
“Selamat pagi Tuan Muda, Nona Muda,” sapa seorang pria umur 30 tahunan yang menyambut kedatangan Zain dan Zahra di perusahaan pusat milik keluarga ayahnya di Beijing, China.
“Hmm,” jawab Zain singkat, sedangkan Zahra hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sebagai tanda keramahannya.
Pria tersebut mempersilahkan Zain dan Zahra untuk masuk dan mengarahkan mereka berdua menuju lift. Waktu masih menunjukkan pukul 07.00, hanya beberapa karyawan yang terlihat berlalu lalang di area tersebut karena masih terlalu dini dan jam kerja baru akan dimulai pukul 08.30.
“Apakah mereka sudah berada di tempat?” tanya Zain kepada pria tersebut saat mereka sudah berada di dalam lift.
“Semuanya sudah lengkap Tuan, sesuai dengan permintaan Anda.”
“Kerja bagus, antarkan kami ke ruangan kakek terlebih dahulu!” perintah Zain.
“Baik Tuan.”
“Oh ya, kenapa kamu yang menyambutku di sini? Siapa yang akan mengurus kakek?” tanya Zain karena kakeknya menyuruh asisten pribadinya secara langsung untuk menyambutnya.
“Ada tuan muda Hou Ming bersama tuan besar, mereka akan segera sampai, Anda tidak perlu kawatir, Tuan.”
“Baguslah, Hou Ming memang bisa diandalkan.” Pujinya kepada sepupunya yang lain.
...*****...
“Honey, kamu tunggu di sini ya. Jangan pergi ke mana-mana, dia akan menemanimu selama aku tidak di sini,” ucap Zain sambil menunjuk seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka duduk di dalam ruang kerja milik kakeknya.
“Aku mau ikut kamu,” ucap Zahra lirih, dia merasa asing di tempat tersebut apalagi ia tidak bisa berbahasa kantonis ataupun mandarin. Meskipun mereka bisa berbahasa inggris namun Zahra tidak begitu paham dengan apa yang mereka ucapkan karena bahasa inggris mereka masih tercampur dengan aksen bahasa China.
“Honey, aku tidak akan lama-” Zain tidak menyelesaikan kalimatnya karena melihat raut wajah sang istri yang terlihat menggemaskan ketika memohon.
“Baiklah ... tapi kamu harus berjanji tidak akan ikut bersuara, kamu hanya akan menjadi pendengar, mengerti!” ucap Zain tidak tega meninggalkan istrinya, ia tidak akan mengulangi kesalahan beberapa waktu lalu.
“Oke!” jawab Zahra antusias.
...*****...
“Kalian bertiga, mendekatlah!” ucap Zain tegas bahkan sampai menggema di ruangan tersebut membuat ketiga gadis yang berdiri agak jauh di depannya terlihat ketakutan.
Bagaimana tidak takut, sejak kedatangannya Zain memasang wajah dingin dan membunuh membuat siapa saja yang melihat merasa akan merasa terancam. Bahkan Zahra yang berjalan di belakangnya bergidik ngeri melihatnya, ia tidak berani bersuara dan hanya menurut ketika suaminya menyuruhnya duduk di kursi utama sedangkan Zain sendiri memilih berdiri di depan meja dan asisten kakeknya berdiri tak jauh darinya.
“Cepat! Apa perlu aku menyeret tubuh kalian!” bentak Zain tidak sabar.
Ketiga wanita muda tersebut perlahan beringsut maju ke depan mendekat ke arah meja utama, sedangkan tiga pasang suami istri yang berdiri di belakang mereka terlihat bingung dengan kejadian di depan mata mereka, seorang pria asing tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tersebut dengan penuh amarah.
“Apa kalian kenal dengan wanita di dalam foto tersebut?” tanya Zain setelah meletakkan ponselnya yang memperlihatkan foto adiknya, Yang Zi.
__ADS_1
Melihat ketiga wanita itu hanya terdiam dengan wajah pucat, Zain semakin meradang. “Jawab! Apa kalian bisu, hah!”
“Ti-tidak.”
“Y-ya.” Jawab mereka serempak dengan jawaban yang berbeda.
“Apa yang kalian lakukan dengan wanita itu?”
Ketiga wanita itu hanya diam membisu, merasa tertekan dan tercekik hanya dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Zain kepada mereka.
“Apa kalian tahu siapa dia?”
“Di-dia teman kami,” jawab salah seorang di antara mereka.
“Dia hanya anak yatim piatu,” sela yang lainnya dengan cepat.
“I-iya, dia hanya yatim piatu yang tidak diurus keluarganya, makanya dia sejak kecil tinggal di asrama.”
Brak!
Zain menggebrak meja mendengar perkataan tersebut. “Teman? Kalian menyebutnya sebagai teman? Teman macam apa yang menusuk temannya sendiri?”
“A-apa maksud Anda?” tanya salah seorang di antara mereka semakin merasa gugup.
“Kalian semua!” Zain menunjuk enam orang paruh baya yang sedari tadi hanya melihat kejadian tersebut, mereka adalah orang tua dari ketiga teman Yang Zi.
“Tuan, Anda jangan asal menuduh. Kami masih mampu membiayai putri kami, tidak mungkin mereka melakukan hal yang Anda tuduhkan itu,” elak salah satu di antara mereka.
“Ck! Kalian!” Zain kembali menunjuk ke arah tiga wanita itu. “Jawab dengan jujur, apa yang kalian lakukan terhadap Yang Zi!”
“Kami tidak melakukan apa pun kepadanya!” bantah mereka.
“Baik, jika itu jawaban kalian, mulai hari ini kedua orang tua kalian dipecat dari pekerjaan mereka tanpa pesangon. Bahkan nama seluruh anggota keluarga kalian akan di blacklist dari semua perusahaan di negara ini!” ancam Zain.
“Atas dasar apa kamu memecat kami? Siapa kamu hah? Apa kesalahan kami?” tanya seorang wanita paruh baya dengan penuh emosi.
“Siapa saya? Apa kesalahan kalian? Tanya kepada anak kalian apa kesalahan mereka!” Zain berjalan mendekat ke arah istrinya lalu duduk di atas meja menghadap Zahra dan membelakangi mereka semua.
“Proses secara hukum ketiga wanita itu! Hukum seberat-beratnya!” perintah Zain kepada asisten kakeknya.
“B*jingan! Siapa kamu sebenarnya!”
“Jaga ucapan Anda kepada tuan muda, Nona!” ancam asisten tersebut.
__ADS_1
“Tu-tuan muda?” tanya mereka bingung.
“Ya, kalian pasti pernah mendengar nama Zang Yang Yang, bukan? Kini orang tersebut sudah berdiri di hadapan kalian, cucu pemilik perusahaan ini dan wanita di dalam foto tadi adalah adik saya yang bernama Zang Yang Zi,” ucap Zain berhasil membuat ketiga wanita itu terkejut.
“Tidak mungkin, kamu pasti berbohong! Dia hanyalah yatim piatu yang tinggal di asrama!” elak wanita tersebut.
“Yah memang benar dia hanyalah yatim piatu, ayah dan ibunya sudah meninggal. Lalu, pantaskah kalian memperlakukannya seperti itu? Menjebaknya dan menjualnya hanya karena uang? Teman macam apa kalian?”
“Tuan, maafkan mereka ... mereka khilaf dan tidak sadar dengan perbuatan mereka-”
“Apa kalian akan memaafkan orang yang sudah menghancurkan hidup putri kalian? Apa perlu saya melakukan hal yang sama kepada mereka seperti mereka yang sudah menghancurkan masa depan adik saya?” tanya Zain tanpa membalikkan tubuhnya.
“Tuan, maafkan kami-,”
“Sudah cukup, seret mereka semua pergi dari sini! Lakukan apa yang di perintahkan Yang Yang,” ucap kakek Zain yang masuk ke dalam ruangan ditemani Hou Min sang cucu dan beberapa pengawal di belakangnya.
“Tuan Besar,” ucap mereka serempak.
“Yeye,” sapa Zain. (Kakek dari pihak ayah)
...*****...
Setelah menyelesaikan masalah tentang teman-teman adiknya, Zain mengajak Zahra pulang ke rumah kakeknya dan memperkenalkan seluruh keluarga besar kakeknya. Kehadiran mereka disambut hangat oleh semua anggota keluarga, apalagi Zain membawa kabar bahagia tentang pernikahan Barra dan Yang Zi yang akan diselenggarakan bulan depan di Indonesia atas permintaan ibunya, Ny. Amara.
Meskipun musibah yang menimpa Yang Zi sudah diketahui oleh keluarga besar, namun kehamilannya tetap dirahasiakan dari semua orang agar tidak membuat mereka semakin merasa sedih.
Barra dan keluarganya termasuk Ny. Amara dan Hani pulang ke Indonesia keesokan harinya, sedangkan Yang Zi akan menyusul bersama Zain dan Zahra setelah mereka berdua selesai dengan pengobatan Zahra di Beijing.
“Sayang, waktu itu aku melihat banyak bekas luka di punggung Yang Zi. Apa sebaiknya kita mengobatinya terlebih dahulu?” tanya Zahra yang tengah berbaring di samping suaminya.
“Apa kamu melihat dengan jelas luka tersebut?” tanya Zain sambil sibuk membelai rambut sang istri.
“Hmm, terlihat seperti garis-garis ... apa mungkin bekas luka cambukkan?” tanya Zahra ragu, karena ia tidak yakin dengan pemikirannya.
Zain yang mendengarnya segera duduk dan meriah ponsel miliknya di atas nakas dan menghubungi seseorang.
“Apa kamu yakin mereka tidak menyiksa Yang Zi?” tanya Zain kepada orang di seberang telepon.
‘Saya yakin Tuan, nona m- tunggu sebentar Tuan, saat saya bertanya nona hanya menggelengkan kepalanya. Apa mungkin dia ingin menutupinya agar tidak membuat kita semakin sedih?’ tanya Barra dari seberang telepon.
“Kamu cari tahu semuanya, selidiki ulang kasus tersebut. Dia hanya akan terbuka jika hanya bersamamu!”
‘Baik Tuan.’
__ADS_1
Zain memutuskan panggilan tersebut tanpa berucap apa pun, lalu kembali meletakkan ponselnya asal dan menarik Zahra ke dalam pelukannya.
“Honey! Aku merindukanmu.”