
“Yang a, kenapa kamu duduk di sini?” tanya Mr. Hu yang tidak sengaja melihat keponakannya tersebut duduk menyendiri di taman rumah sakit. Kebetulan beliau mampir untuk melihat keadaan Yang Zi yang sudah diperbolehkan pulang hari ini.
“Pa,” sapa Zain menatap ke arah pamannya sekilas dan kembali fokus dengan kopi di tangan kanannya.
“Yang a, apa kamu menganggap paman sebagai orang lain?” tanya Mr. Hu yang sudah duduk di samping keponakannya.
“Kenapa papa berkata seperti itu?” heran Zain karena pamannya tidak pernah menyebutkan dirinya dengan kata paman ketika berbicara kepadanya.
“Selama ini, papa selalu menganggap kalian berdua sebagai anak papa. Papa tidak pernah sekalipun membedakan kalian dengan Yitian, apa dengan cara ini kamu membalas ketulusan yang papa berikan untukmu?”
“Pa ... a-aku tidak bermaksud untuk membuat papa merasa sed-”
“Sudahlah! Papa sadar bahwa papa hanyalah orang luar bagimu. Kita tidak pernah memiliki hubungan darah bukan?” sela Mr. Hu memutus perkataan Zain yang belum terselesaikan.
“Pa, jangan berkata seperti itu! Sejak dulu dan selamanya papa akan menjadi papa kita, aku, Yitian, dan Yang Zi. Maaf jika aku telah membuat papa sedih,” lirih Zain dengan menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah pamannya tersebut.
“Bodoh!” seru Mr. Hu sambil menepuk bahu keponakannya tersebut.
__ADS_1
“Mana Zhang Yang Yang yang terkenal dingin, kejam dan berkuasa itu? Kenapa hanya ada pria lemah yang duduk menyendiri di tempat sepi seperti ini?” ejek Mr. Hu dengan suara tegasnya.
“Kamu seorang lelaki, Yang! Seorang pemimpin! Kamu yang harus memimpin keluargamu, ada 3 nyawa yang menggantungkan kehidupan mereka kepadamu! Apa papa pernah mengajarkanmu menjadi pria lemah seperti ini? Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Jangan menyimpan masalah kamu seorang diri! Kamu masih punya keluarga, Yang! Apa kamu pikir daddy kamu akan merasa bangga dengan sikap kamu sekarang? Terpuruk dan termenung sepanjang hari!”
“Pa,”
“Kamu memiliki kami, Yang! Tidak ada gunanya menyesali apa yang sudah terjadi. Kita harus bangkit dan memperbaiki kesalahan dimasa lalu!”
“Maaf, Pa,” lirih Zain.
“Yitian sudah menceritakan semuanya kepada papa tentang permintaan Xiao Zhan untuk menikahi Yang Zi. Papa akan merestui pernikahan mereka jika memang itu yang terbaik, kita sudah mengenal keluarga mereka, dia juga pria yang baik dan bertanggung jawab. Tapi papa juga tidak akan memaksa jika kamu dan Yang Zi tidak menginginkan pernikahan ini, semua keputusan ada ditangan kamu.” Mr. Hu menepuk bahu Zain berulang kali.
“Oh ya, soal kamu yang ingin membawa Yang Zi ke Indonesia papa mendukungmu. Tapi, apa kamu tidak memikirkan ke depannya? Mungkin dengan Xiao Zhan yang menikah degannya bisa membantu keadaan Yang Zi, jika mereka menikah, kamu tidak perlu memikirkan dimana dia akan tinggal. Hal tersebut juga baik untuk mommy kamu.”
Hampir satu jam lamanya mereka berdua duduk sambil bertukar cerita, Mr. Hu menceritakan kisah-kisah masa lalunya, perjuangannya mendapatkan sang istri yang sempat membuatnya tidak percaya diri sebab perbedaan kasta di antara keduanya.
Dulu Mr. Hu hanyalah seorang polisi biasa yang tidak memiliki pangkat tinggi dan beliau berasal dari keluarga yang sederhana, namun ia bersyukur karena ayah mertuanya tersebut tidak pernah memandang seseorang dari harta dan jabatannya.
__ADS_1
Zain juga bercerita tentang masa lalu istrinya dan rencananya untuk membawa Zahra berobat ke China, di sana ada rumah sakit milik kerabat dari kakeknya yang terkenal akan akreditasinya yang baik bahkan sudah terkenal di seluruh penjuru dunia.
“Kapan kalian akan berangkat?” tanya Mr. Hu.
“Lusa, berhubung Yang Zi sudah diperbolehkan pulang, aku titipkan dia di bawah pengawasan Papa.”
“Jangan khawatir, papa akan selalu menjaga putri kecil papa.”
“Terima kasih, Pa,” ucap Zain tulus.
“Sudah menjadi kewajiban papa sebagai orang tua, Yang a. Oh ya, jangan terlalu cuek kepada istri kamu, jangan sampai kamu kelimpungan saat kehilangan dia untuk ke sekian kalinya,” ucap Mr. Hu mengingatkan, ia memperhatikan keponakannya itu begitu terlarut dalam kesedihan sehingga sedikit mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
Zain menepuk jidatnya sendiri ketika ia teringat akan keberadaan sang istri yang hampir satu minggu ini ia abaikan. “Astaga! Bodohnya aku!”
“Mau ke mana?” tanya Mr. Hu yang melihat keponakannya bangkit dari duduknya.
“Ke kamar Yang Zi, Pa. Aku takut Zahra akan sedih karena belakangan ini aku tidak terlalu memperhatikannya!” teriak Zain yang sudah berlari menjauh dari pamannya.
__ADS_1
Mr. Hu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap punggung keponakannya yang semakin menjauh.