Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 96. Gelisah


__ADS_3

Dua hari berlalu, baik Zain dan Ny. Amara tidak seorang pun keluar dari persembunyian mereka. Hal tersebut semakin membuat suasana di dalam mansion besar tersebut semakin sepi, ditambah Zahra yang harus ikut terkurung di kamarnya untuk merawat suaminya karena suhu tubuh Zain masih sering naik turun.


Apalagi Zahra sering mendengar igauan dari mulut suaminya saat tertidur yang memanggil-manggil daddynya dengan wajah yang berkerut. Entah mimpi apa yang menghantui suaminya beberapa hari ini, ingin sekali Zahra bertanya kepada suaminya namun ia urungkan karena takut akan menyinggung perasaan suaminya.


Beberapa kali Zahra ingin melihat keadaan ibu mertuanya, namun Ny. Amara tidak mengizinkan siapa pun masuk ke dalam kamarnya kecuali bi Nur untuk mengantarkan makanannya.


Di sinilah kini Zahra berdiri, termenung di balkon kamarnya mengabaikan dinginnya angin malam yang menerpa tubuhnya yang hanya berbalut gaun tidur tipis yang melekat di tubuhnya.


Pandangannya serasa kosong menatap langit yang masih gelap dihiasi bulan sabit dengan awan mendung yang berarak mengelilinginya, seakan menggambarkan perasaannya yang tengah dirundung kekalutan.


Zahra takut membayangkan hal yang beberapa bulan terakhir ia coba tepis dari pikirannya akan menjadi kenyataan.


‘Aku takut, Zain. Jika semua yang dikatakan penelepon itu benar, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa menjadi seperti mommy, yang begitu tangguh menutupi dan menghadapi kisah kelamnya selama ini.’


Zahra tahu bahwa semua aktivitasnya selalu dipantau oleh suaminya termasuk ponselnya. Ia pun tidak mempermasalahkan hal tersebut, namun beberapa kali ia melihat sesuatu yang membuatnya merasa tak nyaman.


Beberapa kali Zahra melihat ada pesan masuk dan melihat notifikasi pada layar ponselnya, namun belum sempat ia membukanya pesan tersebut sudah hilang bukan karena pengirim menghapus pesan tersebut, seperti tak pernah ada pesan yang masuk sebelumnya, hilang tanpa jejak.


‘Aku tahu kamu tak membiarkan istrimu membaca pesanku, apa kamu takut istrimu mengetahui masa lalumu?’


‘Apa jadinya jika istrimu mengetahui tentang wanita-wanita masa lalumu?’


“Huft!” Zahra menghela napasnya kasar, pesan-pesan dari nomor yang tak dikenalnya saling berputar dikepalanya.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Zahra lirih pada dirinya sendiri dalam kegelisahannya.


‘Kamu tidak perlu tahu dan jangan mencoba mencari tahu tentang Zain jika kamu tidak ingin terluka.’


Zahra memejamkan matanya ketika teringat perkataan Clarisa dulu ketika ia menanyakan tentang kepergian suaminya sesaat setelah pesta pernikahan mereka selesai.


‘Apa maksud dari perkataan mbak Clarisa dulu? Apa dia tahu sesuatu tentang Zain?’ batin Zahra semakin merasa gelisah akan ketakutannya.


Disela-sela lamunannya, Zahra dikejutkan dengan sepasang tangan kekar yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


“Kenapa kamu belum tidur, Honey?” tanya Zain tepat di telinga Zahra dan memeluk tubuh istrinya dari belakang menepis karak di antara keduanya.


“Kenapa kamu terbangun?” tanya Zahra balik mengabaikan pertanyaan yang dilontarkan suaminya.


“Aku tidak menemukan keberadaanmu disisiku, aku takut kamu pergi meninggalkanku, Honey,” ucap Zain lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya.


“Apa kamu mimpi buruk lagi?” tanya Zahra masih menatap langit mendung di atas sana.


“Masuklah, kembali tidur. Aku akan menemanimu.”


Zain menyadari kejanggalan pada istrinya, ia langsung melepas pelukannya dan menatap penuh selidik tubuh Zahra yang membelakanginya.


“Apa yang tengah mengganggu pikiranmu, Honey. Ceritalah, jangan kamu pendam seorang diri,” ucap Zain.


“Apa kamu masih mencemaskan keadaan mommy? Jika ya, tenanglah, dalam beberapa hari mommy pasti akan swgera membaik. Hanya butuh waktu untuknya untuk menenangkan diri,” jelas Zain pelan karena istrinya sama sekali tidak meresponsnya, ia yakin ada hal yang disembunyikan oleh Zahra bahkan istrinya itu tidak menyadari kedatangannya yang sudah beberapa menit lalu berdiri di belakangnya.


“Masuklah ke dalam, di sini udaranya dingin tidak baik untuk kesehatanmu. Apalagi kamu hanya mengenakan gaun tipis ini ... apa kamu sengaja ingin menggodaku?” Zain membalikkan tubuh istrinya agar saling berhadapan.


Zain mengangkat dagu istrinya dan menatap ke dalam manik matanya. “Kenapa, hmm?”


“Apa maksudmu, Zahra?” Zain terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan istrinya.


“Kamu tidak akan sama seperti daddymu, kan?” tanya Zahra membuat Zain menarik tangannya kasar dari wajah istrinya.


“Jangan sama kan aku dengan dia, Zahra! Aku tidak sama degannya!” bentak Zain membuat Zahra seketika terlonjak kaget.


“Honey, maaf ... maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu,” Zain segera menarik tubuh istrinya setelah menyadari kesalahannya, apalagi ia mendapati Zahra sudah menangis akibat ulahnya.


“Aku berjanji hanya ada kamu satu-satunya wanita dalam hidupku, selamanya hingga maut memisahkan kita.”


“Janji?” tanya Zahra dalam dekapan suaminya.


“Janji, mana mungkin aku mencari wanita lain sedangkan dirimu saja setiap hari aku makan bukannya berkurang malah semakin berisi,”  ucap Zain mencoba mengalihkan kesedihan istrinya.

__ADS_1


“Zain!” pekik Zahra, mungkin wajahnya akan terlihat merah jika saja tidak ia benamkan ke dada bidang suaminya.


“Sudah jangan sedih lagi, hanya kamu yang ada di dalam hatiku dan akan menjadi satu-satunya wanita yang akan melahirkan anak-anakku.”


“Akh!” Zahra terpekik ketika merasakan tubuhnya melayang berpindah dalam gendongan suaminya.


 “Zain turunkan aku! Kamu mau apa?”


“Aku lapar, Honey. Ingin memakanmu!” ucap Zain lalu berjalan masuk ke dalam kamar mereka.


...*****...


Keesokan paginya, Zain sudah rapi degan setelan kemejanya. Hari ini ia akan pergi ke perusahaan untuk menghadiri meeting dengan beberapa kliennya.


Meskipun Zahra sempat menahannya, namun Zain tetap kukuh untuk pergi. Bukan karena ia tidak mempercayakan pekerjaannya kepada Barra dan Ali, namun klien kali sedikit banyak maunya sehingga ia khawatir dengan Barra yang harus menangani klien tersebut sekaligus menangani istrinya yang tengah hamil dengan berbagai dramanya.


Bayangkan saja, beberapa minggu lalu Yang Zi datang ke kantornya dan menangis histeris mengatakan jika Barra tidak mencintainya dan masih memiliki perasaan kepada Hani, sedangkan kepadanya Barra hanya merasa iba dan kasihan saja.


Setelah ditenangkan oleh Zain dan Zahra, alasan Yang Zi menarik kesimpulan seperti itu karena selama menikah hampir selama 3 bulan Barra sama sekali tidak pernah menyentuhnya.


Beruntung Zahran masih tinggal di kota, Zahran menjelaskan bahwa Barra tidak menyentuhnya bukan karena dia tidak memiliki perasaan kepada Yang Zi, tapi Barra tidak boleh menggauli istrinya hingga istrinya itu melahirkan.


Karena kejadian tersebut, Zain menyuruh Barra untuk kembali mengambil cuti selama Yang Zi hamil. Namun kemarin dia sakit dan Barra harus menggantikannya.


“Kamu jangan ke mana-mana, setelah meeting selesai aku akan segera pulang. Mengerti?” tanya Zain sebelum masuk ke dalam mobilnya.


“Siap laksanakan, kapten!” jawab Zahra memberi hormat dengan tangan kananya.


“Kamu ya.” Zain tersenyum melihat istrinya yang kembali ceria.


“Ya sudah, aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah!”


Cup.

__ADS_1


Zain mengecup singkat bibir istrinya tanpa memedulikan keberadaan Ali dan beberapa pelayan dan penjaga yang berada di sekitar mereka.


__ADS_2