Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 117. Apa Wajahku Terlihat Menakutkan?


__ADS_3

Di dalam ruang keluarga, Zain duduk dengan memasang wajah datarnya menatap dua orang yang berdiri mematung dengan wajah pucatnya. Sedangkan Zahra duduk di sampingnya suaminya dengan tangan Zain yang memeluk pinggangnya sedari tadi.


Untuk pertama kalinya Zain  mengudang orang luar untuk mengunjungi istana tersembunyi miliknya. Dan Zahra yang merasa canggung dengan suasana yang menegangkan itu, ia tidak tahu jika kedua sahabatnya akan bertamu ke rumahnya.


Jika bukan karena istri tercintanya yang selalu merengek merasa bosan berada di rumah dan ingin segera kembali kuliah, Zain tidak akan membiarkan orang luar memasuki istananya itu.


Ria dan Ulfa sejak masuk ke dalam ruang keluarga merasa syok dan masih setengah percaya bahwa sahabatnya yang selama ini mereka kenal dengan kehidupannya yang sederhana ternyata merupakan istri orang nomor satu yang dikagumi di kampus mereka.


“Kenapa kalian berdua hanya berdiri saja?” tanya Zahra mencoba mencairkan suasana.


Ria dan Ulfa diam tak merespon Zahra yang mengajak mereka bicara. mereka berdua merasa takut, bingung, senang dan malu bercampur menjadi satu.


Takut jika mereka pernah melakukan kesalahan kepada Zahra dan gaun Zain yang dirumorkan akan kekejamannya itu akan memberikan hukuman untuk keduanya.


Bingung harus bersikap seperti apa dan merasa bahagia karena akhirnya bisa melihat langsung suami dari sahabatnya yang selama ini membuat mereka bertanya-tanya akan sosok suaminya Zahra, dan betapa mengejutkannya bahwa Zain Malik Ibrahim-lah suami dari sahabat mereka.


Malu mengingat tingkah mereka yang seperti kebakaran jenggot sepanjang perjalanan menuju tempat ini.


“Tania, suruh mereka berdua untuk duduk.” Zahra menyuruh Tania karena melihat keduanya sama sekali tak bergerak.


“Baik, Nona.”


Tania berjalan mendekat ke arah Ria dan Ulfa lalu menuntun mereka untuk duduk di sofa di depan sepasang suami istri itu.


“Cepat duduk,” ucap Tania lirih namun dengan nada penekanan disuaranya.


“Eh, i-iya.” Keduanya terlihat semakin gugup apalagi Zain tak melepaskan pandangannya kepada mereka berdua.


“Duduklah,” ucap Zahra sopan.


“Ba-baik, Nona. Terima kasih.”


“Jangan memanggil aku seperti itu, panggil saja seperti biasa. Aku lebih suka kalian memanggilku dengan nama asliku tanpa embelan apa pun!”


“Iya Non-”


“Zahra!” seru Zain mengagetkan semua orang di ruangan itu. “Apa kalian tidak mendengarnya? Istriku menyuruh kalian untuk memanggil namanya!”


“Maaf, Tuan.” Ria dan Ulfa semakin ketakutan, ternyata memang benar rumor yang beredar di luaran sana tentang tuan Zain yang menakutkan.


“Sayang, jangan menakuti mereka!” peringat Zahra merasa kasihan melihat wajah pucat kedua sahabatnya itu.


“Siapa yang menakuti mereka? Aku hanya sekedar mengingatkannya saja,” ucap Zain tak terima dituduh menakuti kedua gadis di depannya itu.

__ADS_1


“Tapi ekspresi wajah kamu membuat mereka takut!” kesal Zahra.


“Ali!”


“Ya, Tuan Muda.”


“Apa wajahku menakutkan?” tanya Zain menatap tajam ke arah Ali.


“Tidak, Tuan.” Ali menjawabnya dengan sangat meyakinkan.


“Tania!” panggil Zain.


“Ya, Tuan Muda.”


“Apa kamu takut melihat wajahku?” tanya Zain masih dengan ekspresi yang sama.


“Tidak, Tuan.” Tania menjawabnya dengan cepat. “Wajah Anda sangat tampan,” lanjutnya lirih namun masih terdengar oleh penghuni ruangan tersebut.


“A-apa?” tanya Tania bingung karena semua orang menatap ke arahnya, ia tak sadar jika ucapannya yang terakhir masih bisa didengar oleh semua orang.


“Siapa yang kamu bilang tampan, Tania?” tanya Zahra menahan tawanya melihat kepanikan di wajah Tania.


“Eh, ma-maaf, Nona.” Tania menundukkan wajahnya malu, apalagi ia ketahuan mengagumi ciptaan Tuhan di depan sang pemilik wajah.


“Nona ....”


“Maaf Tania, aku tidak menertawakan kamu.” Zahra berusaha menghentikan tawanya namun gagal karena melihat wajah Zain yang ditekuk karena tahu bahwa dirinya yang tengah menjadi bahan tertawaan istrinya itu.


“Maaf, Sayang. Aku hanya teringat sesuatu saja,” ucap Zahra yang mendapat tatapan tajam dari suaminya.


“Zain!” panggil Ny. Amara yang datang dari arah luar.


“Apa yang sedang kamu lakukan? Cepat pergi dan biarkan mereka melepas rindu bersama!”


“Tapi, Mom-”


“Cepat! Jangan mengganggu menantu mommy dan teman-temannya!”


Ny. Amara menarik paksa tangan putranya memberikan waktu untuk Zahra bisa bersama teman-temannya.


“Di mana Yitian?” tanya Ny. Amara setelah berhasil menyeret putranya menjauh dari ruang keluarga.


“Kenapa Mommy menanyakan bocah itu kepadaku?” tanya Zain pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Bugh!


“Akh! Sakit, Mom!” seru Zain dan mengusap bahunya yang mendapat pukulan dari ibunya.


“Jangan pura-pura bodoh kamu! Jangan kira mommy tidak tahu semalam kamu mengancam Yitian agar segera datang kesini!” marah Ny. Amara.


“Ck! Apa yang bocah itu adukan kepada Mommy?”


“Cepat jemput dia di bandara!” perintah Ny. Amara.


“Biarkan Ali yang menjemputnya!” Zain hendak kembali menyusul istrinya namun tangannya segera ditarik oleh ibunya kembali.


“Mau kemana kamu? Cepat jemput adik kamu! Kamu sendiri yang harus menjemputnya!”


“Tapi, Mom-”


“Tidak ada alasan, Zain!”


Ny. Amara menarik Zain menuju mobilnya dan mendorongnya masuk ke dalamnya diikuti oleh Ali yang duduk di belakang kemudi.


Terpaksa Zain harus ikut menjemput sepupunya itu karena Ny. Amara tetap berdiri menunggu kepergiannya.


Sedangkan jauh dari pusat kota, terlihat sebuah mobil hitam berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri ditengah-tengah pepohonan rindang, suasana yang masih terlihat sangat asri.


 “Cepat turun!” perintah seorang pria dengan setelan jas hitamnya lengkap dengan kacamata hitamnya.


“Aku tidak mau tinggal di tempat seperti ini!” teriak Rara histeris.


“Cepat! Jangan membuang-buang waktuku!”


Tuan Mahardika dan istrinya terlihat lebih tenang dari putrinya, mereka masih bersyukur masih diberi kesempatan oleh Zain meskipun harus hidup di pelosok desa jauh dari pusat kota.


Setidaknya mereka masih bisa bertahan hidup dengan mengurus lahan milik keluarga Ibrahim, dari pada mereka tetap tinggal di kota namun todak bisa bekerja apa pun karena pastinya Zain telah memblokir semua akses mereka untuk menghasilkan uang sendiri. Itu sama saja dengan membunuh keluarganya secara perlahan.


“Cepat turun, Ra!” teriak tuan Mahardika.


“Aku tidak sudi tinggal di tempat kumuh seperti ini, Pa!” tolak Rara.


“Rara!”


Tuan Mahardika menyeret paksa putrinya agar mau keluar dari dalam mobil, lalu ia membungkuk hormat kepada pria berjas itu yang telah mengantarkan keluarga kecilnya selamat sampai di tujuan.


“Terima kasih telah mengantar kami, Tuan. Tolong sampaikan maaf kami kepada tuan Zain,” ucap tuan Mahardika tulus.

__ADS_1


“Sama-sama, Tuan Mahardika. Semoga Anda dan keluarga Anda baik-baik saja tinggal di desa ini.”


__ADS_2