
“Bodoh! Sudah aku bilang tunggu di dalam mobil, kenapa kalian malah keluar, hah!” teriak Zain melampiaskan kekesalannya.
“Ma-af, Tuan!” lirih Hani dengan kepala yang tertunduk, tubuhnya bergetar hebat karena baru kali ini ia melihat tuan mudanya tersebut marah secara langsung di hadapannya.
“Kamu!” Zain menunjuk ke arah penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi istrinya tersebut.
“Menjaga seorang wanita saja tidak becus! Apa kamu sudah bosan bekerja denganku, hah!” gertak Zain lalu menendang tulang kering pria di depannya itu.
“Maaf Tuan, saya ceroboh dan tidak waspada," jawab pria tersebut takut.
“Sial! Cepat temukan keberadaan istriku jika kalian masih ingin bernafas di bumi ini!”
Setelah mendengar ancaman dari Zain, semua orang segera berpencar untuk mencari keberadaan Zahra. Zain kembali menghadap ke arah Hani yang masih menunduk takut sejak kembali dari toilet.
“Kenapa kamu begitu bodoh, Hani! Aku mempercayakan Zahra kepadamu, tapi apa? Kamu mengecewakanku, Hani!” ucap Zain dengan menahan amarahnya.
Zain dengan susah payah mengendalikan emosinya, tidak mungkin ia sepenuhnya menyalahkan Hani atas menghilangnya Zahra. Selama ini Zain sudah menganggap Hani sebagai adiknya sendiri mengingat jasa ayahnya Hani, namun ia tak pernah menunjukkannya dengan terang-terangan.
“Tu-tuan, maafkan saya,” lirih Hani yang semakin merasa takut.
“Tuan,” Barra yang tidak tega melihat Hani ketakutan, ia mencoba untuk menengahi.
“Apa?” jawab Zain dingin.
“Sebaiknya Anda bergegas ke rumah sakit sekarang,” ucap Barra tenang dan menarik Hani agar berdiri di belakangnya.
“Ck!” Zain berdecak kesal mengetahui bahwa asistennya tersebut mencoba untuk melindungi Hani.
“Yitian, kamu antar Zizi ke rumah sakit, aku akan mencari istriku!” perintah Zain dan membalikkan tubuhnya hendak pergi namun di tahan oleh seseorang.
“Koko, jangan pergi!” ucap seorang gadis dengan memeluk erat tubuh Zain dari belakang.
“A mui, kenapa kamu keluar dari mobil?” tanya Zain lembut dan memutar tubuhnya kembali.
“Jangan tinggalkan aku, Ko! Please!” ucap gadis tersebut semakin mengencangkan pelukannya.
“Zi a, koko harus pergi mencari istri koko, kamu pergi bersama piuko ya ...,” bujuk Zain sambil mengusap lembut kepala adiknya yang terlihat rapuh dan tak terawat.
__ADS_1
Namun sepertinya gadis itu tidak mau melepaskan kakaknya, ia terus menggelengkan kepalanya yang berada dalam pelukan Zain. “Aku hanya ingin bersama Koko.”
“Yang Zi a ... tapi-” Zain tidak melanjutkan kalimatnya ketika mendengar isakan tangis yang keluar dari mulut adiknya, ia merasa bingung dengan situasinya saat ini. Di satu sisi ia harus mencari keberadaan istrinya, namun disisi lain ada adiknya yang membutuhkan dirinya.
“Piuko, sebaiknya Anda menemani piumui ke rumah sakit. Aku akan mencari keberadaan kakak ipar secepatnya,” ucap Yitian yang merasa iba dengan kondisi adik sepupunya tersebut.
“Baiklah, aku percayakan pencarian Zahra kepadamu!” Zain menepuk bahu sepupunya itu, lalu dengan berat hati menuntun adiknya masuk kembali ke dalam mobil.
“Hani, kamu pulanglah terlebih dahulu dan beristirahatlah, Mr. Ma akan mengantarkan kamu ke rumah tuan Yitian,” ucap Barra dan mengusap kepala Hani yang masih tertunduk.
“Ta-tapi, Tuan ....”
“Hani, jangan takut. Tuan muda tidak benar-benar marah kepadamu, beliau hanya terbawa emosi saja. Percayalah bahwa nona Zahra akan baik-baik saja dan akan segera kembali bersama kita,” ucap Barra mencoba menenangkan Hani.
“Baik Tuan,” ucap Hani dengan ragu, meski masih ada ketakutan di hatinya, Hani mencoba untuk lebih tenang dan mempercayai perkataan yang diucapkan Barra kepadanya.
“Pulanglah! Mr. Ma, saya menitipkan Hani kepada Anda. Saya yakin Anda akan menjaganya dengan baik.”
“Baik Tuan, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menjalankan tugas saya,” jawab Ma Tianyu sopan lalu membungkuk hormat kepada Barra.
“Terima kasih.” Barra menepuk bahu Ma Tianyu lalu berlari masuk ke dalam mobil, meninggalkan Hani bersama Yitian dan Ma Tianyu.
“Ck! Bodoh, kenapa kamu begitu mempercayainya Zahra! Bahkan kamu disuruh berdiam diri di dalam mobil sedangkan pria br*ngsek itu tengah bermesraan dengan wanita lain! Dikira aku wanita simpanannya apa?” kesal Zahra.
“Apa lihat-lihat?” serunya kepada orang-orang yang menatap aneh ke arahnya.
Bayangkan saja, suhu di tempat tersebut mencapai 37° C, semua orang memakai pakaian musim panas mereka, pakaian pendek dengan bahan yang tidak terlalu tebal. Namun Zahra justru kebalikan dengan mereka, ia memakai pakaian panjang ditambah mantel musim dingin berwarna hitam melekat ditubuhnya, entah mantel milik siapa yang ia kenakan itu.
“Pria br*ngsek, tidak punya hati! Kamu jahat, Zain! Aku benci kamu!” teriak Zahra yang berdiri di tepi jalan sambil memegang pagar pembatas antara jalan dan lautan.
“Kamu bilang kamu mencintaiku, kamu bilang hanya aku yang akan menjadi wanitamu, cinta dalam hidupmu, istri satu-satunya seorang Zain Malik Ibrahim! Tapi apa? Kamu bahkan memeluk dan mencium wanita lain di belakangku!”
Zahra merasakan tubuhnya begitu lemas tak bertenaga, dadanya terasa sesak seakan bertahun lamanya tidak menghirup udara segar. Perlahan tubuhnya jatuh merosot ke tanah, ia menekuk lututnya dan memeluknya erat berharap dapat mengurasi perih di dal dadanya.
Merasa tidak cukup hanya dengan memeluk lututnya, Zahra membenamkan wajahnya dan mulai terisak pelan menahan agar tangisnya tak terdengar oleh orang lain.
Sekilas bayangan ketika dirinya berniat untuk jalan-jalan melihat hamparan laut bebas yang begitu indah dimatanya, namun tanpa sengaja ia melihat keberadaan suaminya dan memutuskan untuk menyusul sang suami. Namun ia justru mendapati sang suami sedang memeluk seorang wanita, bahkan berulang kali mengecup pipi dan kening wanita tersebut.
__ADS_1
‘Bodoh! Bodoh! Kenapa kamu menghianatiku setelah begitu banyak harapan dan perhatian yang kamu berikan kepadaku, Zain? Kenapa kamu menarikku ke dalam cinta ini jika akhirnya bukan aku yang kamu cintai?’ batin Zahra yang membuat isaknya semakin pilu dan terdengar sangat menyayat hati.
Setelah merasa lebih tenang, Zahra kembali melanjutkan langkahnya yang tak bertujuan. Zahra hanya ingin melangkah dan terus melangkah, hingga matanya menangkap sebuah gang kecil yang terlihat sepi jauh dari keramaian lalu-lalang penduduk setempat yang melakukan aktivitas mereka dengan berjalan kaki.
Zahra terus melangkah memasuki gang tersebut, entah berapa belokan yang ia lalui. Ia hanya melangkah dan melangkah tanpa tujuan, merasa kakinya begitu lelah Zahra memutuskan untuk duduk di anak tangga di depannya.
Langit sudah terlihat sedikit gelap, Zahra tidak tahu dimana ia berada. Ia hanya membawa tas selempangnya tanpa membawa ponsel miliknya yang ia tinggalkan di dalam mobil, bahkan tas tersebut hanya berisikan beberapa lembar uang rupiah yang tentunya tidak akan berlaku di negara tersebut.
“Mungkinkah kamu tidak merasa kehilangan diriku, Zain? Karena sudah ada wanita lain yang menemanimu ....”
...*****...
“Tuan, kami kehilangan jejak nona. Terakhir sosok yang mirip dengan nona terlihat berjalan menyusuri promenade di daerah Tsim Sha Tsui, namun menghilang setelah sosok tersebut masuk ke dalam gang ini.” Barra menjelaskan hasil pencarian mereka melalui pantauan CCTV yang diperolehnya dari pihak kepolisian.
Setelah mendengar cerita Hani tentang gerak-gerik nonanya yang terlihat janggal dimatanya, serta Hani yang mendapati Zahra mengenakan mantel yang di dapat dari dalam mobil, mereka dengan cepat bisa menangkap keberadaan Zahra lewat pantauan CCTV jalan, namun harus kehilangan jejak sebab Zahra masuk ke dalam gang sempit yang tidak terjangkau oleh kamera CCTV jalan.
“Bodoh! Mencari satu orang saja kalian tidak becus!” maki Zain membuat Barra dan Yitian terdiam.
“Jaga Yang Zi!” perintah Zain lalu berjalan keluar dari dalam kamar rawat adiknya.
“Mau ke mana, Ko?” tanya Yitian khawatir.
“Mencari istriku! Kamu pikir aku bisa tenang hanya menunggu kabar dari kalian, hah! Hari sudah gelap sedangkan aku tidak tahu kondisi dan keberadaan istriku!” ucap Zain sebelum menutup pintu kamar rawat adiknya.
“Ko, tunggu! Aku ikut denganmu!” seru Yitian dan bergegas menyusul sepupunya tersebut.
Barra menatap sendu ke arah Yang Zi yang berbaring lemah di atas tempat tidur, ia tertidur setelah perawat menyuntikan sesuatu ke dalam selang infusnya.
“Bertahanlah ...,” ucap Barra dengan kesedihan yang terlihat jelas di wajahnya.
...*****...
*Piumui : adik sepupu perempuan.
__ADS_1
*A mui/ mui-mui : adik perempuan.
*Biasanya ornang HK memanggil nama seseorang dengan embel-embel a/ya di belakang nama mereka. (Hani a, Zi a,)