Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 63. Hu Yitian


__ADS_3

Pria berwajah China itu berjalan menghampiri Zain dan ingin memeluk pria dingin itu namun segera ditepis oleh Zain.


“Jaga sopan santunmu!” ucap Zain dingin namun tidak berpengaruh untuk Yitian.


“Oh, sorry Brother. Jangan marah, aku benar-benar tidak ada waktu untuk menjemputmu di bandara tadi pagi.” Yitian berusaha merangkul bahu Zain namun tetap di tepis oleh Zain membuat Yitian memberikan pukulan ringan di bahu kanan Zain.


Yitian menyapa Barra yang berdiri tepat di belakan tuannya. “Hai, Xiao!”


“Halo, Tuan Muda Hu, apa kabar?” tanya Barra sopan.


“Baik, kamu sendiri pastinya juga baik-baik saja kan. Nyatanya kamu masih bisa berdiri tegak di belakangan tuan muda kejammu ini, hahaha!” Yitian terbahak mendengar ucapannya sendiri.


“Seperti yang Anda lihat, Tuan.” Barra dengan sopan menjawab perkataan tuan muda tersebut.


“Mana kakak ipar? Aku tidak bisa hadir pada pernikahan kalian dulu.” Yitian menatap Zahra dan Hani bergantian, ia belum pernah melihat wajah Zahra. Karena keluarga besar ayah Zain tidak ada yang hadir dalam acara pernikahan keduanya, karena saat itu tidak ada penerbangan untuk pergi ke Indonesia, selain itu mereka semua juga mempertimbangkan perasaan Ny. Amara yang masih belum bisa berdamai dengan kisah masa lalunya.


“Hai, perkenalkan nama saya Zahra, istrinya tuan Zain.” Zahra mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan dengan pemuda yang berdiri di depannya.


“Saya Yitian, senang bisa bertemu dengan Anda Kakak Ipar,” balas Yitian dan mengulurkan tangannya ingin menerima uluran tangan Zahra namun di tepis oleh Zain.


“Siapa yang kamu panggil kakak ipar? Dan jangan pernah menyentuhnya!” tegas Zain kepada Yitian membuat semua orang melongo mendengarnya.


“Ck! Dasar pelit, awas saja nanti akan aku culik kakak ipar darimu!” peringat Yitian namun diabaikan oleh Zain yang berlalu begitu saja melewati pemuda itu.


Zain memeluk posesif pinggang istrinya agar tepat berjalan di sampingnya, diikuti oleh Barra, Ma Tianyu dan Hani yang mengekor di belakang. Sedangkan barang bawaan mereka akan ada petugas yang akan mengantarkannya ke kamar masing-masing.


“Hai, tunggu! Kenapa kalian meninggalkanku? Aku pemilik Hotel ini bukan kalian!” teriak Yitian yang masih berdiri di depan pintu lobi.


“Cepat jalan kalau tidak ingin tertinggal! Merepotkan saja!” sinis Zain yang sudah berdiri di depan lift menunggu pintu lift terbuka.


Ting.


Suara pintu lift terbuka, mereka berlima masuk ke dalamnya, disusul oleh Yitian yang masuk dengan nafas yang tak teratur.


“Huft! Kalian tega sekali kepadaku!” rajuk Yitian namun tidak ada seorang pun yang meresponsnya.


Sepanjang perjalanan, hanya terdengar suara Yitian yang dengan semangatnya bercerita tentang banyak hal. Tentang perjalanan bisnisnya dimana di usianya yang masih terbilang cukup muda, yaitu 23 tahun ia harus mengurus bisnis keluarganya, termasuk Four Seasons Hotel yang beberapa hari ke depan akan menjadi tempat tinggal mereka.


Ting.

__ADS_1


Pintu lift terbuka dan mengantarkan mereka menuju lantai 41, mereka bergantian keluar dari ruangan sempit namun mewah tersebut. Tentu saja Zain masih dengan posesifnya memeluk pinggang istrinya, seakan takut istrinya itu akan pergi dari sampingnya.


Di sepanjang koridor, berbaris rapi beberapa pria dengan setelan formal kemeja putih dipadukan dengan jas hitam serta dasi hitam yang membuat penampilan mereka terlihat semakin sempurna.


Mereka menundukkan kepala hormat ketika Zain dan rombongan lewat di depan mereka. Sedangkan Yitian masih berusaha untuk mendekati Zahra namun selalu dihalangi oleh Zain.


Mereka tiba di depan kamar dengan pintu yang terlihat mencolok karena berbeda dari pintu lainnya, pintu kamar utama di Hotel tersebut yang khusus disiapkan untuk menyambut kedatangan Zain setelah sekian lama pria itu tidak berkunjung.


“Silakan masuk Mr. Yang Yang, kami mempersiapkan kamar ini khusus untuk Anda.” Yitian mempersilakan Zain agar masuk ke dalamnya.


Zain terlihat ragu dan menatap tajam ke arah pemilik hotel tersebut. Ia merasa ada yang aneh dengan pria itu yang tiba-tiba berbicara formal kepadanya.


“Apa yang sedang kamu rencanakan?” tanya Zain tajam.


“Brother! Jangan berpikir buruk terhadap saya, saya hanya ingin menyambut kedatangan Anda setelah 3 tahun lebih Anda tidak mengunjungi Hotel kami.” Yitian menjelaskan dengan nada formal dan di buat semeyakinkan mungkin.


“Awas jika kamu berbuat macam-macam!” ancam Zain.


“Tidak berani saya, Tuan Muda Zain Malik yang terhormat.”


“Kamu!” seru Zain merasa kesal dengan pemilik Hotel tersebut.


“Sudah ... ayo cepat masuk, aku capek sekali,” ucap Zahra sambil mendorong pelan tubuh suaminya, ia berusaha melepaskan dirinya dari rengkuhan suaminya karena tepat sebelum turun dari mobil asisten sang suami membisikkan sesuatu kepadanya.


Tanpa curiga Zain sedikit mengendurkan pelukannya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan khusus untuknya.


Bruk!


Brak!


Zain jatuh tersungkur ke lantai karena ada orang yang mendorongnya dengan sangat kencang. Bersamaan dengan itu terdengar suara bantingan pintu yang ditutup dengan cukup keras dari arah belakangnya.


“Akh! Brengs*k kalian!” teriak Zain lalu ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu, ia memutar knopnya namun hal itu semakin membuatnya kesal karena ternyata pintu tersebut telah dikunci dari luar.


“Yitian! Barra! Apa yang kalian lakukan kepadaku?” teriak Zain sambil menggedor-gedor pintu di depannya.


“Maaf Tuan Muda Yang Yang, ini demi kebaikan Anda!” teriak Yitian dari luar kamar.


“Barra! Cepat buka pintu ini, sialan kalian semua!” maki Zain semakin keras menggedor pintu tersebut.

__ADS_1


“Maaf, Tuan Muda. Saya tidak bisa membantu Anda, bertahanlah selama tiga hari ke depan!” jawab Barra dari balik pintu.


“Brengs*k kalian semua! Tunggu pembalasanku!” Zain menendang kasar pintu itu, ia telah dipermainkan oleh mereka berdua dan kini harus terjebak di dalam kamar tersebut tanpa kehadiran sang istri.


“Saya sudah menyediakan laptop yang sudah terhubung dengan CCTV di dalam kamar kakak ipar, semoga bisa mengobati rindu Anda terpisah selama tiga hari ke depan!” teriak Yitian.


“Cepat buka pintunya, Yitian!”


“Oh ya ... CCTVnya hanya bisa terakses dengan laptop itu saja, jadi Anda tidak perlu khawatir. Bye bye, jaga diri Anda baik-baik, Tuan Muda Yang Yang!”


“Yitian!!” Zain berteriak marah, ia mengacak-acak rambutnya frustrasi. Ia mengira bahwa karantinanya masih bisa tinggal berdua dengan sang istri, namun ia malah dijebak oleh dua cecunguk itu.


Mereka melanjutkan langkahnya menyusuri koridor Hotel tersebut meninggalkan kamar Zain yang masih samar terdengar makian keluar dari mulut tuan muda tersebut yang terkurung di dalamnya. Yitian kembali memperkenalkan dirinya kepada Zahra.


“Maafkan saya, Kakak Ipar. Jika tidak seperti itu piuko tidak akan mau berpisah dengan Kakak Ipar,” jelas Yitian.


“Piuko?” beo Zahra merasa asing dengan kata tersebut.


“Piuko artinya sepupu, Nona. tuan muda Yitian dan tan muda Zain, mereka adalah sepupu. Tuan besar Malik Ibrahim adalah kakak kandung dari ibunya tuan Yitian,” jelas Barra yang melihat kebingungan di wajah nona mudanya tersebut.


“Oh ... aku ingin tahu lebih banyak tentang keluarga daddy.” Zahra merasa ingin tahu, karena selama ini ia sama sekali tidak tahu menahu tentang keluarga dari suaminya tersebut, baik dari keluarga dari ibu suaminya ataupun keluarga dari ayah suaminya.


“Nanti akan tiba waktunya Anda mengetahui semuanya, Nona. Sekarang sebaiknya Anda istirahat terlebih dahulu.” Barra bukannya tidak ingin memberi tahu, namun ia merasa tidak pantas untuk menceritakan tentang keluarga tuannya tersebut.


“Ini kamar Anda, Kakak Ipar.” Yitian menghentikan langkah mereka di depan sebuah pintu, kamar yang akan ditempati oleh Zahra selama 3 hari ke depan.


“Baik, terima kasih Mr. Yitian,” ucap Zahra sopan, ia bingung harus memanggil sepupu suaminya itu dengan sebutan apa, karena ia sama sekali buta akan budaya dan bahasa China.


“Sama-sama Kakak Ipar, jika Anda membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk memberitahu kepada saya.”


“Baiklah.” Zahra tersenyum dan masuk ke dalam kamar namun langkahnya terhenti ketika Yitian melontarkan pertanyaan kepadanya.


“Kakak Ipar, apakah Anda tidak merasa gerah dengan berpakaian serba panjang di saat musim panas ini?” tanya Yitian yang sedari tadi merasa terusik dengan cara berpakaian kakak iparnya itu.


“Eh, i-itu ....”


*****


Yang gak suka visualnya boleh skip, oke.

__ADS_1


selamat membaca ☺️🥰



__ADS_2