
“Kenapa wajah kamu semerah itu, Honey?” tanya Zain jahil lalu menjauhkan wajah mereka, sebuah senyum merekah dari wajah pria dingin itu.
Zahra segera memalingkan wajahnya, jantungnya masih belum terbiasa berdekatan dengan suaminya. Padahal usia pernikahan mereka sudah melewati enam bulan lamanya.
“Barra!” panggil Zain.
“Ya, Tuan Muda!” jawab Barra dengan suara lantang karena terkejut dan berhasil mengagetkan Hani yang tertidur di bahunya.
“Kenapa nama dan wajah kamu tidak selaras? Nama kamu mengarah ke nama Arab sedangkan kamu memiliki wajah seperti orang Korea?”
“Eh- maaf, Tuan?” tanya Barra bingung, bukannya nona mudanya bertanya kepada tuannya, kenapa malah dia yang dilempari pertanyaan tersebut.
“Jawab saja pertanyaanku!” tegas Zain.
“Eh, maaf Tuan. Sebenarnya wajah saya bukan wajah orang Korea, tapi saya memiliki wajah orang China karena salah satu orang tua saya merupakan orang China asli dan saya mewarisi gen tersebut. Sedangkan untuk nama, ayah saya adalah seorang muslim, jadi beliau memberikan nama yang mencerminkan jika saya adalah seorang muslim. Barra yang berarti teguh, ayah menginginkan saya menjadi seorang yang memiliki keteguhan dalam menjalankan kehidupannya,” jelas Barra.
“Jika wajah saya mirip orang Arab itu akan menjadi masalah besar bagi keharmonisan keluarga saya, Tuan. Karena keluarga saya tidak memiliki gen keturunan Arab,” ucap Barra membuat tawa keluar dari mulut orang-orang di dalam mobil tersebut.
“Apa salah jika orang yang memilik wajah keturunan China memilik nama keislamian, Barra?”
“Eh, ti-tidak Tuan. Bahkan banyak orang Indonesia yang tidak memiliki wajah seperti orang Arab tetapi mereka memiliki nama Arab. Dan belum tentu orang Arab memiliki nama Arab, ada pula di antara mereka yang memiliki nama kebaratan, karena tidak semua orang Arab adalah seorang muslim.”
“Kamu dengar sendiri, Zahra. Jadi, jika suamimu ini memiliki wajah Arab sedangkan keluarga kedua orang tuaku tidak ada gen keturunan Arab, bukankah itu lucu?” tanya Zain yang lebih tepat seperti pernyataan.
“Iya, Sayang.”
“Dan apa pendapatmu tentang pembicaraan ini, Mr. Ma?” tanya Zain yang ditujukan kepada pria dibalik kemudi.
“Maaf, Tuan. Tidak ada yang salah dengan nama dan wajah yang mereka miliki, di China juga banyak penduduk muslim dengan wajah China yang memiliki nama muslim. Seperti contoh Imam Uthman Yang Xing Ben, beliau adalah seorang Imam yang berasal dari Taian, provinsi Shandong, China Timur. Sejak tahun 1993 beliau datang ke Hong Kong dan mendedikasikan hidupnya untuk berdakwah dan menjadi imam di Ammar Mosque and Osman Ramju Sadick Islamic Centre,” jelas Ma Tianyu, ia fasih berbahasa Indonesia karena pernah tinggal di Indonesia selama 5 tahun karena orang tuanya bekerja kepada keluarga ayah Zain dan ikut serta tinggal di Indonesia sebelum kejadian buruk itu menimpa keluarga majikannya.
Penjelasan yang diucapkan oleh Ma Tianyu menjadi penutup dalam percakapan mereka, suasana di dalam mobil tersebut kembali diisi oleh keheningan.
__ADS_1
Ketika mobil tersebut melaju di atas jembatan panjang, Zahra memilih untuk melihat pemandangan dari balik kaca mobil itu. Sejauh mata memandang terlihat hamparan air laut yang luas serta beberapa kapal yang terlihat kecil mengambang di atasnya. Jauh di seberang sana, berdiri tegak gedung-gedung tinggi yang masih bisa terlihat jelas oleh matanya.
“Apa kamu suka laut, Honey?” tanya Zain yang mendapati istrinya terpesona akan keindahan alam di luar sana.
“Hmm,” jawab Zahra singkat tanpa mengalihkan pandangannya.
“Nanti aku ajak kamu jalan-jalan di atas laut.”
Zahra membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. “Hah! Memang bisa jalan-jalan di atas laut?”
Zain yang merasa gemas melihat ekspresi istrinya tidak bisa menahan tangannya untuk menjitak kening istrinya.
Pletak.
“Akh! Sakit tahu!” seru Zahra mencebikkan bibirnya dan merasakan keningnya yang berdenyut nyeri karena ulah tangan jahil suaminya.
“Kita naik Boat, Honey. Tapi nanti setelah kita menyelesaikan masa karantina kita selama 3 hari,” jelas Zain.
“Hmm, memang begitu prosedurnya, Honey. Aku hampir 3 tahun lamanya tidak mengunjungi negara ini.”
“Sayang, kenapa mommy menolak untuk ikut bersama kita?” tanya Zahra, karena ia belum mengetahui cerita tentang keluarga suaminya tersebut.
“Honey, kenapa kamu begitu cerewet sekali!” keluh Zain karena sedari tadi istrinya itu tidak berhenti bertanya tentang banyak hal.
“Maaf, jika kamu tidak mau menjawab juga tidak masalah.” Zahra kembali memutar tubuhnya membelakangi suaminya.
“Huft!” Zain menghela nafasnya kasar lalu menarik tubuh istrinya agar kembali menghadap ke arahnya.
“Ada banyak luka dan kenangan mommy bersama daddy di sini, mommy tidak pernah lagi mengunjungi negara ini karena itu akan mengingatkan mommy akan penghianatan yang dilakukan oleh daddy. Bahkan mommy tidak mau bertemu dengan keluarga daddy di sini. Momny juga tidak mau mengunjungi negara China karena keluarga besar daddy berada di sana. Mungkin jika bukan karena Dr. Agam, mommy tidak akan pernah mau melihat wajah Barra, karena ibu Barra masih sepupu jauh dengan daddy,” jelas Zain.
“Jadi kalian masih ada ikatan saudara? Bukan hanya sekedar ikatan antara bos dan asistennya saja?” tanya Zahra semakin penasaran dengan hubungan antar keduanya.
__ADS_1
“Hmm, sudah jangan bahas masalah ini lagi. Nanti suatu saat akan ada saatnya kamu mengetahui semuanya, sekarang tidurlah! Masih ada waktu 30 menit sebelum kita sampai di hotel.”
“Tapi aku tidak mengantuk, Sayang.” Zahra menolak perintah suaminya karena dia benar-benar tidak merasakan kantuk.
“Terserah kamulah, tapi jangan terlalu bawel, Honey!”
“Hmm, tapi aku tidak janji ...,” lirih Zahra lalu kembali menatap pemandangan di luar sana.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang tanpa ada kendala apa pun, hingga masuk ke dalam terowongan yang sangat panjang namun terlihat sangat indah.
“Kenapa terowongan ini sangat panjang, Sayang.”
“Honey!” peringat Zain.
“Hehe.” Zahra meringis menunjukkan gigi rampingnya merasa tidak bersalah.
“Terowongan ini membelah lautan, makanya panjang,” jawab Zain yang merasa tidak tega mengabaikan pertanyaan istrinya.
“Wow!” Bukan hanya Zahra yang terkagum, Hani juga merasakan hal yang sama dengan nona mudanya itu. Mereka berdua sama-sama baru merasakan perjalanan jauh naik pesawat, bahkan langsung ke luar negeri.
30 menit berlalu, rombongan Zain tiba di depan lobi Four Seassons Hotel Hong Kong dan disambut langsung oleh pemilik hotel tersebut yaitu Hu Yitian, orang yang mengundang Zain untuk segera datang ke negara itu.
“Halo, selamat datang, Brothers!” sapa pria berwajah China tersebut yang berdiri tegap dengan setelan jas mewahnya, di sisi kanan kirinya berbaris beberapa pria dengan setelan jas hitam yang menyambut kedatangan Zain beserta rombongannya.
Yitian berjalan menghampiri Zain dan ingin memeluk pria dingin itu namun segera ditepis oleh Zain.
“Jaga sopan santunmu!” ucap Zain dingin.
*****
Hai semua, maaf Othor ngilang berhari-hari, hehe 🙏
__ADS_1
jangan lupa like komennya ya 🤗🥰