
Byur!!!!
“Akh! Banjir!” teriak dua orang yang masih terlelap di atas kasur.
“Bangun bodoh! Cepat kenakan pakaian kalian!” teriak Yitian geram, ia menyiram seember air ke atas dua orang yang sedari tadi tidak merespon panggilannya meskipun sudah berulang kali ia memanggilnya.
“Brengs*k! Siapa kamu beraninya menyiramku!” balas pria yang kini basah kuyup tak terima dengan apa yang dilakukan Yitian kepadanya.
Sedangkan wanita di sampingnya terlihat terkejut melihat kehadiran Yitian di dalam kamarnya. Ia menarik selimutnya yang basah semakin tinggi menutup tubuh polosnya.
“Cepat pakai pakaian kalian dan tidak perlu mandi, aku sudah membantu kalian dengan menyiram seember air suci!” sinis Yitian dan berlalu meninggalkan kedua orang itu di dalam kamar.
“Dasar bajing*n! Siapa kamu-”
“Aku tunggu jika dalam lima menit belum juga keluar jangan harap kalian berdua bisa keluar dari apartemen ini dalam keadaan hidup!” gertak Yitian memotong kalimat pria di kamar itu.
Brak!
Yitian membanting pintu kamar itu dengan kencang, lalu ia berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya, menyalakan televisi yang menempel di dinding di depannya.
“Tugas apa yang harus akun lakukan, Ko?” tanya Yitian kepada Zain yang saling duduk berhadapan di dalam ruang kerja Zain di mansion utama.
“Pergilah ke negara X dan urus wanita itu, aku serahkan semuanya kepada kamu!” perintah Zain sembari menggeser kertas berisi beberapa informasi tentang target mereka.
“Hmm.” Yitian tersenyum menyeringai melihat tulisan di depannya, ia sangat menantikan untuk membuat pelajaran kepada wanita itu yang tidak lain adalah mantan kakak iparnya.
“Yakin menyerahkan pekerjaan ini kepadaku?” tanya Yitian memastikan.
“Hmm terserah mau kamu apakan j*lang itu, aku tidak peduli!” ucap Zain membuat Yitian tersenyum lebar.
Plak!
Zain melempar kertas di depannya ke wajah Yitian karena merasa risi dengan tatapan aneh yang ditunjukkan oleh sepupunya itu.
“Jangan tunjukkan wajah jelek mu itu di hadapanku!” gertak Zain, ia tahu sejak dulu Yitian sangat terobsesi ingin membalas perbuatan Clarisa namun Zain selalu melarangnya karena dulu Clarisa masih berstatus sebagai istrinya.
“Aku sudah sangat lama menantikan kesempatan seperti ini,” ucap Yitian antusias.
“Dari mana Piuko tahu semua ini?” tanya Yitian sembari menunjuk kertas yang ia terima tadi.
“Kamu meremehkan aku?” Zain menatap tajam ke arah Yitian.
Yitian menggelengkan kepalanya pelan, ia akui kakak sepupunya itu paling sempurna dalam merencanakan suatu hal serta dapat dengan mudahnya mencari suatu informasi.
“Apa pria pemilik klub malam itu yang memberikan foto-foto itu kepada kakak ipar?”
“Bukan.” Jawab Zain cepat.
“Lalu?” Yitian semakin penasaran ia tidak mau hanya disuruh melakukan tugasnya saja tanpa mengetahui cerita selengkapnya.
“Teman lama Zahra, kekasih pria brengs*k itu!” jawab Zain ketus, ia merasa kesal harus teringat dengan kedua orang itu.
“Dari mana dia mendapatkan fot-”
“Kerjakan saja apa yang aku perintahkan!” gertak Zain cepat.
“Ck! Aku tidak mau bergerak sebelum mendengar semuanya!” ancam Yitian membuat Zain semakin menghunuskan mata tajamnya namun tak dapat menyurutkan semangat Yitian untuk mengorek lebih dalam cerita dari kakak sepupunya itu.
“Ck!” Zain berdecak, ia tahu bahwa Yitian tidak akan melepaskannya sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Dengan terpaksa Zain menceritakan semuanya kepada Yitian, mulai dari David yang sejak dulu menyukai Clarisa hingga saat beberapa bulan lalu orang suruhannya melaporkan bahwa David pergi menemui Clarisa dan sering terlihat bersama.
“Baiklah, biarkan aku membalaskan semua dendam Piuko kepada wanita itu,” ucap Yitian penuh semangat.
Ceklek!
Yitian tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu terbuka.
Terlihat Clarisa keluar dari kamarnya diikuti oleh seorang pria yang tadi tidur bersamanya, mereka sudah berpakaian lengkap dan rapi.
“Ada urusan apa kamu datang kesini?” tanya Clarisa yang duduk di depan Yitian dan menyilangkan kakinya.
“Apa salah jika aku mengunjungi mantan kakak iparku?” tanya Yitian sinis dengan menekankan kata ‘mantan’.
“Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni mu!” ketus Clarisa, ia paling tidak suka kepada Yitian yang dianggapnya paling mengganggu dan berbahaya.
“Hoho! Sebenarnya aku malas harus melihat wajah kamu, hanya akan membuat mataku sakit!” ejek Yitian.
“Heh! Jaga ucapan kamu ya!” hardik pria yang duduk di samping Clarisa tak terima.
“Wow! Siapa dia?” tanya Yitian menunjuk pria itu dengan dagunya.
“Kamu pria ke berapa yang telah dimanfaatkan oleh j*lang ini?” tanya Yitian membuat pria itu mengernyitkan keningnya bingung.
“Jangan terkejut begitu,” sela Yitian sebelum pria itu mengeluarkan suaranya untuk memprotes.
“Apakah wanita ini menjanjikan mau menikah denganmu?”
“Diam kamu!” sentak Clarisa penuh emosi.
“Kenapa? Kamu takut aku membocorkan semua kebusukanmu?” tanya Yitian dengan tatapan mengejek.
“Asal kamu tahu, sudah banyak pria yang dimanfaat-”
Plak!
“Kamu!” seru Yitian Marah.
Dengan rahang mengeras dan mata menyala Yitian mencengkeram kedua pipi Clarisa dengan tangannya.
“Beraninya kamu menamparku dengan tangan menjijikkanmu itu!”
“Hei, apa yang kamu lakukan?” Pria itu ingin menolong Clarisa namun segera ditahan oleh bodyguard yang dibawanya.
“Lepaskan aku, dasar banci! Beraninya main keroyokan!”
“Diam! Atau aku akan mematahkan seluruh tulang-tulang milikmu!” ancam salah seorang bodyguard yang memegangi pria itu.
“Kalian tidak tahu siapa aku, hah?” tantang pria itu.
“Tidak tahu,” jawab mereka datar.
“Aku pewaris tunggal Star Group Corp.,” ucap pria itu sombong.
“Oh ya, asal kamu tahu, bos kami pewaris dari Zhehan Group,” bisik salah satu bodyguard tepat di telinga pria itu.
Mendengar nama Zhehan Group disebut, pria itu seketika terdiam dan memilih untuk tidak ikut campur.
“A-aku permisi dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
__ADS_1
Pria itu terlihat ketakutan dan bergegas pamit untuk menghindar dari masalah. Namun ditahan oleh salah seorang bodyguard yang memeganginya. “Kenapa buru-buru?”
“Maaf, Tuan. Sa-saya tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita itu,” ucap pria itu.
“Ka-kami hanya teman satu malam saja!” lanjutnya cepat merasa takut melihat Yitian hanya menatapnya tajam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Biarkan dia pergi!” perintah Yitian dingin.
Pria itu dengan tergopoh berlari keluar meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh kembali ke belakang.
“Sudah lama aku menantikan kesempatan untuk bermain denganmu, Clarisa!” Yitian kembali fokus kepada mantan kakak iparnya itu.
“Apa maumu?” tanya Clarisa sengit.
“Heh!” Yitian tertawa meremehkan.
“Terserah aku mau melakukan apa kepadamu!”
“Apa Zain yang mengirim kamu kepadaku?”
“Jangan banyak tanya kamu, simpan saja suara kamu untuk menangisi penyesalanmu atas semua perbuatanmu kepada kakak ipar!”
Yitian berdiri dari duduknya, ia berniat meninggalkan tempat itu sebelum sesuatu yang mengerikan di dalam jiwanya terbangun dan menguasai tubuhnya.
Yitian teringat pesan dari kakak sepupunya bahwa ia diizinkan melakukan apa pun namun jangan sampai melenyapkan nyawa Clarisa.
“Lakukan apa pun yang kalian suka kepada wanita itu!” perintah Yitian kepada lima orang yang dibawanya.
“Baik, Tuan Muda,” jawab mereka serentak membuat Clarisa merasa ngeri mendengarnya.
“Jangan sampai membunuhnya, kematian tak sepadan dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini!” peringat Yitian sebelum menghilang dibalik pintu apartemen tersebut.
Sepeninggal Yitian, kelima pria bertubuh kekar itu berjalan mendekati Clarisa dan mengepungnya membuat Clarisa merasa terpojok.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Melakukan tugas kami!” jawab mereka bersamaan.
“Satu bulan ke depan, kami akan menemani kamu tinggal di apartemen ini!” ucap salah seorang dari mereka.
“Apa maksud kamu?” tanya Clarisa terkejut.
Clarisa menatap ngeri ke arah lima pria di depannya yang tersenyum menyeringai ke arahnya dengan tatapan yang mengerikan.
“Aku peringatkan kepada kalian untuk tidak mendekat selangkah pun!” gertak Clarisa namun tidak ditanggapi oleh kelima pria itu.
“Kalian tahu siapa aku, jangan berani macam-macam!” Clarisa semakin beringsut ke belakang, namun ia terpojok dan tak bisa menghindar lagi.
“Jangan menyentuhku!” Clarisa menepis tangan-tangan pria itu namun tenaganya tak sebanding dengan lawannya.
“Akkhh!!!”
Sedangkan di lobi apartemen, Yitian dengan santainya berjalan menuju pintu keluar. Ia menghampiri sebuah mobil hitam yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya dan masuk ke dalamnya.
“Langsung ke bandara!” perintahnya kepada orang yang duduk di belakang kemudi.
“Baik, Tuan Muda.”
Yitian menyenderkan tubuhnya di senderan kursi dan memejamkan matanya.
__ADS_1
“Hah, capeknya,” keluhnya, ia tidak sempat beristirahat dan harus melakukan penerbangan lagi menuju China untuk mengurus perusahaan kakeknya di sana karena adik sepupunya, Hou Ming tengah sibuk dengan ujian sekolahnya.
‘Cukup satu bulan aku mengurung wanita itu, jika sampai dia tidak berubah juga ... jangan salahkan jika aku akan melakukan sesuatu yang lebih kejam lagi!’ batin Yitian sebelum ia terlelap dalam tidurnya.