
Zahra melangkahkan kakinya masuk ke dalam lobi perusahaan suaminya, untuk kesekian kalinya ia mengunjungi tempat kerja suaminya tentunya dengan penampilan yang jauh berbeda dengan saat pertama kali ia datang berkunjung.
Semua mata menatap takjub ke arahnya, mengagumi kecantikan dan keanggunannya yang terlihat alami tanpa make up berlebihan. Apalagi dengan keberadaan wanita cantik yang berjalan di sebelahnya, siapa lagi jika bukan adik iparnya, Yang Zi.
Semenjak kepulangan mereka dari China, Zain terpaksa menyuruh Yang Zi tinggal di Ziya’s House demi menghindari pertikaian dengan ibunya. Zain percaya bahwa bunda Sofia mampu menjaga adiknya tersebut, meskipun orang tua Barra memberi saran agar Yang Zi tinggal di rumah mereka, namun Zain menolaknya dengan sopan karena di antara Barra dan Yang Zi belum ada ikatan apa pun.
“Selamat pagi Nona, apakah tuan Zain ada?” tanya Zahra ramah kepada seorang wanita muda yang berdiri di belakang meja resepsionis.
“Selamat pagi Nyonya Zahra, saat ini tuan sedang meeting bersama seluruh kepala divisi dan petinggi lainnya,” jawab wanita tersebut sopan.
“Berapa lama meetingnya akan berakhir?”
“Maaf Nyonya, saya tidak bisa memastikannya, mungkin satu jam bisa lebih cepat atau lebih lama. Apa perlu saya perlu menghubungi sekretarisnya?”
“Tidak perlu, saya akan menunggunya di ruang kerjanya. Terima kasih,” ucap Zahra dengan senyuman.
“Terima kasih kembali, Nyonya. Saya pribadi merasa terhormat bisa membantu Anda.”
Sepeninggal Zahra dan Yang Zi, terlihat beberapa karyawan yang datang mendekat ke arah meja resepsionis. Mereka merasa penasaran dan bertanya-tanya kepada petugas tersebut.
“Bagaimana penampilan Nyonya Zahra?” tanya salah seorang karyawan wanita berkacamata.
“Cantik, elegan sangat cocok dengan tuan Zain, apalagi beliau sangat sopan dan ramah kepada siapa pun,” jawabnya.
“Sangat berbeda jauh dengan Nyonya Clarisa, seandainya tuan Zain lebih dulu bertemu dengan nyonya Zahra kita semua tidak perlu tertekan dengan sikap angkuh dan semena-menanya setiap kali dia berkunjung ke perusahaan,” keluh karyawan lain yang berambut pendek.
“Sstt, bukannya tuan Zain sudah menceraikan Ny. Clarisa? Bahkan dari kabar yang aku dengar, tuan Zain mengirim Ny. Clarisa pergi jauh ke luar negeri agar tidak mengganggu Ny. Zahra,” bisik seorang karyawan dengan dandanan sedikit menornya.
“Sejak kapan? Kamu memang ratunya gosip, sepertinya hanya kamu yang baru mengetahui kabar ini.”
“Siapa dulu? Reni! Apa yang tidak aku ketahui? Hal sekecil apa pun pasti akan terdengar olehku,” ucap wanita itu menyombongkan dirinya.
“Huusst? Sudah jangan menggosip di meja kerjaku! Nanti kalian ketahuan baru tahu rasa!” ucap petugas resepsionis dan mengusir rekan kerjanya.
...*****...
Diruang meeting, Barra lagi-lagi dibuat pusing oleh tuan mudanya tersebut. Sejak mereka menginjakkan kakinya di ruangan tersebut hingga meeting berlangsung, Zain sama sekali tidak fokus dengan pembasahan yang tengah mereka bincangkan.
Terpaksa Barra harus menghendel semuanya seorang diri, ia merasa harus menyimpan tenaganya dari pada harus memanggil dan menyadarkan tuan mudanya setiap beberapa menit.
“Tuan, mereka menanti tanggapan Anda,” ucap Barra lirih di dekat telinga Zain, kali ini ia harus benar-benar menyadarkan tuannya itu untuk memberikan tanggapannya sebelum meeting berakhir.
“Tuan,” panggil Barra dengan sedikit menggoyangkan tubuh Zain yang fokus menatap layar laptop di depannya tanpa menyadari panggilan sari sang asisten.
Barra menyapukan pandangannya ke seluruh anggota yang hadir di meeting tersebut, semua mata menatap tajam ke arahnya, lebih tepatnya menatap heran ke arah pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
‘Huft, bagaimana caranya agar bisa membuat tuan muda kembali fokus,’ keluh Barra dalam hati sambil menatap layar laptop milik Zain yang menampilkan foto pernikahan Zain dan Zahra di China.
__ADS_1
“Tuan, dari pada Anda menatap gambar mati tersebut, lebih baik Anda cepat selesaikan meeting ini lalu temui nona muda yang sudah menunggu di ruangan Anda,” bisik Barra dan berhasil mengalihkan perhatian Zain dari layar laptopnya.
“Zahra ada di sini?” tanya Zain terkejut.
“Iya Tuan, oleh karena itu Anda harus cepat menyele-”
“Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi!” ucap Zain memotong perkataan Barra dengan sedikit menaikkan suaranya membuat semua orang terkejut.
“Tuan! Anda mau ke mana?” seru Barra menatap kepergian tuan mudanya tanpa sempat ia mencegahnya.
“Aku percayakan semuanya kepadamu! Lanjutkan meetingnya, aku ingin menemui istriku!” seru Zain sebelum menghilang dibalik pintu yang tertutup.
“Ck! Kenapa nasibku seperti ini? Jika tahu akhirnya akan seperti ini lebih baik aku tidak memberitahukan kedatangan nona Zahra ...,” ucap Barra lirih yang hanya dapat didengar oleh telinganya sendiri.
...*****...
Brak!
“Honey!” panggil Zain bersamaan dengan terbukanya pintu ruang kerja miliknya membuat kedua orang di dalamnya terkejut karenanya.
“Sayang!”
“Ko!”
Zahra dan Yang Zi bersamaan menegur Zain, namun pria itu sedikit pun tidak merasa bersalah. Zain berjalan mendekat ke arah sofa, dimana kedua wanita kesayangannya duduk manis menikmati berbagai macam makanan yang ada di atas meja. Namun sepertinya hanya Yang Zi yang menikmati makanan tersebut, sedangkan Zahra merasa kenyang hanya dengan melihat kerakusan yang ditunjukkan adik iparnya tersebut.
“Apa kamu tidak diberi makan sama bunda Sofia?” ejek Zain merasa risih melihat tingkat adiknya.
“Kenapa?” tanya Zain bingung.
“Kamu tidak tahu hormon wanita hamil, jadi diam saja!” perintah Zahra.
Zain hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak mau tahu, lalu tangannya ikut mencomot makanan milik Yang Zi.
“Tumben kamu mau datang ke kantor, Honey?” tanya Zain heran, bukannya ia tidak suka dengan kedatangan sang istri namun ia bertanya-tanya penyebab Zahra datang ke kantor, seingatnya Zahra paling tidak suka jika diajak ke kantor dengan alasan Zahra merasa tidak nyaman dengan lingkungan sekitar.
“Sejak pagi dia merengek ingin bertemu dengan kamu,” jawab Zahra sambil menunjuk adik iparnya dengan ekor matanya.
“Apa yang kamu inginkan? Baru tadi malam aku mengantar kamu ke rumah Bunda Sofia bukan? Dan sekarang kamu sudah bertemu denganku tapi kamu malah mengabaikanku!” kesal Zain karena adiknya hanya fokus dengan makanan di depannya, ia lalu melempar kacang ditangannya dan tepat mengenai wajah Yang Zi.
“Ck! Sekarang aku sudah tidak menginginkan kamu, Ko! Kamu menyebalkan!” balas Yang Zi ketus.
“Kamu!” seru Zain namun tangannya ditahan oleh Zahra yang menenangkannya.
...*****...
Setelah menyelesaikan meeting perusahaan, Barra menyusul tuan mudanya di ruang kerja Zain. Dan sebentar lagi waktu menunjukkan jam makan siang, mereka berempat berencana untuk makan di luar.
Zain menyuruh Ali untuk tetap tinggal di kantor tanpa perlu mengantarkan Zahra, di sepanjang perjalanan Yang Zi terus menempel kepada kakaknya, ia berjalan sambil bergelayut manja di lengan sang kakak membuat semua mata mencuri pandang ke arah mereka.
__ADS_1
“Siapa wanita itu?”
“Bukankah dia yang datang bersama Ny. Zahra tadi pagi? Tapi kenapa dia terlihat begitu mesra dengan tuan Zain?”
“Apa wanita itu calon madu Ny. Zahra?”
“Apakah tuan Zain akan menikah lagi? hebat ya? Pria kaya dan tampan sepertinya bebas akan mau menikah berapa kali pun tidak akan ada yang melarang, bahkan banyak yang mengantre untuk menjadi istrinya.”
“Iya, contohnya Ny. Zahra yang mau menjadi istri kedua. Apalagi alasannya jika bukan karena harta?” dasar matre!”
Terdengar bisik-bisik dari beberapa karyawan di sana, awalnya Zain tidak ingin menanggapinya, namun ucapan terakhir yang terdengar di telinganya berhasil membuatnya naik pitam.
“Apa kalian dibayar untuk bergosip?” seru Zain dengan lantang membuat suasana yang tadinya ramai seketika hening, semua orang terpaku dan menghentikan aktivitas mereka.
“Perusahaan membayar kalian mahal bukan untuk menyebar fitnah! Jaga mulut kalian jika masih ingin menghirup udara di bumi ini! Apa ini cara kalian memperlakukan keluarga bos kalian?”
“Sayang, sudah tenang jangan emosi ... ayo kita pergi, aku sudah lapar,” bujuk Zahra sambil menggenggam erat tangan suaminya yang tidak dikuasai oleh Yang Zi.
“Kali ini kalian lolos, lain kali jika kalian mengulanginya lagi, jangan harap bisa hidup tenang! Mengerti!”
“Mengerti, Tuan,” jawab mereka kompak dengan nada yang sedikit bergetar.
“Jangan pernah kalian menyinggung tentang istriku! Hanya dia yang pantas menjadi Ny. Zain, kalian semua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya! Dan selamanya hanya ada satu wanita di dalam hidup saya, satu-satunya istri Zain Malik Ibrahim, adalah Zahwa Zahratunnisa! Ingat itu!” ancam Zain membuat semua orang ketakutan.
...*****...
Di waktu yang sama, namun di tempat yang jauh dari tempat pesta Zain dan Zahra, terlihat dua insan manusia tengah berbaring di atas ranjang hanya terbungkus sehelai selimut di atasnya dengan memejamkan mata mereka namun mereka tidak benar-benar tertidur.
“Kapan kita akan menikah?” tanya sang pria masih dengan nafas yang tak beraturan.
“Hmm, nanti tunggu dulu!” balas sang wanita tanpa membuka kelopak matanya.
“Sampai kapan? Aku sudah bersabar memberimu waktu cukup lama!” Seru pria tersebut lalu mengungkung wanitanya di bawah tubuh kekarnya.
“Jangan menguji kesabaranku, aku tidak akan bisa menunggu lebih lama lagi! Pikirkan baik-baik atau aku akan membuat hidupmu lebih menderita!” ancamnya namun tak berhasil membuat sang wanita ketakutan.
“Apa perlu kita menikah? Bukankah selama ini aku sudah memberikan tubuhku kepadamu?” tanya wanita itu tanpa ekspresi.
“Secepatnya kita akan menikah!” seru sang pria lalu pergi meninggalkan wanitanya yang masih memejamkan matanya, ia berjalan begitu saja tanpa memedulikan tubuh polosnya menuju kamar mandi.
Brak!
Setelah memastikan pria tersebut sudah masuk ke dalam kamar mandi, wanita itu segera membuka matanya dan tersenyum menyeringai. Ia duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur dan meraih ponsel dari dalam laci nakas di sebelahnya.
“Jangan harap aku mau menikah denganmu, dasar bodoh!” ucapnya lirih.
Wanita tersebut terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya dan mengetikkan sesuatu dengan serius, selesai mengetik kalimat yang tidak panjang juga tidak pendek ia segera mengirimkan pesan tersebut diakhiri dengan senyum licik di wajahnya.
[Segera lakukan tugasmu!]
__ADS_1
“Tak akan aku biarkan kamu merebut kebahagiaanku!”