
Setelah meminta maaf dan menjelaskan alasan kenapa dirinya menyembunyikan tentang status suaminya, Zahra mengajak sahabatnya itu ke taman belakang melepas rindu karena beberapa hari tidak saling bertemu.
“Jadi, sebenarnya Tania adalah pengawal kamu?” tanya Ulfa masih tak percaya.
“Hmm, tapi aku sudah menganggapnya seperti kakak bagiku.” Zahra tersenyum menatap ke arah Tania yang duduk di depannya.
“Apa tidak masalah kalau kita memanggil kamu hanya dengan nama saja?” tanya Ria canggung masih merasa takut akan mendapat masalah dari Zain.
“Haha, kenapa wajah kalian pucat seperti itu?” Zahra menduga bahwa kedua sahabatnya masih syok mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
“Eh, maaf.”
“Ehm, kami emh- merasa sedikit segan berada di rumah ini.” Ria berhasil mengutarakan isi hatinya meski harus dengan susah payah menggerakkan lidahnya untuk berterus terang.
“Astaga! Apa kalian masih marah kepadaku?” tanya Zahra dengan wajah sedihnya.
“Eh, tidak. Kami tidak marah sedikit pun kepada kamu.” Ulfa dan Ria merasa serba salah, mereka takut membuat kesalahan di rumah Zahra.
“Kalau tidak marah, kenapa sikap kalian berubah kepadaku?”
“Bukan begitu, beri kami sedikit waktu untuk mencerna semua ini, Zahra. Kamu tahu sendiri jika aku hanyalah orang biasa dan berasal dari keluarga sederhana, lalu tiba-tiba aku memiliki teman istri dari-”
“Cukup, Ria. Apa kamu menilai aku orang yang memandang orang lain hanya dari segi materi saja?” tanya Zahra cepat memotong kalimat Ria.
“Bukan begitu,” jawab Ria cepat. “Maaf,” sesalnya.
“Sudahlah, aku harap kalian berdua masih mau berteman denganku dan memperlakukan aku sama seperti sebelumnya, mengerti!” pinta Zahra tegas.
Ulfa dan Ria hanya bisa menganggukkan kepala mereka pelan, sebenarnya mereka juga merasa bahagia bisa berteman dengan Zahra terlepas dari statusnya yang seorang istri dari Zain Malik Ibrahim.
“Kalian tahu, bahkan Tania lebih parah dari kalian saat dia pertama kali datang ke rumah ini,” ucap Zahra mencoba mencairkan suasana.
“Nona, jangan katakan kepada mereka,” cegah Tania merasa malu.
“Oh ya, ayo cepat ceritakan!” pinta Ria dan Ulfa antusias.
“Tania bahkan tak pernah bicara sudah seperti patung berjalan saja.” Zahra tersenyum mengingat awal pertemuan mereka, Tania memang dulu jarang bicara berjaga agar tidak salah bicara dan mendapat masalah dari tuannya.
“Masa sih?”
Ria dan Ulfa serempak menetap ke arah Tania yang pura-pura sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
“Lihatlah dia sekarang, sudah mau bicara denganku tanpa merasa takut lagi dengan Zain.”
“Suamiku bukan orang yang menakutkan, percayalah.” Zahra mengatakannya dengan sangat meyakinkan, melupakan fakta bahwa dirinya dulu pernah menjadi korban dari kekejaman suaminya itu.
Zahra berhasil membuat Ria dan Ulfa kembali seperti semula, tanpa merasa takut dan canggung lagi berbicara dengan Zahra.
Mereka menghabiskan hari berbagi cerita, membahas berbagai hal hingga membuat mereka tak menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Di tempat lain, setelah menjemput sepupunya di Bandara, Zain langsung membawa Yitian menuju rumah Dr. Agam.
“Ko, kenapa kita ke sini? Ini bukan mansion milik mommy Amara.” Yitian terlihat bingung melihat rumah asing di depannya.
“Bertemu yeye!” jawab Zain datar.
“Hah, kenapa membawa aku bertemu kungkung? Aku tidak mau!” Yitian hendak kembali masuk ke dalam mobil namun Zai dengan cepat menarik kerah baju adik sepupunya itu.
“Mau kemana kamu?” Zain menyeret Yitian masuk ke dalam rumah Dr. Agam.
“Ko, lepaskan aku! Aku bukan anak kecil lagi!” teriak Yitian mengingat Zain selalu mendominasi dirinya sewaktu masih kecil dulu, bahkan hingga saat ini Yitian tidak mampu hanya untuk menolak perintah kakak sepupunya.
“Beri salam dulu kepada yeye baru aku akan melepaskanmu!”
“Ko!” Yitian dengan terpaksa mengikuti langkah Zain meski ia harus menyeret kakinya yang terasa sangat berat.
Yitian duduk terdiam di hadapan kakeknya, semua orang tahu bahwa Yitian sangat menghindar dari kakeknya itu.
Bukan tanpa alasan ia selalu kabur jika bertemu kakeknya, tapi Yitian merasa tertekan karena kakeknya selalu menanyakan cucu menantu darinya.
“Apa seperti ini cara kamu memberi salam kepada orang tua?” tanya kakek dengan nada tinggi.
“Apa kabar, Kungkung. Semoga sehat selalu dan diberikan keberkahan dalam hidup, Kungkung.” Yitian memberikan salam hormat dengan tulus namun semua orang di ruangan itu melihat Yitian melakukannya tidak serius.
“Dasar anak nakal!” kakek memukul pelan punggung Yitian dengan tongkat ditangannya.
“Akh! Sakit, Kungkung!” Yitian melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
“Gara-gara kamu aku tidak bisa menemani Yang Zi ketika dia melahirkan!” seru kakek kesal, kakek yang sejak awal berencana menemani cucu kesayangannya itu selama kehamilannya terpaksa harus kembali ke China karena Yitian yang diberi tanggung jawab justru pergi entah kemana dan menyerahkan semuanya kepada Hou Ming yang masih belia.
“Ampun, Kungkung! Ko, bantu aku!” Yitian merengek meminta perlindungan dari kakaknya.
Namun Zain, hanya melihat sekilas ke arahnya dan kembali fokus menatap baby Rayyanza yang ada di gendongannya.
__ADS_1
Sedangkan Barra dan Yang Zi hanya duduk menyaksikan drama di depan mereka dengan santai.
“Berapa usia kamu, hah?”
“17 tahun,” jawab Yitian cepat.
“17 tahun kepalamu! jangan membuatku emosi, Tian!” kesal kakek.
“Kenapa Kungkung sangat suka menyiksaku?”
“Karena kamu berbeda dari yang lainnya, kamu cucuku paling bandel dan pembangkang! Lihatlah Yang Yang!” kakek menunjuk Zain dengan tongkatnya.
“Dia sangat penurut dan tidak pernah menyela ketika orang gua tengah berbicara!”
“Itu karena piuko punya kelainan! Pita suaranya membeku jadi suaranya jarang ia gunakan.”
“Hu Yitian!” teriak kakek merasa frustrasi menghadapi cucu satunya itu.
“Cepat menyingkir dari hadapanku!”
“Baik, siapa juga yang mau menjadi pelampiasan kemarahan Kungkung,” ucap Yitian lalu dengan cepat ia berlari menjauh dari kakeknya.
“Yitian, dasar anak itu! Usianya sudah hampir 30 tahun masih saja seperti anak-anak! Hanya Hou Ming satu-satunya harapan yang aku miliki.”
“Biarkan dia dengan pilihannya sendiri, yeye. Dia memutuskan untuk tidak menikah, dan tunggu Ho Ming menyelesaikan SMA-nya dan kirim dia kesini untuk belajar menjalankan bisnis keluarga kita.” Zain memberikan masukan kepada kakeknya.
Setelah puas bersama baby Rayyanza, Zain pamit pulang dan tentunya Yitian ikut bersamanya.
“Apa tujuan Pioko menyuruhku untuk datang kesini? Pastinya bukan hanya untuk dijadikan pelampiasan kemarahan Kungkung dan menjenguk baby Rayyanza saja, kan?” tanya Yitian serius ketika mereka dam perjalanan pulang ke mansion utama.
“Pintar kamu.”
“Ko! Aku serius, cepat katakan!”
Plak!
Zain memukul pelan kepala Yitian. “Jangan memasang wajah serius seperti itu, tidak cocok dengan wajahmu!” ejek Zain.
Yitian memang terlihat tidak pernah serius dalam mengerjakan melakukan pekerjaannya dan terlihat seperti hanya main-main saja.
Namun, bukan berarti ia tidak bisa diandalkan dalam semua pekerjaan. Jika sedang serius maka Yitian bisa melakukan tugasnya dengan cukup sempurna.
__ADS_1
“Ck! Kenapa kalian suka sekali memukulku?” tanya Yitian tak suka.
“Pergilah ke negara X, ada tugas untukmu!”