Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 113. Kedatangan Keluarga Pesantren


__ADS_3

Selama lima hari Zahra absen dari kuliahnya, begitu pun dengan Tania yang hanya kuliah untuk mengikuti majikannya saja.


Selama absen baik Zahra dan Tania tidak memberi kabar kepada siapa pun termasuk Ulfa dan Ria membuat keduanya cemas memikirkan keadaan sahabat baru mereka.


“Kira-kira kemana perginya kedua orang itu, Fa?” tanya Ria cemas, biasanya dia yang paling pendiam di antara keempat sahabat itu.


“Entahlah, aku tidak bisa menghubungi Tania, sedangkan Zahra ... nomor ponselnya saja kita tidak punya,” keluh Ulfa.


Zahra memang tidak membagikan informasi pribadinya kepada siapa pun, termasuk nomor ponselnya untuk berjaga-jaga agar tidak ada yang mengganggunya. Jika ingin menghubungi Zahra harus melewati perantara Tania yang semua orang mengira mereka adalah saudara.


“Huh, sepi sekali. Aku kangen sama Zahra dan Tania, apa mereka baik-baik saja? Atau jangan-jangan mereka sakit, Fa.” Ria menebak-nebak.


“Kalau sakit kenapa bisa bersamaan gitu ya?” tanya Ulfa balik.


“Atau mereka sedang pergi berlibur, Fa. Tapi kenapa tidak memberi tahu kita?”


“Entahlah, mungkin juga ada acara keluarga. Kita kan bukan-”


“Hai, lagi pada apa nih?” tanya Aldebaran tiba-tiba tanpa permisi bergabung di meja Ria dan Ulfa dan memotong kalimat Ulfa.


“Ck! Mengganggu saja orang satu ini!” gerutu Ulfa lirih namun masih terdengar oleh Aldebaran yang duduk di sampingnya.


“Kakak lihat sendiri kita sedang makan, kan? Masih tanya lagi!” sungut Ria kesal, beberapa hari ini mereka berdua selalu di teror oleh Aldebaran yang menanyakan keberadaan Zahra.


“Hehe, iya aku tahu.”


“Ada apa lagi? Mau tanya keberadaan Zahra? Kami juga tidak tahu, Kak.” Ulfa menjelaskan sebelum Aldebaran mengulang pertanyaan yang sama lagi.


“Kalian jangan bohong, bukannya kalian sahabat Zahra. Masa tidak punya nomor ponselnya?” tanya Aldebaran tidak percaya.


“Terserah Kakak, deh! Sudah dikasih tahu kalau Zahra itu sudah menikah, Kak!”

__ADS_1


Ulfa beranjak meninggalkan mejanya, ia sudah tidak selera lagi untuk memakan bakso yang baru saja dipesannya itu. Ria yang melihat sahabatnya pergi juga ikut menyusulnya.


Tinggallah Aldebaran duduk di meja itu sendirian menatap kepergian dua gadis itu.


“Kemana kamu selama lima hari ini, Zahra?” tanya Aldebaran entah ditujukan untuk siapa, ia lalu mengambil mangkuk bakso milik Ulfa yang masih utuh lalu memakannya.


“Lumayan dari pada mubazir, lain kali aku traktir dua anak itu.”


...*****...


Di tempat lain tepatnya di mansion utama suasana terlihat sangat ramai, Zahra kedatangan tamu dari pesantren keluarga mendiang ibunya. Para wanita berkumpul di ruang keluarga, sedangkan lelaki berkumpul di ruang tamu.


Mereka semua tidak ada yang membahas masalah Zahra yang kehilangan calon bayinya, takutnya Zahra akan terus teringat dan semakin sulit untuk mengikhlaskannya.


“Ini bude Ira, Nduk. Adiknya abi Hamdan dan kakaknya umma kamu,” ucap umi Maryam.


“Apa kabar, Nduk. Masya Allah, kamu sangat cantik mirip sekali dengan umma kamu,” ucap bude Humaira bahagia, beliau baru pertama kali melihat langsung keponakannya itu.


“Kamu mirip sekali dengan putri bude, namanya Anisa. Sayang sekali dia tidak bisa ikut ke sini karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.”


“Tidak apa-apa bude, lain kali biar Zahra yang berkunjung ke pesantren dan rumah bude.”


Bude Humaira mengusap wajah Zahra, mengamati dengan saksama wajah kopian adiknya itu. Betapa beliau merindukan sosok adik kesayangannya yang telah lama pergi mendahului mereka menghadap Sang Pencipta.


“Permisi, Nyonya. Makanannya sudah siap,” ucap bi Nur yang datang dari arah ruang makan.


“Iya Bi, terima kasih,” balas Ny. Amara.


Ny. Amara mempersilakan semua tamunya untuk makan bersama, untuk pertama kalinya setelah kepergian tuan Ibrahim meja makan besar itu terisi penuh seperti di saat tuan Ibrahim masih hidup.


Dulu rumah besar itu tidak pernah sepi, selalu saja ada orang yang berkunjung ke mansion. Entah itu kerabat atau rekan bisnis tuan Ibrahim.

__ADS_1


“Silakan dinikmati makanannya, Pa, Abi dan semuanya. Anggap seperti rumah sendiri,” ucap Zain mempersilakan semuanya untuk segera memulai acara makan bersamanya.


Selesai makan, mereka semua kembali berkumpul di ruang keluarga, kali ini tidak dipisah antara laki-laki dan perempuan.


Semua orang menggoda Zahra yang sedari tadi terlepas dari suaminya. Zain terlalu posesif kepada Zahra bahkan dengan keluarganya sendiri, ia tidak rela jika melepaskan istrinya itu maka Zahra akan menempel kepada ayahnya atau kakaknya.


“Zahra tidak akan menghilang jika kamu melepaskan genggaman tanganmu itu, Zain,” ejek Zahran, mereka sudah mulai akrab dan Zahran berani menggoda adik iparnya itu.


“Bilang saja kalau Mas mau mengambilnya dariku!” jawab Zain dengan nada datarnya.


“Siapa juga yang mau-”


“Makanya segera cari istri, Gus! Hanya kamu seorang yang belum menikah di antara cucunya Abah,” sela bude Humaira memotong kalimat Zahran.


“Mencari istri itu tidak mudah, Bude. Bukannya Zahran tidak ada yang mau ya, cuma belum ada yang cocok di hati saja,” ucap Zahran mencari alasan.


“Alasan, apa sudah ada yang bersemayam di hati kamu? Siapa gadis itu? Biar nanti bude dan umi kamu yang akan mengurusnya.” Bude Humaira terlihat paling semangat membahas calon istri untuk Zahran.


“Belum ada Bude, nanti kalau sudah tiba waktunya Zahran pasti akan memberitahukannya kepada kalian.”


Drrrrt...


Zain merasakan ponsel di sakunya berdering, ia lalu pamit untuk menerima panggilan tersebut.


“Ada apa?” tanya Zain kepada orang di seberang telepon.


‘Tuan, kami sudah menangkap wanita itu,’ jawab orang di seberang sana.


“Kurung dia! Paska hingga ia mengatakan yang sebenarnya!”


“Aku percayakan masalah ini kepadamu. Jangan mengecewakanku!” perintah Zain sebelum mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


Zain kembali masuk ke dalam rumah dan bergabung dengan keluarganya.


__ADS_2