
Keesokan paginya, Zain terbangun dengan kebahagiaan yang terukir jelas di wajahnya. Semalaman ia tidur dengan memeluk tubuh istrinya tanpa merasa takut akan ketahuan, walaupun Zahra sering bergerak gelisah dalam tidurnya. Mungkin Zahra merasa tidak nyaman dan belum terbisa dengan hal itu, karena malam-malam sebelumnya ia tidak sadar saat tidur dalam pelukan suaminya.
Hal pertama yang Zain lihat adalah wajah cantik istrinya, alis hitam melengkung di atas kelopak mata yang terpejam dengan bulu mata hitam lebat nan lentik, hidung mancung khas keturunan Arab dengan bibir mungil merah muda meskipun tanpa lipstik. Meski tanpa polesan make up, namun wajah Zahra terlihat begitu cantik dan nyaris sempurna.
Zain mengetahui dari cerita ayah mertuanya bahwa keluarga ibu dari Zahra merupakan keturunan orang Arab asli. Sedangkan dari keluarga tuan Harun sendiri masih ada keturunan Arab, namun tidak begitu terlihat karena tuan Harun tidak mewarisi gen tersebut. Hal tersebut yang membuat Zahra tidak pernah menanyakan tentang wajahnya yang kearab-araban, karena Zahra berpikir bahwa mungkin saja ia mewarisi gen dari nenek buyut ayahnya.
Zain membelai pelan rambut hitam bergelombang istrinya yang kini sudah bertambah panjang sejak hari pernikahan mereka. Jemarinya mengabsen setiap inci keindahan yang terpancar dari wajah cantik Zahra, mengagumi makhluk ciptaan Tuhan yang mampu membuatnya terpesona.
“Eungghh,” Zahra menggeliat merasa tidurnya yang terusik, namun sedetik kemudian ia terlelap kembali.
“Tidurlah, maaf karena semalam tidurmu pasti tidak nyenyak,” ucap Zain pelan lalu ia mengecup kening istrinya sebelum beranjak dari tempat tidur.
20 menit kemudian Zain keluar dari walk in closet sudah rapi dengan pakaian kerjanya, ia melihat istrinya masih nyaman dengan tidurnya.
Zain berjalan pelan menuju jendela kaca untuk menutup kembali gorden yang tadi sempat ia buka, lalu ia melangkahkan kakinya keluar kamar dan menutup pintu kamarnya dengan sangat pelan, berharap tidak akan mengusik tidur istrinya.
Di meja makan Zain duduk di kursi utama. Seperti formasi sebelumnya, Ny. Amara duduk di sebelah kanan dan Barra yang duduk di sebelah kiri. Semua pelayan kembali ke tempat semula, berbaris di dekat dinding sembari menunggu tuan mereka menyelesaikan makanannya.
Memang beberapa hari lalu mereka menikmati makan bersama di meja mewah itu, namun hari ini tuan muda mereka sudah kembali ke rumah. Mereka merasa segan dan sadar diri bahwa mereka tak boleh berharap dan bermimpi bisa makan satu meja dengan tuan muda itu. Ny. Amara pun tidak mengambil pusing hal tersebut, karena ia tidak makan seorang diri, Ny. Amara juga tidak ingin membuat keributan dengan putranya di pagi hari.
“Menantu mommy di mana, Zain?” tanya Ny. Amara karena tidak melihat kehadiran menantu kesayangannya.
“Istriku, Mom.”
“Ck! Istrimu ya menantu mommy, Zain! Apa bedanya?” kesal Ny. Amara menghadapi putranya yang terlalu posesif terhadap Zahra.
“Beda!” jawab Zain tidak ingin mengalah.
“Terserah kamu saja!” ketus Ny. Amara tidak ingin meladeni putranya yang keras kepala dan memilih untuk diam.
Mereka memulai menikmati menu yang sudah terhidang di meja makan, tentu saja setelah menunggu Zain memulai makannya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Bi Nur, nanti antarkan makanan ke kamarku dan jangan ada yang membangunkan istriku!” perintah Zain setelah menyelesaikan sarapannya.
Ny. Amara melebarkan matanya tidak percaya jika menantunya belum bangun, biasanya Zahra akan bangun sebelum matahari terbit. “Zahra sakit?”
“Tidak, mungkin kelelahan saja.” Jawab Zain.
“Kamu apa kan menantu mommy, Zain? Kamu tidak berbuat macam-macam, kepadanya kan?” tuduh Ny. Amara membuat kedua pria di dekatnya melebarkan mata mereka terkejut.
“Apa maksud mommy?” tanya Zain yang tidak mengerti maksud ucapan ibunya yang dituduhkan untuknya.
“Semalam kamu itu-” Ny. Amara menggantungkan ucapannya.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh, Mom!” sergah Zain yang mengetahui arah pembicaraan ibunya.
“Mommy tidak melarang jika kamu melakukannya, bahkan jika seharian kamu kurung Zahra di dalam kamar!”
““Uhuk! Uhuk!” Barra menepuk-nepuk dadanya, matanya berair karena mendengar ucapan Ny. Amara yang berhasil membuatnya tersedak makanan yang belum sempat ia telan dan terbatuk-batuk.
“Aku berangkat ke kantor! Ayo, Barra!” Zain mengabaikan perkataan ibunya, lalu berdiri meninggalkan meja makan.
Mendengar perintah tuan mudanya, Barra meraih gelas didepanya yang berisi air putih dan menegaknya dengan rakus.
“Saya permisi, Nyonya.” Barra pamit sebelum menyusul tuan mudanya.
“Lakukan setiap hari, Zain! Mommy tidak sabar ingin bermain dengan cucu mommy!” seru Ny. Amara entah terdengar oleh putranya atau tidak.
...*****...
Di dalam ruangan kerja milik Zain di perusahaannya, terlihat 3 pria tengah serius membahas sesuatu. Mereka adalah Zain yang duduk di kursi kebesarannya, sedangkan di depannya duduk Barra dan juga tuan Harun.
“Apa yang kamu dapatkan, Barra?” tanya Zain tanpa basa-basi.
__ADS_1
“Hasil tes DNA tuan Harun terdahulu memang dipalsukan, Tuan. Dan dokter yang bersangkutan sudah lama tidak bekerja di rumah sakit tersebut, kabarnya dokter tersebut sudah membuka klinik pribadi tidak jauh dari tempat tinggalnya,” jelas Barra langsung pada intinya.
“Apakah Anda mengetahui informasi tentang dokter tersebut?” tanya tuan Harun kepada Barra dengan suara sedikit bergetar karena menahan emosinya.
“Anindya Novyan Wirata, biasa di kenal dengan panggilan dr. Wira.”
Tuan Harun mengerutkan alisnya, terlihat sedang mengingat sesuatu yang telah lama tersimpan diingatannya. “Sepertinya saya pernah mendengar nama itu.”
“dr. Wira, dokter yang menangani persalinan Ny. Tasya di rumah sakit tersebut,” jelas Barra.
“Oh saya ingat!” seru tuan Harun. “dr. Wira sering memeriksa Anindya kecil ketika berada di rumah orang tuanya Tasya.”
“Apa mungkin ada hubungannya antara Ny. Tasya dengan dokter tersebut?” gumam Barra lirih namun masih terdengar oleh Zain dan tuan Harun.
“Apa maksud Anda, Tuan?” tanya tuan Harun bingung.
“Eh- emh itu ... saya tidak bermaksud menduga-duga,” ucap Barra merasa tidak enak hati.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan, Barra!” perintah Zain, bukan hanya asistennya saja yang pikiran mengarah ke hal tersebut. Ia juga merasa ada yang janggal dengan masalah yang tengah dihadapi oleh ayah mertuanya.
“Baik, Tuan.”
“Saya minta Anda jangan melakukan apa pun terlebih dahulu sebelum semuanya menjadi lebih jelas!” pinta Zain kepada ayah mertuanya.
“Baik, Tuan.” Tuan Harun tetap memanggil menantunya dengan panggilan tuan karena ia masih merasa segan untuk sekedar memanggil nama atau nak kepada menantunya.
“Minggu depan Zahra ingin mengunjungi makam ummanya, saya minta Anda juga ikut bersama kami.”
“Baik Tuan, saya akan ikut bersama Anda. Lokasinya berada di daerah Semarang, Jawa tengah.”
‘Saya juga akan bersilaturahmi dengan keluarga Zahira, serta melihat langsung putra saya Zahran, Tuan. Saya akan menyiapkan diri untuk bertatap muka dengan keluarga Zahira,’ lanjut tuan Harun dalam hati.
__ADS_1
Selama ini tuan Harun tidak lepas tanggung jawab untuk menafkahi putranya, beliau selalu mengirimkan uang untuk putranya lewat perantara kakak iparnya yang telah merawat Zahran dan menjadi pengganti dirinya. Tuan Harun juga selalu mendapatkan foto dan kabar putranha dari kakak iparnya, tuan Harun juga sering ziarah ke makam istrinya, namun tak pernah sekalipun mampir ke rumah mertuanya.