
“Bagaimana hasilnya?” tanya Zain yang berdiri di depan seorang pria yang tengah fokus dengan komputer di depannya.
“Maaf Tuan, kami belum menemukan keberadaan orang dengan ciri-ciri yang Anda sebutkan,” jawab pria tersebut.
Brak!
Zain menggebrak meja di depannya membuat semua orang di dalam ruangan tersebut menatap ke arahnya. “Bagaimana cara kerja kalian! Sudah 5 jam lebih tapi kalian belum juga menemukan keberadaan istriku!”
Yitian yang berdiri di belakang Zain dengan cepat menahan bahu kanan sepupunya tersebut, sebelum Zain semakin membuat suasana menjadi kacau.
“Piuko, jaga sikap Anda! Kita sedang berada di kantor polisi!” peringat Yitian kepada Zain.
Mendengar ucapan sepupunya, Zain langsung menepis tangan Yitian yang masih berada dibahunya. Ia berdecak kesal karena tidak bisa berbuat lebih untuk mencari istrinya, Zain hanya bisa menunggu kabar baik dari pihak kepolisian.
“Maaf,” ucap Zain kepada para polisi yang tengah bertugas malam itu, karena ia tidak bisa menahan emosinya.
“Tenanglah Tuan, sebaiknya Anda duduk dulu di sana, tenangkan diri Anda!” ucap petugas tersebut.
“Piuko!” Yitian menarik lengan Zain agar mengikutinya menuju kursi tunggu di ruangan tersebut.
“Kenapa tidak meminta bantuan kepada papa kamu?” tanya Zain yang sudah duduk di sebelah sepupunya.
“Aku tidak bisa menghubunginya sejak sore tadi, mungkin papa sedang ada pertemuan penting,” jawab Yitian tanpa menatap ke arah sepupunya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi karena merasakan tubuhnya yang begitu lelah.
“Huft!” Zain menghela napasnya kasar lalu memijit pelipisnya. “Dimana kamu, honey?” tanya Zain lirih, lalu mengacak rambutnya frustrasi.
Setelah satu jam lebih menyusuri jalan di sekitar lokasi tempat dimana Zahra terakhir terlacak dan tidak membuahkan hasil. Akhirnya Zain memutuskan untuk langsung mendatangi kantor polisi terdekat untuk memastikannya secara langsung, namun hasilnya tetap sama, ia belum bisa menemukan keberadaan istrinya membuat Zain semakin merasa khawatir.
“Ko, sebaiknya kita pulang dulu. Tunggu kabar tentang kakak ipar di rumah saja, Piuko pasti lelah karna belum istirahat sejak pagi,” ajak Yitian pelan.
“Mana bisa aku istirahat dengan tenang! Kabar tentang istriku saja aku tidak tahu, dia tidak punya uang sepersen pun, ponselnya juga tidak dibawanya. Dia tidak pernah pergi sendirian, apalagi malam hari dan dia tidak akrab dengan negara ini.”
“Tuan, komandan sudah kembali dan beliau memanggil Anda untuk segera ke ruangannya,” ucap salah seorang petugas yang menghampiri Yitian dan Zain.
“Baik, Pak. Kami akan segera ke ruangan beliau, terima kasih,” jawab Yitian dengan sopan.
“Sama-sama,” balas petugas tersebut lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Ayo!” ajak Yitian lalu bangkit dari duduknya.
“Ke mana?” tanya Zain malas.
“Ck! Katanya ingin meminta bantuan kepada Papa, cepat pergi ke ruangannya sebelum papa mengurung pioko di dalam sel!” jawab Yitian sedikit ketus sambil berlalu meninggalkan sepupunya itu yang masih enggan untuk berdiri.
“Tunggu, bodoh! Kenapa kamu meninggalkan aku?” teriak Zain dan bergegas mengejar langkas sepupunya, ia mengabaikan berpasang-pasang mata yang menatap tajam ke arahnya karena terganggu dengan teriakannya.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” terdengar suara balasan dari dalam ruangan.
Ceklek!
Mendengar perintah dari seseorang yang berada di dalam ruangan, Yitian memutar knop pintu dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Zain yang mengekor di belakangnya.
“Pa,” sapa Yitian setelah melihat keberadaan orang yang dicarinya, yaitu ayahnya.
“Hmm,” jawab ayah Yitian lalu memberi kode kepada kedua pemuda yang baru masuk itu agar duduk di kursi di depannya.
“Pa, tolong bantu Zain mencari ist-”
“Bodoh!” maki ayah Yitian dan memukul kepala Zain dengan berkas ditangannya.
“Pa!” rengek Zain sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
“Apa?” tanya ayah Yitian dengan nada tegasnya.
“Istriku menghilang,” jawab Zain lirih merasa takut dengan ekspresi garang yang ditunjukkan oleh pamannya tersebut.
“Mungkin istrimu tidak betah hidup bersama pria dingin dan kejam sepertimu!” ejek ayah Yitian semakin membuat Zain menekuk wajahnya.
“Ayo kalian ikut papa pulang, papa capek seharian menghadiri pertemuan penting dan harus kembali ke kantor gara-gara kekacauan yang dibuat oleh dua bocah nakal ini di kantor!”
“Tapi, Pa-” Zain ingin menolak ajakan pamannya, namun urung setelah mendapatkan tatapan tajam dari pamannya tersebut.
Sejak kecil, Zain memanggil orang tua Yitian dengan sebutan papa dan mami, seperti saat Yitian memanggil kedua orang tuanya. Begitu pun dengan Yitian yang memanggil Ny. Amara dengan sebutan mommy dan mendiang ayah Zain dengan sebutan daddy.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga besar Zain, lebih tepatnya keluarga kakek dari ayahnya yang menetap di Hong kong. Sedangkan keluarga lainnya, tersebar di berbagai negara seperti Inggris, Canada, Swiss, dan Amerika, ada juga yang masih menetap di tanah kelahiran mereka, yaitu di China. Meskipun tersebar di berbagai daerah seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Macau dan berbagai daerah lainnya.
Ayah Yitian yang bernama Hu Bing, mengeluarkan ceramahnya kepada kedua bocah nakal tersebut tanpa henti. Namun keduanya tidak ada yang berani membantah atau sekedar untuk menyela ucapan sang ayah.
“Papa sangat berterima kasih kepada kamu, Zain. Jika bukan karena kamu yang menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya atas perusahaan yeye kamu kepada bocah tengil itu, mungkin Yitian tidak akan tumbuh sedewasa ini,” ucap Mr. Hu diiringi tawa dan berhasil membuat putranya semakin cemberut.
“Seharusnya piuko yang menjadi penerus usaha kungkung, bukannya aku!” ucap Yitian sambil mencebikkan bibirnya kesal.
*Yeye sebutan kakek dari pihak ayah, sedangkan Kungkung/akung sebutan kakek dari pihak ibu. Mama sebutan nenek dari pihak ayah dan Phopho (bhobho) sebutan nenek dari pihak ibu.
Sejak usianya masih dini, kehidupan Yitian tidak kalah jauh dari kehidupan Zain yang harus merelakan masa remaja mereka untuk belajar bisnis keluarga mereka.
Yitian di didik keras oleh kakeknya untuk bersiap memimpin segala usaha sang kakek. Seharusnya ayah Zainlah yang menjadi pewarisnya, namun karena ayah Zain sudah meninggal dan Zain menolak untuk menjadi pewaris karena sibuk dengan usaha sang kakak dari pihak ibunya, maka terpaksa Yitian harus menerima tanggung jawab tersebut.
Awalnya perusahaan akan diberikan kepada menantunya, yaitu Hu Bing namun dengan keras Hu Bing menolaknya dengan alasan ia sibuk dengan pekerjaannya sebagai polisi dan menyarankan kepada ayah mertuanya agar mengajari dan membimbing Yitian untuk meneruskan usaha beliau.
__ADS_1
Tak berselang lama, mobil yang mereka kendarai masuk ke dalam perumahan elit dimana berjajar rapi rumah mewah dan elegan dengan desain yang hampir sama satu dengan yang lainnya.
Zain paling terakhir keluar dari mobil, itu pun dengan malas-malasan. Ia masih tidak tenang karena belum mengetahui keberadaan sang istri.
“Zain!” panggil Mr. Hu yang sudah berdiri di depan pintu utama.
“Iya!”
“Cepat jalan, jangan lemot seperti siput!” ejeknya.
Mereka bertiga bersamaan masuk ke dalam rumah, samar-samar terdengar suara banyak orang diselingi gurauan dari arah ruang keluarga.
“Ngotei fan lei la!” seru Mr. Hu setelah berada di ruang keluarga.
*(Kami pulang!)
“Lei la, lei la!” sambut semua orang bersamaan.
*(Kemarilah, kemarilah).
“Yang a, lei hou ma?” tanya seorang wanita paruh baya yang menghampirinya dan memeluk sayang kepadanya.
*(Yang Yang, apa kabarmu?)
“Ngo hou. Lei a, Mami?” tanya Zain setelah melepas pelukan mereka.
*(Saya baik. Bagaimana denganmu, Mami?)
“Kamu lihat sendiri, Yang a! Mami kamu masih sangat sehat dan bugar, bahkan jika ingin, mami kamu masih sanggup untuk memberikan adik untuk Yitian,” ucap Mr. Hu menjawab pertanyaan Zain yang ditujukan untuk istrinya.
Plak!
Mr. Hu mendapat pukulan tepat di lengannya, pelakunya sudah jelas adalah sang istri. “Jangan dengarkan omongan papa kalian, ngaco!”
Semua orang yang sedang berkumpul di rumah tersebut tertawa mendengar ucapan tuan rumah, saat itu juga Zain tidak sengaja menangkap sosok yang tengah duduk santai di atas sofa.
“Honey!” teriak Zain membuat semua orang menghentikan tawa mereka.
“Pa!” ucap Zain dingin menatap curiga ke arah Mr. Hu untuk meminta penjelasan.
“Ck! Makanya kalau punya istri itu dijaga! Dan jangan menyimpan begitu banyak misteri tentang kehidupanmu dari istrimu, anak muda!” ejek Mr. Hu membuat Zain mengerutkan alisnya bingung.
“Dia baik-baik saja, hanya salah paham saja ketika melihat kamu bermesraan dengan Yang Zi,” jelas Mr. Hu santai.
__ADS_1