Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 121. Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Bugh!


“Aaw!” Ali merintih kesakitan mendapatkan serangan langsung dari calon ibu mertuanya itu, baru saja ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah calon mertuanya namun ibu Salma tanpa peringatan langsung memukuli bahu dan punggungnya berulang kali.


“Dasar anak nakal! Masih berani kamu datang ke rumah ini, hah?” kesal ibu Salma sambil terus memukul tubuh Ali melampiaskan kekesalannya.


“Ampun, Tante. Maaf-”


“Aku tidak butuh kata maaf darimu, anak nakal!” seru ibu Salma cepat tanpa memberikan kesempatan kepada Ali untuk membela diri.


“Ma!” Tania dengan cepat melerai ibunya, meski ia tahu ibunya tidak memukul Ali dengan serius tapi ia tidak tega melihat kekasihnya itu menjadi sasaran empuk pelampiasan ibunya.


“Jangan halangi aku, Tania! Atau kamu mau menggantikan dia dan mama pukuli?” ibu Salma bertambah kesal karena putrinya justru membela kekasihnya itu.


“Ma, malu dilihat Ny. Amara dan tuan Zain,” bisik Tania membuat ibunya tersadar dan langsung menghentikan aksinya itu.


Ibu Salma menatap malu ke arah Ny. Amara yang sedari tadi memperhatikannya.


“Tidak apa-apa, Bu. Lanjutkan saja, toh saya juga menikmatinya.” Ny. Amara terkekeh mengingat beliau sering melakukan hal yang sama kepada Zain, Yitian, bahkan Barra sekalipun.


“Eh, tidak Nyonya. Saya sudah puas,” ucap ibu Salma sembari tersenyum lebar memamerkan deretan giginya.


“Ma, ayo kembali duduk,” ajak Tania menarik ibunya yang masih memegangi lengan Ali.


Tania menuntun ibunya agar mereka duduk kembali, sedangkan Ali memilih tetap berdiri karena tidak kebagian kursi kosong.


“Apa kamu hanya akan berdiri saja dan menjadi patung di sana?” tanya ibu Salma kepada Ali.


“Eh, maaf Tante-”


“Ck! Dasar kamu ya, masih saja memanggil tante? Apa kamu tidak mau menikah dengan putriku ini?” tanya ibu Salma pura-pura marah.


“Mau, Tan- eh, Ma!” jawab Ali cepat, ia tidak mau ibu mertuanya itu berubah pikiran dan tidak merestui hubungannya dengan Tania.


“Cepat ambil kursi di dalam dan segera duduk!”


Mendengar perintah dari calon ibu mertuanya itu, Ali segera melaksanakannya dan berjalan menuju ke ruang keluarga. Tak sulit untuk Ali menemukan barang yang dicarinya, ia sudah hafal tata letak rumah tersebut yang tidak berubah sama sekali semenjak terakhir kali ia berkunjung .

__ADS_1


“Dasar anak itu!” kesal ibu Salma menatap kepergian Ali.


“Jika saja kalian tidak menyembunyikan hubungan kalian, aku tidak akan merasa pusing memikirkan kamu, Tania!” marah ibu Salma kepada Tania. “Aku juga tidak akan repot-repot mencarikan jodoh untuk kamu.”


“Maaf, Ma...,” sesal Tania.


“Hah, sudahlah.” Ibu Salma kembali fokus dengan ketiga tamunya yang sedari tadi duduk menyimak di depannya.


“Maaf, Ny. Amara, Tuan Zain, dan Nona-”


“Zahra, Bu.” Zahra dengan cepat memberitahukan namanya melihat ibu Salma sedikit kebingungan mengingat namanya.


“Eh, maaf Nona Zahra ... maklum orang tua sudah agak pelupa,” ucap ibu Salma waswas, ia melirik sekilas ke arah Zain takut akan menerima amarah karena melupakan nama Zahra.


Zahra tersenyum dan menangkap ketakutan yang terlihat jelas di wajah ibu Salma, ia lalu beralih menatap ke arah wajah Zain yang memasang wajah datarnya.


Jika orang tidak mengenal dekat suaminya itu, mereka pasti akan lari ketakutan mengira suaminya tengah marah. Padahal memang seperti itulah suaminya, sedingin salju namun sebenarnya hatinya begitu hangat sehangat sinar mentari yang menyinari bumi dan memberikan kehidupan kepada banyak makhluk ciptaan-Nya.


Zahra menggenggam tangan suaminya lalu berbisik pelan di telinga Zain. “Sayang, jangan memasang wajah seperti itu.”


Zahra meletakkan kedua ibu jarinya masing-masing di ujung bibir suaminya lalu perlahan menariknya ke atas membentuk sebuah lekukan menyerupai bentuk bulan sabit.


“Senyum!” perintah Zahra lalu ia memberi contoh kepada suaminya dengan tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang berjejer rapi. “Hiiii!”


“Hahahahah!” Ny. Amara tidak sanggup menahan tawanya merasa terhibur dengan apa yang Zahra lakukan kepada putranya.


Zain menjauhkan tangan istrinya dari wajahnya dan menggenggamnya erat lalu beralih menatap ke arah ibunya.


“Mom!” kesal Zain karena Ny. Amara belum juga menghentikan tawanya.


Sedangkan Ali yang baru saja bergabung terlihat kebingungan melihat nyonya besarnya tertawa lepas seperti itu seorang diri, sedangkan Tania dan kedua orang tuanya terdiam dengan canggung menahan sekuat tenaga agar tidak ikut tertawa.


“Ada apa ini?” tanya Ali penasaran.


“Diam!” ketus Zain membuat Ali seketika terdiam dan tidak berani bersuara lagi.


Setelah melihat ibunya merasa lebih tenang, Zain melanjutkan pembicaraan serius dengan keluarga Tania sebagai wali Ali.

__ADS_1


Tanpa bertanya kepada Ali ataupun Tania terlebih dahulu, Zain memutuskan pernikahan mereka akan diadakan satu bulan lagi.


Dan tentunya baik Ali dan Tania sama-sama terkejut dengan keputusan yang diambil Zain tersebut.


“Tapi Tuan, apa tidak terlalu cepat? Kami bahkan belum mempersiapkan semuanya,” ucap Ali bingung.


Satu bulan? Yang benar saja? Mana cukup hanya dalam waktu satu bulan Ali bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka. Bahkan Ali tidak punya cukup uang sekedar untuk merayakan pesta pernikahan mereka, bahkan hanya untuk perayaan sederhana saja Ali belum tentu bisa menyanggupinya.


“Kenapa? Apa kamu tidak serius dan tidak mau menikahi Tania?” tanya Zain mengintimidasi.


“Bukan begitu, Tuan. Tapi saya-”


“Kamu tidak perlu mencemaskan masalah biaya, aku akan menyiapkan semuanya untuk kalian berdua sebagai hadiah pernikahan kalian,” ucap Zain membuat Ali beserta keluarga Tania menangis terharu dengan apa yang dilakukan oleh Zain untuk mereka.


“Tuan, terima kasih ... saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Anda,” ucap Ali tulus dengan mata yang berkaca-kaca.


Tania dan kedua orang tuanya juga berterima kasih kepada Zain dan keluarganya. Mereka akan mengingat kebaikan yang dilakukan oleh Zain seumur hidup mereka.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan keluarga Tania, Zain dan keluarganya pamit pulang.


Zain membiarkan Tania untuk tinggal dan memberikan cuti selama dua hari kepada Tania, sedangkan Ali harus ikut dengannya kembali ke kota tanpa memberikan Ali kesempatan untuk lebih lama berbincang dengan calon mertuanya itu.


Malam harinya, Zain mengajak Zahra pergi ke suatu tempat. Zahra masuk ke dalam ruangan yang sangat asing baginya dengan perasaan tidak enak.


“Kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini, Zain?” tanya Zahra tak suka.


“Ikutlah saja, Honey. Ada seseorang yang harus kita temui,” jawab Zain santai sambil terus menuntun Zahra masuk ke dalam dengan tangan yang melingkar erat di pinggang istrinya.


Zahra merasa risi dengan hingar bingar tempat tersebut, ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dan merasa jijik melihat wanita-wanitanya yang berpakaian super ketat dan sexy bahkan terang-terangan menggoda para pria yang berkunjung ke tempat itu.


“Cepat pergi dari sini, Zain!” ketus Zahra, berbagai pikiran buruk kembali berputar di kepalanya dan kembali mengusiknya.


“Tunggu sebentar, Honey.”


“Aku bilang pergi ya pergi!” teriak Zahra marah dan menyingkirkan tangan suaminya dari pinggangnya dan berlari keluar dari tempat terkutuk itu.


“Honey, kamu mau kemana?” teriak Zain dengan suara keras.

__ADS_1


__ADS_2