Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 83. Cinta Seorang Ayah


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan dari tuan Harun, ustaz Hamdan meninggalkan tamunya di rumahnya. Beliau berjalan mengitari Masjid utama Ponpes Athaillah menuju makam keluarga di belakangnya.


Sejak awal ustaz Hamdan tidak pernah menyalahkan adik iparnya tersebut, apalagi saat ini beliau mengetahui keseluruhan ceritanya. Tuan Harun menceritakan semua yang menimpanya tanpa ada satu pun yang ditutupi, mulai dari Tasya yang menjebaknya hingga terbongkarnya kedok mantan istrinya tersebut.


Ustaz Hamdan menghentikan langkahnya di ujung jalan, ia menatap lekat punggung seseorang yang ia yakini adalah Zahran. Perlahan beliau kembali melanjutkan langkahnya mendekati Zahran yang diam bersimpuh di samping pusara ibu kandungnya.


“Jangan ditahan, jika ingin menangis ... maka menangislah! Keluarkan semua kegundahanmu, jangan terlarut dalam kesedihan yang berlebihan!” ucap ustaz Hamdan setelah menepuk pelan pundak Zahran lalu beliau ikut duduk di sampingnya.


“Maafkan Abi karena menyembunyikan identitas kamu selama ini, bukan maksud Abi memisahkan kamu dan orang tuamu. Percayalah, ada suatu alasan yang mengharuskan kami melakukan semua ini,” ucap ustaz Hamdan namun Zahran enggan bergeming, matanya tetap fokus menatap nama ibunya yang terukir dipusara itu.


*Zahira Athaillah binti Athaillah Al Fath*


“Dahulu, setelah menikah Zahira mengikuti papa kamu yang melanjutkan study S-2 nya di luar negeri, begitu pun dengan Zahira yang melanjutkan kuliahnya di sana. Singkat cerita, setelah mereka kembali ke tanah air ... saat itu usia kamu baru 2 tahun, setahun kemudian mereka membawa kamu ke pesantren berharap agar kamu tumbuh dilingkungan pesantren untuk kebaikanmu,” ucap ustaz Hamdan, beliau menerawang menatap segerombolan awan yang berlalu di atas sana mengingat wajah sang adik yang telah berpulang kepada-Nya.


Melihat keponakannya itu tetap terdiam, ustaz Harun menghela nafasnya pelan. “Jangan membenci papa kamu, Zahran. Semua yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahannya, karena kebaikan hatinya membuat seseorang memanfaatkan hal tersebut.”


Ustaz Hamdan kemudian menceritakan semua yang beliau ketahui kepada Zahran, tentang permintaan tuan Harun yang menyerahkan ke pengasuhannya kepada dirinya dan sang istri, semua itu bukan karena tuan Harun tidak menginginkan kehadirannya, namun beliau melakukan itu untuk kebaikan banyak orang.


“Aku tidak membencinya, Bi. Hanya saja aku sedikit merasa kecewa,” ucap Zahran lesu setelah mendengarkan kisah tragis kedua orang tuanya.


“Menangislah, keluarkan semua isi hatimu. Abi akan menemanimu di sini, jangan terlalu lama terpuruk dengan perasaan itu!” perintah ustaz Hamdan.


Lama keduanya saling terdiam, tidak ada di antara mereka yang bersuara. Hingga terdengar suara isakan kecil yang keluar dari mulut Zahran, ustaz Hamdan yang melihat hal tersebut ikut merasakan sesal didadanya.


Pemuda tangguh yang sejak kecil beliau rawat dengan penuh kasih sayang, tumbuh dengan jiwa kepemimpinannya, berwibawa dan berkarakter kuat dengan hati selembut sutra yang diwariskan oleh ibunya. Baru kali ini terlihat rapuh dan terpuruk menangis tepat di depan matanya.


“Kenapa tidak mengatakan sejak awal? Selama ini Aku hanya mengenal almarhumah sebagai bibiku, adik Abi! Aku malu, betapa tidak berbaktinya diri ini? Ilmu yang selama ini aku miliki akan sia-sia tanpa kebaktianku kepada mereka?” racau Zahran dengan isakan yang semakin menjadi.


“Aku anak durhaka! Tidak berguna! Bodoh! Tidak mengenali wanita yang telah melahirkan diriku!” Zahran menjatuhkan tubuhnya di atas gundukan tanah yang telah memadat itu, lalu ia memeluk erat pusara ibunya.


“Bahkan aku tidak tahu cara untuk memanggil ibuku!”


“Ummah! Sewaktu kecil kamu memanggilnya dengan sebutan Ummah,” jawab istaz Hamdan menanggapi racauan yang diucapkan oleh Zahran.


“Ummah ... ummah!” panggil Zahran dengan suara bergetar.


“Maafkan Zahran, maaf ummah ... maaf,” ucap Zahran berulang kali degan suara yang hampir habis karena menangis dengan penuh emosi.

__ADS_1


Zahran merasa begitu kacau, ia terpuruk dan merasa kecewa, ia ingin marah, namun siapa yang harus ia marahi? Siapa yang harus ia salahkan? Semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin waktu bisa diputar ulang kembali.


Ustaz Hamdan tidak mampu membendung air matanya, beliau dengan cepat menghapus air mata yang lolos membasahi pipinya. Sedangkan di sudut masjid, terlihat seseorang berdiri di balik pohon beringin dengan air mata yang berjatuhan.


Awalnya tuan Harun ingin berkunjung ke makam istrinya, namun siapa sangka beliau justru di suguhkan dengan pemandangan tersebut. Bukan hanya Zahran saja yang merasa tersakiti, sejujurnya tuan Harun jauh tersiksa dan terluka dengan kejadian ini.


“Maafkan papa, Nak. Papa telah gagal menjadi suami dan ayah bagi kalian,” lirih tuan Harun dan perlahan berlalu meninggalkan tempat persembunyiannya.


...*****...


“Ambillah wudu terlebih dahulu, Zain. Kita akan sholat berjamaah!” perintah Dr. Agam yang melihat Zain hanya berdiri mematung di tempat wudu, mereka akan menjalankan sholat dzuhur berjamaah di Masjid Pesantren.


“Kamu duluan, Barra! Aku akan mengambil belakangan,” ucap Zain tenang, ia menyembunyikan kebingungannya karena tidak tahu cara berwudu.


“Baik Tuan.”


Hingga iqamah dikumandangkan, Zain masih mematung di tempatnya. Semua santri sudah masuk ke dalam Masjid mengambil saf masing-masing termasuk Barra, Dr. Agam dan tuan Harun.


“Apa yang sedang Anda lakukan?” tanya Zahran yang sudah berdiri tepat di belakang Zain.


“Ehmm, i-itu-” ucap Zain terbata karena kemunculan kakak iparnya tersebut berhasil membuatnya merasa terkejut.


Zain menamati setiap pergerakan yang dilakukan oleh kakak iparnya tersebut, namun ia semakin merasa pusing melihatnya, apalagi dari semua pergerakan santri yang ia amati, tidak satu pun yang tertangkap di kepalanya. Menurutnya gerakan wudu yang mereka lakukan terlalu cepat dan membingungkannya.


“Ada apa?” tanya Zahran yang mendapati Zain menatap lekat ke arahnya.


“Jangan berkata jika Anda tidak tahu cara berwudu?” tanya Zahran ragu, namun ia terkejut mendapat anggukan sebagai jawaban dari pria yang ia ingat sebagai suami dari adiknya tersebut.


“Anda muslim?” tanya Zahran sopan.


“Ya.”


“Ikuti setiap pergerakanku!” perintah Zahran.


Dengan sabar Zahran menuntun Zain untuk mengambil wudu dam menyuruhnya agar mengambil saf tepat di sebelahnya.


“Tunggu!” cegah Zain ketika mereka memasuki pintu Masjid.

__ADS_1


“Saya tidak tahu caranya,” bisik Zain di telinga Zahran.


“Kami tidak paham cara sholat?” tanya Zahran lirih dan dijawab anggukan pelan oleh Zain.


“Ikuti saja setiap gerakanku, jangan bersuara dan jangan membuat keributan.”


“Oke.”


...*****...


Setelah menjalankan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta, ustaz Hamdan mengajak Zahran menuju taman yang berada tepat di belakang ndalem. Tuan Harun juga hadir di sana, mereka bertiga duduk di gazebo yang berdiri di atas kolam ikan, terlihat indah dan sejuk dengan udara pedesaan.


“Berbicaralah,” ucap ustaz Hamdan memecah atmosfer kecanggungan yang terbangun di antara kedua orang di depannya tersebut.


“Emh, Zahran ... ehmm, maafkan papa untuk semuanya. Semua salah papa dan-” tuan Harun terlihat gugup dan salah tingkah berhadapan dengan putranya yang telah lama tidak pernah beliau temui secara langsung.


“Tidak perlu meminta maaf, Anda tidak sepenuhnya bersalah ... dan saya tidak sedikit pun membenci Anda, saya sudah memaafkan semuanya,” balas Zahran yang sudah berhasil mengembalikan kewarasannya.


“Terima kasih,” ucap tuan Harun tulus, beliau menatap wajah putranya mengamati setiap inci wajah tampan tersebut.


Tuan Harun menemukan begitu banyak kemiripan antara sang putra dengan mendiang istrinya, melihat wajah tenangnya namun terlihat tegas, kelembutannya, tutur katanya, kesabarannya, seolah merasakan kehadiran sang istri di dekatnya.


“Ehm, papa membawakan ini untuk kamu.” Tuan Harun menyodorkan sebuah tas tangan kepada putranya.


“Apa ini?” tanya Zahran penasaran.


“Bukalah, papa membawakan mainan kesukaanmu.”


Perlahan Zahran membuka bingkisan tersebut, ia dibuat tercengang melihat isi di dalamnya. Sebuah miniatur pesawat terbang, mainan kesuakaannya sewaktu masih kecil.


“Apa kamu menyukainya? Seingat papa cita-cita kamu dulu ingin menjadi seorang pilot,” ucap tuan Harun dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


“Saya menyukainya, terima kasih,” jawab Zahran sopan, meskipun merasa sedikit aneh namun ia tidak ingin mengecewakan ayahnya yang terlihat bahagia setelah menyerahkan mainan tersebut kepadanya.


Tuan Harun juga membawakan bok es krim yang berisi es krim dengan rasa coklat dan stroberi kesukaan putranya, Zahran menerima es krim tersebut. Meskipun kini ia tidak terlalu menyukai es krim, namun Zahtan memakannya dengan lahap membuat tuan Harun semakin tersenyum lebar.


‘Kamu masih mengingat apa yang putramu suka sewaktu kecil dulu, Harun. Namun sekarang dia sudah tumbuh dewasa, bukan lagi Zahran kecil yang menyukai es krim dan mainan pesawat terbang itu,’ batin ustaz Hamdan dan tersenyum melihat interaksi kedua orang tersebut.

__ADS_1


Ketika seorang ayah berpisah lama dengan anaknya, hal yang akan selalu mereka ingat dan tertanam di dalam kepalanya adalah hal-hal yang disukai sang anak ketika bersama dulu. Sehingga tanpa sadar sang ayah akan merasa bahwa anaknya tersebut masih sama ketika waktu terakhir mereka bertemu dulu, ia akan menganggap anaknya sebagai anak kecil dengan segala kesukaan yang dimilikinya.?


__ADS_2