
4 jam sebelumnya.
“Honey, aku ada pekerjaan di luar kota. Kamu tidak apa-apa kan jika aku tinggalkan?” tanya Zain setelah menyelesaikan sarapannya.
“Pergi saja, kan ada mommy di rumah,” jawab Zahra santai, suaminya saja yang terlalu berlebihan kepadanya.
“Mungkin aku pulang sore, benar kamu akan baik-baik saja?”
Zahra memutar bola matanya jengah. “Sayang, jika kamu ada pekerjaan pergi saja, ada mommy di rumah yang akan menjagaku, Aku bukan anak kecil!”
“Baiklah, hati-hati di rumah. Jangan nakal!” perintah Zain membuat ketiga orang di depannya merasa jengah atas sikapnya.
“Pergi saja, Zain! Mommy tidak akan menjual ataupun membuang istrimu itu!” ejek Ny. Amara.
Zain berdiri dan mendekat ke arah istrinya lalu mencium kening Zahra dan mengacak pelan rambut hitam bergelombangnya yang ia biarkan terurai begitu saja.
“Makanlah yang banyak, Honey. Aku berjanji akan pulang secepatnya.”
Cup.
Zain mengecup bibir mungil istrinya yang sedikit berminyak dan beraroma rempah-rempah dari nasi goreng yang sedang dimakan Zahra.
“Manis!” ucap Zain mengabaikan ibunya yang melotot tajam ke arahnya.
“Sudah pergi sana! Merusak suasana pagi saja!” Ny. Amara mengusir putranya yang tidak punya malu itu, kebiasaan putranya yang kini sering terlihat di mana pun dan kapan pun itu, seakan dunia hanyalah miliknya.
“Bye, Honey. See you later.”
Cup.
Zain mengecup singkat kening istrinya sebelum benar-benar meninggalkan ruang makan diikuti oleh Barra yang berjalan di belakangnya.
“Kita langsung ke tujuan, Tuan?”
“Hmm.”
‘Huft! Kumat lagi kulkasnya!’ gerutu Barra dalam hati.
“Jangan suka mengumpat dalam hati! Susah jodoh tahu rasa kamu!” ejek Zain membuat Barra diam seketika dan fokus dengan kemudinya.
Di tempat lain dan di waktu yang sama, Anindya mengendarai mobilnya menuju ke kampus. Namun di tengah perjalanan ada sebuah mobil Toyota Fortuner hitam yang menghentikan laju mobilnya.
Terlihat dua pria dengan setelan jas hitam keluar dari mobil tersebut dan mendekat ke arah mobil Anindya.
“Tok! Tok! Tok!”
“Nona, tolong buka kacanya! Saya orangnya tuan Zain,” ucap pria tersebut.
Anindya terlihat ragu dan bimbang, ia tetap mempertahankan untuk tidak menurunkan kaca mobilnya.
__ADS_1
“Nona, tolong buka! Kami disuruh oleh tuan Barra untuk menjemput Anda!” ulang pria tersebut sedikit berteriak.
Setelah berpikir cukup lama, Anindya menurunkan sedikit kaca mobilnya. Meneliti kedua pria yang berdiri di dekat mobilnya, lalu matanya beralih ke arah mobil yang dikendarai oleh mereka dan ia mengenalinya, mobil yang sering dipakai oleh para pengawal Zain.
Setelah memastikan bahwa mereka tidak berbohong, Anindya membuka lebar kaca mobilnya.
“Kenapa kalian menghentikan mobilku?” tanya Anindya angkuh.
“Kami diperintahkan untuk menjemput Anda, Nona.”
“Untuk apa?” tanya Anindya bingung.
“Tuan Zain ingin bertemu dengan, Anda.”
“Benarkah? Apa dia sudah berubah pikiran?” tanya Anindya girang.
Tanda basa-basi Anindya segera menyuruh mereka untuk mengantarkannya kepada Zain.
“Ya sudah, ayo antarkan aku menemui tuan kalian!”
Anindya keluar dari mobilnya dan berpindah ke dalam mobil Toyota di depannya, salah satu pria tadi ikut masuk ke dalamnya dan duduk di kursi depan sebelah kemudi karena sudah ada temannya yang duduk di belakang kemudi. Anindya duduk di kursi belakang, sedangkan pria satunya masuk ke dalam mobil milik Anindya.
Sepanjang perjalanan Anindya tidak banyak bertanya, namun ketika mobil melaju ke arah luar kota Anindya mulai memberontak. Terpaksa orangnya Zain membekap mulut Anindya dengan saputangan yang sudah di beri obat bius sebelumnya.
Sesampainya di tempat tujuan, kedua pria tersebut harus mendorong kursi roda yang di atasnya terduduk lesu Anindya yang belum juga terbangun dari tidurnya. Mereka masuk ke dalam ruangan yang di pintu depannya tertulis nama dr. Damayanti, Sp.KK. lengkap dengan jadwal praktiknya.
Mereka mendorong kursi roda tersebut ke dalam ruang pribadi dr. Damayanti yang di dalamnya sudah ada Zain, Ali sebagai pengganti Barra, dr. Damayanti, dan seorang wanita yang diketahui sebagai istri dr. Wira, pemilik klinik tersebut.
“Sudah Tuan.”
“Apakah Anda sudah percaya dan memahami semua isi berkas tersebut, Nyonya?” giliran istri dr. Wira yang mendapat pertanyaan.
“Su-sudah Tuan,” jawabnya gugup, wajahnya terlihat pucat setelah membaca dan menelan mentah-mentah informasi yang ada di dalam berkas yang disodorkan Ali kepadanya.
Tak berselang lama Zain menyuruh dr. Damayanti untuk keluar menemui tuan Harun dan Tasya karena sayup-sayup terdengar suara mereka dari luar.
“Jangan keluar sebelum waktunya tiba!” Ali mengingatkan kepada istri dr. Wira.
Hampir satu jam ruangan kecil tersebut hanya berisi keheningan dari makhluk-makhluk dingin di dalamnya, hingga Zain mengangkat tangannya mengisyaratkan agar istri dr. Wira keluar menghampiri kegaduhan yang hanya terdengar suaranya dari ruangan tersebut.
Tak lama kemudian, Anindya tersadar dan kebingungan melihat tempat asing di sekitarnya.
“Aku di mana?”
“Akhirnya Anda bangun juga, putri tidur?” ejek Ali.
Anindya memegang kepalanya karena merasa pusing, sayup-sayup ia dapat mendengar pertengkaran yang terjadi di luar ruangan, suara yang begitu familier ditelinganya. Setelah mengumpulkan kesadarannya, ia bergegas keluar karena penasaran dengan kegaduhan tersebut tanpa menyadari keberadaan Zain di dalam ruangan tersebut.
“Biarkan saja dia!” tegas Zain ketika anak buahnya ingin mencegah Anindya.
__ADS_1
...*****...
Prok! Prok! Prok!
“Bravo! Pertunjukan yang menarik, akhirnya Anda mengakui juga putri Anda dr. Wira! Tapi sepertinya putri Anda tidak mengakui Anda sebagai ayah biologisnya, Hahaha!” ejek Zain dengan sinis.
Semua orang menoleh ke arah Zain yang keluar dari ruang pribadi dr. Damayanti, diikuti oleh Ali dan kedua anak buah Zain lainnya.
“Ok! Karena semuanya sudah jelas dan semua bukti sudah terkumpul, aku lepas tangan dari masalah ini. Biarkan hukum yang akan mengadili kalian berdua!” ucap Zain dingin tanpa ekspresi di wajahnya.
“Apa kamu tidak ingin bersatu bersama kekasihmu itu, Tasya?” tanya tuan Harun sarkas sambil menunjuk ke arah dr. Wira.
Tasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak ingin berpisah dari suaminya. Jika bisa bersatu dengan dr. Wira, ia pasti sudah bersatu dengannya sejak dulu. Namun pria itu bersikukuh mempertahankan pernikahannya dengan istrinya dan tidak mau berpoligami membuat Tasya menyusun rencana untuk menjebak bosnya tersebut.
Meski sering di abaikan dan tidak pernah mendapatkan tempat di hati suaminya, namanya perempuan pasti akan luluh dengan sifat lembut dan tanggung jawab yang dimiliki oleh suaminya tersebut. Meski ia belum bisa terlepas dari jerat pria yang menghancurkan masa mudanya dulu, yaitu dr. Wira, ayah biologis dari putri tunggalnya.
“Aku tidak pernah mempunyai hubungan di belakang papa, percayalah, Pa!” bujuk Tasya, ia mendekat ke arah suaminya dan meraih tangan suaminya namun dengan kasar ditepis oleh tuan Harun.
“Aku muak dengan kelakuan kamu, Tasya!” sudah cukup, jangan tambah dosa kamu dengan kebohongan yang kamu buat!”
“Pa, percayalah padaku!” rengek Tasya.
“Cukup, Tasya! Aku Harun Ahmad. Mulai detik ini, kamu Tasya bin Reno bukan lagi istriku! Aku talak kamu, dengan talak tiga!” ucap tuan Harun dengan suara yang menggema ke seluruh ruangan.
“Papa!” pekik Tasya dan Anindya bersamaan.
“Surat perceraian sudah aku urus dan tuan Barra yang akan menyerahkannya kepadamu. Silakan jika kamu ingin bersama kekasihmu itu!”
Tuan Harun pergi meninggalkan ruangan itu, namun langkahnya terhenti ketika berada di depan pintu. “Itu pun jika kalian masih bisa diberi kesempatan.”
Semua orang terdiam memandang punggung tuan Harun yang menghilang di balik pintu. Perlahan tubuh Tasya merosot ke lantai, Anindya memeluk tubuh ibunya dengan erat. Sedangkan dr. Wira hanya mampu mengamati kedua wanita itu dengan iba, ia tak bisa ikut serta memeluk keduanya, karena ada istri sahnya yang berdiri di sampingnya.
“Aku juga ingin cerai dari kamu, Wira!” ucap istri dr. Wira penuh emosi.
“Sayang! Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Kamu tidak bisa jauh dariku! Kamu tidak bisa hidup tanpa aku! Mau makan apa kamu?” teriak dr. Wira.
“Mama akan tinggal bersamaku! Aku akan merawat mama dengan sepenuh hati, jadi Papa jangan mengancam mama!” ucap seorang pria yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
dr. Wira terperanjat kaget melihat kehadiran putranya itu. “Jangan ikut campur kamu!” marahnya.
Tak lama kemudian masuklah beberapa polisi ke dalam ruangan membuat suasana semakin tegang.
“Saudara Anindya Novyan Wirata, Anda kami tangkap atas laporan penipuan, pemerasan, praktik ilegal dan perselingkuhan.”
“Saudari Tasya, Anda kami tangkap atas tuduhan penipuan, pembunuhan, penganiayaan dan perselingkuhan.”
*****
Hai... Selamat pagi dunia, Barra muncul nih, mau nyari jodohnya, siapa tahu ada nyangkut di antara pembaca 🤭
__ADS_1
Sebel diledek tuan Zain mulu 🥺