
Zain berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah istrinya, lalu dengan cepat tangannya memegang dagu Zahra dan mengangkatnya.
Cup.
Deg.
Zahra terpaku dengan bola mata yang terbuka lebar, jantungnya berdetak berkali lipat dari biasanya.
“Hei! Jangan menatapku seperti itu, apa kamu ingin aku menciummu lagi?” tanya Zain dan kembali mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Seketika Zahra tersadar dan mendorong tubuh suaminya. “A-apa yang Tuan lakukan?” pekik Zahra, ia memalingkan wajahnya dan memejamkah matanya.
Sedangkan orang-orang di sekitar mereka sama terkejutnya melihat tingkah Zain yang tidak terduga.
‘Ck! Ngapain aku berlari mengejarnya jika untuk melihatnya mencium istrinya!’ gerutu Barra di dalam hati, ia berdiri di depan pintu bersama Dr. Agam karena tidak berani masuk ke dalam kamar Zahra.
“Zain! Dasar tidak tahu malu! Kamu tidak lihat banyak orang di sini? Main menyosor saja!” kesal Ny. Amara, ia berlari mengejar putranya takut jika Zain akan marah-marah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dr. Ana dan tuan Harun hanya bisa memalingkan wajah mereka tanpa berani ikut berkomentar.
“Jika tidak ingin melihatnya pejamkanlah mata kalian!” ucap Zain dingin.
“Zain!” pekik Ny. Amara merasa kesal dengan ucapan putranya.
“Aku suaminya, dia istriku. Bahkan aku bebas melakukan apa pun padanya, bahkan untuk yang lebih dari sekedar mencium bibirnya.”
Jantung Zahra semakin berdebar kencang, ia tidak menyangka pria yang berstatus sebagai suaminya itu akan mengucapkan hal tersebut di depan banyak orang. Pipi Zahra memerah antara merasa kesal atau menahan malu.
‘Apa-apaan dia! Datang-datang main cium bibir orang sesuka hati!’ kesal Zahra dalam hati.
“Kalau begitu saya permisi, Tuan.” Dr. Ana izin untuk meninggalkan ruangan.
“Saya juga permisi, Tuan.”
“Pa-papa jangan pergi!” seru Zahra sebelum suaminya membuka suara.
Tuan Harun melirik ke arah menantunya yang menatapnya tajam. “Papa harus pulang dulu, Sayang. Papa janji besok akan datang lagi.”
Zahra menundukkan wajahnya, ia tidak berani untuk kembali mencegah ayahnya untuk tetap bersamanya.
“Tinggallah di sini untuk sementara.” Zain tidak tega melihat mendung di wajah istrinya, meski sebenarnya ia tidak rela jika mertuanya tinggal karena waktunya untuk bersama Zahra akan terganggu.
Kini di dalam kamar Zahra hanya tinggal mereka berempat, Zahra, Zain, Ny. Amara dan tuan Harun.
Lebih dari 30 menit Zahra duduk di sofa bergelayut manja di bahu ayahnya, terpancar kebahagiaan di wajah cantiknya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat wajah pria dingin di sampingnya semakin tertekuk. Sedangkan Ny. Amara hanya menyimak pembicaraan mereka sesekali ia tersenyum melihat wajah putranya yang terlihat lucu dimatanya.
‘Lucu sekali wajah kamu saat cemburu, Zain. Padahal pria yang dipeluk istrimu adalah ayah mertuamu, bagaimana jadinya jika pria lain yang dipeluknya.’
“Makanya kamu cepat sembuh, Sayang. Nanti papa ajak kamu ke toko buku, kemana pun yang kamu inginkan.” Tuan Harun mengusap kepala putrinya yang bersandar dibahunya.
“Janji ya, nanti kita pergi bersama mama dan kak Nind-”
“Tidak boleh!” tegas Zain membuat semua mata menatap ke arahnya.
“Maaf Tuan, jika Anda tidak memberi izin saya tidak akan mengajak putri saya jalan-jalan.”
“Pa-pa,” lirih Zahra dengan mata berkaca-kaca. Sudah lama sekali ia memimpikan momen untuk bisa menghabiskan waktu bersama papa dan keluarganya.
“Aku tidak mengizinkan Zahra untuk bertemu dengan mama atau kakaknya itu!”
Zahra menautkan alisnya. “Ke-kenapa begitu, Tuan?”
“Mereka jahat kepadamu, Zahra. Apa kamu tidak marah terhadap mereka?” tanya Zain dingin.
Zahra menggelengkan kepalanya pelan membuat Zain menghela napasnya kasar.
“Mereka jahat, Zahra! Kamu tidak membencinya?” kesal Zain, entah mengapa dia semakin merasa kesal karena istrinya itu.
“Saya tidak pernah membenci mereka, Tuan.”
“Emm, karena mereka keluarga Zahra, hanya mereka yang Zahra miliki. Sedangkan papa selalu sibuk dengan pekerjaannya.”
Tuan Harun menarik tubuh putrinya ke dalam pelukannya. Setetes air mata berhasil lolos dari matanya lalu ia mencium kepala Zahra.
“Sungguh begitu baik hati kamu, Sayang. Sama seperti ibu kamu.”
Zahra yang mendengar perkataan ayahnya perlahan melepaskan tubuhnya dari rengkuhan tuan Harun.
“Apa benar Zahwa bukan anak kandung mama?”
Tuan Harun mengangguk pelan. “Maaf ....”
“Di mana ibu kandung Zahwa, Pa?” tanya Zahra pelan ia menggigit bibir bawahnya.
“Ibu kamu sudah meninggal saat melahirkan kamu, Sayang.”
Zahra menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia tak mampu menahan tangisnya.
“Benar kata mama bahwa Zahwa adalah seorang pembunuh.”
__ADS_1
Zain menarik tubuh istrinya yang bergetar ke dalam pelukannya, ia tidak ingin sesuatu yang buruk kembali menimpa istrinya. Kondisi psikis Zahra belum sepenuhnya membaik.
“Ssttt! Tenang Zahra, kamu bukan pembunuh, okay. Tenang, dengarkan aku, kamu tidak salah, Sayang.”
Setelah Zahra merasa tenang, Zain melepaskan pelukan mereka. Zahra kembali memutar tubuhnya ke arah ayahnya.
“Zahwa ingin mendengar semuanya, Pa.”
Tuan Harun menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan, ia mulai menceritakan tentang masa lalunya.
“Zahra. Apa kamu tahu siapa yang memberikan nama itu kepadamu?” tanya tuan Harun menatap lekat wajah putrinya.
Zahra menggelengkan kepalanya, sedangkan Zain dan Ny. Amara memilih diam menyimak pembicaraan antara ayah dan anak di depan mereka.
“Zahra. Satu nama yang memiliki arti bersinar, berseri. Nama yang dipilih oleh ibu kamu, nama yang juga diambil dari namanya sendiri yaitu Zahira.” Tuan Harun memejamkan matanya teringat akan sosok lemah lembut yang berhasil memikat hatinya.
“Zahira Athaillah. Seperti namanya, karunia Allah yang bersinar, bercahaya. Begitu lembut tutur katanya, begitu baik hatinya. Wanita yang telah papa sia-siakan hingga akhir hidupnya,” ucap tuan Harun penuh penyesalan.
“Maafkan papa karena gagal menjadi suami yang baik untuk ibumu, dan lagi-lagi papa gagal menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya.”
“Anak-anak?” Zahra menautkan alisnya. “Maksud papa, kak Nindy juga bukan anak kandung mama?”
Tuan Harun menggelengkan kepalanya pelan. “Nindy anak kandung mama kamu. Sebenarnya kalian memiliki kakak laki-laki yang sejak kecil tinggal bersama keluarga Zahira.”
Zahra melebarkan matanya, ia begitu terkejut. Banyak hal yang ayahnya sembunyikan darinya. Zain dan Ny. Amara tak kalah terkejutnya dengan Zahra.
“Zahran. Zahira memberinya nama Zahran, Zahran Harun Athaillah. Athaillah Al Fath adalah nama kakek kamu, seorang ulama di daerah Jawa yang memiliki sebuah pondok pesantren yang kini di pimpin oleh paman kamu.”
Zahra terdiam menyimak setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dilontarkannya, namun tak mampu ia utarakan seakan tersangkut di tenggorokannya.
Zain menggenggam tangan istrinya ketika melihat tubuh kecil itu diam tak bergerak.
“Zahra,” panggil Zain tepat di telinga istrinya membuat Zahra terperanjat kaget dan menoleh ke arah Zain.
“Are you okay?” tanya Zain dengan wajah khawatir.
Zahra menganggukkan kepalanya lalu kembali menatap ke arah ayahnya.
“Kenapa Papa menyembunyikan semua ini kepada Zahwa? Mungkin saja Zahwa bisa tinggal bersama mereka.”
Deg.
Dada tuan Harun terasa sesak, ia tidak bisa membayangkan jika harus ditinggalkan oleh putrinya. Putri yang mengingatkannya kepada sosok mendiang istrinya, wajah mereka bak pinang di belah dua begitu mirip, hal yang membuat tuan Harun memilih untuk selalu menghindar dari putrinya.
“Karena Papa tidak ingin kehilangan untuk ke sekian kalinya.” Tuan Harun menundukkan kepalanya, lalu melanjutkan kalimatnya, “Maafkan keegoisan papa, mereka tidak mengetahui keberadaan kamu, Sayang.”
__ADS_1
“A-apa maksud papa?”