
‘Za-Zain, apakah benar ini kamu?’ tanya Zahra dalam hati menatap lembaran pertama foto di tangannya.
Foto itu memperlihatkan sosok pria yang terlihat dari samping namun begitu mirip dengan suaminya, di sekelilingnya terlihat beberapa wanita dengan pakaian yang terlalu terbuka duduk manja tak malu-malu bergelayut di tubuh pria tersebut.
‘Tidak mungkin Zain yang berada dalam foto ini!’ sangkal Zahra mencoba untuk tidak mempercayai foto tersebut.
Zahra membuka lembar berikutnya dan foto yang hampir sama dengan lembar sebelumnya. Foto sosok pria yang begitu mirip dengan suaminya masih dengan beberapa wanita di sekelilingnya namun dengan pakaian yang berbeda.
Foto itu diambil dengan sudut pandang yang begitu bagus, dengan background yang sama, yang Zahra yakini tempat itu berada di sebuah klub malam. Karena dulu ia pernah sekali diajak oleh Rara saat merayakan pesta kelulusan mereka di sebuah klub malam.
“A-apa ini?” tanya Zahra dengan suara tercekat, matanya memanas ketika melihat wajah suaminya tercetak jelas pada lembar foto berikutnya.
Zahra membuka lembar berikutnya dan betapa terkejutnya ketika matanya melihat suaminya bahkan tengah berciuman dengan salah satu wanita itu.
Tania yang melihat perubahan raut wajah majikannya segera mendekat dan meraih lembaran foto di tangan Zahra.
Begitu pun dengan Tania, ia sama terkejutnya dengan Zahra. Namun segera ia menguasai dirinya.
“Zahra,” panggil Tania mencoba menyadarkan majikannya yang terlihat syok.
“Eh, emh- itu.” Zahra terlihat seperti orang bingung matanya memerah berkaca-kaca, lidahnya kaku tak bisa berkata-kata lagi.
“Emh aku pergi dulu!” seru Zahra dan berlalu meninggalkan Tania yang bingung melihat perubahan wajah Zahra.
“Zahra, tunggu!” panggil Tania bergegas menyusul Zahra yang berlari meninggalkannya.
Tania mencari keberadaan Zahra namun belum juga ia menemukannya. Tania merasa cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Zahra yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Tania bahkan tidak takut kehilangan pekerjaannya jika sesuatu terjadi kepada nonanya itu, namun Tania takut Zahra pergi dalam suasana hati yang tidak baik dan ia kehilangan jejaknya.
Di lantai dasar Mall tersebut Tania melihat sosok yang sekilas mirip dengan Zahra dari kejauhan, ia bergegar berlari menghampirinya.
Namun terlambat, Tania tertinggal satu langkah ketika sesuatu terjadi kepada Zahra. Kejadian itu terjadi dalam sekejap mata, sangat cepat.
“Zahra!” teriak Tania dengan melebarkan kedua matanya, seketika kakinya terasa lemas melihat kejadian di depan matanya.
“Nona!” Tania berlari ke arah Zahra terjatuh.
“Apa yang terjadi?”
“Gadis itu terjatuh dari tangga!”
“Cepat tolong dia!”
“Akh! Lihat ada darah di sana!”
Suara orang-orang di sekitar saling bersahutan, merasa kasihan dan iba melihat seorang wanita muda yang tertimpa musibah.
Bahkan ada beberapa orang yang acuh hanya melihat sekilas lalu berlalu begitu saja, ada pula yang hanya melihat dan mengabadikan kejadian itu dengan ponsel mereka bukannya malah menolongnya. Itulah manusia dengan berbagai sifatnya masing-masing.
“Nona, maaf aku terlambat!” Tania mengangkat kepala Zahra dan meletakkannya di atas pangkuannya.
“Sa-sakit,” rintih Zahra dalam sisa kesadarannya.
“Nona, bertahanlah!” panik Tania apalagi melihat gaun yang dipakai oleh Zahra terdapat noda darah segar.
__ADS_1
Beberapa bodyguard bayangan berlarian membuka jalan dan salah satu di antaranya mengangkat tubuh Zahra yang semakin lemah.
Dari kejauhan terlihat seseorang dengan panik dan bergegas menjauh dari lokasi kejadian.
“Tidak akan terjadi sesuatu kan dengan wanita itu?” ucapnya lirih.
‘A-ku hanya menyenggolnya sedikit kenapa dia bisa berdarah seperti itu? Bahkan dia hanya terjatuh dari tiga anak tangga saja, dia pasti akan baik-baik saja. Tenanglah, tetap tenang jangan membuat orang lain curiga.’
...*****...
Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung mendapatkan penanganan dari tim dokter yang berjaga di IGD.
Sedangkan di luar ruangan Tania menunggu dengan cemas, wajahnya terlihat pucat dan menahan tangisnya agar tidak pecah. Ia sedang menunggu seseorang menerima panggilannya.
“Angkat, Kak!”
‘Hallo, ada apa? Aku sedang rapat,’ ucap seseorang di seberang sana dengan sedikit berbisik.
“Kak, Nona Zahra terjatuh dan-” Tania tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tangisnya tak bisa ditahannya lagi.
‘Ssstt! Tenanglah, jangan menangis. Sekarang kalian berada dimana dan bagaimana kondisi nona?’
“Kami berada di IGD, Kak. Dan aku belum tahu kondisi nona, Dokter belum keluar dari ruang periksa sedari tadi.”
‘Tetap tenang, jangan panik. Semua pasti akan baik-baik saja, oke!’
“A-aku takut, Kak.”
‘Jangan menangis, aku tutup teleponnya dulu.’
Ny. Amara dan Yang Zi baru saja tiba bersamaan dengan tania yang telah mengakhiri panggilannya.
“Tania, bagaimana keadaan Zahra?” tanya Ny. Amara dengan wajah cemasnya.
Tania hanya bisa menggelengkan kepalanya masih dengan terisak. “Nyonya, ma-maaf, saya tidak bisa menjaga nona Zahra degan baik.”
Ny. Amara menatap tajam ke arah Tania yang tertunduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun membuat Tania semakin takut dan merasa bersalah.
Ny. Amar berjalan begitu saja melewati Tania yang terpaku dan duduk di kursi tunggu dengan memasang wajah datarnya.
Di tempat lain, Zain tengah fokus mendengarkan Barra yang sedang mempresentasikan proyek yang tengah mereka kerjakan bersama kliennya.
“Tuan Muda,” panggil Ali tepat berdiri di belakang Zain.
“Hmm,” jawab Zain dengan mata masih fokus ke depan.
“Ada sesuatu yang terjadi dengan nona Zahra,” ucap Ali langsung mengalihkan fokus Zain.
Zain menatap tajam ke arah Ali yang mencoba untuk tetap tenang dan tidak membuat kegaduhan namun wajahnya masih menyimpan sedikit ketakutan.
“Nona Zahra terjatuh dan sekarang berada di rumah sakit,” bisik Ali tepat di telinga Zain.
“Maaf saya harus pergi. Barra, aku percayakan semua ini kepadamu!” tegas Zain dan berdiri dari duduknya.
“Siapkan helikopter untukku sekarang juga!” perintahnya kepada Ali dan berlalu meninggalkan ruang meeting.
__ADS_1
“Baik, Tuan.”
Semua orang di dalam ruangan terlihat kebingungan dengan sikap yang ditunjukkan oleh pemimpin ZM Corp. yang terkenal dengan kedisiplinannya itu.
“Ekhem! Maaf untuk ketidak nyamanannya, Tuan-Tuan. Mari kita lanjutnya pembicaraan kali ini,” ucap Barra mengendalikan suasana yang di luar rencana.
Di atap gedung bangunan tersebut, Zain menunggu helikopter miliknya yang datang untuk menjemputnya.
“Kembalilah bersama Barra, bantulah dia menyelesaikan proyek ini!” perintah Zain sebelum masuk ke dalam helikopter.
“Jangan membuatku kecewa!”
“Baik, Tuan Muda. Kami akan melakukan yang terbaik dan dapat dipastikan akan memenangkan tender ini.”
Dengan kecepatan helikopter miliknya, tak membutuhkan waktu lama Zain sudah sampai di rumah sakit yang dimaksud. Ia berlari menghampiri ibunya yang masih menunggu di depan IGD.
“Bagaimana keadaan Zahra, Mom?” tanya Zain namun hanya dibalas dengan galengan kepala oleh ibunya.
Zain menyapukan pandangannya ke sekitar, ia melihat Yang Zi duduk agak jauh dengan wajah yang terlihat sedikit pucat, mungkin karena kelelahan.
Beberapa orang-orangnya masih setia berjaga dan menunggu, termasuk Tania yang berdiri menempel di dinding lorong rumah sakit.
“Apa yang terjadi?” tanya Zain tajam kepada Tania.
“Tu-tuan, ma-maf,” cicit Tania, nyalinya semakin menciut saat berhadapan langsung dengan Zain.
“Aku tidak membutuhkan kata maaf darimu!”
“Tu-”
Ceklek.
Suara pintu terbuka membuat semua orang menoleh ke sumber suara dan seorang dokter keluar dari balik pintu tersebut.
“Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?” tanya Zain cepat.
“Bagaimana kondisi menantunya, Dokter?”
Ny. Amara mendekati dokter tersebut begitu pun dengan Zain dan Yang Zi.
“Apakah Anda suami dari Ny. Zahra?”
“Ya, Dok. Saya suaminya, bagaimana kondisi Zahra?” tanya Zain tidak sabar.
Dokter itu terdiam dan menatap bergantian ke arah Zain dan Ny. Amara.
“Bismillah. Alhamdulillah, kondisi Ny. Zahra sudah membaik, hanya perlu banyak istirahat dan menerima transfusi darah,” jelas Dokter.
“Transfusi darah, Dok?”
Ny. Amara dan Zain sedikit terkejut mendengar penjelasan sang dokter, mereka bertanya-tanya apakah kondisi Zahra sangat serius sehingga harus menerima transfusi darah.
“Apa ada yang lainnya, Dokter?”
__ADS_1