
Setelah menyerahkan urusan Tasya dan dr. Wira kepada pihak berwajib, Zain, Barra dan tuan Harun pergi meninggalkan klinik tersebut dan pulang kembali ke Jakarta meninggalkan Anindya yang masih syok di awasi oleh beberapa orang suruhan Barra yang ditugaskan untuk menjaga gadis itu.
Mereka hanya berhenti sebentar untuk makan siang, lebih tepatnya makan siang menjelang sore karena waktu sudah menunjukkan pukul 02.30. Sepanjang perjalanan tuan Harun dan Barra terheran melihat tingkah Zain yang menggerutu tidak jelas sambil melirik ponselnya berulang kali.
“Kenapa jalanya lambat sekali, Barra! Kalau begini caranya subuh kita baru sampai di rumah!”
“Ini sudah kecepatan rata-rata, Tuan! Jalanan padat jika kita ngebut akan berbahaya untuk kita dan pengendara lainnya!” jelas Barra.
“Aku tidak butuh ceramah kamu, Barra. Yang aku butuhkan kita bisa sampai di mansion secepatnya!” tegas Zain.
“Kita mengendarai mobil, Tuan. Juga harus menjaga dan mematuhi ketertiban lalulintas demi untuk keselamatan bersama.”
“Ck! Ke mana bocah itu? Awas saja kalau ketemu!” kesal Zain mengabaikan ucapan asistennya, matanya fokus menatap ke layar ponselnya menunggu notifikasi yang tak muncul-muncul.
“Pesanku tidak dibuka, ditelepon tidak di jawab! Apa gunanya punya ponsel?” gerutu Zain yang masih terdengar jelas oleh Barra dan ayah mertuanya yang duduk di kursi belakang.
‘Apa semua orang yang sedang di mabuk asmara akan berbuat aneh seperti ini? Tadi pagi menghawatirkan nona Zahra karena akan ditinggal pergi, tapi seharusnya Anda yang harus dikhawatirkan, Tuan!’ batin Barra.
Namun siapa sangka perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu kurang dari 4 jam, nyatanya memakan waktu hampir 6 jam lamanya, dikarenakan terjadi kecelakaan beruntun di jalan raya yang mereka lewati.
Kecelakaan tersebut melibatkan 6 kendaraan yang terdiri dari satu unit motor matic, satu unit mobil Daihatsu Sigra, dua unit angkutan umum, satu unit truk pengangkut furnitur dan satu unit truk bermuatan logistik.
Akibat dari kejadian tersebut terjadi kemacetan di sepanjang jalan hingga berkilo-kilo meter jauhnya. Salah satunya yang terjebak di tengah kemacetan tersebut adalah mobil mewah yang di dalamnya berisi 3 makhluk yang terduduk dalam keheningan.
“Ck! Kenapa lama sekali, Lakukanlah sesuatu, Barra!” Zain tidak sabar karena hampir satu jam mobil mereka hanya bergerak beberapa meter saja.
“Sabar Tuan, ada petugas yang sudah turun untuk mengatur jalan. Di depan ada kecelakaan beruntun yang melibatkan banyak kendaraan, jadi macetnya parah, Tuan.” Barra mencoba memberi penjelasan kepada tuannya.
“Apa tidak ada jalan lain? Cepat pikirkan!” desak Zain, pandangannya selalu fokus ke arah layar ponsel miliknya yang menampilkan foto sang istri tercinta.
“Tidak ada, Tuan. Kalaupun Anda turun dan naik transportasi darat sama saja Tuan, dapat dipastikan akan terjebak macet juga.”
“Yeah really good idea, Barra!” teriak Zain membuat Barra dan tuan Harun terkejut olehnya.
“Panggilkan Helikopter sekarang juga!” perintah Zain dengan tegas.
“Baik Tuan,” jawab Barra.
“Kenapa tidak kamu lakukan sejak tadi sih! Terbuang sia-sia waktuku selama berjam-jam di sini!” kesal Zain.
__ADS_1
‘Mana saya tahu, Tuan. Biasanya juga Anda tidak mau naik helikopter jika tidak sangat terdesak,’ gerutu Barra dalam hati.
“Mau saya pecat kamu!” gertak Zain menatap tajam ke arah asistennya itu.
“Eh, tidak Tuan, maaf.” Barra salah tingkah karena ketahuan membatin tuannya tersebut. Sebenarnya dari mana tuan mudanya itu bisa tahu jika sedang dibicarakan dalam hati oleh seseorang, atau tuannya itu hanya menebak-nebak saja? Entahlah, Barra tidak mau menambah masalah lagi.
Barra menghubungi anak buahnya untuk mengantarkan helikopter ZM corp. untuk segera menjemput tuan mudanya di lokasi, ia juga menyuruh beberapa orang untuk mengurus mobil milik tuannya.
“Pergi ke mana bocah itu! Punya ponsel tapi tidak bisa dihubungi, apa ponselnya rusak?” gumam Zain namun masih terdengar oleh Barra dan tuan Harun.
“Apa Anda tidak punya cukup uang untuk membelikan ponsel yang layak kepada putri Anda, Tuan Harun?” tanya Zain kepada ayah mertuanya, tapi lebih terdengar seperti sedang menginterogasi targetnya.
“Eh, maaf Tuan, apa maksud Anda?”
“Apa Anda akan bangkrut hanya untuk membelikan ponsel baru untuk Zahra? Ponsel kuno rusak begitu masih dipakai, memalukan!” ejek Zain, karena kekesalannya membuat Zain melupakan fakta bahwa semua bukanlah salah ayah mertuanya, tapi salahkan Tasya yang sudah memonopoli semua hak Zahra yang diberikan oleh tuan Harun.
“Maaf Tuan, nanti akan saya belikan ponsel baru untuk putri saya,” jawab tuan Harun lirih, ucapan menantunya kembali mengingatkan tuan Harun akan penyesalannya atas kecerobohannya yang membuat putri satu-satunya menderita selama ini.
“Tidak perlu, aku yang akan membelikan untuknya! Barra, Belikan ponsel keluaran terbaru untuk istriku! Harus sudah ada di mansion sebelum kita sampai!” perintah Zain.
“Baik Tuan, akan saya laksanakan secepatnya.” Barra merasa iba melihat wajah lelah dan sayu tuan Harun dari pantulan kaca spion di depannya.
Tak berselang lama, Zain dan Barra pergi menuju gedung tinggi di sekitar tempat itu setelah kedatangan Ali yang akan mengurus mobil tersebut. Sedangkan tuan Harun memilih untuk tetap pulang dengan mobil itu dengan alasan ingin sekalian mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
...*****...
Tak butuh waktu lama, kurang dari satu jam mereka sudah sampai di mansion, helikopter ZM corp. Mendarat di halaman luas di belakang mansion utama.
Tidak ada rumah warga di sekitarnya, hanya ada beberapa rumah sederhana tempat pekerja pria dan beberapa pekerja yang sudah berkeluarga yang menempatinya, sedangkan para pekerja wanita tinggal di tempat yang sudah di sediakan di bagian belakang mansion utama.
“Zahra!” teriak Zain ketika masuk ke dalam bangunan mewah tersebut.
“Zahra!” ulangnya.
Lama tak ada jawaban dari orang yang dicarinya, Zain semakin kesal dan berteriak kencang memanggil istrinya.
“Zahraa!!!” teriak Zain menggema terdengar ke seluruh ruangan membuat para pelayan terbirit-birit keluar dari persembunyian mereka yang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Di mana bocah itu?” tanya Zain mengintimidasi semua orang di depannya.
__ADS_1
“Nona pergi bersama Nyonya, Tuan ...,” jawab bi Nur, karena hanya bi Nur yang masih bisa menahan rasa takutnya.
“Ke mana?”
“Sejak pagi Ny. Amara dan nona Zahra pergi berkunjung ke rumah Ny. Amara, Tuan.” Bi Nur menjelaskan dengan detail.
Zain langsung memutar tubuhnya dan berjalan cepat menuju pintu keluar, bahkan ia hampir menabrak sang asistennya yang baru saja masuk jika saja Barra tidak tepat menghindar.
“Tuan, ini ponsel yang Anda minta,” ucap Barra menyerahkan paper bag di tangannya.
“Siapkan mobilku sekarang!” perintah Zain mengabaikan barang pesanannya.
Barra mengangkat sebelah alisnya merasa bingung. Tadi tuannya marah-marah ingin segera sampai di mansion, sekarang baru saja mereka sampai di mansion tuannya menyuruhnya untuk segera menyiapkan mobil. Bos mah bebas! Barra tidak berani untuk menggerutu lagi, takut ketahuan tuannya yang seperti seorang cenayang saja.
“Mau pergi ke mana, Tuan?” tanya Barra sopan.
“Lakukan saja perintahku, jangan banyak tanya!”
...*****...
30 menit berlalu, mobil Lamborghini Aventador SVJ Roadster Grigio Talesto berwarna merah menyala itu sudah terparkir rapi di halaman Ziya’s House, Zain keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam terlebih dahulu.
Zain melangkahkan kakinya masuk lebih dalam mencari sosok sang istri yang berhasil membuatnya kesal selama seharian. Sesampainya di taman, mata Zain menangkap sosok yang ia cari sedang bermain dengan anak-anak di sudut taman.
“Sa-sayang!” pekik Zahra yang merasa terkejut akan kedatangan suaminya, apalagi tangannya ditarik paksa oleh Zain menjauh dari tempat itu.
Tanpa berucap apa pun, Zain menyeret tubuh istrinya keluar dari Ziya’ House dan mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam mobil dan memasangkan seat belt untuk Zahra. Zain ikut masuk ke dalam mobil lalu mulai menancapkan gas dan melaju kencang meninggalkan rumah ibunya tanpa berpamitan.
“Sa-sayang, kamu kenapa? Jangan ngebut, aku takut,” ucap Zahra dengan wajah pucatnya, ia berpegangan kencang pada benda apa pun yang dapat dijangkau oleh tangannya.
Zahra semakin takut melihat wajah suaminya yang terlihat marah dengan rahang mengeras dan mata yang memerah, bahkan suaminya mengabaikan setiap perkataan yang dikeluarkan olehnya.
“Sa-sayang, ka-kamu kenapa?” tanya Zahra dengan suara yang tercekat di tenggorokannya, ia merasa ngeri karena suaminya semakin melajukan mobilnya dengan kencang mengabaikan suara klakson dan makian dari pengendara lain yang ditujukan kepada mereka.
“Zain! Kamu gila ya? Aku tidak mau mati konyol bersamamu!”
*****
"Pusing guys ngadepin tuan Zain yang makin hari sulit di tebak apa kemauannya!" keluh Barra selagi tuan Zain tidak berada di dekatnya.
__ADS_1