
Zain berjalan dengan wajah dinginnya menyusuri lobi perusahaan, banyak pasang mata mencuri pandang ke arahnya yang beberapa hari tidak terlihat kehadirannya.
Zain mengabaikan bisik-bisik di sekitarnya, ia hanya fokus dengan langkah kakinya dan bergegas menuju lift untuk menghadiri meeting di ruang meeting sebelum Barra dibuat pusing oleh kliennya.
Ting.
“Apa meetingnya sudah dimulai?” tanya Zain bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.
“Sekitar 20 menit lalu tuan Barra dan Mr. Erick sudah berada di ruang meeting, Tuan,” jawab Ali sembari mengimbangi langkah tuannya.
“Hmm,” balas Zain singkat dan melanjutkan langkahnya menuju ruang meeting.
Ceklek.
Ali membuka pintu ruang rapat dan mempersilakan Zain untuk masuk ke dalamnya diikuti oleh Ali yang mengekor di belakang tuannya.
Ruangan yang sebelumnya terdengar riuh suara beberapa orang saut-menyaut saling berbeda pendapat mendadak hening ketika Zain memasuki ruangan tersebut.
Semua orang teralihkan fokusnya dengan kehadiran Zain dan seketika mereka semua terbengong melihat ke arah Zain yang masih berdiri di depan pintu dengan wajah tak berdosanya.
“Kenapa berhenti? Lanjutkan diskusinya!” perintah Zain datar dan berjalan menuju kursi utama miliknya.
Barra tak berhenti menatap ke arah tuannya dan bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan wajah tampan Zain. Baru beberapa hari ia tidak berjumpa dengan kakak iparnya itu, namun sudah terdapat beberapa pahatan di wajah es kakak iparnya itu.
‘Apa yang terjadi dengan wajah tuan muda? Apa mungkin nona-’
“Ekhem!” Zain berdeham keras membuat semu orang tersadar dan kembali dengan fokus masing-masing.
“Kenapa kalian semua membisu? Cepat lanjutkan diskusinya!” perintah Zain untuk kedua kalinya.
Zain memang tidak mengabari siapa pun jika dirinya akan datang ke meeting kali ini, wajar saja jika semua orang terkejut dengan kedatangannya. Namun Barra merasa bersyukur karena ada yang membantunya mengurus klien satu yang terkenal sedikit merepotkan itu.
“Baiklah, mari kita lanjutkan diskusi kita, Mr. Erick,” ucap Barra memulai kembali meeting tersebut.
“Tunggu sebentar!” sela Mr. Erick cepat.
Semua orang menatap ke arah pria tengah baya tersebut untuk menunggu apa yang akan disampaikan oleh Mr. Erick.
“Maaf Mr. Zain, saya hanya penasaran apakah Anda mengalami kecelakaan?” selidik Mr. Erick dan menatap ingin tahu ke wajah Zain.
“Tidak,” jawab Zain singkat tanpa ekspresi, ia tidak suka orang luar mengusik masalah pribadinya.
“Lalu, bekas-bekas luka itu?” tanya Mr. Erick kekeh ingin mengorek informasi rekan bisnisnya. “Tidak mungkin kan, jika istri Anda terlalu agresif saat melakukan itu,” lanjut Mr. Erick dengan menaik-turunkan alisnya membuat Zain mulai jengah.
“Jaga bicara Anda Mr. Erick!” tegur Zain, karena hanya dirinya yang berani membantah dan meladeni Mr. Erick.
“Wow, jangan marah Mr. Zain, saya hanya penasaran dan ingin tahu saja,” sanggah Mr. Erick membela diri.
__ADS_1
“Bersikaplah profesional Mr. Erick, kita di sini untuk membicarakan masalah pekerjaan bukan untuk membicarakan masalah pribadi saya!” ucap Zain tegas lengkap dengan wajah dinginnya.
“Hmm, baiklah. Mari kita lanjutkan diskusinya.” Mr. Erick pun tidak bisa menolak perkataan Zain.
1 jam berlalu, meeting kali ini berjalan cukup lancar karena kehadiran Zain. Mungkin jika Zain tidak hadir kerja sama di antara kedua perusahaan tersebut tidak akan mencapai kesepakatan secepat ini.
“Huft! Jika Anda tidak hadir, entah apa yang akan terjadi,” keluh Barra yang sudah berada di dalam ruangan kerja Zain.
“Mungkin saja kamu akan jatuh sakit dan berakhir di rumah sakitt jiwa” jawab Zain cepat, kini ia sudah duduk di kursi kebesarannya.
“Kenapa Tuan Muda tidak mengabari jika akan menghadiri rapat kali ini?” tanya Barra.
“Ck! Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu? Jangan panggil aku tuan muda lagi! Tidak ada orang lain di sini, Barra!” hardik Zain karena Barra masih saja memanggilnya dengan tuan Muda seakan hubungan mereka hanyalah sebatas atasan dan bawahan saja.
“Iya, marahi saja dia Ko! Sudah aku bilang untuk merubah panggilannya menjadi kakak ipar susah sekali!” sungut Yang Zi yang tengah duduk di sofa sibuk memakan camilannya ikut mengompori kakaknya.
“Kamu juga! Ngapain ikut ke kantor segala? Takut suamimu diambil karyawan di sini?” ledek Zain karena adiknya itu sama sekali tidak mau lepas dari sang suami. Kemana pun Barra pergi, di situlah Yang Zi harus mendampinginya.
“Memangnya tidak boleh? Aku juga menunggu Ko Zhan-Zhan disini tidak ikut ke ruang meeting, juga tidak mengganggu pekerjaannya,” jawab Yang Zi dengan memanyunkan bibirnya.
“Dokter menyuruhmu untuk istirahat, Zi a!” peringat Zain namun tak diindahkan oleh sang adik.
“Habis karyawan wanita di kantor Koko pada genit, ganjen sama suami orang,” kesal Yang Zi dengan wajah cemberutnya.
“Astaga! Yang Zi, tidak ada yang akan berani menggoda suami kamu ini. Bahkan jika ada dan sampai suami kamu tergoda, Koko orang pertama yang akan menghabisinya!” Zain merasa gemas dengan adiknya namun juga sering dibuat kesal dengan tingkahnya yang sering berubah-ubah.
Barra hanya menyimak perbincangan kakak beradik tersebut, ia bahkan merasa senang karena perubahan dari tuan mudanya seakan manusia kaku tersebut benar-benar hidup kembali.
“Koko mau menghajar wanita itu?” tanya Yang Zi dengan mata membola.
“Bukan, tidak ada dalam kamus koko untuk menyakiti perempuan apalagi harus main tangan.”
‘Tentu saja Anda tidak akan menyentuh mereka Tuan, karena sayalah yang harus turun tangan untuk membereskan semuanya untuk Anda,’ ucap Barra dalam hati.
“Lalu?”
“Tentu saja suami kamu yang harus koko habisi!”
“Ko!” pekik Yang Zi membuat Zain tertawa terbahak karena berhasil menjahili adiknya.
“Aku benci sama, Koko!”
“Sayang hati-hati jalannya,” ucap Barra khawatir ketika melihat istrinya tiba-tiba bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kakaknya.
“Wajah Koko kenapa?” tanya Yang Zi dengan wajah sedihnya, tangannya yang sedikit menggemuk mengabsen setiap garis bekas luka yang masih memerah terlihat jelas di wajah putih Zain.
“Hmm, tidak apa-apa. Hanya luka kecil saja.”
__ADS_1
“Apa kakak ipar yang melakukannya?” tanya Yang Zi menyelidik.
Zain melebarkan bola matanya, lagi-lagi istrinya dituduh melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.
“Bukan Zi a, kamu tidak perlu mencemaskan koko.”
“Lalu siapa yang membuat wajah Koko menjadi seperri ini?” tanya Yang Zi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Huft!” Zain menghela napasnya berat merasa frustrasi melihat perubahan mood adiknya dan mulai merasa waswas, berbeda dengan Barra yang terlihat santai.
Sebenarnya Barra juga ingin tahu penyebab lukisan di wajah tuannya itu, mungkin dengan adanya istrinya saat ini ia bisa mendapatkan informasi langsung dari mulut Zain tanpa harus bersusah payah.
“Tapi ini bekas cakaran, Ko. Wajah Koko tidak terlihat tampan lagi, hua ....” Yang Zi menangis tersedu membuat Zain kalang-kabut karenanya.
“Beberapa hari pasti akan menghilang Zi, sudah jangan menangis lagi ... ini juga tidak sakit,” Zain mencoba menenangkan adiknya.
“Tapi aku tidak bisa melihat wajah tampan Koko lagi, hua ... aku sedih, nanti kalo babyku menangis bagaimana, Ko!” Bukannya berhenti menangis Yang Zi justru semakin mengencangkan tangisannya.
“Astaga!” Zain mengusap wajahnya kasar dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Menyesal koko membawa kamu ke Indonesia, Zi a!”
“Koko kira kamu menghawatirkan jika koko kesakitan, ternyata hanya ....” Zain tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya, ia merasa begitu kesal dengan tingkah adiknya.
“Hiks, kan wajah Koko jadi jelek, siapa yang telah membuat wajah Koko jadi seperti ini? Biar aku balas orang itu!”
“Kamu yakin mau membalasnya untuk koko?” tanya Zain serius.
“Ya, siapa orangnya katakan saja padaku!” tantang yang Zi.
“Yakin?” tanya Zain sekali lagi, Yang Zi dengan antusias menganggukkan kepalanya.
“Mommy.”
Hanya dengan satu kata mampu membuat Yang Zi seketika menghentikan tangisannya.
“Mommynya Koko jahat!” pekik Yang Zi membuat Zain dan Barra terlonjak kaget.
“Sstttt! Sayang, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Tidak baik,” tegur Barra halus.
“Dia jahat, Ko! Aku tidak suka,” Yang Zi mencebikkan bibirnya dan kembali menangisi wajah kakaknya.
“Astaga! Barra, kamu urus istrimu! Pusing kepalaku.” Zain berjalan menuju kamar mandi di dalam ruangannya meninggalkan Yang Zi yang sedang ditenangkan oleh Barra.
...*****...
Hai semuanya, makasih sudah membaca cerita ini, tolong jika tidak suka dengan cerita ini boleh skip saja, saya lebih berterima kasih dan menghargai jika kalian tidak memberikan bintang kepada karya ini dari pada memberikan bintang dibawah *5.
__ADS_1
Tolong hargai semua penulis yang sudah meluangkan waktu untuk menulis di sela-sela kesibukan mereka.
Salam santun untuk kita semua, selamat beraktivitas di hari Senin ☺️