
“Tuan muda sudah menunggu Anda di dalam,” ucap Ali yang sedari tadi berdiri di depan pintu menunggu kedatangan David.
Tanpa menghiraukan keberadaan Ali di sekitarnya, David mengetuk pintu ruangan VIP yang di tempati oleh Zain.
Ceklek.
David membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari Zain yang berada di dalam karena ruangan itu kedap suara jadi tidak mungkin ia bisa mendengar suara dari dalam ruangan, setidaknya David sudah mengetuk pintunya tanda ia sudah datang.
David melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu diikuti oleh Ali di belakangnya. Mereka berdua berdiri agak jauh dari tempat Zain dan istrinya duduk.
“Tuan Muda memanggil saya?” tanya David dengan perasaan waswas.
“Hmm, kemarilah!” titah Zain tanpa menatap ke arah David.
David melangkahkan kakinya dengan berat menghampiri Zain.
“Duduk!” perintah Zain dingin.
David dengan ragu duduk di depan Zain. “Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Zain mengabaikan pertanyaan David, ia melirik sekilas ke arah pemuda di depannya itu lalu mengajak Zahra untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
“Honey, bukankah kamu bilang tidak mau berada di tempat menjijikkan seperti ini? Ayo kita pergi!” ajak Zain membuat semua orang bingung melihatnya.
“Tapi Sayang, bukankah-”
“Sssttt, aku sudah selesai dengan urusanku dan ingin segera pergi dari tempat ini.”
Zain menarik tangan istrinya dan menuntun Zahra pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menatap kembali ke arah David yang tercengang dibuatnya.
“Tuan!” panggil David cepat sebelum Zain benar-benar keluar dari ruangan itu.
“Oh ya, jika kamu ingin menikah dengan jal*ng itu, lakukanlah! Aku merestui kalian berdua,” ucap Zain sebelum hilang dibalik pintu.
“Selamat malam, Tuan David.” Ali membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai salam perpisahan serta tanda hormatnya lalu ia menyusul tuan dan nona mudanya.
David terpaku di dalam ruangan itu seorang diri, wajahnya memucat memikirkan kesalahan yang selama ini ia lakukan kepada Zain.
‘Apa hidupku akan berakhir sampai di sini?’ tanya David kepada dirinya sendiri.
“Akh! Brengs*k! Sialan! Kamu menjebakku dasar wanita ular!” teriak David frustrasi, ia menebak jika Zain telah mengetahui semua perbuatannya.
Zain keluar dari tempat itu degan menarik pinggang istrinya agar saling menempel dengannya, ia tidak rela jika ada mata pria lain melihat istrinya dengan pikiran-pikiran kotor mereka.
“Bukankah kamu ingin bertemu dengan pria tadi?” tanya Zahra penasaran.
“Sudah bertemu, kan,” jawab Zain singkat.
__ADS_1
“Tapi kenapa kamu malah pergi begitu saja setelah dia datang?” bingung Zahra, ia tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran suaminya itu.
Mereka jauh-jauh datang ke klub malam itu bahkan Zahra sampai melakukan drama merajuk segala, namun suaminya pergi begitu saja setelah melihat sekilas orang yang ingin ditemuinya.
“Karena urusanku sudah selesai dengannya,” jawab Zain membuat Zahra semakin bingung.
“Apa maksud kamu, Zain?” tanya Zahra kesal, ia tidak suka Zain hanya setengah-setengah dalam memberikan jawaban.
“Honey, dengan cara dia mencoba menghindar dariku, sudah cukup bagiku mengetahui bahwa dia memang melakukan kesalahan,” jelas Zain lalu mendorong tubuh Zahra pelan masuk ke dalam mobil.
...*****...
Ali mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, sedangkan di kursi belakang Zain tengah membujuk istrinya yang menginginkan untuk pergi ke suatu tempat saat itu juga tidak peduli jika hari sudah sangat larut malam.
“Besok saja kita ke sana ya, Honey.” Zain masih berusaha meyakinkan istrinya itu.
“Tidak mau! Aku maunya sekarang, bukankah tadi kamu sendiri yang berjanji?” tanya Zahra mengingatkan akan janji yang diucapkan suaminya tadi.
“Iya, tapi kalau bertamu di jam begini tidak sopan, Honey.”
“Terserah kamu, jika kita tidak pergi ke sana, aku tidak mau pulang ke rumah!”
“Zahra, besok pagi-pagi sekali aku sendiri yang akan mengantarkan kamu ke sana, oke?” Zain berusaha keras membujuk istrinya namun Zahra tetap mempertahankan egonya.
“Honey,” panggil Zain lembut namun tak ada jawaban dari istrinya.
Zain mengangkat tangannya hendak mengusap kepala Zahra namun dengan cepat ditepis oleh Zahra. Bahkan Zahra memalingkan wajahnya dan menatap ke keluar jendela.
“Kita pergi ke tempat yang diminta Zahra, Ali!” perintah Zain.
“Baik, Tuan.”
Tak lama kemudian, Mereka telah tiba di tempat yang diinginkan oleh Zahra.
Zain menyuruh Ali untuk segera pulang karena ia dan Zahra akan menginap di rumah itu atas pemintaan Zahra.
“Bagaimana kakak ipar bisa membujuk Koko datang kesini?” tanya Yang Zi penasaran.
Yang Zi masih tidak menyangka jika kakaknya mengizinkan Zahra untuk menginap di rumahnya. Bahkan, menuruti keinginan Zahra untuk tidur sekamar dengan Yang Zi dan Baby Rayyanza.
“Hehehe, hebat kan, aku.” Zahra terkekeh memuji dirinya sendiri yang berhasil bersandiwara di depan suaminya.
“Aku ingin sekali melihat wajah koko!” ucap Yang Zi tidak sabar, ia membayangkan wajah kakaknya yang dapat dipastikan akan terlihat dinding batu yang kusut, keras dan kaku.
“Ssstt, jangan menemuinya sekarang jika kamu tidak ingin mendapat masalah,” cegah Zahra. “Cepat tidur, jangan berisik nanti Baby Ray terbangun.”
Yang Zi menuruti perkataan kakak iparnya, mereka segera naik ke tempat tidur dan berbaring di atasnya. Tidak lupa menarik selimut guna menutupi tubuh mereka dari pendingin ruangan di kamar itu.
__ADS_1
Sedangkan dikamar lain, Zain dan Barra duduk di sofa saling membisu menambah kecanggungan yang menyelimuti ruangan itu.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya kakek Zhang Zhehan yang sudah menempatkan dirinya di atas tempat tidurnya.
“Cepat ganti pakaian kalian dengan baju tidur dan lekaslah naik ke tempat tidur!” perintah kakek tegas kepada kedua cucu serta cucu menantunya itu.
Barra bergegas berjalan ke kamar mandi dan mengganti baju tidurnya yang sedari tadi ada ditangannya, sedangkan Zain masih enggan untuk beranjak dari duduknya.
“Apa lagi yang kamu tunggu, Zain!” tegur kakek melihat cucunya tak mendengarkan perintahnya.
“Aku akan tidur di sofa,” jawab Zain cepat, ia tidak mau tidur di tempat tidur bersama dengan kakek serta adik iparnya itu.
“Kalian saja yang tidur di atas ranjang, Barra seorang sudah cukup untuk menemani Yeye tanpa aku.”
“Baiklah, jangan salahkan Yeye jika istri kamu akan semakin marah kepadamu,” ancam kakek membuat Zain mencebikkan bibir dengan wajah kesalnya.
Terpaksa Zain menyeret kakinya menuju kamar mandi dan menggedor pintunya dengan cukup keras.
“Cepat keluar!” teriak Zain kepada Barra yang masih ada di dalamnya.
Kakek menatap ke arah cucunya itu dengan wajah bahagianya, ia sangat berterima kasih kepada cucu menantunya yang secara tidak langsung bisa membuat Zain untuk pertama kalinya mau tidur seranjang bersama kakek.
‘Terima kasih Zahra, karena kamu telah mengabulkan keinginan yeye untuk bisa lebih dekat dengan anak nakal itu,’ batin kakek haru.
Sejak kecil, di antara ketiga cucu lelakinya hanya Zain yang sama sekali tidak pernah tidur bersama kakek Zhang Zhehan.
Maka dari itu kakek meminta bantuan Zahra agar membuat Zain mau tidur bersamanya walau hanya satu malam saja sebelum kakek kembali ke China.
...*****...
Setelah menempuh penerbangan yang cukup panjang menuju negara X, Yitian langsung menjalankan tugas dari kakak sepupunya tanpa mengistirahatkan tubuhnya terlebih dahulu.
Bersama beberapa pria bertubuh kekar yang berjalan di belakangnya, Yitian mendatangi sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Setelah berhasil memasukkan password pada kunci pintu itu, Yitian membuka pintu apartemen itu.
Tidak sulit baginya untuk bisa mengetahui password pintu itu, karena sebelumnya Zain sudah memberikan informasi mendetail tentang tugas yang harus ia selesaikan dengan sempurna.
Ceklek!
Yitian masuk ke dalamnya namun tempat itu terlihat sangat sepi, padahal di sana masih siang hari karena perbedaan waktu di negara X.
Yitian berjalan pelan mengelilingi apartemen yang cukup mewah itu namun sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hanya keadaan rumah itu saja yang kurang rapi untuk ukuran apartemen mewah.
Yitian melangkahkan kakinya menuju satu-satunya ruang yang belum ia periksa, yaitu kamar utama.
Perlahan ia membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya, ia terkejut melihat pemandangan di depannya.
__ADS_1
“Ck! Berani sekali dia!” geram Yitian lalu menarik selimut yang membungkus tubuh orang di depannya.
“Cepat bangun! Dasar pemalas!”