
Yang Zi terbangun dan mendapati hanya ada ibu tirinya dan kakak iparnya saja yang berada di ruangan itu.
Yang Zi duduk dari rebahannya di sofa dan berulang kali merubah posisi duduknya, mencari posisi ternyaman karena usia kandungannya yang semakin membesar membuatnya semakin membatasi gerakannya.
“Hiduplah bahagia bersama putra mommy, Sayang. Mommy tidak akan menanyakan cucu lagi kepada kalian berdua.”
Yang Zi samar-samar mendengar ibu mertuanya mendoakan kebahagiaan untuk kakak dan kakak iparnya tersebut, ia tersenyum dan merasa ikut bahagia.
“Ukh!”
Yang Zi semakin merasakan perutnya tidak nyaman, ia berulang kali mengatur pernapasannya untuk mereda sakit diperutnya.
‘Inhale,’ ucap Yang Zi dalam hati sembari menarik napas panjang.
‘Tahan.’
‘Exhale,’ ucapnya lagi dan mengeluarkan napasnya secara perlahan.
“Huft ....”
Yang Yi melakukan hal tersebut berulang kali, sesekali keram diperutnya menghilang. Namun kali ini sakit itu semakin terasa dan lebih sering dari sebelumnya.
“Ssttt!” Yang Zi meringis tidak tahan lagi menahan sakit di perutnya.
Ny. Amara mengalihkan fokusnya dari wajah menantunya ketika mendengar suara kesakitan dari arah belakangnya.
“Ka-kamu kenapa?” tanya Ny. Amara panik.
“Perawat! Penjaga! Siapa pun cepat datang kesini!”
Ny. Amara berteriak panik memanggil semua orang di luar kamar rawat Zahra, berharap siapa pun yang mendengarnya akan segera masuk dan menolongnya.
“Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi? Kenapa malah diam saja?” tanya Ny. Amara bertubi dan sejenak melupakan menantunya yang sedari tadi belum terbangun.
“Mo-mommy, perutku sakit,” ucap Yang Zi meringis menahan sakit diperutnya yang semakin terasa.
“Kamu mau melahirkan sekarang? Sebentar tahan dulu!”
Ny. Amara berlari keluar karena tidak seorang pun masuk ke dalam kamar Zahra padahal sedari tadi ia sudah berteriak kencang.
Ny. Amara melupakan jika kamar tersebut memili peredam suara sehingga sekeras apa pun ia berteriak tidak akan ada orang di luar sana yang akan mendengarkannya. Saking paniknya Ny. Amara juga melupakan adanya tombol darurat yang ada di samping brankar Zahra.
“Bertahanlah! Perawat sudah datang!” teriak Ny. Amara dari luar ruangan.
Ny. Amara masuk diikuti oleh beberapa perawat yang dipanggilnya.
“Cepat kalian bantu dia!” perintah Ny. Amara.
“Mommy! A-apa ini?” tanya yang Zi dengan wajah polisnya melihat sesuatu yang membasahi tubuh bagian bawahnya. “Mom, aku pipis disini?” lanjutnya.
Beberapa perawat yang datang bersama Ny. Amara dengan cepat memapah Yang Zi dan mendudukkannya di kursi roda yang mereka bawa.
Ny. Amara merasa bingung antara harus tetap berada di kamar Zahra dan menemani menantunya itu atau harus menemani Yang Zi yang sedari tadi meringis kesakitan memanggil-panggil dirinya.
“Mommy! Tolong aku,” rengek Yang Zi sebelum perawat mendorongnya keluar dari kamar Zahra.
“Ehm, bagaimana ini?” tanya Ny. Amara bingung, ia tidak mungkin meninggalkan menantunya begitu saja, namun disisi lain ada anak tirinya yang juga sedang membutuhkannya.
“Nyonya biarkan saya yang menjaga nona Zahra jika Anda ingin menemani nona Yang Zi melahirkan,” ucap seorang perawat yang melihat kegelisahan di wajah tua Ny. Amara.
__ADS_1
“Tapi, nanti jika menantuku bangun dan tidak melihat kehadiran keluarganya bagaimana?”
“Ny. Amara tenang saja, nanti saya akan menjelaskan keadaannya kepada nona Zahra jika nanti nona sudah bangun.”
“Jaga menantuku dengan baik! Kalau terjadi apa-apa dengannya aku tidak akan memaafkanmu!”
Ny. Amara sempat memberikan ancaman kepada perawat yang menawarkan diri untuk menjaga Zahra sebelum pergi menyusul Yang Zi yang sudah di dorong keluar oleh perawat lain.
Di tempat lain, Zain tengah duduk di kursi kebesarannya dengan menghadap ke arah jendela mengabaikan seseorang yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Sudah 10 menit berlalu sejak Tania masuk ke dalam ruang kerja tuan mudanya itu. Namun Zain hanya diam menatap langit mendung di atas sana.
‘Sampai kapan aku harus menunggu dan berdiri disini?’ keluh Tania dalam hati, tubuhnya sudah sangat lelah seharian bekerja ditambah harus mengurus dua wanita pengacau tersebut.
Zain memutar kursinya dan terkejut melihat Tania sudah berdiri di ruangannya.
“Kamu kenapa di sini?” tanya Zain tanpa ekspresi menyembunyikan keterkejutannya.
“Maaf, Tuan. Bukannya tadi Tuan Muda menyuruh saya untuk menemui Anda?”
“Oh, ya. Kenapa kamu masuk tidak mengetuk pintu?”
Tania mendongakkan kepalanya mendapat pertanyaan dari Zain, sudah beberapa kali ia mengetuk pintu dan sekretaris di depan menyuruhnya untuk masuk saja karena Zain sudah menunggu kehadirannya.
Bahkan Tania sudah beberapa kali memanggil Zain namun sepertinya Zain terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak mendengar dan menyadari kehadiran Tania.
“Tadi saya sud-”
“Sudahlah!” ucap Zain memotong perkataan Tania.
“Sudah kamu bereskan kedua wanita itu?” tanya Zain tanpa menatap ke arah lawan bicaranya, matanya fokus menatap layar ponselnya yang bahkan tidak menyala sejak tadi menunggu kabar dari sang istri.
“Sudah saya bereskan, Tuan. Sesuai dengan perintah Anda.”
“Kalau begitu saya permisi undur diri, Tuan.” Tania hendak melangkah mundur namun terhenti ketika Zain mencegahnya.
“Tunggu!”
Deg!
Jantung Tania berdetak lebih cepat hanya dengan mendengar suara tuan mudanya itu. ‘Apa tuan muda akan memberikan hukuman untukku?’ Tania bertanya-tanya waswas dalam hati.
“Maaf, Tuan. Saya salah, saya tidak becus menjaga nona Zahra dengan baik. Maafkan saya, Tuan.” Tania meminta maaf dengan menundukkan kepalanya, ia takut untuk melihat wajah dingin tuannya. Hanya dengan membayangkan kejadian tadi ketika Zain marah besar saja sudah membuat Tania gemetar.
“Siapa yang menyalahkan kamu?” tanya Zain membuat Tania langsung mengangkat wajahnya kembali.
“Ma-maksud Tuan Muda ... Anda tidak menyalahkan saya atas kejadian yang menim-”
“Tidak, bodoh!”
Tania melebarkan matanya tidak percaya, ia pikir tuannya memanggil dirinya untuk dimarahi dan diberikan hukuman. Namun semua perkiraannya itu salah besar. Zain sama sekali tidak menyalahkan Tania atas kejadian itu.
“Tu-Tuan.” Tania kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaannya.
“Sudahlah, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu.”
Zain menjeda kalimatnya membuat Tania menunggu dan bertanya-tanya dalam hati apa yang akan tuannya itu tanyakan.
“Hmm, apa hubunganmu dengan Ali?” Zain menatap tajam ke arah Tania membuat Tania kembali menciut. Zain mengingat permintaan Ali sebelum ia kembali untuk tidak memarahi Tania, Ali bahkan rela untuk menerima hukuman menggantikan Tania.
__ADS_1
“Emh-” Tania ingin menjawabnya, namun ia merasa ragu.
“Jawab saja!”
“Emh, sebenarnya kami berdua berpacaran, Tuan.”
Lagi-lagi Tania menundukkan kepalanya, kali ini bukan karena takut berhadapan dengan tuannya itu. Namun Tania merasa malu, di antara teman dan rekan kerja mereka berdua hanya beberapa orang saja yang tahu tentang status hubungan mereka.
“Sudah berapa lama?” Tanya Zain menyelidik.
“11 tahun, Tuan.”
Zain menatap tak percaya ke arah Tania, ia tahu usia mereka bertiga seumuran. Lantas apa yang membuat Ali belum juga menikahi kekasihnya itu?
“Kenapa kalian belum menikah?”
“Ada beberapa alasan, Tuan.” Tania bukannya tidak segera menikah dan memiliki anak di usianya yang hampir menginjak kepala tiga itu, bahkan tidak jarang keluarganya menyuruhnya untuk segera menikah dan menjodoh-jodohkannya dengan kenalan keluarganya.
Zain menatap menyelidik ke arah Tania meminta penjelasan, dengan ragu Tania menceritakan alasan kenapa mereka belum juga menikah.
“Kak Ali masih harus membiayai ketiga adiknya yang masih sekolah,” jelas Tania lirih, ia sudah berjanji kepada Ali untuk tidak memberitahu siapa pun tentang tanggungannya itu. Namun kali ini Tania terpaksa harus mengingkari janjinya.
“Bodoh! Apa jika kalian menikah, Ali tidak bisa membantu adik-adiknya?” kesal Zain.
Zain dulu bertemu dengan Ali sewaktu masih kuliah, Ali yang memiliki kecerdasan lebih mendapat beasiswa dan aktif dalam berbagai komunitas.
Setelah lulus kuliah Zain mengajak Ali untuk bergabung di perusahaan keluarganya, Zain memang mengetahui latar belakang Ali yang seorang yatim-piatu dan harus mengurus ketiga adiknya sejak usianya masih belia.
Namun untuk masalah asmara, Zain tidak pernah ikut campur dengan orang-orang terdekatnya. Ali pernah mengatakan bahwa dirinya ingin fokus kepada adik-adiknya terlebih dahulu sebelum ia menikah.
“Orang tuamu masih ada?”
“Maaf, Tuan?” Tania mengernyitkan alisnya bingung. “Eh, kedua orang tua saya masih sehat semua, Tuan.”
“Katakan kepada mereka aku akan datang untuk melamar kamu,” ucap Zain dengan entengnya tanpa menyadari keterkejutan di wajah Tania.
“Apa? Tuan tidak salah bicara?” tanya Tania sedikit meninggikan suaranya membuat Zain menatap ke arahnya.
“Memangnya tadi aku bicara apa?” tanya Zain balik.
“Katakan kepada mereka aku akan datang untuk melamar kamu.” Tania mengulangi perkataan Zain. “Tuan Muda tadi mengatakan seperti itu.”
“Hah, maksudku melamar kamu untuk Ali si bodoh itu!”
“Oh, aku kira-” Tania mengelus dadanya merasa lega.
Drrrrt.
Zain segera mengangkat ponselnya yang berdering di atas meja, ada panggilan masuk dari ibunya.
“Hallo, Mom! Ada apa? Zahra baik-baik saja kan?”
‘Zain cepat datang ke rumah sakit! Cepat!’
“Mom, apa yang terj-”
Tut. Tut. Tut.
“Mommy!” kesal Zain karena ibunya langsung memutuskan panggilannya sebelum menjelaskan keadaan istrinya.
__ADS_1
“Ikut bersamaku ke rumah sakit!” perintah Zain kepada Tania.
Zain berjalan dengan terburu-buru merasa khawatir karena suara ibunya tadi terdengar sangat panik.