
Di tempat pesta, Zain merasa gelisah karena istrinya belum juga kembali setelah lebih dari 20 menit lalu Zahra berpamitan dengannya untuk pergi ke toilet.
Zain ingin mencari keberadaan istrinya namun selalu terhalang oleh kolega-kolega bisnisnya yang tampak antusias tidak membuang kesempatan untuk sekedar berbincang dengannya bahkan selalu saja ada yang menghalanginya ketika ia hendak berpamitan.
“Oh ya Tuan Zain, kali ini saya hadir bersama putra tunggal saya, sekalian akan mengenalkannya kepada para pengusaha yang hadir di sini. Meskipun masih kuliah, saya ingin dia mulai belajar tentang bisnis dan berharap jika waktunya sudah tiba, dia sudah siap menanggung tanggung jawab atas perusahaan keluarga kami. Hanya dia satu-satunya penerus di keluarga kami, saya berharap dia bisa belajar banyak dari Anda, Tuan.” Pria paruh baya yang berdiri di depan Zain terus berbicara tanpa menyadari bahwa lawan bicaranya tidak sedikit pun menanggapi setiap perkataannya yang membanggakan sang putra.
“Saya berharap Anda berkenan membimbing putra saya, Tuan Zain,” harap pria tersebut pantang menyerah.
“Maaf, Tuan Bram. Kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali saja, saya harus pergi.” Zain menyela sebelum pria paruh baya yang bernama Bramasta tersebut kembali melontarkan kata-kata panjangnya.
“Tapi, Tuan-”
Zain yang merasa jengah ditambah perasaanya yang tidak karuan, tanpa berucap apa pun langsung meninggalkan tuan Bram yang tetap memanggilnya.
Zain melangkah lebar meninggalkan keramaian pesta tersebut, ia mengabaikan sapaan dari orang-orang yang berpapasan dengannya.
Zain semakin merasa khawatir karena tidak menemukan sosok istrinya di mana pun, bahkan ia tadi sempat menanyakan keberadaan Zahra kepada keluarganya.
Zain mempercepat langkahnya bahkan berlari kecil tanpa memperhatikan sekitarnya sehingga beberapa kali ia menabrak tamu dan beberapa pelayan yang membawa makanan di tangannya sehingga makanan tersebut jatuh berceceran di lantai.
“Honey!” panggil Zain yang sudah berdiri di depan kamar mandi wanita.
Brak! Brak! Brak!
Zain menggedor pintu tersebut karena tidak sabar ingin segera menemukan keberadaan sang istri, namun tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi tersebut.
Brak!
Dengan sekali tendangan, ia berhasil membuka paksa pintu toilet itu. Masa bodo dengan kerusakan yang ditimbulkan karenanya.
“Honey!” panggil Zain sembari mengecek satu persatu bilik di dalamnya.
“Zahra!” ulang Zain berharap bisa mendengar sahutan dari istrinya.
“Ara!”
Zain keluar dari toilet tersebut dengan wajah merah padam, tidak lupa ia kembali menendang pintu yang sudah sedikit rusak karena ulahnya tadi.
“Ke mana kamu pergi, Zahra! Jangan membuatku merasa cemas, atau aku akan menghukummu!” ancam Zain kepada istrinya yang tidak ia ketahu keberadaannya.
“Zain!”
Deg.
Zain mengedarkan pandangannya mencari dimana istrinya berada, ia yakin tadi Zahra memanggil namanya.
__ADS_1
“Zahra!” Zain berteriak memanggil nama istrinya, namun kali ini tidak terdengar lagi suara sang istri.
“Aku yakin tadi suara Zahra, tapi dimana dia? Ck! Brengsek!” maki Zain melampiaskan kekesalannya.
“Hanya toilet pria yang belum aku periksa, tapi Zahra tidak mungkin masuk ke dalam toilet pria, bukan?”
Meskipun sedikit merasakan keraguan, namun Zain tetap berjalan ke arah toilet pria yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Ceklek!
Zain merasa curiga karena pintu tersebut tidak bisa dibukan dan terkunci, tidak mungkin karyawannya menutup akses ke toilet sedangkan di tempat itu sedang diadakan pesta besar.
Karena merasa aneh, Zain bergegar mengeluarkan kartu khusus miliknya dari dalam dompetnya dan segera membuak pintu itu.
Brak!
Zain berhasil membukanya dan betapa terkejutnya ia melihat dua orang dengan posisi saling berhadapan tanpa celah di pojok ruangan.
“Brengsek! B*jingan!” Teriak Zain ketika menyadari bahwa sang wanita adalah istrinya yang ia cari-cari keberadaannya sedari tadi, meskipun tidak melihat wajahnya, namun Zain mengenali gaun yang dipakai oleh Zahra.
Bugh!
Brak!
Dengan penuh emosi, Zain menarik pria yang mengungkung istrinya dan melayangkan bogemnya tepat mengenai rahang pria tersebut hingga membuatnya tersungkur ke belakang.
“Sayang!” pekik Zahra yang semakin takut melihat keributan di depan matanya.
Zain berhasil mengelak, hal tersebut berhasil membuat pria itu semakin tak terkendali menyerang ke arah Zain yang selalu berhasil ditepis olehnya, sedikit pun Zain tak berniat untuk meladeninya.
Zain berjalan ke arah Zahra yang terduduk di lantai dengan wajah sembat dan pucat. Melihat hal tersebut membuat Zain merasakan perih dihatinya, ia tidak sanggup melihat keadaan sang istri yang terlihat kacau.
“Honey,” panggil Zain dengan menahan perih yang semakin berasa menusuk jantungnya.
“Oh, jadi dia orangnya? Dia sugar daddy yang telah memberikan semuanya kepadamu? Dasar j*lang!” maki pria itu yang masih merasa kesal karena aktivitasnya terganggu.
Zain memejamkan matanya berusaha meredam emosinya, tidak mungkin ia menghabisi pria itu di depan sang istri, apalagi kondisi istrinya saat ini terlihat tidak baik.
“Kenapa? Apa yang gue ucapkan benar? Bagaimana j*lang itu melayanimu, Tuan? Apakah kamu puas-”
Bugh! Bugh! Bugh!
Zain melayangkan pukulannya tanpa memedulikan lagi keadaan sekitarnya, ia begitu emosi karena sang istri dilecehkan oleh pria itu, bahkan mengatai hal-hal jorok untuk istrinya.
“Za-zain ... sudah cukup, kamu bisa membunuhnya,” lerai Zahra dengan suara terpekik.
__ADS_1
“Biarkan saja dia mati, aku tidak akan melepaskannya karena sikap kurang ajarnya kepadamu?” jawab Zain masih dengan beradu pukulan dengan pria itu.
“Tapi aku tidak mau memiliki suami seorang nara pidana!” seru Zahra menyadarkan suaminya.
“Jika kamu membunuhnya, aku tidak mau menjadi istri seseorang yang berada di penjara.”
Tersadar oleh perkataan istrinya, Zain menghentikan serangannya dan mengunci pergerakan pria tersebut lalu menyeretnya keluar dari toilet dan membawanya menuju tempat pesta. Ia tahu bahwa pria itu merupakan salah satu tamu undangan, karena hotel tersebut ditutup dan hanya menerima tamu undangan pernikahan Barra dan Yang Zi.
“Bi Nur, antar Zahra ke kamarnya! Dia berada di dalam toilet pria!” perintah Zain kepada bi Nur saat berpapasan di jalan.
Brak!
Zain mendorong tubuh pria itu tepat ke tengah-tengah taman, pria itu terjatuh dan menabrak meja saji membuat semua hidangan di atasnya terjatuh berserakan di lantai. Semua orang mengalihkan fokus mereka ke arah Zain dan pria tadi.
“Siapa yang mengenali sampah ini?” teriak Zain dengan lantang seketika membuat semua orang saling berbisik dan menebak-nebak tentang hal apa yang terjadi
“Bastian!” seru tuan Bram dari kejauhan yang mengenali putranya.
“Oh, jadi dia putra Anda yang sejak tadi Anda elu-elukan namanya?” tanya Zain sinis menatap tajam ke arah tuan Bram yang berjalan ke arahnya.
“Tuan, apa yang terjadi? Kenapa wajah Bastian seperti ini? Dan kenapa wajah Anda terluka” tanya tuan Bram bingung.
“Tanyakan saja kepada putra kebanggaan Anda, Tuan!”
“Bas?” panggil tuan Bram menatap tajam ke arah sang putra untuk meminta penjelasan.
“Apa? Dia yang memulainya!” elak Bastian tidak terima disalahkan.
“Apa perlu saya mengatakan sendiri, dasar banci?” ejek Zain sinis.
“Kamu!”
“Bastian!” panggil tuan Bram merasa malu karena semua orang menonton mereka.
“Urus putra kesayangan Anda, tuan Bram. Dan maaf semua kerja sama kita harus berakhir sampai di sini!” putus Zain.
“Tapi, Tuan-”
“Siapa Lo? Seenak jidat main memutuskan hubungan dengan perusahaan keluarga gue? Jangan pikir kamu punya banyak uang bisa berbuat seenaknya, bagaimana jika semua orang tahu kelakuan bejat lo? Mau gue sebarkan kelakuan lo di belakang semua orang?” ucap Bastian dengan senyum mengejeknya.
“Lakukan saja!” tantang Zain.
“Dengar semuanya, asal kalian tahu, pria ini suka bermain wanita bahkan masih dibilang remaja. Dia suka menjadi sugar daddy para gadis remaja di luaran sana. Tadi di kamar mandi saja dia memaksa seorang gadis muda untuk melayaninya!”
Bugh!
__ADS_1
Kali ini bukan Zain yang melayangkan bogemnya, melainkan Barra yang sedari tadi sudah menahan agar tidak kelepasan.