Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 115. Keluarga Mahardika


__ADS_3

“Lama tak jumpa Nona Mahardika!” sapa Zain dengan tatapan mata tajamnya.


“Tu-tuan Zain, apa kesalahan saya kepada Anda? Kenapa saya di ikat sepeti ini?” tanya wanita itu dengan suara bergetar.


“Apa kesalahan kamu?” Zain meninggikan suaranya membuat wanita itu merasa semakin ketakutan.


“Kamu masih tanya apa salah kamu? Dasar pembunuh!”


“Pembunuh? A-aku bukan pembunuh!” teriak wanita itu lalu meronta-ronta mencoba melepaskan diri dari jeratan tali yang mengikatnya.


Plak!


Zain melayangkan pukulan ke wajah wanita di depannya hingga sudut bibir wanita itu sedikit mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


Baru kali ini Zain bermain kasar terhadap wanita, biasanya Barra yang mengurus semuanya. Entah dengan tangan Barra sendiri atau menggunakan tangan orang-orang suruhannya.


“Diam!” bentak Zain dengan wajah memerah.


“Tapi saya benar bukan pembunuh, Tuan!” elak wanita itu.


“Kamu telah mencelakai istriku dan membunuh anak dalam kandungannya, Rara Mahardika!”


Zain tak kuasa lagi menahan amarahnya, tangannya mencengkeram kuat kedua pipi Rara hingga kuku-kukunya menancap ke dalam kulit tipis Rara.


“Is-istri? Si-siapa istri Anda?” tanya Rara terkejut, ia bahkan tidak mengenal istri pria kejam di depannya itu yang Rara kenal sebagai atasan ayahnya.


“Jangan sok bodoh kamu!” Zain melepas kasar cengkeramannya hingga Rara terdorong dan hampir saja terjerembap ke belakang jika tidak tertahan oleh dinding di dekatnya.


Zain lalu memutar tubuhnya berdiri tegak membelakangi Rara yang terlihat sangat pucat. Zain merasa tidak bisa menahan emosinya jika melihat wajah Rara dan ia takut akan kebablasan dan membunuh wanita itu.


“Tu-tuan, saya benar tidak tahu-”


“Zahra! Zahwa Zahratunnisa!” jawab Zain cepat membuat Rara membulatkan kedua matanya lebar.


“Tidak mungkin,” ucap Rara lirih tidak percaya.


Zain kembali memutar tubuhnya menghadap Rara. “Apa yang tidak mungkin? Dia memang istriku!”


“A-a-pa.” Rara tidak bisa berkata apa pun, suaranya menghilang begitu saja seperti ada tangan besar yang mencekik lehernya dan menahan suaranya.


“Kau sebut dirimu sebagai sahabat? Cuih! Bahkan hewan pun tidak sudi memiliki teman seperti kamu!” Zain berjalan meninggalkan Rara yang masih terikat menuju kursi lain di ruangan itu.

__ADS_1


“Ali!” panggil Zain kepada asistennya yang sedari tadi hanya menonton bersama beberapa pengawal lainnya.


“Siap, Tuan Muda,” jawab Ali cepat, ia mengerti apa yang diinginkan oleh tuannya tersebut.


“Bawa mereka kesini!” perintah Ali kepada temannya yang lain.


Dua pengawal itu keluar dari barisan dan meninggalkan ruangan tersebut.


Tak lama kemudian mereka kembali dengan menyeret dua orang paruh baya dengan tangan terikat ke belakang lalu mendorong mereka hingga jatuh berlutut tepat di depan Rara.


“Mama! Papa!” ucap Rara terkejut melihat kedua orang tuanya berada di tempa itu degan keadaan yang menyedihkan.


“Rara! Apa yang terjadi?” tanya tuan Mahardika sama terkejutnya dengan Rara, ia tidak menyangka putri kesayangannya diperlakukan seperti itu, bahkan Rara terlihat sangat berantakan.


“Rara, Sayang. Kamu tidak apa-apa, kan? Siapa yang berani melakukan ini kepada kamu, Sayang? Katakan kepada mama!” Ny. Mahardika terlihat sangat menghawatirkan putrinya, putri yang selama ini mereka manja.


“Kenapa dengan wajah kamu, Sayang? Siapa yang berani memukul kamu?” tanya tuan Mahardika marah.


“Katakan siapa yang melakukannya, Sayang. Berani sekali orang itu menyakiti kamu!” teriak Ny. Mahardika tidak terima.


“Aku yang telah memukulnya!” ucap Zain dengan lantang.


Sepasang suami istri itu menoleh ke belakang ke arah sumber suara, betapa terkejutnya mereka melihat Zain duduk dengan angkuhnya di ruangan tersebut.


“Tu-tuan Zain.


” ucap mereka bersamaan dengan suara yang tercekat.


“Tuan, apa yang terjadi dengan putri kami?” tanya Ny. Mahardika.


“Tuan, apa kesalahan putri kami? Jika saya melakukan kesalahan hukum saja saya, jangan menyakiti putri kami!” mohon tuan Mahardika.


“Tuan, apa Anda tega menyakiti seorang gadis yang tidak bersalah?”


“Cukup!” Zain berteriak membuat keduanya seketika diam membisu.


“Apa kalian mau tahu apa kesalahan wanita itu?” tanya Zain tajam.


“Jangan menyesal jika aku sudah mengatakannya kepada kalian!” peringat Zain.


Sepasang suami istri itu diam terpaku menantikan apa yang akan dikatakan oleh atasan mereka. Dengan harap cemas mereka terus menatap ke arah Zain dengan tatapan memohon.

__ADS_1


“Pembunuh!” ucap Zain tajam.


Satu kata yang berhasil membuat sepasang suami istri itu seketika kehilangan semangat mereka.


“Dia telah mencelakai istriku dan membunuh bayiku!”


Tuan Mahardika dan istrinya kehilangan kata-kata, mereka tidak lagi merengek untuk memaafkan putrinya.


Ny. Mahardika tersungkur ke lantai, menangis tanpa suara merasa dirinya telah hancur dan merasa gagal menjadi seorang ibu bagi putrinya.


“A-apa benar yang dikatakan tuan Zain, Ra?” tanya tuan Mahardika kepada putri kesayangannya itu.


Rara hanya diam menunduk, menangis menyesali perbuatannya. Ia tidak tahun jika Zahra adalah istri Zain Malik Ibrahim, jika ia mengetahuinya sejak awal, Rara akan berpikir dua kali untuk melakukan permintaan Bastian untuk balas dendam terhadap suami Zahra yang telah menjebloskannya ke dalam penjara.


“Jawab, Rara!” bentak tuan Mahardika kehilangan kesabarannya, apalagi di hadapan atasannya.


“Maaf, Pa.” Hanya kata maaf yang bisa keluar dari mulut Rara.


“Astaga! Rara! Anak macam apa yang selama ini akun besarkan dengan penuh kasih sayang, Tuhan?”


Tuan Mahardika menangis meratapi nasibnya, ia merasa gagal menjadi orang tua yang baik. Selama ini mereka menganggap bahwa putri mereka adalah sosok gadis yang baik dan penurut. Namun ternyata di belakang mereka Rara tumbuh dengan pergaulan liarnya.


“Cukup drama keluarganya!” Zain merasa muak dengan pemandangan di depannya.


“Katakan sejujurnya jika kamu ingin hidup dan menyelamatkan kedua orang tuamu ini!” ancam Zain.


Dengan terbata, Rara mulai menceritakan semuanya. Awal dirinya mendapat hasutan dari Bastian ketika ia menjenguknya di penjara dan Rara mempercayai semua yang diucapkan oleh Bastian.


‘Semua ini karena Zahwa, Sayang! Dia dan suaminya menjebak aku dan menjebloskan aku ke penjara sialan ini! Kamu harus membalaskan dendamku!’


Rara teringat ucapan Bastian, ia lalu menceritakan bahwa Bastian memberinya nomor ponsel kenalannya yang akan membantu Rara dalam membalaskan dendamnya kepada Zahra.


“Jadi kamu mendapatkan foto-foto itu dari kenalannya Bastian?” tanya Zain menyelidik.


Rara menganggukkan kepalanya, ia masih tidak berani menatap langsung wajah Zain yang dianggapnya sangat mengerikan.


“Siap dia? Cepat katakan!”


“Sa-saya tidak tahu, Tuan. Dia berada di luar negeri,” jawab Rara takut.


“Ck! Sialan! Brengs*k!” umpat Zain kesal

__ADS_1


 


__ADS_2