
Seminggu berlalu, insiden yang terjadi di pesta Barra dan Yang Zi yang menimpa Zahra sempat mebuatnya kembali down karena teringat kejadian beberapa waktu lalu yang hampir membuatnya kehilangan kesuciannya oleh orang-orang yang disuruh oleh Clarisa.
Namun, kali ini berkat dukungan dan kesabaran dari suami serta keluarganya, Zahra dengan cepat dapat menangani traumanya tersebut.
Berbeda dengan Yang Zi yang mengalami pendarahan karena insiden yang menimpanya malam itu, ia kelelahan dan stres sebab pertemuannya dengan Mike yang tak pernah sekalipun terbayangkan olehnya.
karena hal tersebut, mengharuskan Yang Zi mendapatkan perawatan khusus dan harus menginap di rumah sakit untuk pemulihannya dan juga janinnya. Barra beserta kedua orang tuanya sangat memperhatikan kondisi Yang Zi, tuan Zhang Zhehan juga memutuskan untuk tinggal di Indonesia demi mengawasi perkembangan cucu kesayangannya tersebut.
“Bagaimana kondisi kamu, Sayang?” tanya sang kakek yang berdiri di samping brankar tempat Yang Zi berbaring.
“Sudah lebih baik, Yeye. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, hanya perlu sedikit istirahat pasti akan segera pulih kembali,” jawab Yang Zi sedikit canggung karena dia jarang berinteraksi langsung dengan kakeknya tersebut.
“Yeye tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk kembali menyentuhmu, yeye memutuskan untuk tinggal di sini selama masa kehamilan kamu.” Kakek membelai sayang kepala cucunya.
Sejak dulu Tuan Zhang Zhehan lebih menyayangi Yang Zi dari pada ketiga cucu laki-lakinya, namun sejak kecil Yang Zi memilih tinggal di asrama dari pada tinggal di rumah mewah keluarga Zhang.
“Tapi siapa yang akan mengurus perusahaan Yeye di China?” tanya Yang Zi canggung.
“Yeye sudah tua, sudah seharusnya yeye harus beristirahat dan menyerahkan semuanya kepada yang lebih muda. Yeye hanya perlu memantau anak-anak bodoh itu saja,” ucap kakek membuat Yang Zi mengernyitkan alisnya bingung.
“Ada si bodoh Hou Ming yang akan memegang perusahaan pusat di Beijing, dan si ceroboh Hu Yitian yang akan mengurus cabang di Hong Kong. Cabang lainnya sudah yeye serahkan kepada paman-paman kamu lainnya,” jelas sang kakek membuat Yang Zi terkejut karena kedua kakak sepupunya yang terlihat hebat dimatanya masih dianggap kurang dimata kakeknya. Bagaimana dengan dirinya yang sering membuat masalah?
“Bahkan koko kamu yang dingin dan arogan itu sedikit pun tidak mau menyentuh apa pun yang bersangkutan dengan daddynya dulu!” kesal sang kakek, sedangkan Yang Zi hanya menjadi pendengar yang baik untuk kakeknya, ia takut akan menjadi sasaran empuk kekesalan kakeknya.
“Seharusnya sudah sejak lama yeyemu ini sudah pensiun dari dunia bisnis ini! Seharusnya daddy kamu yang mewarisi semua perusahaan kakek, namun bocah nakal itu telah terlebih dahulu pergi meninggalkan ayahnya ini.” Yang Zi yang melihat kesedihan sang kakek juga merasakan sesak didadanya, mungkin kakeknya teringat akan sosok putra satu-satunya yang beliau miliki.
__ADS_1
Bahkan, Yang Zi lebih menyedihkan karena tidak bisa mengingat memori kebersamaannya dengan kedua orang tuanya. Ia juga tidak bisa mengingat dengan jelas wajah mereka jika tidak dibantu dengan beberapa foto yang masih tersimpan bersamanya, saat kejadian itu terjadi, usianya baru satu tahun dan ia harus kehilangan kedua orang tuanya.
“Yeye,” panggil Yang Zi lirih.
“Hmm, apa kamu merindukan orang tuamu?” tanya kakek merasa iba dengan nasib cucunya itu dan dijawab dengan anggukkan kecil dari Yang Zi namun masih bisa dilihat jelas oleh mata tajam kakeknya.
“Maafkan yeye Sayang, tak seharusnya kamu merasakan penderitaan ini sendirian,” bisik kakek di telinga Yang Zi yang sudah jatuh ke dalam pelukan kakeknya.
“Apa kakek membenciku?” tanya Yang Zi memberanikan diri.
Kakek melepaskan pelukannya dan menatap tajam ke arah Yang Zi membuat cucunya itu menundukkan kepalanya takut. “Pertanyaan bodoh apa itu? Tidak mungkin yeye membencimu, asal kamu tahu bahwa yeye sangat menyayangimu, bahkan yeye lebih menyayangimu dibandingkan ketiga kakak kamu yang bodoh itu!”
Mendengar penuturan kakeknya, Yang Zi langsung menegakkan kepalanya dan menatap penuh harap ke arah sang kakek.
“Yeye tidak membenciku?” tanya Yang Zi memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.
Yang Zi memeluk erat tubuh kakeknya, ia merasa begitu bahagia karena apa yang ia pikirkan tentang keluarga ayahnya tidaklah benar.
“Maafkan aku, yeye,” ucap Yang Zi lirih.
“Maaf untuk apa?”
“Maaf, karena selama ini aku berpikir yeye tidak menyukaiku dan membenci kehadiranku,” terang Yang Zi semakin mengencangkan pelukannya.
“Apa karena itu kamu tidak mau semua orang mengetahui asal-usulmu dan memilih tinggal di asrama?” selidik sang kakek.
__ADS_1
Yang Zi hanya mampu menganggukkan kepalanya meskipun ia tahu kakeknya tidak dapat melihat pergerakannya itu. Ia merasa bersalah kepada kakek dan keluarganya dan juga menyesali keputusannya dulu.
Mungkin jika ia tidak menjauh dari keluarganya dan memilih tinggal di rumah keluarga Zhang, kejadian yang menyeretnya hingga tumbuh janin pria brengsek yang ada di dalam perutnya tidak akan pernah terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur, menyesalinya pun kini tak ada gunanya, semuanya sudah terlanjur dan tak akan pernah bisa diubahnya lagi.
“Yeye, kenapa tadi yeye mengatai koko dan piuko (sepupu laki-laki) hal-hal buruk? Bukankah mereka sangat hebat?” tanya Yang Zi yang masih penasaran dengan sikap kakeknya.
“Siapa yang kamu katakan hebat? Mereka bertiga memang bodoh dan ceroboh, susah diatur, apalagi Yang Yang. Kokomu yang super arogan itu, membuat Yitian dan Hou Ming begitu mengaguminya dan meniru kejelekannya,” keluh sang kakek mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya.
“Tapi yeye sangat bersyukur karena koko kamu bertemu dengan gadis secantik dan selembut Zahra, yeye merasa tenang jika Yang Yang bersamanya. Bahkan yeye melihat koko kamu sudah banyak berubah dan cara dia memandangnya, yeye yakin bahwa Zahralah yang telah berhasil mencuri dan melunakkan hati koko kamu yang sekeras batu itu.”
“Mereka saling mencintai, semoga kebahagiaan selalu menyertai pernikahan mereka dan hanya maut yang akan memisahkan mereka berdua,” doa Yang Zi untuk kakak dan kakak iparnya. ‘Akankah suatu hari nanti aku akan mendapatkan cinta sepenuhnya darimu, ko?’ batin Yang Zi yang sadar bahwa cinta suaminya masih belum sepenuhnya diberikan kepadanya.
Dibalik pintu kamar rawat Yang Zi, berdiri dua orang yang sedari tadi ikut mendengarkan percakapan antara kakek dan cucu di dalam ruangan itu. Mereka adalah Zain dan Barra yang mengurungkan niat mereka untuk masuk ke dalam kamar karena tidak ingin mengganggu keduanya.
“Tuan, Anda tidak jadi masuk?” tanya Barra yang melihat kakak iparnya itu berbalik dan hendak pergi.
“Sampaikan saja salamku kepada mereka, aku sudah melihatnya baik-baik saja. Itu sudah cukup untuk menenangkan istriku,” jawab Zain dan berlalu meninggalkan Barra yang terbengong menatap kepergiannya.
...*****...
Hai semuanya, jangan lupa like, komen, votenya ya ... yang mau kasih gift tentu boleh banget 😁😁
Terima kasih sudah mampir ☺️
__ADS_1
Giveaway untuk 3 pendukung teratas, hasil akhir akan dilihat pada tanggal 31 Oktober mendatang ya...
Selamat membaca 🤗