
Kamar rawat mewah bernuansa warna hijau yang beberapa bulan ini menjadi tempat tinggal Zahra terlihat ramai oleh beberapa orang di dalamnya.
Setelah sempat tidak sadarkan diri di pangkuan ayahnya, kini Zahra sudah kembali membaik.
Zain sempat panik dan marah-marah kepada orang-orang di sekitarnya, bahkan Barra yang sedang dalam perjalanan ke kantor harus kembali lagi ke rumah sakit karena mendapat perintah dari tuan mudanya tersebut. Meskipun akhirnya Barra hanya menunggu di luar ruangan bersama dengan beberapa penjaga lain suruhannya.
Terlihat Zain yang berdiri di samping kanan brankar istrinya enggan untuk menjauh. Di sebelah kiri brankar duduk tuan Harun dengan tangan yang terus berada dalam genggaman putrinya. Hal itu semakin membuat Zain menggerutu tidak jelas dengan wajah yang ditekuk.
Ny. Amara duduk di sofa dan juga ada dr. Fatima dan seorang dokter psikiater yang menangani Zahra selama ini dan tentunya seorang perempuan.
“Bagaimana keadaan Anda Nona?” tanya dr. Psikiater yang bernama dr. Ana, tertulis jelas pada name tag yang menempel di baju kebesaran dokter cantik tersebut.
“Sudah lebih baik, Dokter Ana,” jawab Zahra dengan suara lemah.
“Bagaimana dengan perasaan Anda, apa sudah merasa lebih tenang?” tanya dr. Ana yang sudah berdiri di dekat brankar Zahra.
Zahra menganggukkan kepalanya lalu beranjak duduk dibantu oleh suaminya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang ayah.
“Apakah Anda sudah siap untuk melakukan konseling? Jika Nona merasa tidak nyaman dengan kehadiran keluarga Nona, mereka bisa untuk meninggalkan kita berdua di sini.”
Zahra menatap orang-orang di sekitarnya secara bergantian, ia menatap lama ke arah ayahnya.
“Bisakah konseling kali ini ditemani oleh papa saya, Dokter?”
Zain dengan cepat mengeluarkan suaranya sebelum sang dokter menjawab pertanyaan Zahra. “Aku juga akan menemanimu.”
Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “Saya hanya ingin ditemani oleh papa saja, Tuan.”
Zain hendak memprotes keputusan istrinya namun dengan cepat Ny. Amara mencegahnya.
“Zain! Ayo sebaiknya kita keluar!” tegas Ny. Amara dengan menatap tajam ke arah putranya.
Dengan berat hati Zain mengalah, tapi ia tidak tinggal diam. Zain meletakkan ponselnya yang menyala di balik vas bunga di atas nakas tanpa diketahui oleh istrinya. Sebelumnya Zain juga sudah mengirimkan pesan kepada Barra agar tidak mematikan panggilannya.
“Aku tinggal dulu, nanti jika sudah selesai aku akan segera kembali, okay!” ucap Zain sambil mengusap pelan kepala istrinya.
“Hmm, terima kasih, Tuan.”
Cup.
“Ini hukuman karena masih saja memanggilku dengan sebutan tuan!” ucap Zain setelah mendaratkan sebuah kecupan di pipi istrinya.
Zain berjalan ke luar meninggalkan Zahra yang menunduk malu dan salah tingkah karena banyak orang yang melihat ketika suaminya menciumnya.
__ADS_1
Kini di kamar tersebut hanya tertinggal Zahra beserta ayah dan dr. Ana, hampir 15 menit Zahra tetap tidak mau membuka suaranya. Dengan sabar dr. Ana terus bertanya kepada Zahra, ia berharap dengan kehadiran tuan Harun Zahra bisa sedikit terbuka. Selama menjalankan psikoterapi, Zahra hanya menceritakan masa lalunya secara random dan selalu menyembunyikan tentang luka-luka di tubuhnya.
“Papa tidak akan marah kan, jika Zahwa menceritakan semuanya?” akhirnya Zahra bersuara meski dengan menundukkan wajahnya.
“Sayang, papa tidak akan marah kepada kamu. Ceritalah! Jangan kamu menyimpannya sendirian, Papa ingin mendengarkan semuanya,” pinta tuan Harun masih dengan menggenggam tangan putrinya serta mengusapnya pelan.
“Janji?”
“Iya. Papa janji.”
“Sama mama dan kak Nindy juga?” tanya Zahra menatap wajah sayu ayahnya, wajah pria baya tersebut terlihat kelelahan.
“Hmm, baiklah ...,” ucap tuan Harun dengan ragu. ‘Tapi papa tidak berjanji untuk memaafkan mereka jika benar mereka telah memperlakukan kamu dengan buruk,’ lanjutnya dalam hati.
“Apa papa sayang sama Zahwa?”
“Sayang, Zahwanya papa, putri papa, sampai kapan pun papa selalu menyayangi kamu.”
Zahra memeluk tubuh ayahnya dan terisak pelan. “Zahwa juga sangat sayang sama Papa.”
“Ceritakan dari mana kamu mendapatkan semua luka ditubuh kamu, Sayang.” Tuan Harun melepas pelukan mereka lalu menghapus air mata di pipi putrinya dengan ibu jarinya.
“Emh,” Zahra sedikit tegang dan ragu.
Zahra melakukan apa yang diperintahkan oleh dr. Ana sebanyak 3 kali, setelah merasa lebih tenang Zahra kembali mengeluarkan suaranya.
“Ma-mama dan kak Nindy,” lirih Zahra. “Papa jangan marah kepada mereka, mama melakukannya karena Zahwa salah, Pa!” ucap Zahra cepat.
“Papa tidak marah sayang. Memang kamu membuat kesalahan apa?” tanya tuan Harun pelan.
“Emm, banyak, Pa. Zahwa telat bangun pagi, telat membuat sarapan kadang juga salah mengerjakan sesuatu tidak sesuai dengan keinginan mama.”
Zahra seperti terhipnotis, ia begitu merasa nyaman bercerita bersama ayahnya. Semua meluncur begitu saja dari mulutnya, bagaimana masa kecilnya ketika sering ditinggal ayahnya pergi ke luar negeri, mulai dari tugasnya untuk membersihkan rumah, uang jajannya yang dibatasi, bahkan pakaian dan segala kebutuhannya hanya mendapatkan bekas dari kakaknya.
Tuan Harun meneteskan air matanya, ia tidak menyangka bahwa selama ini putrinya diperlakukan tidak manusiawi oleh istrinya.
‘Maafkan aku, sayang. Aku telah gagal menjadi seorang suami yang baik untukmu. Dan sekarang aku juga gagal sebagai seorang ayah untuk anak kita.’
Tuan Harun menarik tangan Zahra dan meletakkannya di atas pangkuannya lalu mengangkat lengan baju Zahra. “Dari mana luka-luka ini, Sayang.”
“Kak Nindy menghukum Zahwa karena merusak barangnya.”
Tuan Harun menautkan alisnya. “Dengan meluakimu?”
__ADS_1
“Iya, dengan cutter miliknya.”
“Kalau luka di betis kamu?” tanya tuan Harun Pelan, sebenarnya dia tidak tega untuk bertanya lebih. Namun tadi disaat putrinya tidak sadarkan diri, mereka semua sepakat untuk melibatkannya dalam mengorek informasi mengenai masa lalu Zahra.
“Hukuman dari mama,” lirih Zahra dengan wajah lesu.
“Kenapa mama sampai menghukum kamu?” tanya dr. Ana.
“Mama menuduh Zahwa mencuri uangnya, padahal Zahwa sudah menjelaskan bahwa buku atau barang yang Zahwa bawa pulang adalah pemberian teman-teman Zahwa karena membantu mengerjakan tugas mereka. Tapi mama tidak pernah mempercayainya.”
“Lalu, luka dipunggung kamu kenapa, Sayang?” tuan Harun memejamkan matanya setelah mengucapkan pertanyaan tersebut.
“Emh, waktu itu mama ingin makan sup. Tapi Zahwa membuatnya terlalu asin jadi mama marah.”
“Dan menyiramkan sup itu ke tubuh kamu?” tebak dr. Ana.
Zahra menganggukkan kepalanya. “Waktu itu Zahwa juga pernah membuat bubur yang terlalu asin.”
“Berapa kali mama melakukannya?” tanya tuan Harun, terlihat wajahnya yang mengeras menahan emosi.
Zahra hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak mengerti.
“Sudah cukup sampai di sini dulu, Nona. Terima kasih Anda sudah bekerja keras.”
Dr. Ana melirik jam di tangannya, sudah lebih dari 2 jam mereka melakukan konseling. Dr. Ana merasa sudah mendapatkan informasi yang cukup dan tidak baik untuk Zahra jika harus terlalu lama tenggelam dalam cerita masa lalunya.
Sedangkan di ruangan Dr. Agam, Zain duduk dengan rahang mengeras dan wajah yang memerah menahan amarah, kedua tangannya mengepal. Jika tidak ditahan oleh Dr. Agam, Barra serta Ny. Amara, sudah sejak tadi pria itu masuk ke dalam kamar istrinya.
Brak!
Zain menggebrak meja setelah mendengar dr. Ana menyelesaikan sesi konseling mereka, dengan langkah lebar ia segera keluar dari ruangan Dr. Agam dan bergegas menuju kamar istrinya.
Barra dan Ny. Amara bergegas menyusul Zain, mereka takut pria dingin itu akan membuat masalah baru dengan amarah yang membara dalam dirinya.
Dr. Agam juga ikut menyusul mereka, ia mengambil ponsel putranya di atas meja yang masih tersambung dengan sepiker menyala memperdengarkan percakapan tiga orang di dalam ruangan Zahra.
Brak!
Zain membuka pintu kamar istrinya dengan kasar, membuat semua orang di dalamnya terkejut akan kedatangannya.
Zahra menatap ke arah pintu yang memperlihatkan tubuh suaminya dengar wajah dinginnya berjalan cepat ke arahnya.
Deg.
__ADS_1
Hai, salam dari author! Jangan lupa like dan sarannya ya .... Terima kasih.