
Zahra berlari tak tentu arah menyusuri koridor kampus dengan air mata yang tak mampu ditahannya.
Tadi Zahra merasa biasa saja ketika mendengar salah satu geng wanita yang tak itu menyombongkan diri bahwa satu di antara mereka adalah adik kesayangan Zain, suaminya. Bahkan Zahra malah ingin tertawa mendengar kebohongan mereka.
Namun berbeda ketika pria yang bernama Aldebaran itu mengatakan bahwa Alexa adalah wanita simpanan. Hanya mendengar hal tersebut bisa membuat Zahra merasa sesak didadanya.
“Tidak mungkin! Aku pasti hanya salah menduga saja, Zain tidak akan bermain di belakangku!” racau Zahra lirih sambil terus berlari.
“Aku percaya Zain tidak akan menghianatiku, dia sudah berjanji padaku!” Zahra mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Sekilas bayangan-bayangan bahwa Zain dan Alexa bermain api di belakangnya terus bermunculan di dalam kepala Zahra.
ketakutan yang akhir-akhir ini ia tepis dengan sekuat tenaga, bahkan ia masih beberapa kali melihat sepenggalan teks notifikasi di ponselnya namun selalu menghilang tanpa jejak sebelum sempat ia membukanya.
‘Siapa sebenarnya yang mengirim pesan-pesan itu?’
‘Apa wanita tadi yang mencoba menggangguku? Atau ada wanita lain dimasa lalu Zain? Apa aku harus mempercayai Zain sedangkan dia tidak pernah mau menceritakan masa lalunya?’
Zahra tiba di tepi danau buatan yang berada di belakang kampus. Ia mencari tempat teduh dan duduk di bawah pohon mangga yang cukup untuk melindunginya dari teriknya sinar matahari.
Zahra menyandarkan tubuhnya dipohon mangga itu dan memejamkan matanya, menata suasana hatinya yang berkecamuk karena merasa takut, ingin ia mempercayai suaminya, namun ia juga dihantui rasa takut akan kejadian yang menimpa ibu mertuanya.
‘Aku tak sekuat mommy, Zain! Aku tak bisa jika harus bersabar dan setegar mommy, aku hanya ingin kejujuranmu. Apa begitu susah bercerita kepadaku? Bahkan aku sudah menceritakan semua tentangku tanpa ada yang aku sembunyikan darimu. Aku akan berusaha menerima masa lalu kamu jika kamu sendiri yang menceritakannya kepadaku, aku tidak ingin mendengar ceritamu dari orang lain, Zain.’
Perlahan Zahra merasakan kantuk dan tertidur di bawah pohon tersebut ditambah semilir angin sejuk dan bau khas danau yang membuatnya merasa lebih tenang.
Dilain tempat, Tania kebingungan karena kehilangan jejak majikannya. Ia sudah menyusuri setiap sudut gedung namun sama sekali tidak menemukan keberadaan Zahra.
__ADS_1
‘Nona, kemana Anda pergi?’ tanya Tania dalam hati, kakinya masih terus melangkah tanpa kenal lelah. Jika terjadi sesuatu dengan majikannya tamatlah riwayatnya.
‘Selalu ingat untuk menjaga nona Zahra seperti kamu menjaga dirimu **sendir**i!’
Tania teringat akan perkataan yang selalu diucapkan Ali untuk memperingatinya, Tania juga sudah mendengar dari Ali beberapa kisah masa lalu Zahra dan sudah mempelajari hal apa saja yang menjadi kebiasaan Zahra dan apa yang tidak disukainya.
Tania mengingat-ingat sesuatu sambil terus melangkah. “Taman ... danau ... oh ya, danau belakang kampus!”
Tania segera berlari menuju danau di belakang kampus. Sesampainya ia di sana Tania melihat Zahra yang masih tertidur, ia lalu duduk di samping Zahra dan mengawasi sekitar.
Sore harinya Zahra langsung pulang ke mansion dengan wajah tenang seakan tak ada apa pun yang mengganggunya seharian ini.
...*****...
Beberapa bulan berlalu, Zahra menjalani rutinitas barunya dengan lancar. Bahkan ia masih tak jarang mendengar beberapa mahasiswa membicarakan kekaguman mereka terhadap suaminya, baik wanita maupun pria yang mengagumi kesuksesan yang telah dicapai oleh Zain di usianya yang masih sangat muda.
Bahkan Alexa masih dengan terang-terangan menggunakan alasan adik kesayangan Zain untuk berbuat semena-mena. Namun Zahra tidak mengambil pusing akan hal tersebut.
Bukan berarti Zain tidak pernah mengganggu istrinya di kampus ia tidak tahu apa pun keadaan sang istri dan lingkungan sekitarnya. Zain memiliki CCTV hidup yang setiap saat harus melaporkan semua yang berhubungan dengan Zahra, Tanialah orangnya.
“Honey, aku sudah muak melihat tingkah buaya yang selalu mengganggumu itu!” kesal Zain yang tengah bermanja meletakkan kepalanya di pangkuan istrinya.
“Lalu kamu mau apakan dia? Mau kamu usir dia dari kampus?” tanya Zahra asal.
“Hmm, boleh juga ide kamu, besok aku akan menyuruh Ali untuk mengurusnya.”
“Sayang! Jangan bercanda, aku hanya asal bicara saja tadi,” ucap Zahra panik, tidak mungkin ia menghancurkan masa depan seseorang hanya karena kecemburuan suaminya itu.
__ADS_1
“Kenapa? Apa kamu tidak rela aku memberi pelajaran kepada buaya itu?” tanya Zain, tangannya sibuk mengusap perut rata istrinya, sesekali mengusapkan wajahnya ke dalam perut sang istri.
“Bukan begitu, jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan, Sayang.”
“Aku tidak suka dengan buaya itu, sudah tahu kamu sudah bersuami, masih saja sok mencari perhatianmu!”
Ingin sekali Zain mengumumkan bahwa Zahra adalah istrinya kepada seluruh warga kampus agar tidak ada yang berani mendekatinya, namun Zahra selalu mencegahnya.
“Kapan perut ini akan terisi benihku?” tanya Zain menciumi perut istrinya berulang kali.
“Sayang, jika aku tidak bisa melahirkan anak untukmu, apakah kamu akan meninggalkanku dan mencari wanita lain?”
Zain segera bangkit dari rebahannya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan istrinya itu, dadanya terasa sesak tidak terima dengan ucapan Zahra yang seakan meragukan ketulusannya.
“Honey, apa kamu meragukanku? Apa pun yang terjadi ke depannya, mau kita memiliki anak atau tidak, kita akan selalu bersama selamanya. Bahkan jika mommy memaksaku untuk mencari wanita lain, aku akan dengan tegas untuk menolaknya.”
Zain segera menghapus air mata yang mengalir di wajah istrinya, hanya dengan melihat kesedihan istrinya, Zain juga merasa kan perih yang menusuk jantungnya. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelum bertemu dengan Zahra.
“Tapi aku tidak ingin membuat mommy merasa sedih, Zain. Kita semua tahu jika mommy sangat menginginkan seorang cucu,” ucap Zahra tanpa bisa menahan tangisnya.
“Ssstt! Jangan pikirkan orang lain, aku hanya ingin bersamamu selamanya, Honey.” Zain menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya.
“Tapi aku tidak ingin membuat mommy kece-”
“Sssttt! Cukup Honey, aku tidak ingin mendengar kamu membahas hal ini lagi,” ucap Zain.
“Aku mencintaimu, selamanya hanya akan mencintaimu, Zahra.”
__ADS_1