
“Le-lepaskan, a-aku mau mandi ...,” lirih Zahra dengan terbata-bata, jantungnya kembali berdebar tak beraturan dengan jarak mereka yang sedekat ini.
Zain mengabaikan permintaan istrinya tersebut, dengan sekali tarik tubuh Zahra sudah berada dalam dekapan suaminya.
“A-aku mau mandi, lepaskan!” cicit Zahra dengan suara tertahan. Sekuat tenaga ia mencoba mengontrol detak jantungnya, ada perasaan aneh yang menyerang tubuhnya ketika hembusan napas suaminya yang terasa menggelitik di leher belakangnya.
“Kamu tidak sabaran banget, Honey. Kita mandi bersama ya!” Zain mengeratkan pelukannya membuat Zahra semakin terkunci dan tidak bisa bergerak bebas.
“Atau ... kamu mau aku bantu mandi?” goda Zain semakin membuat wajah istrinya memerah sudah seperti kepiting rebus.
“Akh!” pekik Zahra merasakan sesuatu menusuk telinga kanannya.
“Kenapa menggigit telingaku?” kesal Zahra.
“Aku gemas ingin memakan kamu, Honey!” ucap Zain berhasil membuat Zahra bergidik ngeri.
“Akh!” teriak Zain dan melepaskan tubuh istrinya dari pelukannya.
Zahra menggunakan kesempatan tersebut untuk lari dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
“Zahra! Dasar bocah nakal! Awas kamu ya!” teriak Zain kencang hingga terdengar oleh Zahra yang berada di dalam kamar.
“Maaf, pasti sakit rasanya. Salah siapa mengatakan ingin memakanku! Aku manusia bukan makanan untuknya, apa dia kanibal?” tanya Zahra lalu bergidik ngeri.
Kemudian Zahra melanjutkan aktivitasnya untuk membersihkan tubuhnya dari keringat, tubuhnya terasa lengket dan sedikit pegal karena seharian sibuk mengurus acara syukuran untuknya.
Sementara Zain kembali duduk di sofa sambil mengibaskan tangannya. Pergelangan tangannya terlihat memerah dengan bekas gigitan dari istrinya.
“Dasar gadis nakal! Tunggu saja pembalasanku!” gerutu Zain merasa kesal dengan sikap istrinya.
Beberapa saat kemudian, Zahra sudah menyelesaikan mandinya, ia keluar dari kamar mandi dengan mengendap-endap berharap tidak melihat keberadaan suaminya.
Dengan memakai bathrobe panjang yang membungkus seluruh tubuhnya serta sebuah handuk yang melilit di kepalanya, Zahra berjalan menuju walk in kloset. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang menatapnya tajam dengan seringai tipis mengembang di wajahnya.
“Akh! Apa-apaan ini!” teriak Zahra karena tidak mendapati satu pun pakaian yang layak untuk ia kenakan.
“Kenapa semua pakaian kurang bahan ini ada di sini? Aku sudah memisahkannya tadi siang, dan ke mana semua pakaian panjangku!”
Zain menghampiri istrinya dan memasang wajah terkejutnya, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi kepada Zahra. “Ada apa, Honey? Kenapa malam-malam kamu teriak sekencang ini?”
Zahra menatap tajam kepada suaminya, lalu perlahan melangkah mundur beberapa langkah.
“Stop! Jangan mendekat, kamu kanibal! Aku tidak mau menjadi makananmu!” ucap Zahra panik.
“Hah!” Zain terkejut mendengar perkataan istrinya.
“Bodoh! Aku bukan kanibal!” ucap Zain kesal lalu menjitak kepala istrinya.
“Jangan bohong! Tadi kamu sendiri yang mengatakan ingin memakanku!” ucap Zahra masih dengan wajah pucatnya.
“Huft!” Zain mengembuskan napasnya kasar.
__ADS_1
“Ck! Kenapa kamu sangat polos sekali, Zahra!” ucap Zain gemas lalu mengacak rambut istrinya.
“Kenapa aku bisa menikah dengan bocah sepertimu!” gerutu Zain lirih dan mengacak rambutnya sendiri.
“Kamu mengatakan apa?” tanya Zahra karena mendengar suaminya yang menggerutu tidak jelas.
“Tidak, aku tidak berkata apa pun,” elak Zain.
“Oh.”
“Kenapa kamu menjerit tengah malam?”
“Emh, i-itu ... aku tidak menemukan pakaian panjangku,” lirih Zahra dengan menunjuk pakaian yang tergantung di depan mereka.
Zain mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? Apa ada yang salah?
“Aku sudah memisahkan pakaian ini, kenapa bisa ada di sini? Siapa yang menjual pakaian seperti ini? Dan bodohnya juga kenapa ada orang yang membelinya!” gerutu Zahra tanpa menyadari bahwa suaminya menyunggingkan senyum tipisnya.
“Gila! Tidak mungkin aku memakai pakaian tipis dan transparan seperti ini!”
“Apa salahnya jika kamu mencobanya, pasti akan terlihat semakin cantik,” goda Zain.
“Hii, aku masih waras ya, siapa juga yang mau memakainya! Apaan ini?” Zahra mengangkat pakaian tersebut di hadapan suaminya.
Zahra menautkan kedua alisnya. “Ini baju atau jaring ikan?” tanyanya polos.
“Kamu tidak tahu guna baju ini?” tanya Zain tidak percaya.
“Lihat ini!” perintah Zain lalu menyodorkan ponselnya yang menampilkan gambar wanita dengan berbagai pose dengan memakai lingerie di tubuh mereka.
Bruk!
“Akh! Apa-apaan ini? Menjijikkan! ” teriak Zahra dengan wajah syok bersamaan dengan ponsel Zain yang terjatuh ke lantai.
“Ini namanya lingerie, mulai malam ini kamu harus memakainya setiap malam! Jika tidak, aku tidak akan mengembalikan pakaian lain milikmu!” tegas Zain tanpa ingin dibantah.
Zain mengambil ponselnya lalu meninggalkan istrinya yang masih terlihat syok. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
‘Terima hukumanmu bocah nakal!’ batin Zain dengan menyunggingkan senyum menyeringai di wajahnya.
Zain mengingat kejadian tadi siang saat memergoki bi Nur membawa tas berisi pakaian istrinya, ia lalu meminta bi Nur untuk menukar pakaian panjang milik istrinya dengan dress mini dan lingerie yang sudah dipisahkan oleh Zahra.
Sepeninggal suaminya, Zahra dengan terpaksa memakai lingerie tersebut. Ia bergidik ngeri melihat pantulan tubuhnya di depan cermin.
‘Mana mungkin aku tidur hanya dengan pakaian dalam seperti ini, bisa masuk angin nanti,’ batin Zahra lalu meraih bathrobe baru di gantungan dan memakainya.
20 menit kemudian Zain keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang menutup tubuh bagian bawahnya, rambutnya ia biarkan basah menambah ketampanannya.
Zain melirik ke arah tempat tidur, di mana sosok sang istri tidur di atasnya dengan selimut tebal yang membungkus seluruh tubuh mungilnya.
“Ck! Aku tahu kamu belum tidur, jangan membodohiku gadis kecil!” ucap Zain lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dan menarik kasar selimut di depannya.
__ADS_1
“Aku menyuruhmu memakai lingerie, kenapa kamu masih memakai bathrobe itu?” kesal Zain.
“Akh! Ke-kenapa kamu tidak berpakaian!” pekik Zahra dengan menutup rapat kedua matanya.
“Kenapa kamu suka sekali berteriak? Cepat bangun, bantu aku mengeringkan rambutku!”
Zain menarik paksa istrinya agar terduduk lalu memberikan handuk kecil ke tangan Zahra. Ia pun duduk di tepi ranjang dan mulai menyuruh Zahra untuk mengeringkan rambutnya dengan menggosok-gosoknya dengan handuk.
“Kenapa kamu berteriak melihatku? Kamu malu?” goda Zain.
“Eh, Ti-tidak.” Zahra mengelak namun suaranya tidak dapat berbohong.
“Kamu menyukai tubuhku bukan?”
“Tidak!” jawab Zahra cepat.
“Jangan suka berbohong, Honey. Kamu bahkan menikmati tubuhku malam itu.”
Plak!
Zahra refleks memukul punggung suaminya lalu melempar handuk ditangannya ke sembarang arah.
“Jangan marah, Honey.”
Zain mencegah istrinya yang hendak kembali bersembunyi ke dalam selimut dengan menarik tangannya.
“Lepaskan, aku ingin tidur.”
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mengganti bathrobe itu dengan lingerie!”
“Aku sudah memakainya.”
Mendengar perkataan istrinya, Zain dengan cepat menarik bathrobe yang dipakai istrinya mencoba untuk melepaskannya, namun Zahra dengan sekuat tenaga mempertahankan bathrobe itu agar tidak lepas dari tubuhnya.
Mereka berdua saling berebut dan berakhir dengan Zahra yang harus menerima kekalahan karena tenaganya tidak sebanding dengan suaminya.
“Diam! Jangan bergerak sedikit pun jika tidak ingin membangunkan sesuatu yang bisa menerkammu!” ucap Zain yang tengah memeluk tubuh istrinya dari belakang.
“Tidurlah! Jangan banyak bergerak!” tegur Zain karena merasakan istrinya bergerak gelisah dalam pelukannya.
Zahra terlihat gelisah karena selama ini ia tidak mengetahui bahwa setiap malam ia tertidur dalam pelukan suaminya.
“Tidurlah! Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku hanya ingin memelukmu saja.”
Dengan sekuat tenaga Zain menahan sesuatu yang bergejolak dari dalam tubuhnya, bagaimanapun juga ia adalah pria normal dan Zahra adalah istri sahnya. Namun Zain tidak ingin egois dengan memaksa istrinya, ia akan menunggu hingga Zahra siap menerimanya kembali.
Tak lama kemudian Zain merasakan napas istrinya yang beraturan, pertanda bahwa Zahra sudah terlelap dari tidurnya.
Cup.
Zain mengecup kepala istrinya dan menarik selimut yang sedikit tersingkap ke bawah, menutup tubuh mereka berdua lalu ia ikut memejamkan matanya.
__ADS_1