak ada urusan denganmu!” ketus Anindya.
“Zain, maaf waktu itu aku nggak ada maksud buat meninggalkan acara pernikahan kita,” ucap Anindya menyesali keputusan ibunya saat itu.
Zain menatap sekilas ke arah Anindya, wanita yang sekarang menjadi kakak iparnya. Lalu meletakkan ponselnya yang masih menayangkan cuplikan aktivitas seorang wanita di dalam ruangan serba hijau lalu mematikannya.
“Apa kedatanganmu hanya untuk meminta maaf?” tanya Zain dingin tanpa menatap ke arah Anindya.
__ADS_1
“Iya.”
“Aku sudah memaafkanmu.”
“Benarkah?” tanya Anindya dengan binar di wajahnya.
Zain menganggukkan kepalanya, dan memberi isyarat lewat matanya kepada Barra untuk membawa Anindya pergi.
“Baiklah Nona, tujuan Anda datang ke sini sudah selesai. Sekarang silakan Anda meninggalkan ruangan ini.”
“Aku belum selesai.” Anindya dengan cepat menyela ucapan Barra.
“Nona, sebaiknya Anda segera pergi, jangan membuang-buang wak-”
“Kamu diam! Jangan ikut campur urusanku dengan majikanmu, yang seharusnya pergi itu kamu bukan aku!”
Zain kembali memberikan isyarat kepada Barra agar tetap diam, Zain ingin melihat apa yang diinginkan perempuan di depannya itu.
Zain menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. “Apa yang kamu inginkan?”
Anindya merekahkan senyuman di wajahnya. “Kamu tahu kan, seharusnya yang menikah saat itu adalah kita, bukan adikku?”
Zain diam menunggu Anindya menyelesaikan kalimatnya, sedangkan Barra beberapa kali terlihat menarik napas panjang guna menahan emosinya. Ingin sekali ia menendang keluar wanita itu.
“Zain, waktu itu aku dipaksa untuk pergi sama mama dan papaku,” terang Anindya.
“Zain! Jangan mengabaikanku!” kesal Anindya karena pria di depannya sama sekali tidak meresponsnya.
“Zain!” Habis sudah kesabaran Anindya, ia membelakan meluangkan waktunya hanya untuk datang ke kantor Zain tapi yang ia dapat hanyalah penghinaan.
“Seharusnya akulah yang menjadi istrimu bukan gadis gila di dalam ponselmu itu!”
Zain menatap lekat wajah Anindya seolah ingin menerkamnya.
“Jika kamu masih menyayangi nyawamu, jaga mulut busukmu itu!”
“Memang benar apa yang aku katakan. Gadis itu gila!”
“Apa maumu? Apa kamu ingin menggantikan posisi adikmu sebagai istriku?”
Anindya menganggukkan kepalanya. “Kita mulai semuanya dari awal ya, Zain.”
“Ck!” Zain tersenyum mengejek. “Kamu benar ingin menggantikan posisi Zahra?”
Sekali lagi Anindya menganggukkan kepalanya, Anindya merasakan jantungnya berdetak semakin kencang. Saat ini Anindya merasa melayang, sebentar lagi tujuannya untuk menjadi nyonya Zain akan terwujud. Tepatnya istri satu-satunya Zain Malik Ibrahim.
Setelah mengetahui Zain sudah resmi menceraikan istri pertamanya dan melihat kondisi adiknya yang ia anggap gila, Anindya dan ibunya berencana untuk merebut kembali posisi yang seharusnya menjadi miliknya dan akan menyingkirkan Zahra.
“Berarti kamu siap jika harus diperkosa dan digilir dua pria asing dan harus mendapatkan perawatan kejiwaan seperti adikmu yang kamu katakan gila itu?”
__ADS_1
Deg.
“A-apa maksudmu? Itu kan sudah berlalu dan jika aku menjadi istrimu, kamu pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadaku,” ucap Anindya dengan wajah pucat.
“Jika kamu ingin menjadi istriku, kamu juga harus merasakan apa yang dirasakan oleh Zahra!” gertak Zain.
Seketika tubuh Anindya membeku, ia tidak rela jika tubuhnya harus dijamah oleh dua pria asing secara bersamaan. Anindya bergidik ngeri.
“Antarkan dia keluar, Barra!” titah Zain.
Barra berjalan mendekat ke arah Anindya dan menarik tangan wanita itu. “Silakan keluar, Nona.”
“Hei lepaskan aku asisten bodoh, jangan sentuh aku!” Anindya mencoba melepaskan genggaman tangan Barra dari tagannya. Namun sia-sia karena tangan Barra benar-benar mencengkeram tangannya dengan kuat.
“Zain!” Anindya memanggil nama Zain namun pria itu hanya meliriknya sekilas, lalu meraih ponselnya dan kembali fokus dengan layar ponselnya.
Barra menyeret tubuh Anindya melewati lobi, sehingga banyak karyawan yang melihat kejadian tersebut.
“Lepaskan aku!” teriak Anindya.
Barra melepaskan tangannya lalu mendorong tubuh Anindya keluar dari pintu lobi dengan kasar.
“Antar dia pulang ke rumahnya!” perintah Barra kepada anak buahnya.
“Baik, Tuan.”
Dua penjaga serta security dengan sigap mencekal tangan Anindya ketika wanita itu hendak mau masuk lagi.
“Ingat kalian semua! Jangan pernah biarkan wanita ini menginjakkan kakinya di tempat ini lagi ke depannya!” perintah Barra kepada security dan juga petugas resepsionis.
“Hei Barra asisten kurang ajar! Jika aku sudah menjadi istri tuanmu, akan aku pastikan kamu yang akan di tendang oleh Zain!”
“Saya menantikan hari itu tiba, Nona Anindya.”
Barra membungkukkan kepalanya, namun bibirnya tersenyum mengejek sebelum berbalik meninggalkan Anindya yang masih berteriak marah memakinya dan memanggil Zain.
Barra kembali ke dalam ruangan tuan mudanya, dan langsung masuk ke dalamnya setelah beberapa kali mengetuk pintu namun tidak mendapat jawaban dari dalam.
Barra melihat tuan mudanya duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil tersenyum-senyum sendiri.
“Apa kamu sungguh tidak merindukanku?” tanya Zain dengan menautkan alisnya.
‘...’
“Kamu sungguh tega menyiksaku! Sampai kapan aku harus seperti ini, Zahra ...,”
Barra menggelengkan kepalanya, lalu duduk di sofa dan meraih berkas-berkas yang harus di selesaikannya.
Akhir-akhir ini Barra harus menyelesaikan pekerjaan Zain yang terbengkalai diabaikan oleh tuannya karena Zain lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menelpon Zahra atau hanya sekedar menonton video Zahra yang dikirimkan oleh Ny. Amara.
__ADS_1
‘Lama-lama Anda yang akan menjadi gila, Tuan.’ Gumam Barra dalam hati.