
Zain melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja yang berada di sebelah kamarnya tanpa menghiraukan keberadaan ketiga orang yang masih terbengong di ujung tangga.
“Barra!” teriak Zain dari dalam ruangannya membuat ketiga orang tersebut tersadar dan bergegas melanjutkan langkah mereka.
Tuan Harun dan Barra masuk ke dalam ruang kerja Zain setelah mengetuk pintu terlebih dahulu. Sedangkan Ny. Amara berjalan menuju kamar Zain dan Zahra.
Tok! Tok! Tok!
“Sayang, bolehkah mommy masuk?” tanya Ny. Amara dengan suara sedikit keras agar terdengar oleh menantunya di dalam kamar.
“Masuk saja, Mom! Pintunya tidak di kunci!”
Ceklek.
Ny. Amara perlahan membuka pintu di depannya lalu masuk ke dalam kamar dengan memasukkan kepalanya terlebih dahulu, mencoba mencari keberadaan menantunya.
“Kamu di mana, Sayang?” tanya Ny. Amara yang tidak menemukan sosok yang dicarinya.
“Walk in closet, Mom.”
Ny. Amara menghampiri menantunya, masuk ke dalam walk in closet bagian sayap kiri. Di mana pakaian dan segala aksesoris Zahra tertata rapi di dalamnya, sedangkan bagian sayap kanan adalah tempat pakaian milik Zain.
Ny. Amara menautkan alisnya bingung ketika melihat Zahra tengah sibuk memilah pakaian yang tergantung di depannya.
“Kamu sedang apa, Sayang? Kenapa kamu keluarkan semua pakaian itu?”
“Zahra sedang memilih dan memisahkan pakaian ini, Mom. Banyak pakaian yang terlalu pendek dan kekurangan bahan, Zahra merasa risi hanya sekedar melihatnya saja,” jelas Zahra.
Ny. Amara memilih untuk duduk di sofa sembari mengamati menantunya. Tangannya meraih pakaian yang berserakan di lantai.
“Apa kamu yakin ingin membuang semua pakaian ini?” tanya Ny. Amara sedikit memicingkan matanya.
“Yakin, Mom. Zahra tidak mau memakai pakaian kurang bahan itu, dan dress pendek itu terlalau terbuka untukku.”
“Tapi sayang kan jika pakaian sebagus ini tidak dipakai. Kamu sudah meminta izin kepada suamimu?” tanya Ny. Amara, ia tahu bahwa putranyalah yang telah membeli semua pakaian tersebut. Karena tika mungkin jika menantunya membeli pakaian terbuka sedangkan Zahra selalu memakai pakaian panjang yang tertutup.
“Dia pasti akan mengerti, Mom. Siapa suruh membelikan baju seperti ini! Sudah tahu Zahra tidak memakai pakaian terbuka!” omel Zahra dengan wajah cemberut.
“Ya sudah, sini mommy bantu membereskannya,” ucap Ny. Amara dengan senyum tipis di wajahnya. Entah apa yang ada dipikirkannya.
__ADS_1
“Terima kasih, Mom. I love you.”
“Love you too, Sayang. Ayo cepat selesaikan, nanti malam akan ada syukuran bersama anak-anak Ziya’s House. Kamu tidak ingin melihat persiapannya di bawah?”
“Zahra boleh bantu-bantu?” tanya Zahra penuh harap.
Ny. Amara menganggukkan kepalanya membuat Zahra tersenyum lebar dan segera menyelesaikan pekerjaannya di bantu oleh ibu mertuanya.
...*****...
Di tempat lain, terlihat Zain duduk di kursi kerjanya sedangkan tuan Harun dan Barra duduk bersebelahan di sofa di ruang kerja milik Zain.
“Jadi, apa keputusan Anda selanjutnya, Tuan?” tanya Zain setelah meletakkan berkas ditangannya ke atas meja.
“Saya masih merasa syok dengan kenyataan ini, Tuan. Selama ini Nindy saya besarkan seperti putri saya sendiri, bahkan perhatian saya lebih condong kepadanya karena ancaman Tasya yang akan menyakiti Zahwa,” jawab tuan Harun dengan suara parau.
“Ck! Tapi kenyataannya istri Anda menyakiti Zahraku. Bahkan sudah menyiksanya meskipun Anda sudah menuruti keinginan dan mengabaikan putri kandung Anda!” ucap Zain dingin tanpa menghiraukan wajah ayah mertuanya yang penuh dengan penyesalan.
“Maaf Tuan,” lirih tuan Harun.
“Anda tidak perlu meminta maaf kepada saya, apa pun keputusan yang Anda ambil ke depannya saya tidak akan ikut campur. Tapi jika itu menyangkut keselamatan dan kebahagiaan istriku, jangan salahkan saya jika sesuatu yang buruk menimpa keluarga Anda, terutama kedua wanita j*lang itu!”
“Maaf Tuan, jika saya lancang. Tapi apakah dulu Anda tidak melakukan tes DNA terhadap nona Anindya?” Barra berinisiatif bertanya kepada tuan Harun karena rasa ingin tahunya. Tidak mungkin jika tuan mudanya akan bertanya banyak hal, karena sifat dinginnya tidak akan mencair selain di hadapan istrinya.
Barra dan Zain saling melempar pandang setelah mendengar penjelasan tuan Harun. Seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran tuan mudanya, Barra kembali melontarkan pertanyaan kepada tuan Harun.
“Di mana Anda melakukan tes DNA, apakah di tempat yang sama di mana nona Anindya dilahirkan?” tanya Barra menerka.
“Benar. Karena waktu itu Nindy terlahir prematur dan harus masuk ke ruang NICU.”
“Semakin jelas jika ada sesuatu yang tidak beres di sini,” ucap Barra lalu menatap ke arah tuan mudanya, Zain menganggukkan kepalanya di ikuti oleh Barra yang mengangguk paham, tanda bahwa ia mengerti dan akan melakukan tugasnya.
“Jika Anda memerlukan bantuan apa pun, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada Barra.
“Baik Tuan , terima kasih atas kemurahan hati Anda.”
Zain berjalan meninggalkan ruang kerjanya diikuti oleh tuan Harun dan Barra, namun langkahnya terhenti karena melihat bi Nur menenteng sebuah tas jinjing dari kamarnya.
“Apa itu, Bi?”
“Eh, Tu-tuan. Nona Zahra menyuruh saya untuk menyimpan pakaian ini,” jawab bi Nur tergagap karena terkejut.
“Di mana Zahra?”
__ADS_1
“Di bawah, Tuan. Membantu yang lainnya persiapan untuk acara nanti malam.”
“Kalian turunlah dahulu!” perintah Zain kepada Barra dan ayah mertuanya, lalu ia masuk ke dalam kamarnya diikuti bi Nur di belakangnya.
Tak lama kemudian bi Nur kembali ke luar dari kamar tuan mudanya dengan menenteng tas yang sama dengan sebelumnya. Namun kali ini terlihat senyum geli di wajahnya.
Malam harinya, mansion utama terlihat ramai oleh banyak orang. Zain mengadakan syukuran atas kepulangan istrinya dari rumah sakit.
Acara tersebut berlangsung dengan lancar dan meriah karena kehadiran adik-adik Zain dari Ziya’s House yang meramaikan acara tersebut. Mereka terlihat bahagia karena ini untuk pertama kalinya mereka datang ke mansion utama.
Tamu laki-laki dan para penjaga berada di halaman depan yang sudah dipasang tenda dan kursi di sana, sedangkan tamu perempuan dan para pelayan perempuan berada di dalam rumah.
Zain melakukan semua itu untuk berjaga-jaga jika istrinya belum siap berpapasan dengan banyak pria. Bahkan ia membuat peraturan baru di dalam rumahnya, Zain tidak mengizinkan penjaga dan pekerja laki-laki masuk ke dalam mansion jika tidak dalam keadaan mendesak. Mereka hanya diizinkan mengawasi dan menjaga mansion dari luar rumah.
Usai acara, semua tamu undangan satu persatu berpamitan pulang, termasuk tuan Harun dan Barra.
Begitu pun dengan semua penghuni mansion tersebut. Setelah membersihkan sisa-sisa acara, mereka kembali ke kamar masing-masing.
Tak terkecuali Zain dan istrinya. Sesuai perintah suaminya, Zahra mulai berbagi kamar dan menempati kamar utama di lantai tiga.
“Aku atau kamu yang akan memakai kamar mandi dulu?” tanya Zahra yang melihat suaminya duduk di sofa tengah sibuk dengan ponselnya.
“Kita!” jawab Zain singkat.
“Apa maksud kamu?” bingung Zahra.
“Ya kita, bukan aku atau kamu dulu, tapi kita berdua bersama-sama memakai kamar mandi.” Zain bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah istrinya.
“Hah, tidak bisa begitu dong!” seru Zahra dengan wajah panik.
“Kenapa tidak bisa, memangnya apa yang kamu pikirkan? Kita hanya akan menggunakan kamar mandi bersama tidak lebih,” goda Zain dan semakin mendekat mengikis jarak di antara mereka berdua.
“A-aku mau mandi dulu!” ucap Zahra panik lalu mendorong tubuh suaminya agar menjauh darinya.
Zain menarik tangan Zahra yang hendak lari darinya. “Kenapa? Apa kamu malu? Bahkan aku sudah pernah melihatnya tanpa tertutup selembar kain apa pun,” ucap Zain tepat di telinga Zahra membuatnya meremang dan menelan salivanya kasar.
“Le-lepaskan, a-aku mau mandi ...,” lirih Zahra dengan terbata-bata, jantungnya kembali berdebar tak beraturan dengan jarak mereka yang sedekat ini.
*****
Hai semuanya, Author butuh dukungan dari kalain semua dengan cara like, comment dan vote ya ... 🤗☺️
Terima kasih sudah setia menemani Author sejauh ini 🥰😻
__ADS_1