
Malam harinya, Zain terlihat sedang membujuk istrinya untuk ikut serta dengannya keluar dari kamar mewah itu. Kamar yang disebut penjara olehnya.
“Ayolah Zahra, jangan keras kepala. Kamu sudah berjanji kepada mommy dan papa kamu untuk segera sembuh kan!” ucap Zain dengan nada kesal karena dibuat frustrasi mengatasi sifat keras kepala istrinya.
“A-aku belum siap, lain kali saja ya ...,” lirih Zahra.
“Kamu tahu kalau aku tidak suka dibantah!” seru Zain dengan nada tinggi membuat Zahra terlonjak kaget.
“Ck! Jangan menguji kesabaranku Zahra, kalau kamu susah diatur aku akan membuang semua buku yang ada di kamar ini.” Zain mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba menahan emosinya yang meledak.
Sekeras apa pun Zain mencoba bersikap lembut tetap saja sifat kejam dan dinginnya masih sering lolos dari kendalinya.
“Jangan menunda-nunda sesuatu untuk kebaikan kamu, Zahra! Bukan hanya kamu yang terluka. Pikirkanlah papa kamu, mommy juga. Mereka pasti lebih terluka melihat kamu seperti ini.”
Zain melangkah menuju kamar mandi meninggalkan Zahra yang terdiam dalam duduknya. Ia merasa tak tega melihat wajah istrinya yang terlihat murung setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya, memang terdengar sedikit kasar. Tapi Zain tidak mau Zahra terlalu lama terpuruk dengan keadaannya.
“Bagaimana?” tanya Zain yang baru keluar dari kamar mandi, wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.
“Emh ... iya,” jawab Zahra ragu.
“Iya apa, yang jelas kalau bicara,” ucap Zain acuh.
Mendengar nada bicara suaminya yang terdengar dingin dan cuek Zahra pun menatap ke arahnya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya, perasaan sakit dan begitu perih karena akhir-akhir ini suaminya tak pernah bersikap dingin lagi kepadanya, tapi malam ini suaminya kembali seperti pertama kali saat mereka menikah, dingin dan acuh.
“Iya aku mau ikut kamu keluar!” seru Zahra dengan mata berkaca-kaca.
“Ya sudah, ayo!” ajak Zain mengabaikan keadaan Zahra yang sedang menahan tangisnya.
Zahra akhir-akhir merasa sedikit sensitif dan kesulitan untuk mengendalikan emosinya. Padahal dulu ia tak pernah sekalipun mengeluarkan air matanya ketika menghadapi ibu dan kakaknya. Bahkan dulu ia begitu acuh dengan sikap suaminya kepadanya.
Zain menuntun istrinya menuju ke arah pintu, namun Zahra begitu berat melangkahkan kakinya sehingga Zain sedikit menariknya.
Ceklek.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, Zahra refleks memeluk tubuh suaminya dari belakang.
“Lepaskan, tidak ada hantu di sini, Zahra!” tegas Zain namun ada sedikit senyum terukir di wajahnya.
Perlahan Zahra pun melepaskan pelukannya, dan kembali melangkahkan kakinya dengan memeluk lengan suaminya. Namun langkahnya kembali terhenti ketika melihat beberapa orang yang berdiri di depan kamarnya.
Zain pun ikut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah istrinya, Zain terkejut melihat tubuh Zahra yang membeku dan sedikit bergetar lalu ia mengikuti arah pandangan istrinya.
“Apa yang kalian lakukan di sini!” bentak Zain kepada beberapa pengawal yang ditugaskan menjaga kamar Zahra.
“Maaf Tuan,” cicit mereka bersamaan dan wajah mereka yang terlihat ketakutan.
“Cepat suruh mereka pergi, Barra! Dasar bodoh kalian semua!”
Tanpa diminta untuk kedua kalinya, mereka semua meninggalkan tempat itu tak terkecuali Barra juga.
‘Bodoh! Siapa yang bodoh? Mereka ditugaskan menjaga kamar nona tentu saja mereka berdiri di sana!’ sungut Barra dalam hati setelah masuk ke dalam lift.
Zain kembali melanjutkan langkahnya sambil merangkul tubuh mungil Zahra yang berada di sampingnya. Sungguh Zahra sudah terlihat seperti seorang pesakitan yang tak mampu berjalan dan menopang tubuhnya sendiri.
Zahra dibuat heran dengan sikap para perawat yang membungkukkan badan setiap kali berpapasan dengan mereka. Menurutnya itu sengatlah berlebihan.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zain sambil menahan tubuh istrinya yang mengikuti perawat di depannya membungkukkan badan.
“Membalas hormat mereka, kamu tidak tahu tata krama ya?” tanya Zahra dengan polosnya.
Zain melebarkan matanya, membuat kedua perawat itu segera pamit dan meninggalkan tuannya.
“Tidak perlu, ayo cepat jalan.”
“Ih dasar kamu ya, mereka begitu ramah dan sopan. Setidaknya kamu juga membalas dengan menyapa balik.”
“Jangan menceramahiku!”
__ADS_1
“Sombong sekali dia, dia pikir rumah sakit ini miliknya apa?” omel Zahra lirih, namun masih dapat terdengar oleh telinga Zain.
“Kalau aku pemilik rumah sakit ini, kamu mau apa?”
“Jangan bercanda,” jawab Zahra tidak percaya.
Zain menghentikan langkahnya, membuat Zahra terpaksa ikut berhenti.
“Apa kamu tidak percaya?” tanya Zain dan menatap lekat wajah istrinya.
“Iya.”
“Ck! Dasar bocah, selama 2 bulan ini kamu ke mana saja?”
“Di kamar.”
“Apa kamu tidak melihat logo rumah sakit ini yang menyebar di setiap sudut bangunan, bahkan seprei, selimut dan bantal yang kamu gunakan setiap hari pun terdapat logonya.”
“Aku melihatnya memangnya kena-” ucapan Zahra terpotong karena ia mengingat sesuatu.
“Sudah percaya?”
Zahra menganggukkan kepalanya, masih mencoba untuk mencerna semuanya. ‘ZM Hospital, ZM seperti nama perusahaan suaminya, ZM Corp. Apakah rumah sakit ini benar milik suaminya? Apa lagi yang belum ia tahu?’ tanya Zahra dalam hati.
“Cepat jalan!” seru Zain membuat Zahra terkejut.
Mereka berdua melanjutkan langkah mereka dalam keheningan. Zahra terlihat begitu menurut ketika Zain mengajaknya masuk ke dalam lift khusus hingga tiba di lantai paling atas gedung tersebut.
Perlahan Zain menuntun Zahra menuju ke arah satu-satunya pintu yang ada di lantai tersebut. Pintu putih dengan tulisan ZM terukir di sana.
Ceklek.
Pintu terbuka setelah Zain berhasil memasukkan pasword dengan jemarinya.
__ADS_1
Deg.