
“Zahra.”
“Sayang, bangunlah.”
Zahra mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih mengelana di alam mimpi. Telinganya samar-samar mendengar seseorang berulang kali memanggil namanya.
“Zahra ... sayang, bangunlah.”
“Eugh,” Zahra melenguh lalu ia mengangkat kedua tangannya dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku serta lehernya yang terasa pegal karena tertidur di samping ibu mertuanya dengan posisi duduk di samping ranjang dengan kepala bersandar di atas kasur.
“Mommy sudah bangun?” tanya Zahra setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya.
“Kenapa kamu tidur di sini, sayang?” tanya Ny. Amara merasa cemas dengan kondisi menantunya.
“Tadi Zain memintaku untuk menemani Mommy, bagaimana keadaan Mommy?” tanya Zahra balik.
Mendengar nama putranya Ny. Amara teringat akan kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa dirinya.
Beberapa jam lalu.
Di dalam kamar mandi, tubuh Ny. Amara meluruh ke lantai dan menyenggol tempat sampah yang jatuh dengan suara yang cukup keras. Ny. Amara menangis sejadi-jadinya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya dan tak bisa menahan gejolak di dalam hatinya.
Sudah sangat lama Ny. Amara tidak pernah merasakan perasaan ini, meski sering kali perasaan itu menghantuinya namun selama ini ia masih bisa mengendalikannya.
Berbeda dengan saat ini, sepertinya Ny. Amara telah mengambil keputusan yang salah untuk membuka kotak kayu itu dan melihat potret suaminya. Dengan terbukanya kotak itu, ternyata berhasil membuka kembali luka lamanya, mengorek luka lamanya dan hal itu terasa jauh lebih menyakitkan hanya sekedar untuk dibayangkan.
“Apa salahku, ko?” lirih Ny. Amara dengan suara yang serak karena masih terisak.
Di luar kamar mandi, Zain yang hendak keluar dari kamar ibunya seketika menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan pintu kamar ketika mendengar sesuatu benda terjatuh dari dalam kamar mandi, dengan panik ia berlari kembali menuju kamar mandi dan tanpa permisi menerobos masuk ke dalamnya.
Zain terpaku melihat ibunya yang sudah tersungkur dilantai dengan menangis tersedu-sedu, dengan kaki gemetar ia berjalan mendekati sang ibu.
“Mom,” panggil Zain pelan namun tak mendapat jawaban dari ibunya yang masih tersedu-sedu.
“Begitu kejamnya dirimu padaku, Ko! Bahkan setelah meninggalkan aku dan Zain, kamu masih saja egois dan tidak merelakan aku untuk merasakan bahagia tanpa hadirmu!” racau Ny. Amara.
Zain yang mendengarkan racauan ibunya merasakan sesak di dalam dadanya, seakan ada sesuatu yang menusuk dan meremas jantungnya hingga terasa sulit untuk sekedar bernapas.
“Mom.” Zain yang sudah berlulut di depan ibunya kembali memanggilnya dengan lembut.
“Kamu jahat, Ko!” teriak Ny. Amara yang terdengar semakin memilukan.
Zain menarik tubuh ibunya dan memeluknya erat, berharap ia dapat berbagi luka dan menenangkan ibunya.
Namun apa yang dilakukan oleh Zain ternyata salah, tanpa disangkanya Ny. Amara langsung mendorong tubuh Zain dan menyerang Zain penuh emosi.
__ADS_1
“Kamu jahat, Ko!” teriak Ny. Amara sambil memberikan pukulan bertubi-tubi ke tubuh Zain.
Ny. Amara seakan-akan merasakan kehadiran suaminya di depan matanya, ia menganggap putranya itu adalah suami yang pernah menghianatinya dulu, Zhang Han.
“Apa salahku padamu? Apa kekuranganku? Bahkan aku merelakan mimpiku demi kamu dan menuruti keinginanmu agar aku fokus merawat anak-anak kita ... tapi, kamu malah tega tidur bersama wanita lain di belakangku!” marah Ny. Amara masih dengan menyerang Zain yang hanya terdiam membiarkan ibunya melampiaskan semua kemarahan yang selama ini hanya dipendamnya sendiri.
“Bahkan kamu memiliki anak bersama j*lang itu! Apa salahku, Ko!” Ny. Amara semakin tidak terkendali, bahkan ia sampai melukai wajah Zain dengan kuku tajamnya.
“Akh!” Zain merintih menahan perih di pipinya, namun ia tetap bertahan dan berdiam membiarkan tubuhnya menjadi sasaran empuk atas kemarahan sang ibu.
“Kenapa kamu diam saja? Jawab, Ko! Bahkan anak itu tak pernah aku sakiti, tapi kenapa kamu tega membawa pergi kebahagiaanku? Kenapa kamu bawa pergi Ziya putriku? Kenapa, Ko?” Ny. Amara semakin terisak namun pukulan ditubuh Zain perlahan mulai melemah.
“Andai aku bisa mengubah takdirku, aku akan memilih untuk tidak pernah bertemu denganmu!”
“Kamu tahu kenapa? Agar aku tidak akan pernah merasakan rasa yang begitu menyakitkan ini, apa kamu tahu, Ko?” Ny. Amara menatap wajah Zain dengan senyuman penuh luka terukir di wajahnya.
“Aku disini terluka, aku kecewa ... aku ... aku membencimu! Bahkan aku lebih membenci diriku ini!”
Ny. Amara tiba-tiba meninggikan suaranya dan memukuli tubuhnya sendiri membuat Zain terkejut olehnya, Zain berusaha keras menyadarkan ibunya dan memeluk tubuh ringkih itu dengan erat.
“Betapa bodohnya aku, mengapa begitu sulit hanya sekedar untuk menghapus namamu dalam ingatanku? Aku ingin melupakanmu! Aku ingin membencimu! Tapi kenapa aku tidak bisa?” Ny. Amara terus meracau dan terus meronta agar terlepas dari pelukan putranya.
“Mom! Sadarlah, Mom! Ini aku Zain, putra Mommy! Jangan seperti ini, Mom ... Aku takut, aku tidak mau kehilangan Mommy!” seru Zain semakin erat memeluk tubuh ibunya, ia tak lagi bisa menahan air matanya dan membiarkannya keluar begitu saja membasahi pipinya.
“Jika melupakanmu adalah hal yang mudah, aku tak akan menyerah, Ko! Aku memang salah, aku memang kalah! Aku telah salah karena memberikan hatiku untukmu, Han-Han!”
Zain merenggangkan pelukannya karena merasakan tubuh ibunya mulai melemah dan tidak ada lagi perlawanan yang ia dapatkan. Perlahan Zain menjauhkan tubuhnya untuk melihat kondisi sang ibu.
Melihat ibunya tidak sadarkan diri, entah karena pingsan atau tertidur karena kelelahan, Zain kembali memeluk tubuh ibunya dan menangisi kemalangan yang menimpa ibunya.
“Mom, maafkan Zain. Maaf Zain tidak pernah memahami kondisi Mommy, aku begitu egois dan keras kepala karena selama ini tidak begitu memperhatikan mommy, aku ...” Zain terisak dan tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
Setelah merasa tenang Zain mengangkat tubuh ibunya dan mendapati Zahra yang ternyata telah berdiri di depan pintu kamar mandi sejak tadi, namun Zahra tidak berani masuk ke dalamnya dan hanya bisa menyaksikan kejadian itu dalam diamnya.
Zain membaringkannya tubuh ibunya di atas kasur lalu ia pandangi wajah yang selama ini selalu bersikap cuek kepadanya, ia pun juga membalasnya dengan bersikap dingin kepada ibunya.
“Setiap orang bisa sembuh dari lukanya, tetapi tidak semua orang bisa berdamai dengan traumanya,” ucap Zain sembari membelai wajah ibunya lalu ia mengecup kening ibunya.
“Temanilah mommy malam ini, Honey!” perintah Zain.
“Tapi-” Zahra tidak melanjutkan ucapannya karena suaminya mengangkat tangannya tanda ia tidak ingin dibantah.
“Mom,” panggil Zahra sambil menggoyangkan bahu ibu mertuanya untuk menyadarkan Ny. Amara dari lamunannya.
“Eh, apa yang kamu katakan tadi, Sayang?” tanya Ny. Amara yang tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Mommy sekarang?” tanya Zahra ulang.
“Sudah jauh lebih baik, kenapa kamu tidur di sini?” tanya Ny. Amara merasa bingung melihat menantunya duduk di samping ranjangnya bahkan sampai tertidur.
“Emh, tadi Zain memintaku untuk menemani mommy disini,” jawab Zahra bingung, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada ibu mertuanya.
“Pergilah Sayang, temani suami kamu. Dia pasti membutuhkan kamu, tadi mommy tidak sengaja melukainya, mungkin saat ini perasaannya sedang tidak baik.”
“Tapi, Mom ... Zain menyuruhku unt-”
“Pergilah Zahra, kewajibanmu adalah suamimu. Utamakan suamimu di atas segalanya, dampingilah dia di mana pun dan dalam kondisi apa pun nantinya, hanya itu yang mommy harapkan darimu, sayang,” ucap Ny. Amara tulus.
“Baiklah, aku akan pergi tapi setelah mommy kembali tertidur.”
Ny. Amara tersenyum membalas perkataan menantunya, ia kembali merebahkan tubuhnya dan tak lama tertidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Zahra memastikan bahwa ibu mertuanya sudah tertidur, ia lalu keluar dari kamar ibu mertuanya dan bergegas menuju lift ke lantai tiga. Namun langkahnya terhenti ketika mendapati sosok yang dicarinya tertidur di sofa ruang keluarga.
“Zain, bangun,” ucap Zahra setelah sapai tepat di depan suaminya.
“Bagaimana keadaan mommy?” tanya Zain saat terbangun setelah beberapa kali dibangunkan oleh istrinya.
“Sudah lebih baik dan sekarang sudah kembali tertidur.”
“Syukurlah,” ucap Zain merasa lega.
“Apakah terasa sakit?” tanya Zahra merasa ngilu melihat banyaknya bekas cakaran di wajah dan lengan suaminya.
“Akh!” teriak Zain saat istrinya menyentuh goresan ditubuhnya dan berhasil membuat Zahra terkejut dan refleks menarik kembali tangannya.
“Hahaha!” Zain tertawa nyaring melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh istrinya, padahal ia hanya berpura-pura kesakitan.
“Zain!” kesal Zahra karena merasa dipermainkan oleh suaminya, padahal ia sangat menghawatirkan kondisi suaminya.
“Jangan marah, Honey! Maaf aku tidak bermaksud mengejutkanmu tadi!” seru Zain yang melihat punggung istrinya yang menjauh pergi meninggalkannya begitu saja.
“Honey, aku kesakitan! Apa kamu tidak ingin membantuku mengobati luka-luka ini?”
“Obati saja sendiri! Aku capek mau tidur!” jawab Zahra sebelum menghilang dari balik pintu lift yang tertutup.
“Honey!” panggil Zain kesal karena istrinya benar-benar mengabaikannya.
...*****...
Hai semuanya, maaf ya beberapa hari ini tidak up bab baru, dikarenakan ada ganguan kesehatan mata Othor, jadi ya tidak bisa up 🙏🙏
__ADS_1
Tapi kedepannya akan diusahakan up rutin lagi 😁😁
Terima kasih, oh ya jangan lupa giveaway akhir bulan nanti ya 🥰🥰