
Suara kicauan burung di pagi hari mendominasi bangunan mewah yang beberapa bulan terakhir terlihat sepi karena jarang dikunjungi pemiliknya, hanya ada beberapa pelayan dan penjaga yang masih setia menghuni rumah yang jauh dari keramaian kota tersebut, bahkan rumah itu menjadi satu-satunya bangunan yang berdiri di sana.
Ya bangunan mewah itu adalah mansion utama milik pengusaha muda kaya yang banyak disegani oleh pebisnis lainnya. Siapa lagi kalau bukan Zain Malik Ibrahim, pria keturunan China-Indo yang super dingin dan berkuasa.
Rumah mewah yang semula sepi karena semua anggota keluarga hanya pulang ke rumah itu sekedar untuk menumpang istirahat sejenak, setelah itu kembali sibuk dengan dunianya masing-masing. Hingga kedatangan istri mudanya yang membuat suasana di rumah itu memiliki kehidupan, namun kini terlihat semakin sepi seolah tak berpenghuni setelah hampir selama 2 bulan Zahra dirawat di rumah sakit dan sang ibu yang setia menemani istrinya.
Selama itu pula Zain hanya beberapa kali pulang ke rumah karena tidak ingin jauh dari istrinya, ia memilih tidur di ruangannya yang berada di rumah sakit di lantai paling atas, lantai yang didesain khusus untuknya yang tak pernah ia kunjungi sebelumnya.
Sedangkan Clarisa, masih ingat kan dengan Clarisa? Entah ke mana wanita itu pergi, Zain tidak memedulikannya namun dia tidak lupa menyuruh Barra untuk tetap mengawasi mantan istrinya itu. Berjaga-jaga dari hal yang tak diinginkan mengingat sifat buruk yang ada dalam kepala wanita itu.
Kembali ke dalam mansion, tepatnya di ruang makan. Terlihat Ny. Amara duduk seorang diri memakan makanan yang tersaji di depannya tanpa selera, sedangkan didekat dinding semua pelayan di rumah itu berbaris dengan kepala menunduk menunggu nyonya besar mereka menyelesaikan sarapannya.
Prang!
Suara benda dibanting membuat semua mata menoleh ke sumber suara, wajah para pelayan seketika berubah menjadi pucat.
“Ma-maaf, Nyonya. Apakah Anda tidak menyukai menu yang kami sajikan?” tanya bi Nur dengan hati waswas menghadapi nyonya besarnya yang sering marah-marah bila ada kesalahan sekecil apa pun.
“Huft! Aku bosan!” kesalnya.
Belum pernah sekali pun selama hidupnya wanita paruh baya itu makan seorang diri, biasanya jika sedang berada di luar mansion, Ny. Amara selalu dikelilingi banyak orang sehingga ia merasa tak pernah kesepian. Dan tentu saja tidak seorang pun mengetahui kesehariannya itu kecuali putranya dan Barra asistennya.
“Maafkan kami, Nyonya. Biarkan kami membuatkan menu lain untuk Anda,” tawar bi Nur.
“Tidak perlu, kalian semua ngapain berdiri di sana?” tanya Ny. Amara dengan suara yang terdengar sedang marah.
Semua pelayan semakin menundukkan kepala mereka, tak seorang pun berani mengangkat kepala mereka setelah Ny. Amara membanting kasar sendoknya sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring karena benturan antara sendok dan kaca yang melapisi meja kayu tersebut.
“Kemarilah, duduk bersamaku!” perintahnya, namun tak ada seorang pun yang bergeming dari tempat mereka.
“Apa kalian semua tuli! Aku bilang duduk, jangan membuat moodku memburuk pagi-pagi!” Ny. Amara meninggikan suaranya membuat semua orang semakin merasa tegang.
“Bi Nur!” pekik Ny. Amara sembari menetap lekat wanita yang umurnya lebih tua beberapa tahun darinya.
__ADS_1
Bi Nur dengan cepat berjalan ke arah meja makan. “Cepat kalian duduk!” perintahnya kepada pelayan lainnya.
Bi Nur duduk di sebelah Ny. Amara namun dengan memberi jarak satu kursi di antara mereka. pelayan lain dengan takut-takut ikut duduk bersama mereka, wajar saja ini kali pertama bagi mereka bisa duduk di tempat mewah itu, apalagi duduk satu meja dengan nyonya besar rumah tersebut.
“Makanlah! Jangan hiraukan keberadaanku!” ucap Ny. Amara datar lalu kembali fokus dengan makanan di depannya.
Semua orang mulai memindahkan makanan ke atas piring masing-masing dan mulai memakannya dalam keheningan.
Setelah selesai makan, Ny. Amara menyuruh bi Nur dan putrinya untuk ikut serta dengannya pergi ke suatu tempat.
...*****...
Mobil Lexus LM 350 dengan warna white pearl crystal shine melaju dengan kecepatan sedang membelah kepadatan jalanan kota di pagi hari, mobil yang dikemudiankan oleh sopir pribadi Ny. Amara berbelok dan parkir di halaman sebuah toko kue yang bernama Ziya’s Cake House.
Sopir pribadi Ny. Amara segera keluar dari mobil dan membukakan pintu belakang untuk nyonyanya.
Ny. Amara turun dari mobil tersebut diikuti oleh bi Nur dan putrinya yang bernama Hani.
“Selamat pagi, Nyonya.” Semua orang di tempat itu menyapa kedatangan Ny. Amara yang tidak lain adalah pemilik toko tersebut, namun hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.
“Pagi,” jawab Ny. Amara sambil berlalu masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan ‘Manager Office’ yang menempel di depan pintu, manajer toko ikut masuk setelahnya.
Sedangkan bi Nur dan Hani dipersilakan untuk duduk di kursi yang tersedia oleh salah satu pelayan. Pelayan lainnya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing dan beberapa sibuk mengangkat beberapa bungkusan ke dalam mobil mewah Ny. Amara.
“Ny. Amara sudah lama tidak berkunjung, apa setelah dari sini beliau akan berkunjung ke rumah, Bu?” tanya pelayan itu kepada bi Nur.
“Eh, saya tidak tahu, Mbak. Apa Ny. Amara sering datang ke sini?” tanya bi Nur bingung, rumah mana yang dimaksud? Ia penasaran juga ingin tahu tentang majikannya jika berada di luar rumah. Bi Nur juga tahu hal ini sangat tidak sopan, apalagi menyangkut nyonyanya.
“Biasanya setiap satu minggu sekali Ny. Amara akan berkunjung, Bu. Namun beberapa bulan belakang beliau tidak terlihat mengunjungi toko. Biasanya beliau akan meninjau toko ini dan mengambil pesanannya untuk di bawa ke rumah.”
Bi Nur dan Hani terlihat terkejut mendengar penjelasan dari pelayan itu.
“Maaf Mbak, saya tidak mengerti,” ucap bi Nur lirih.
__ADS_1
“Toko ini milik Ny. Amara yang dikelola oleh manager kami, katanya toko ini di bangun untuk mengenang putrinya yang telah meninggal.”
“Ayo pergi, Bi!” ucap Ny. Amara yang baru saja keluar dari ruangan itu membuat pembicaraan antara bi Nur dan pelayan itu harus berakhir.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya meskipun dalam benaknya bertanya-tanya, bi Nur dan Hani tidak berani bertanya ke mana arah tujuan mereka selanjutnya.
Sesampainya di tempat tujuan, bi Nur dan Hani dibuat terbengong melihat pemandangan di luar mobil.
“Bi, buruan turun! Bibi gak mau turun apa?” tanya sang sopir sedikit mengeraskan suaranya karena anak dan ibu di depannya tak merespon ketika dipanggil.
“Eh, Pak Mas mengagetkan Hani saja,” ucap Hani tersadar dari keterkejutannya.
“Turun atu Neng. Nyonya sudah masuk sedari tadi kalian malah bengong di dalam mobil,” tegur pak sopir yang bernama Masri.
“Eh iya maaf Pak,” sesal bi Nur.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah tersebut sambil membawa barang bawaan dibantu oleh beberapa anak yang berada di sana.
“Assalamualaikum ...,” ucap bi Nur dan Hani bersamaan.
“Wa’alaikummussalam,” jawab semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Lagi-lagi bi Nur dan Hani dibuat terpaku melihat pemandangan di depan mereka.
‘Apa aku tidak salah lihat? Bagaimana Ny. Amara bisa seperti ini?’ batin bi Nur.
‘Apa benar wanita di sana adalah Ny. Amara? Apa yang terjadi?’ tanya Hani dalam hati.
Hai, salam dari author! Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya .... Sehat selalu untuk kita semua 🤗😻
__ADS_1