Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 108. Kembali Bermimpi


__ADS_3

“Kenapa aku ada di rumah ini?” tanya Zain bingung.


Zain melihat sekelilingnya, tempat itu tidak asing diingatannya. Tempat yang dulu pernah menjadi rumahnya sewaktu ia kecil bersama kedua orang tuanya di Hong Kong. Rumah yang tak pernah lagi ia kunjungi semenjak kepergian ayahnya.


“Masih sama, tidak ada yang berubah.”


Zain mengingat semua letak barang-barang di rumah itu masih sama persis dan tidak ada satu pun yang berubah meskipun waktu sudah berlalu belasan tahun lamanya.


Zain melangkahkan kakinya menuju taman belakang, samar-samar terdengar suara tawa orang dewasa dan anak kecil.


Deg.


Zain terpaku, seketika saraf-saraf dalam tubuhnya menegang ketika melihat sosok yang tengah duduk membelakanginya tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Da-dady,” ucap Zain lirih, lidahnya terasa kaku hanya untuk mengucap satu kata tersebut.


“Si-siapa mereka?”


Zain menatap ayahnya yang sedang mengamati dua orang wanita berbeda usia dengan gaun putih sedang bermain kejar-kejaran. Wanita satunya terlihat lebih dewasa, namun wajah keduanya tidak bisa terlihat dengan jelas oleh pandangan mata Zain.


Sedangkan di samping ayahnya duduk wanita paruh baya tengah menggendong seorang bayi yang tertidur lelap dalam balutan selimut bulu yang menghangatkan tubuh kecilnya.


Perlahan Zain menyeret kakinya untuk mendekat ke arah sang ayah, meskipun langkahnya terasa berat namun rasa ingin tahunya jauh lebih besar menguasai pikirannya.


“Dad!” panggil Zain setibanya di dekat kursi yang diduduki oleh ayahnya.


Kedua orang tersebut menoleh ke arah Zain dan berhasil membuat Zain melebarkan bola matanya melihat wanita di samping ayahnya.


“Bibi Yang Mi!” Zain terkejut melihat bahwa wanita itu adalah ibu tirinya.


“Zain, kamu sudah datang,” ucap Tuan Zhang Han lalu berdiri menyambut kedatangan putra satu-satunya itu.


“A-apa yang sebenarnya terjadi, Dad?”


Tuan Zhang Han tersenyum lalu menepuk pelan pundak putranya. “Pulanglah, Zain! Biarkan mereka di sini bersama daddy dan bibi Yang Mi, mereka aman bersama kami.”


Zain mengerutkan alisnya semakin bingung mendengar perkataan sang ayah.


“Zain, kembalilah. Masih ada orang yang harus kamu lindungi di sana. Bibi akan merawat putri kecilmu ini,” ucap Ny. Yang Mi sambil menatap wajah bayi dalam gendongannya yang tak bisa terlihat oleh Zain.


“Pu-putriku? Di-dia putriku?” tanya Zain tak percaya dengan mata yang memerah karena terharu.


Ny. Yang Mi tersenyum menatap ke arah Zain. “Hmm, cantik bukan? Mirip seperti adik kamu, tenang saja bibi akan menjaganya seperti bibi menjaga cucu bibi sendiri.”


“Tapi ak-”


“Lihatlah mereka!” Tuan Zhang Han memotong perkataan putranya dan menunjuk kedua wanita yang sibuk berlarian.


“Siapa mereka?”


“Gadis kecil itu adalah adik kamu, mereka bahagia di sini bersama daddy, jadi jangan khawatir.”

__ADS_1


Zain menajamkan pandangannya mencoba mencari tahu wajah kedua wanita yang dimaksud oleh ayahnya, namun hal itu hanya sia-sia saja.


“Cepatlah kamu pulang, Zain! Mommy kamu pasti cemas mencarimu yang tidak ada didekatnya.”


“Tapi siapa wanita satunya itu, Dad?” tanya Zain penasaran menunjut wnaita yangbusianya lebih dewasa daei wanita satunya.


“Akan tiba waktunya kamu mengetahuinya, Zain.”


“Tapi, Dad ....”


“Sudah sore, pulanglah! Kami baik-baik saja disini, sampaikan salam daddy untuk mommy kamu.”


Setelah menyelesaikan kalimatnya, Tuan Zhang Han dan keempat wanita itu perlahan menjauh dari pandangan Zain.


Entah mereka yang pergi menjauh ataukah Zain yang terdorong ke belakang dipaksa untuk pergi. Padahal masih banyak pertanyaan yang belum sempat Zain dapatkan jawabannya dari sang ayah.


“Dad!” panggil Zain ia tidak membalas lambaian tangan ayahnya yang tersenyum ke arahnya sebagai tanda perpisahan.


“Tidak! Jangan pergi! Tunggu, Dad!” Zain semakin berteriak kencang berharap ayahnya akan mendengarnya dan kembali kepadanya.


“Tidak! Jangan Pergi!”


“Zain.” samar-samar Zain mendengar suara seseorang memanggil namanya.


“Tunggu, jangan pergi!”


“Zain!” suara itu semakin terdengar jelas dan berulang memanggil namanya.


“Zain!”


“Zain, kamu kenapa? Sedari tadi terlihat gelisah bahkan tubuh kamu sampai berkeringat begitu.” Ny. Amara memperhatikan wajah Zain yang sedikit pucat.


“Tidak apa-apa, Mom. Hanya aku bermimpi saja, jam berapa sekarang?” tanya Zain.


“Jam 5 sore, kamu pulanglah dan beristirahat. Biarkan mommy yang menjaga Zahra disini.”


“Zahra belum siuman?” tanya Zain teringat dengan istrinya.


“Belum, tadi perawat menyuntikkan obat padanya dan mungkin tengah malam dia baru akan tersadar.”


“Aku nitip istriku, Mom.” Zain berdiri dan berjalan ke arah brankar dimana Zahra berbaring.


“Juga jaga Yang Zi, Mom.” Zain melihat sekilas adiknya yang tertidur di sofa.


“Apa kamu akan pulang?” tanya Ny. Amara mengabaikan perkataan Zain barusan, namun ia tidak benar-benar ingin mengabaikan keadaan Yang Zi.


“Tidak, masih ada hal yang harus aku selesaikan, Mom.”


“Tapi, Zain-”


“Aku akan segera kembali, Mom.”

__ADS_1


Zain menatap wajah istrinya yang pucat seperti boneka tanpa polesan pewarna.



Cup.


“Aku pergi dulu, Honey.”


Zain berjalan ke arah pintu keluar dan sebelumnya sudah berpamitan dengan sang ibu.


“Kabari aku jika Zahra sudah bangun, Mom.”


Setelah mendapatkan penanganan di IGD terdekat, Zain membawa istrinya untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit miliknya. Meskipun sempat adu argumen dengan dokter di IGD sebelumnya, namun dengan sifat yang dimiliki Zain, semua keinginannya pasti akan terlaksana.


Zain mengemudikan mobilnya menuju perusahaan miliknya, sepanjang perjalanan ia teringat akan mimpi yang sama dan beberapa kali mendatanginya.


Namun baru kali ini ia berbincang dengan ayah dan ibu tirinya. Dalam mimpi sebelumnya Zain tidak dapat dengar apa pun Yang ayahnya ucapkan kepadanya.


Zain bertanya-tanya dan masih penasaran dengan sosok wanita yang belum jelas identitasnya itu. “Siapa sosok wanita itu?”


“Ck! Sial!” umpat Zain kesal, ia teringat apa yang diucapkan dokter tadi siang.


“Maaf Tuan, ada yang ingin saya sampaikan. Istri Anda keguguran dan mengalami pendarahan, jadi kami harus meminta persetujuan Anda untuk segera menanganinya,” jelas Dokter.


“Ke-keguguran, Dok?” tanya Ny. Amara terkejut, tubuhnya lemas dan hampir terjatuh namun berhasil ditahan oleh Tania.


“Istri saya hamil, Dokter?” tanya Zain sama terkejutnya, ia tidak mengetahui bahwa Zahra sedang hamil anaknya.


“Iya, Tuan. Kehamilan Ny. Zahra memasuki usia 6 minggu, kemungkinan Ny. Zahra juga belum mengetahui jika dirinya sedang hamil. Dan benturan yang cukup keras di perutnya membuatnya mengalami pendarahan dan kehilangan calon bayinya..”


“Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dokter! Berapa pun biayanya akan saya berikan asal istri saya terselamatkan.”


“Tenang, Tuan. Ada satu hal lagi yang ingin saya sampaikan.” Dokter menjeda ucapannya menunggu reaksi Zain.


Melihat Zain hanya diam Dokter itu mengartikan sebagai sinyal untuk melanjutkannya.


“Apakah akhir-akhir ini istri Anda mengalami tekanan atau stres berat?”


...*****...


Piiippp!!!


Zain memukul kemudi di depannya hingga menimbulkan bunyi klakson panjang.


“Ck! Siapa yang berani mengusikku dengan foto-foto sialan itu!”


Zain mengingat lembaran foto yang diterimanya dari Tania, dan ia juga sudah mendengar kronologi kejadian dari Tania.


Zain menghubungi seseorang.


“Bersiaplah! Sebentar lagi aku akan segera tiba di kantor!”

__ADS_1


__ADS_2