
Di ruang tamu berukuran 4x4 meter tersebut, terlihat beberapa orang duduk diam dalam kecanggungan.
Suasana semakin canggung ketika sang pemilik rumah salah paham dengan maksud kedatangan tamunya.
“Tidak!” seru wanita paruh baya dengan pakaian sederhananya dengan spontan.
“Maaf, Nyonya. Bukannya saya tidak sopan atau tidak menghargai niat baik keluarga Anda,” lanjutnya.
“Saya hanya memiliki satu anak perempuan saja. Meskipun kami sangat menginginkan dia untuk segera menikah, tapi ... saya tidak rela jika dia hanya dijadikan istri kedua putra Anda.”
Semua orang di ruangan itu saling melempar pandang tak percaya mendengar apa yang diucapkan oleh pemilik rumah.
“Ma! Apa yang mama ucapkan?” bisik Tania yang duduk di samping ibunya, ia merasa malu dengan keluarga tuan mudanya yang berkunjung ke rumahnya untuk melamarnya.
“Apa? Memangnya kamu mau menjadi istri kedua tuan Zain?” bisik ibu Salma sambil mencuri pandang ke arah Zain dan Zahra yang duduk bersebelahan.
“Kamu lihat istrinya! Cantik dan masih sangat muda, kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dia!” ejek ibu Salma masih dengan saling berbisik.
‘Mama apa-apaan sih, bikin malu saja!’ gerutu Tania dalam hati.
“Ma, dengarkan Tania dulu ... mereka datang untuk melamar-”
“Pokoknya mama tidak setuju!” tolak ibu Salma tegas membuat semua orang menatap ke arahnya.
“Ma!” panggil Tania tak sabar.
Sedangkan papanya duduk di ujung sofa menyimak dalam diam tak ingin gegabah dalam memberikan keputusan.
“Apa? Mama memang mendesak kamu agar segera menikah. Tapi tidak menjadi istri kedua juga, Tania!” ibu Salma masih kekeh menolak tanpa mau mendengarkan penjelasan dari putrinya itu.
‘Aku tidak rela jika putriku hanya menjadi istri kedua, meskipun tuan Zain sangat kaya tapi aku tidak akan mengorbankan putriku menderita!’ batin ibu Salam tidak suka.
“Ma!” Tania memegang bahu ibunya dengan kedua tangannya hingga mereka saling berhadapan.
“Dengarkan Tania baik-baik dan jangan menyelanya, oke!” ucap Tania tegas.
__ADS_1
“Ny. Amara dan tuan Zain datang ke rumah kita memang untuk melamar Tania, tapi bukan untuk menjadi istri kedua tuan Zain, Ma!” jelas Tania cepat takut ibunya akan memotong kalimatnya kembali.
“Apa? Coba kamu ulangi lagi!” perintah ibu Salma ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
“Mereka datang melamarku, tapi bukan untuk menjadi istri keduanya tuan Zain!” ulang Tania dengan suara lantang.
Ibu Salma terlihat bingung mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
“Maaf, Nyonya ... Tuan Zain, Nona Zahra, maaf atas ketidak nyamanannya,” ucap tuan Toni merasa tidak enak kepada tamu mereka.
“Tidak apa-apa, Pak Toni,” balas Ny. Amra menahan senyum.
Jika saja yang bertamu Ny. Amara satu tahun yang lalu, mungkin sudah terjadi perang mulut di antara kedua wanita paruh baya tersebut. Berkat kehadiran Zahra, Ny. Amara sudah banyak berubah dan jauh lebih baik dalam bertindak.
“Maaf, Nyonya.” Ibu Salma merasa sangat malu karena sudah salah paham terhadap maksud baik tamunya itu.
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Ehm, jika Anda bukan melamar untuk putra Anda, lalu untuk siapa?” tanya ibu Salma bingung, pasalnya putrinya hanya datang bersama Ny. Amara, Zain, dan juga Zahra.
Beberapa saat lalu.
Sesampainya di rumah Tania, pak Budi memilih untuk menunggu di dalam mobil setelah selesai membantu mengeluarkan dan memasukkan barang hantaran ke dalam rumah Tania.
“Maksud kedatangan kami bersilaturahmi ke rumah ini membawa niat baik untuk keluarga bapak dan ibu,” ucap Ny. Amara memulai percakapan.
“Kami ingin melamar putri ibu, Tania.”
“Tidak!”
Ny. Amara tersenyum menatap ke arah ibu Salma yang merasa salah tingkah.
“Bu Salma, saya ingin mewakili kedua orang tua Ali yang sudah tiada untuk melamar Tania untuknya,” ucap Ny. Amara penuh wibawa.
“Ali? Apa Ali yang itu?” ibu Salma menata ke arah Tania meminta penjelasan.
__ADS_1
“Iya, Ma. Ali yang itu, yang dulu sering datang ke rumah dan sering mama suruh membantu mengecat tembok bahkan membenarkan atap rumah yang bocor,” jelas Tania mengingat masa-masa kuliahnya dan dulu Ali sering berkunjung ke rumahnya.
“Kamu dan dia-” ibu Salma menggantungkan ucapannya.
“Iya, Ma ... kami masih bersama, dan maaf karena tidak mengatakannya kepada Mama.”
“Lalu kenapa sekarang dia tidak pernah datang lagi? Apa takut jika mama suruh-suruh dia lagi?”
“Bukan begitu, Ma. Ali sibuk dengan pekerjaannya, dan Tania juga menyuruhnya untuk tidak datang ke rumah,” ucap tania lirih.
“Kenapa?” tanya ibu Salma penasaran, begitu pun dengan semua orang yang ikut menyimak percakapan mereka.
“Ehm, Tania takut Mama akan mendesaknya agar segera menikahi Tania.”
“Kamu ya!” ibu Salma memukul pelan lengan Tania merasa kesal dengan keputusan putrinya itu.
Selama ini ibu Salma selalu menghawatirkan tentang masa depan putrinya itu yang belum juga menikah di usianya yang menginjak 29 tahun. Ibu Salma bahkan sibuk menjodoh-jodohkan Tania dengan anak dari teman-temannya.
“Maaf, Ma. Itu karena ....”
Tania menjelaskan kenapa ia tidak mengatakan hubungannya dengan Ali, Tania takut ibunya akan terus mendesak Ali sedangkan Ali sendiri masih harus membiayai ketiga adiknya.
“Lalu kemana perginya anak itu?” tanya ibu Salma dengan wajah kesal.
Bagaimana tidak? Hari ini ada keluarga yang datang ke rumahnya dan melamar putrinya, namun pria yang bersangkutan justru sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
“Ali dalam perjalanan ke sini, Ma.” Tania mencoba menjelaskan kepada ibunya.
“Ali tadi mengantarkan sepupu Zain ke bandara, Bu. Dan dia terlambat datang karena terjebak macet dalam perjalanan kesini,” ucap Zahra membantu menjelaskan kepada ibu Salma karena merasa kasihan meliwat wajah Tania yang seperti tertekan.
“Oh, begitu.” Ibu Salma menganggukkan kepalanya pelan mendengar penjelasan Zahra.
“Lalu apa jawabannya, Ma? Mama merestui kami, kan?” tanya Tania penuh harap.
“Nanti saja jika Ali sudah datang, mama akan memberikan jawabannya!” putus ibu Salma.
__ADS_1
“Ma ....” Tania kembali murung, namun setidaknya ia merasa lega karena sudah menjelaskan semuanya kepada orang tuanya.
“Kalau begitu, sembari menunggu kedatangan Ali, sebaiknya kita makan dulu, Tuan, Nyonya,” ajak tuan Toni.