
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, sudah 1 jam lebih Ali berdiri di depan pintu penjemputan terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Namun ia belum juga menemukan orang yang dicarinya, padahal jadwal kedatangan pesawat yang di tumpangi orang yang ia tunggu sudah tiba 30 menit lalu.
“Kemana perginya tuan muda? Apa terjadi sesuatu dengan tuan muda Yitian?” tanya Ali karena ia sama sekali tidak mendapat pesan keberadaan Yitian.
“Apa tuan Yitian ketinggalan pesawat? Atau dia sudah pulang terlebih dahulu? Tapi aku sama sekali tidak melihatnya keluar dari pintu itu.” Banyak pertanyaan yang Ali pikirkan, bahkan ia belum sarapan agar tidak terlambat menjemput sepupu tuan mudanya itu.
Ali mengambil ponsel miliknya di dalam saku celananya, ia membukanya dan mencari kontak Yitian. Berulang kali Ali mencoba menghubungi Yitian namun nomor Yitian sama sekali tidak bisa dihubungi.
“Anda dimana, tuan? Tolong jangan menyusahkan saya,” keluh Ali.
Bukannya ingin mengeluh, tapi ia masih memiliki banyak pekerjaan yang belum terselesaikan dan kini harus tertunda karena harus menjemput Yitian yang semalam disuruh Zain untuk segera datang menemuinya.
Drrrttt.
Ali kembali meraih ponselnya yang berdering, terlihat nama Tuan Muda tercetak pada layar ponselnya tanda bahwa tuannya menghubunginya.
“Hallo, Tuan. Selamat pagi,” sapa Ali membuka percakapan.
‘Pagi, apa kamu sudah bersama bocah itu?’ tanya Zain dari seberang telepon.
“Belum, Tuan. Saya tidak bisa menghubungi nomor tuan Yitian,” jawab Ali sopan.
‘Dasar bocah tengik!’ maki Zain yang ditujukan untuk Yitian.
“Maaf, Tuan?” tanya Ali bingung, ia takut melakukan kesalahan yang membuat tuannya marah.
‘Bukan kamu yang aku maksud. Sudahlah, tinggalkan saja bocah itu!’ perintah Zain.
“Tapi, Tuan-”
‘Aku ada tugas lain untuk kamu!’ ucap Zain cepat memotong kalimat Ali yang belum terselesaikan.
“Baik, Tuan.” Ali diam menunggu Zain mengatakan tugas barunya.
‘Sayang, apa Ali sudah sarapan?’ terdengar suara Zahra dari seberang telepon.
‘Kenapa kamu memikirkan dia? Kamu berani memikirkan pria lain disaat ada aku di depan kamu, Honey?’ suara Zain terdengar tidak suka.
‘Ish! Kenapa kamu cemberut seperti itu? Aku hanya sekedar bertanya saja!’
‘Kenapa jadi kamu yang marah, Honey?’
‘Zain!’
‘Apa?’
‘Suruh Ali sarapan dulu jika dia belum sarapan!’ Suara Zahra terdengar semakin menjauh.
‘Honey! Kamu berani terang-terangan memperhatikan pria lain di depanku!’ teriak Zain membuat Ali menjauhkan ponselnya yang sedari tadi masih ia tempelkan di telinganya.
‘Gawat! Sepertinya akan ada bom waktu yang akan segera meledak,’ batin Ali waswas, ia ingin menghindar dari masalah sepasang suami istri di seberang telepon itu namun Ali juga tidak berani memutuskan sambungan telepon itu begitu saja.
‘Kamu dengar, Ali!’ seru Zain ketus.
“Iya, Tuan.”
‘Apa jawaban kamu?’
__ADS_1
“Eh, emh ... saya belum sarapan, Tuan.” Ali menjawabnya dengan ragu.
‘Setelah sarapan kamu pergi ke kampus istriku jemput paksa kedua teman barunya itu!’ perintah Zain dengan suara dingin membuat Ali menelan salivanya kasar.
“Baik, Tuan.”
‘Satu lagi!’
“Apa, Tuan.” Ali menunggu dengan cemas.
‘Tunggu hukuman untuk kamu!’
Tut! Tut!
Zain memutuskan panggilan tersebut begitu saja membuat Ali menghela napasnya panjang.
“Huft! Nona, kenapa Anda menambah masalah untuk saya?” tanya Ali dengan wajah melasnya. “Hebatnya tuan Barra sejak dulu tidak pernah mengeluh sedikit pun dengan pekerjaannya.”
Ali merasakan pekerjaannya kali ini lebih berat dan menantang dibandingkan dengan tugasnya yang dulu hanya sebagai sekretaris saja. Baru beberapa bulan menggantikan posisi Barra, Ali sudah berulang kali merasakan naik wahana roller coaster kehidupan yang sesungguhnya.
Ali meninggalkan tempat itu menuju tempat parkir untuk menjalankan tugas barunya. Sedangkan di dalam Bandara, Yitian terlihat tengah duduk di salah satu kursi tunggu yang tersedia dengan koper di sampingnya dengan mata terpejam.
...*****...
Ulfa dan Ria tengah berjalan bersama di depan kampus, namun langkah mereka terhenti ketika seseorang memanggil nama mereka berdua.
“Nona Ria, Nona Ulfa!” panggil Ali yang sedari tadi berdiri di depan mobilnya yang terparkir di depan kampus menunggu kedatangan mereka berdua.
“Ehm, siapa ya?” tanya Ulfa bingung, ia sama sekali tidak mengenali pria berpenampilan rapi di depannya itu. “Apa kamu mengenal dia, Ria?” tanyanya.
“Maaf, mengganggu waktu kalian. Perkenalkan nama saya Ali, asisten tuan Zain Malik Ibrahim,” ucap Ali memperkenalkan diri.
Mendengar nama yang disebutkan Ali, kedua gadis itu terkejut dengan mata yang membola tak percaya.
“Si-siapa tadi yang Anda maksud, apa benar tuan Zain Malik yang itu?” tanya Ulfa memastikan.
“Benar Nona, dan saya mendapat perintah langsung dari tuan Zain untuk membawa kalian berdua ke mansion utama.”
“Apa?” Ulfa dan Ria berteriak saking terkejutnya, mereka tidak menyangka bahwa tuan Zain Malik yang terkenal di kampus mereka mengenal mereka bahkan mengundang mereka berdua untuk berkunjung ke rumahnya.
Beberapa mahasiswa di sekitarnya sampai menatap ke arah mereka karena teriakan kedua gadis itu.
“Maaf,” ucap Ria tidak enak hati kepada teman-temannya yang terganggu oleh mereka berdua.
“Maaf, Tuan. Tapi kami tidak bisa ikut dengan Anda, kami harus mengikuti mata kuliah sebentar lagi,” tolak Ria halus lalu menarik tangan Ulfa dan mengajaknya pergi.
“Ria, tunggu! Kenapa kamu menarikku? Bukankah ini kesempatan emas? Kita bisa bertemu dengan tuan Zain, kapan lagi kita akan mendapatkan kesempa-”
“Apa kamu percaya begitu saja dengan pria itu? Bahkan kita sama sekali tidak mengenal mereka!” tegas Ria memotong kalimat Ulfa, ria merasa takut melihat banyaknya pengawal yang berdiri di belakang Ali.
“Siapa tahu itu hanya alasan mereka saja, apa kamu tidak merasa takut jika mereka menculik kita dan menjual kita lalu- Ah! Membayangkannya saja aku sudah merinding!”
Mendengar perkataan sahabatnya, Ulfa hanya diam dan menurut saja saat Ria menyeretnya agar berjalan lebih cepat.
Siapa juga yang tidak merasa takut jika tiba-tiba dihadang oleh segerombolan pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam dan mengajak pergi bersamanya, sedangkan kenal saja tidak.
Ria semakin menarik tangan Ulfa, ia benar-benar merasa takut apalagi beberapa pria tadi mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
“Lari, Fa!” seru Ria berlari kencang diikuti Ulfa di belakangnya tanpa melepaskan pegangan tangan mereka.
Namun Ria dan Ulfa tidak menyadari jika di depan gerbang ada mobil hitam yang terparkir indah di sana. Tepat ketika mereka berdua melintas di samping mobil tersebut pintu mobil itu terbuka dan mereka berdua di tarik masuk ke dalamnya.
Grep!
“Akh!” teriak Ulfa dan Ria bersamaan.
“Maaf Nona, saya terpaksa harus melakukannya karena kalian berdua tidak bisa diajak kerja sama,” ucap Ali yang duduk di kursi penumpang di depan.
“Tuan, tolong lepaskan kami! Kami bukan orang kaya, orang tua kami pasti tidak akan bisa memberikan uang yang kalian inginkan,” racau Ulfa, tidak seperti tadi yang mempercayai Ali sepenuhnya, kini ia merasa ketakutan setelah mendengar perkataan Ria tentang penculik.
“Tuan, jangan jual kami! Kami tidak mau jika harus menjadi pelayan om-om.” Ulfa semakin kacau, ia teringat beberapa kasus tentang perdagangan manusia yang dijadikan pelacur.
Ali dan beberapa pengawal lainnya sekuat tenaga menahan tawa mendengar racauan Ulfa, sedangkan Ria hanya terdiam dan menangis tanpa suara di sebelah Ulfa.
Sepanjang perjalanan kedua gadis itu semakin ketakutan apalagi saat mobil memasuki jalan sepi yang kiri kananya hanya ada pepohonan lebat. Lebih tepatnya bisa disebut jalan di tengah hutan, jalan satu-satunya menuju mansion utama.
Sedangkan Ali dan teman-temannya sengaja tidak memberi penjelasan kepada keduanya karena merasa terhibur dengan tingkah Ulfa yang selalu memohon dengan kata-kata yang terdengar lucu.
“Ria,aku menyesal tadi sempat tidak mempercayai kamu. Bagaimana nasib kita selanjutnya?” tanya Ulfa setengah berbisik.
“Entahlah, Fa. Aku juga tidak bisa berpikir apa pun, bahkan kita sudah berada di tengah hutan.”
“Diam kalian! Jangan berisik!” tegur salah satu pengawal yang tadi mengambil tas keduanya dan menyembunyikannya.
Tak lama kemudian, mobil tersebut sampai di mansion utama. Ali dan yang lainnya keluar dari mobil namun tidak dengan Ria dan Ulfa yang enggan untuk bergerak.
Ali membuka pintu belakang mobilnya. “Keluar kalian!” perintahnya.
Karena tidak menurut, Ali menarik keduanya untuk keluar dari dalam mobil.
Melihat rumah besar di depan mereka, kedua gadis itu terpana hingga melupakan ketakutan yang sedari tadi menghantui mereka.
“Wah, indahnya! Besar sekali rumah ini!” ucap Ulfa dengan mata berbinar menatap takjub bangunan megah itu.
“Apa ini yang dinamakan istana yang tersembunyi?” tanya Ria tak kalah takjub dari sahabatnya.
Keduanya menyapukan pandangan mereka mengamati setiap sudut bangunan itu, indah bak istana di negeri dongeng yang dulu sering mereka baca sewaktu kecil.
“Cepat jalan!” seru salah satu pengawal membuyarkan lamunan keduanya.
Deg!
Ria dan Ulfa yang mulai tersadar kembali dilanda rasa takut. Dengan langkah berat mereka berjalan mengikuti pengawal yang membawa mereka masuk ke dalam rumah.
Betapa terkejutnya mereka berdua ketika mendapati Tania orang yang selam ini mereka kenal menyambut kedatangan mereka berdua di depan pintu.
“Selamat datang Ul-”
“Tania!” pekik Ria dan Ulfa bersamaan memotong perkataan Tania yang ingin menyambut keduanya.
“Apa kamu bagian dari mereka?” tanya Ulfa tak percaya.
“Ya,” jawab tania cepat membuat Ulfa dan Ria semakin terkejut.
“Astaga! Aku kira kamu orang baik, tapi ternyata kamu-” Ulfa tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Pikirannya kacau membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi kepada mereka berdua.
__ADS_1