Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 92. Retak


__ADS_3

Di dalam pejalan pulang, Zain dihentikan oleh sang kakek ketika ia hendak masuk ke dalam mobilnya. Kakek meminta izin untuk ikut pulang bersamanya ke mansion utama, bukannya Zain tidak menginginkan kehadiran kakeknya di rumahnya, namun ia takut jika ibunya tidak akan menyambut kedatangan sang kakek dengan baik.


Meskipun sudah berusaha menolak dengan berbagai alasan, tetap saja Zain tidak bisa menang melawan kegigihan kakeknya tersebut. Dan disinilah mereka sekarang, duduk berdua bersebelahan di kursi belakang saling membisu dengan pikirannya masing-masing. Sedangkan Ali yang bertugas menggantikan semua pekerjaan Barra juga memilih diam menambah keheningan yang telah tercipta dari kedua tuannya yang duduk di belakangnya.


“Maaf untuk kejadian malam itu, Yeye,” ucap Zain memulai percakapan dan terlihat sedikit canggung.


“Tidak perlu meminta maaf kepada yeye, kamu sudah melakukan yang terbaik. Jika saat itu yeye ada diposisi kamu, yeye pasti juga akan melakukan hal yang sama,” jawab sang kakek tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan.


“Yeye tidak marah?” ulang Zain memastikan, ia tahu keputusan sepihaknya waktu itu pasti akan menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan kakeknya.


“Apa pun akan yeye lakukan untuk keluarga kita. Uang masih bisa dicari, tetapi keluarga ... sebenarnya harta yang paling berharga adalah keluarga. Yeye tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluarga kita bahkan sampai menghina dan menginjak-injak harga diri keluarga kita,” ucap kakek dengan wajah datarnya, ia masih begitu marah dengan perbuatan menantu rekan bisnisnya padahal mereka berdua sudah sangat lama menjalin kerja sama.


Zain menatap kagum wajah kakeknya yang telah berumur, meski hanya melihatnya dari samping namun kerutan di wajah tua kakeknya tak mampu menutupi ketegasan dan kewibawaan sang kakek. Zain tidak menyangka jika kakek yang selama ini ia kenal dengan sifat keras dan disiplin tingginya, ternyata begitu memiliki hati lembut dan penyayang terhadap keluarganya.


“Sudah puas mengagumi wajah yeyemu ini?” tanya kakek berhasil membuat cucunya itu terkejut dan salah tingkah.


“Apa kamu masih menganggap wajah yeye begitu menakutkan, Yang a?” tanya kakek menyelidik.


“Eh, tidak Yeye. Aku hanya-”


“Sebenarnya yeye tidak ingin bersikap keras kepada kalian bertiga. Namun, yeye terpaksa harus melakukan semua itu demi kebaikan dan masa depan kalian, jika yeye bersikap lunak dan tidak mendidik kalian dengan keras, apa mungkin kamu dan kedua sepupu kamu itu akan lebih maju dan sukses dibandingkan anak-anak seusia kalian?” tanya kakek dengan nada mengintimidasi.


Zain hanya diam tidak berani mengeluarkan suaranya, ia takut akan salah berbicara. Zain sangat tahu bahwa dibalik sikap tegasnya, kakeknya itu sangat menyayanginya dan cucu-cucu lainnya.


“Yeye sudah mendengar tentang keputusanmu atas perusahaan Bramasta, jika kakekmu masih bersama kita ... Ibrahim pasti tidak akan menyalahkanmu. Bagaimanapun keluarga adalah nomor satu di atas segalanya, lalu bagaimana kabar mereka?”


“Tuan Bramasta jatuh dan mengalami stroke, sedangkan putranya sudah aku masukkan ke dalam sel dengan kasus-kasus ilegalnya yang selama ini tuan Bramasta mati-matian menutupinya dari pihak berwajib,” jelas Zain.


“Mereka pantas mendapatkannya, terus awasi pemuda itu. Pasti dia akan melakukan segala cara agar bisa keluar dari penjara dan mungkin akan membalas dendam kepadamu,” peringat kakek.

__ADS_1


“Aku pastikan dia tidak akan bisa berulah dan keluar dalam waktu puluhan tahun,” jawab Zain yakin.


“Bagaimana keadaan istrimu?”


“Ara baik-baik saja, ada mommy yang selalu menemaninya dan juga kakaknya yang selalu mengganggunya,” ucap Zain dengan nada sebal ketika mengingat kakak iparnya yang setiap hari datang ke mansion untuk menemui Zahra.


Kakek yang menangkap kecemburuan dalam nada bicara cucunya itu mengulas senyum tipis di wajahnya, ia melihat sifat pencemburu yang Zain miliki begitu mirip dengan sikap putranya yang sering tertangkap olehnya dulu ketika masih bersama menantunya, Amara.


‘Lihatlah, betapa dia sangat mirip deganmu Zhang Han. Andaikan kamu bisa melihat pertumbuhannya, pasti kamu akan merasa bangga karena memilikinya, dasar anak bodoh!’ gerutu kakek dalam hati, betapa beliau merindukan sosok putranya namun juga merasa kecewa secara bersamaan.


“Jaga istrimu sebaik mungkin, Yang a! Jangan kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah daddymu lakukan kepada mommymu dulu!” perintah kakek tegas.


Sekali lagi Zain hanya mampu menanggapinya dengan kebisuan, sama seperti kakeknya, ia juga merindukan sosok ayahnya namun juga ada kebencian yang terlanjur tertanam di dalam hatinya. Sulit baginya untuk memaafkan kesalahan ayahnya yang membuatnya kehilangan sosok ibu yang dulunya penuh akan kasih sayang seketika berubah sedingin salju bersamaan dengan menghilangnya sosok ayahnya yang tak pernah ia tahu keberadaannya.


Setibanya di mansion utama, sesuai dengan kekhawatiran Zain, Ny. Amara tidak menyambut kedatangan ayah mertuanya namun juga tidak menolak dan mengusir kehadiran tuan Zhang Zhehan.


Bahkan sewaktu di meja makan, suasana canggung kembali terjadi, baik Ny. Amara ataupun tuan Zhang Zhehan tidak ada yang mau mengalah. Zain dan Zahra juga merasa serba salah, Zahran yang ikut makan bersama keluarga adiknya itu pun juga merasa bingung dengan suasana yang tak ia mengerti.


“Huft! Sungguh keras kepala seperti ayahnya,” sungut kakek menatap kepergian menantunya.


“Emh, Yeye ... Anda pasti lelah dan kurang istirahat karena berhari-hari menemani Yang Zi di rumah sakit.” Zahra melirik ke arah suaminya, namun Zain cuek dan fokus dengan makanan di depannya. “Mari Zahra antar Yeye ke kamar tamu untuk beristirahat,” lanjut Zahra mencoba mencairkan kecanggungan yang telah tercipta.


“Terima kasih karena telah menghawatirkan kondisi orang tua ini, Cucu Menantu. Yeye bisa pergi sendiri, kalian lanjutkan saja makan siangnya.”


Setelah mengucapkan kalimatnya, kakek pergi meninggalkan meja makan yang kini tersisa Zain, Zahra dan Zahran yang menatap punggung kakek yang menghilang di balik tembok pemisah antara ruang makan.


“Lanjutkan acara makan kalian, abaikan kedua orang tua itu,” ucap Zain yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.


“Apa?” tanya Zain dengan wajah bingungnya.

__ADS_1


Brak.


Zahra meletakkan sendoknya dengan kasar dan ikut meninggalkan meja makan tanpa menunggu suaminya menyelesaikan makannya.


“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Zain bingung kepada Zahran, namun kakak iparnya itu sama sekali tidak meresponsnya, ia hanya mengedikkan bahunya acuh dan melanjutkan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Malam harinya Zahran membantu Zahra belajar memperlancar bacaan Alqurannya di gazebo taman belakang. Sewaktu kecil Zahra belajar mengaji kepada ayahnya, namun setelah kejadian itu tuan Harun mulai lalai menjalankan tugasnya dan Zahra pun tidak pernah lagi mengasah bacaannya. Di Sekolah pun Zahra hanya mengetahui sedikit perihal agamanya, ia lebih fokus untuk mengerjakan tugas-tugas dari ibu dan kakaknya serta mencari uang untuk dirinya sendiri.


Zain juga ikut duduk di sebelah istrinya, ia tak rela membiarkan sang istri hanya berduaan bersama pria lain meskipun itu adalah Zahran, kakak kandung istrinya.


“Kenapa kamu tidak ikut belajar sekalian, Mas?” tanya Zahran kepada adik iparnya itu, Zahran tetap memanggilnya dengan sebutan mas untuk sopan santun, selain itu usia Zain juga jauh di atasnya.


“Kakak fokus saja kepada Ara, aku tidak akan mengganggu,” jawab Zain datar, ia selalu merasa waspada kepada kakak iparnya itu. Ia takut sewaktu-waktu istrinya akan pergi dan berlari kepada kakaknya yang setiap malam dibangga-banggakan oleh Zahra di hadapannya.


‘Aku tidak akan menculik istrimu, Mas! Terima kasih sudah mencintai dan melindungi adikku, namun alangkah baiknya jika kamu juga belajar tentang agama. Semoga Allah segera mengetuk pintu hatimu agar lebih sempurna ibadah yang kamu jalankan bersama Zahra,’ doa Zahran dalam hati, ia merasa geli setiap kali mendapatkan tatapan tajam dari adik iparnya itu, seolah-olah dirinya adalah sebuah ancaman besar baginya.


Tak jauh di seberang sana, terlihat Ny. Amara tengah duduk bersantai sambil mendongakkan kepalanya menatap langit malam yang dihiasi oleh bulan purnama keemasan yang memancarkan sinarnya ke seluruh sudut bumi, awan-awan bergerak lincah menari-nari di sekelilingnya.


“Apa kamu masih membenci papa, Amara?” tanya tuan Zhang Zhehan yang entah sejak kapan sudah duduk tepat di samping Ny. Amara.


“Sejak kapan Papa duduk di sini?” tanya Ny. Amara terkejut akan kehadiran ayah mertuanya yang tiba-tiba.


“Beberapa waktu lalu, apa kamu tidak menyukai kehadiran papa di rumah ini? Bahkan kamu tidak menyadari kedatangan papa.”


“Bukan begitu, Pa. Aku hanya merasa sedikit lelah saja, aku tidak pernah membenci papa atau siapa pun.” Ny. Amara menjeda ucapannya dan menghela napasnya pelan.


“Aku pamit masuk dulu, Pa. Jika papa masih ingin di sini, maaf aku tidak bisa menemani Papa.”


Tanpa menunggu persetujuan ayah mertuanya, Ny. Amara bergegas masuk ke dalam rumah. Sedangkan tuan Zhang Zhehan tidak dapat mencegahnya, beliau menatap punggung menantunya yang semakin menjauh dengan perasaan bersalah yang selama ini belum terselesaikan.

__ADS_1


“Maafkan papa, Sayang. Maafkan papa telah gagal mendidik si bodoh Hanhan itu, bagaimana papa harus menjelaskannya kepada ayah kamu di surga nanti?” lirih tuan Zhang Zhehan merasa sedih akan retaknya hubungannya dengan menantunya, putri dari mendiang sahabatnya.


__ADS_2