Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 34. Merasa Dipermainkan


__ADS_3

Malam harinya, suasana kamar rawat Zahra terlihat ramai tidak sepi seperti malam-malam sebelumnya. Saat ini terlihat Zain, Zahra, Ny. Amara serta tuan Harun sedang menikmati makan malam yang terhidang di atas meja makan yang tersedia di dalam ruangan tersebut.


Masih tetap sama seperti siang tadi, meskipun mereka duduk melingkar, namun Zahra tidak ingin terlepas dari sang ayah. Ia menggeser kursinya agar duduk tepat di samping ayahnya sambil sesekali bergelayut manja di bahu tuan Harun.


Sedangkan Ny. Amara yang duduk di sebelah sang putra merasa geli melihat Zain yang duduk tidak tenang karena melihat perilaku istrinya. Lagi-lagi Zain dibuat kesal karena istrinya mengabaikan keberadaannya.


Zahra terlihat sangat lahap menghabiskan makanannya, apalagi langsung disuapi dari tangan sang ayah.


Berbeda dengan sang istri, Zain terlihat tak selera menyentuh makanan di depannya, ia hanya beberapa suap memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tak berselang lama Zain meletakkan sendok dan garpunya dengan posisi sejajar di atas piring, tanda bahwa ia telah selesai dengan acara makannya.


“Selesai makan ikutlah pulang bersama Barra, Mom.” Zain berkata dengan nada datarnya.


Ny. Amara yang tengah sibuk dengan makanannya langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah sang putra. “Mommy harus menemani menantu mommy di sini, Zain!” tolaknya.


“Malam ini biarkan aku yang bermalam di sini. Sebaiknya Mommy istirahat di rumah, tidak baik untuk kesehatan mommy terlalu lama menemani Zahra di tempat ini,” ucap Zain tanpa menatap ke arah ibunya, matanya hanya fokus dengan objek yang bahkan sedari tadi tidak menghiraukan keberadaan dirinya.


“Ck! Bilang saja kamu ingin berduaan dengan menantu mommy. Lihat saja apakah Zahra mau ditinggal hanya berdua dengan kamu!” ejek Ny. Amara.

__ADS_1


“Zahra, Sayang. Apa kamu mau jika malam ini mommy tinggal pulang ke mansion? Zain akan menemani kamu di sini,” ucap Ny. Amara kepada menantunya.


Zahra terdiam, ia merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya. Zahra merasa ragu apakah ia bisa hanya tinggal berdua dengan seorang pria, walaupun pria itu adalah suaminya sendiri. Zahra lalu menatap ke arah ibu mertuanya dan suaminya secara bergantian. Zain yang melihat keraguan di wajah istrinya merasakan sesak di dalam hatinya.


“Biarkan Ny. Amara beristirahat di rumahnya, Sayang. Ny. Amara pasti merasa tidak nyaman tinggal di rumah sakit ini selama hampir dua bulan terakhir ini untuk menemanimu,” ucap tuan Harun, ia sengaja ingin memberi kesempatan kepada sepasang suami istri itu untuk menghabiskan waktu bersama, berharap dapat kembali memperbaiki hubungan di antara mereka .


Ya, tuan Harun sudah mengetahui tentang trauma putrinya. Tadi siang ketika sedang makan siang di kantin rumah sakit, Barra sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa putrinya, penyebab Zahra harus menerima perawatan khusus bahkan menantunya itu dibuat kelimpungan karena tidak dapat menemui istrinya secara langsung.


“Emh, tapi-” Zahra merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


“Apa kamu tidak kasihan melihat mommy yang biasa tidur di atas ranjang besar mewahnya kini harus tidur di brankar jelek itu?” tanya Zain sambil menunjuk sebuah brankar yang berada tak jauh dengan brankar milik Zahra.


Bahkan kamar tersebut dilengkapi dengan dapur mini yang mungkin tak pernah digunakan selama dua bulan ini. Bahkan waktu Zahra ingin memakan masakan ibu mertuanya, Ny. Amara lebih memilih untuk masak di dapur rumah sakit. Ny. Amara bahkan melarang Zahra untuk menyentuh benda yang ada di sana.



__ADS_1


“Alasan,” lirih Ny. Amara namun masih bisa di dengar oleh Zain.


Zain menatap ke arah ibunya, ia ingin membantah tuduhan dari ibunya namun ia urungkan ketika mendengar istrinya bersuara.


“Baiklah,” putus Zahra setelah merasa apa yang dikatakan ayah dan suaminya itu benar.


‘Yes! Akhirnya setelah sekian purnama kamu menyiksaku, dan seharian mengabaikanku, malam ini takkan ku biarkan kamu berpaling sedikit pun dariku!’ ucap Zain dalam hati, terlihat senyum tipis menghiasi wajah dinginnya.


“Tapi papa juga harus menginap ya, Tu- eh Sa-sayang.” Zahra langsung memalingkan wajahnya setelah memanggil sayang kepada suaminya.


Bagaikan diajak melayang ke angkasa lalu tiba-tiba dihempaskan ke bumi begitu saja, Zain merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. ‘Sial! Baru saja aku akan miliki waktu berdua dengannya tapi ada saja hal yang menghalangi.’


Sedangkan Ny. Amara terkikik memdengar permintaan menantunya, apalagi melihat wajah sang purta yang kembali cemberut setelah tadi ia sempat melihat sebuah senyum tipis di wajahnya.


“Biarkan Harun juga menginap di sini, Zain. Apa kamu tega memisahkan istrimu yang belum menuntaskan rasa rindunya kepada ayahnya.” Ny. Amara sengaja ingin membuat putranya merasa kesal. Ny. Amara melakukan itu sebenarnya karena masih merasa khawatir untuk meninggalkan Zahra dan Zain hanya berdua, takut jika Zahra kembali tantrum karena traumanya.


Setelah menyetujui keinginan istrinya, lagi-lagi Zain dibuat kesal karena ibunya meminta Zain untuk mengantarkannya pulang, Ny. Amara tidak ingin pulang jika Barra yang mengantarkannya ke mansion.

__ADS_1


Meski dengan hati kesal, Zain pun terpaksa mengantarkan ibunya pulang ke rumah, apalagi istrinya mengancam tidak mau ditemani olehnya jika Zain tidak mengantarkan ibunya pulang.


__ADS_2