
“Kenapa menatap mommy seperti itu?” gertak Ny. Amara karena Zain menatap lekat ke arahnya.
“Apa jawaban mommy?” tanya balik Zain tanpa menjawab pertanyaan ibunya.
“Apa? Kenapa mommy yang harus menjawab? Mommy tidak ada hububannya dengan masalah ini!” jawab Ny. Amara ketus sambil memalingkan wajahnya.
“Mom!” tegur Zain merasa sedih melihat adiknya semakin menundukkan kepalanya.
Melihat ibunya acuh terhadap masalah ini Zain harus segera memberikan keputusan, pamannya sudah memberikan restu begitu pun dengan bibi dan Yitian yang mendukung Barra. Kedua orang tua Barra juga merestui putranya tersebut, tidak ada alasan lagi untuk Zain menolak niat baik asisten, sahabat serta keluarganya itu.
“Aku serahkan jawabannya kepada Yang Zi,” ucap Zain memberi keputusan, hanya itu yang bisa ia ucapkan karena percuma menghalangi pernikahan tersebut jika Barra sudah kekeh dengan keputusannya.
Semua orang beralih menatap ke arah yang bersangkutan untuk meminta jawaban membuat Yang Zi semakin gugup dan bingung menghadapi situasi ini.
“Ikut denganku!” seru Yang Zi lalu berdiri dan menarik paksa tangan Barra agar ikut dengannya.
Yang Zi membawa Barra menuju halaman belakang rumah yang sepi agar bebas berbicara tanpa merasa takut ada orang lain yang mendengarkan.
“Apa yang Koko inginkan?” tanya Yang Zi tegas dengan gaya mengintimidasinya, namun Barra hanya mengangkat kedua bahunya cuek.
“Xiao Zhan!”
Pletak!
“Akh! Hou dong a!” pekik Yang Zi dan mengusap keningnya yang terasa nyeri akibat ulah Barra yang menyentilnya.
*(Akh! Sangat sakit)
“Hilangkan sifat burukmu itu! Aku tidak takut dengan gertakan kamu!” ejek Barra berhasil membuat Yang Zi mencebikkan bibirnya kesal.
“Katakan niat Koko sebenarnya! Aku tahu ada wanita lain dihati Koko, tapi kenapa Koko bersikeras ingin menikahiku? Koko merasa kasihan kepadaku? Terima kasih, tapi maaf aku tidak suka orang yang mengasihaniku!” ketus Yang Zi menatap nyalang ke arah Barra.
Barra menundukkan kepalanya menyejajarkan wajahnya dengan wajah Yang Zi dan membalas menghunuskan tatapan tajam kepadanya.
“Ck! Dasar cewek arogan, kenapa kamu suka sekali berpikir negatif kepadaku? Kamu tidak takut kepadaku?” ancam Barra.
__ADS_1
“Berani macam-macam aku laporkan kepada Koko Yang Yang!” gertak Yang Zi.
“Laporkan saja, bahkan Koko kamu lebih percaya ucapanku dari pada rengekan gadis sombong sepertimu!”
Barra dan Yang Zi saling menhunuskan tatapan membunuh tanpa ada seorang pun yang berniat untuk mengalah. Hingga akhirnya Yang Zi mendaratkan pukulan ke dada Barra dan mendorongnya kuat sehingga Barra terdorong mundur beberapa langkah.
Hahahahahaha
Keduanya pun tertawa terbahak karena ulah bodoh mereka sendiri. Barra menarik tangan Yang Zi menuju tepi kolam renang dan duduk di lantai, membiarkan kaki mereka basah terendam air kolam.
“Aku tahu Koko menyukai Hani,” ucap Yang Zi memecah keheningan di antara mereka.
“Jangan asal menebak, Hani masih kecil,” elak Barra.
“Aku juga masih kecil!”
“Kecil tapi sudah bisa membuat anak kecil bahkan sampai berisi tuh perut.”
“Ko! Ih jahat!” Yang Zi memberikan pukulan bertubi kepada Barra, namun tak berasa sakit di tubuh Barra.
“Jadi ... kenapa kamu tidak jujur kepada kami? Kamu tahukan, akibat kebisuanmu itu banyak orang yang harus menanggung akibatnya karena ulahmu!”
“Apa kamu tidak merasa kasihan dengan orang-orang yang selama ini melindungi kamu di Beijing sana? Mereka harus menerima kemarahan koko kamu yang gila itu karena tidak bisa menjagamu dengan baik.”
“Maaf,” cicit Yang Zi merasa bersalah karena ia tahu banyak orang-orang suruhan kakaknya yang selalu mengawasinya dari kejauhan.
Yang Zi menyembunyikan identitas aslinya dan memperkenalkan dirinya sebagai yatim piatu kepada teman-temannya. Tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya berasal dari keluarga terpandang dan berpengaruh nomer satu di Beijing.
“Ceritakanlah, aku akan menjadi pendengar yang baik untukmu malam ini,” ucap Barra pelan.
Meskipun sering mendapat teguran dan ancaman karena ulahnya dari Barra, namun Yang Zi merasa lebih nyaman dan dekat dengannya dari pada kepada Zain kakaknya sendiri. Barra yang selama ini sering mengunjunginya, bahkan selalu membawakan hadiah dan buket bunga untuknya di setiap kunjungannya.
Meskipun Barra mengatakan semua itu pemberian dari Zain, namun Yang Zi baru mengetahui bahwa kakaknya tidak pernah menyuruh Barra melakukan hal tersebut.
Perlahan Yang Zi pun buka suara tentang musibah yang menimpanya, ia dijebak oleh teman-temannya sendiri membuatnya tidak sadarkan diri. Saat terbangun dirinya sudah berada di atas kapal nelayan dengan beberapa wanita dengan kondisi yang terlihat menyedihkan, tangan dan kaki mereka terikat tali serta mulut yang disumpal kain.
__ADS_1
Malam itu hujan turun begitu lebatnya, dua pria bertubuh besar menyeret satu persatu wanita yang tersembunyi di dalam perahu nelayan itu keluar satu persatu. Langit begitu gelap, petir menyambar saling bersahutan menggelegar seakan marah terhadap penghuni bumi.
Tubuh Yang Zi diseret paksa oleh salah seorang pria tanpa belas kasih menuju dermaga, semua wanita tadi yang bersamanya digiring masuk ke dalam mobil bok pengangkut barang. Di dalamnya ada sekitar lima pria bertubuh besar dengan tato terukir di sekujur tubuh mereka.
Brak! Brak!
“Keluar semuanya!” teriak salah seorang pria itu sambil memukul-mukul dinding mobil membuat semua wanita malang tersebut terlonjak kaget terbangun dari tidur mereka.
“Bangun! Cepat jalan jangan bermalas-malasan!” teriaknya.
“Cepat jalan!”
Sesampainya di sebuah bangunan, seorang wanita berpakaian **** dengan make up yang menor menyambut kedatangan mereka.
“Cepat berbaris yang rapi!” perintah wanita tersebut.
“Angkat kepala kalian! Jangan menunduk! Perkenalkan aku adalah Lady Rose, kalian semua harus mematuhi perintahku!”
Wanita tersebut yang dikenal dengan sebutan Lady Rose menatap satu persatu wajah wanita dalam barisan tersebut, menilai dan menelisik dengan saksama. Hingga tiba pada giliran Yang Zi Lady Rose tersenyum menyeringai terlihat mengerikan di mata setiap orang yang melihatnya.
“Bawa gadis ini, dandani dengan baik dan berikan kepada tamu VIP kita malam ini!”
“Cuih! Lepaskan aku!” Yang Zi meludah ke sembarang arah saat ditarik paksa oleh dua orang bertubuh besar. Ia tahu persis dimana kini dia berada, tempat bejat yang tak pernah terbayang olehnya. Dia sering pergi ke klub malam, namun hanya sekedar nongkrong bersama teman-temannya, siapa sangka malam itu ia dijebak oleh teman-temannya dan dijual di tempat terkutuk ini.
Plak!
“Dasar p*lacur! Berani-beraninya kamu melawan! Aku sudah membayar kami mahal, jadi diam dan menurutlah jika ingin nyawamu terselamatkan!” ucap Lady Rose dengan murka.
“Aku tidak sudi menjadi budak gilamu!” balas Yang Zi dengan mata melotot nyalang tanpa rasa takut sedikit pun.
Plak! Plak!
Yang Zi mendapatkan tamparan berulang di kedua pipinya dari Lady Rose, sekuat apa pun ia melawan tenaganya tak sebanding dengan beberapa pria berbadan besar yang berjaga di tempat itu.
Malam itu, malam dimana neraka bagi Yang Zi dimulai.
__ADS_1