
Zain duduk di kursi dengan memasang wajah dinginnya, di depannya berdiri dua orang wanita yang tertunduk ketakutan mendapat tatapan membunuh dari Zain.
Tania berdiri di belakang tempat Zain duduk, namun agak sedikit jauh. Ia berdiri masih dengan menundukkan kepalanya, sejak Zain tiba di rumah sakit Tania tidak berani menatap langsung wajah tuan mudanya itu.
“Apa kalian tahu kenapa kalian bisa berdiri disini?” tanya Zain dingin.
Kedua wanita itu menggelengkan kepalanya takut, apalagi suasana di dalam ruangan tersebut sangat menakutkan bagi mereka berdua.
“Katakan siapa yang menyuruh kalian?” tanya Zain dengan suara keras semakin membuat kedua wanita itu ketakutan.
Begitu pun Tania yang terlonjak kaget mendengar suara tuan mudanya, ini kali pertama ia melihat tuan mudanya murka.
Dulu ia hanya mendengar dari orang-orang bahwa Zain sangat kejam dan mengerikan jika sedang murka, namun Tania tahu bahwa tuannya hanya bersikap demikian kepada orang-orang yang bersalah dan mengusiknya saja.
‘Tuan muda memang terlihat dingin dan kejam, tapi selama kamu tidak membuat kesalahan maka beliau akan bersikap baik kepadamu.’ Tania teringat ucapan Ali di saat ia pertama kali bekerja untuk menjaga nonanya.
Tania menggigit bibirnya mengalihkan kecemasan yang melanda dirinya.
‘Huft, tenang Nia! Kamu pasti kuat, jangan takut! Jangan takut! Tuan Zain tidak akan membunuhmu!’ Tania menguatkan dirinya sendiri dalam hati.
Brak!
Zain memukul meja di depannya dengan cukup keras membuat ketiga wanita di dalam ruangan tersebut semakin ketakutan.
“Katakan!” seru Zain dengan rahang mengeras.
“A-ampun Tuan! Sa-saya benar-benar tidak tahu apa kesalahan saya,” ucap salah satu wanita itu dengan terbatas.
Zain semakin memberikan tatapan tajam ke arah wanita itu membuat keduanya tersungkur dan terduduk dilantai.
“Katakan sejujurnya jika kalian mau selamat!” ancam Zain.
“Maaf, Tuan. Sa-saya benar-benar tidak tahu kesalahan saya. Maaf jika saya membuat salah kepada Anda, tapi seingat saya ... sekalipun saya belum pernah bertemu dengan Anda, Tuan.”
Wanita satunya memberanikan diri untuk bertanya, ia tahu bahwa saat ini dirinya berada di gedung ZM Corp. dan pria yang duduk di depannya adalah pemilik gedung besar ini. Ia pernah mendengar dan sedikit mengerti tentang isu yang beredar di luar tentang kekejaman Zain.
“Memang kalian tidak pernah bertemu denganku! Tapi kalian berdua telah berani mencelakai istriku bahkan sampai membunuh bayiku!”
Deg!
Kedua wanita itu terkejut mendengar perkataan Zain, mereka semakin bingung dengan apa yang terjadi.
“A-apa maksud, Tuan?” tanya kedua wanita itu bersamaan.
__ADS_1
Zain mengetukkan jemarinya di atas meja memberi isyarat kepada Tania untuk mengurus kedua wanita itu.
Tania berjalan mendekat ke arah meja kerja tuan mudanya dan mengambil laptop kerja milik Zain yang ada di atas meja.
‘Beruntung kak Ali pernah memberitahuku tentang arti ketukan meja itu, kalau tidak bisa tambah marah Tuan Zain kepadaku,’ batin Tania merasa lega.
Tania membuka laptop itu dan jemarinya dengan lincah memainkan mencari keberadaan file yang tertumpuk dengan begitu banyaknya file data yang ia tidak tahu apa isinya.
“Lihatlah!” perintah Tania kepada kedua wanita itu.
“Bukankah Anda yang menabrak nona Zahra dan memasukkan foto-foto itu ke dalam tasnya?” tanya Tania kepada wanita yang memakai baju warna biru.
Wanita itu terlihat ketakutan, wajahnya bertambah pucat ketika melihat video rekaman CCTV yang diputar di depan matanya itu. Bahkan di sana wajahnya terlihat dengan sangat jelas, tidak mungkin ia bisa mengelak.
“Apa Anda masih bisa menyangkalnya?” tanya Tania dengan nada mengintimidasi. Ia harus bersikap tegas meskipun hatinya masih merasa waswas dengan hukuman yang akan tuannya berikan.
“Eh, i-itu.” Wajah wanita itu semakin pucat.
“Dan kamu!” Tania menunjuk wanita satunya yang memakai pakaian berwarna hijau.
“Lihatlah! Apa yang kamu lakukan dengan nona saya?”
Tania kembali memutar video rekaman CCTV yang memperlihatkan ketika Zahra terdorong hingga dirinya kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari tangga.
“I-itu, Sa-saya-”
“Sudah cukup! Tidak ada gunanya kalian mencari alasan untuk diri sendiri, Siapa yang menyuruh kalian!” Teriak Zain memotong perkataan wanita berpakaian hijau di depannya.
“Ti-tidak tahu, Tuan,” jawab keduanya bersamaan.
“Bodoh! Jangan bercanda denganku!” kesal Zain.
“Saya benar tidak tahu, Tuan. Orang itu memakai masker dan tudung kepala.”
“Saya berani bersumpah, Tuan. Saya juga tidak kenal dengan orang itu, dia juga memakai hoodie dengan penutup kepala dan memakai masker.”
Zain semakin tak terkendali mendengar pengakuan keduanya. “Jangan bercanda kalian! Berapa uang yang kalian dapatkan?”
“200 ribu, Tuan.” Keduanya menjawab dengan jawaban yang sama.
Zain dan Tania sama terkejutnya mendengar nominal yang didapatkan kedua wanita itu hanya untuk melakukan hal yang tidak terpuji.
“Bodoh kalian! Hanya demi uang 200 ribu kalian rela melakukan kejahatan bahkan membunuh janin yang tidak bersalah!”
__ADS_1
“Tu-tuan, ampuni kami, Tuan. Kami tidak tahu jika wanita itu istri Anda.”
“Kami tidak tahu jika wanita itu sedang hamil, Tuan.”
“Ampun, Tuan.
“Diam! Orang seperti kalian harus diberi pelajaran supaya tidak membuat kesalahan lagi!” gertak Zain.
Zain berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang kerjanya. Namun langkahnya terhenti ketika langkahnya terasa berat karena kedua wanita itu memeluk kaki Zain dengan erat.
“Lepaskan!”
“Tuan, ampuni kami, Tuan!” kedua wanita itu menangis di kaki Zain.
“Maafkan kami, Tuan. Kami hanya orang kecil dan-”
“Lepaskan! Atau aku akan memenjarakan kalian berdua atas tindakan bodoh yang telah kalian lakukan!” ancam Zain.
“Brengsek! Urus mereka!” perintah Zain Kepada Tania.
“Baik, Tuan.”
“Cepat selesaikan! Dan aku tunggu kamu di ruanganku!” ucap Zain sebelum menghilang di balik pintu.
“Baik, Tuan.”
‘Mampus kamu Tania, tamatlah riwayatmu! Apa mungkin tuan Zain akan memecatku? Tapi aku tidak keberatan jika harus kehilangan pekerjaanku, terlalu kecil hukuman itu dibandingkan dengan apa yang harus nona Zahra hadapi. Tapi, apakah masih ada hukuman lain untukku? Tania, semangat! Bereskan dulu masalah kedua wanita itu!’
...*****...
Di rumah sakit, Ny. Amara duduk di samping brankar menantunya yang masih belum sadarkan diri. Ny. Amara kembali mengingat beberapa bulan lalu ketika ia merawat Zahra melawan traumanya, apa mungkin kejadian hari ini akan kembali meninggalkan trauma bagi menantunya itu?
‘Setiap orang bisa sembuh dari lukanya, tetapi tidak semua orang bisa berdamai dengan traumanya, mommy berharap kamu tidak akan menyalahkan dirimu sendiri, Sayang.’ Ny. Amara mengusap wajah Zahra pelan.
“Hiduplah bahagia bersama putra mommy, Sayang. Mommy tidak akan menanyakan cucu lagi kepada kalian berdua.”
“Ssttt!”
Ny. Amara mengalihkan fokusnya dari wajah menantunya ketika mendengar suara kesakitan dari arah belakangnya.
“Ka-kamu kenapa?” tanya Ny. Amara panik.
“Perawat! Penjaga! Siapa pun cepat datang kesini!”
__ADS_1