Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 31. Karena Takut Kehilangan


__ADS_3

Suasana rumah sakit begitu ramai oleh banyak orang yang berlalu lalang, tampak seorang pemuda dengan wajah kusut, pakaian yang berantakan dengan bercak darah yang bercecer di mana-mana berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Terlihat lampu merah yang menyala di atasnya pertanda sebuah operasi sedang berlangsung di dalamnya.


Sedangkan di kursi tunggu terlihat seorang anak kecil perempuan berusia sekitar 2 tahun tertidur dalam pangkuan wanita muda dengan penampilan yang tak kalah kacau dengan pria tadi.


Sudah hampir 2 jam mereka menunggu di tempat itu, berharap cemas menanti kabar baik yang akan disampaikan dari dalam ruang operasi.


Tak lama kemudian pintu ruangan tersebut perlahan terbuka menampilkan sosok berjubah hijau lengkap dengan masker di wajahnya serta penutup kepala yang membungkus rambutnya.


“Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dokter?” tanya pemuda itu yang bergegas mendekat ketika melihat seorang dokter keluar dari ruang operasi.


Dokter tersebut hanya diam dan menatap ke arah pemuda itu dengan wajah tenangnya.


“Pak, tabahkan hati, Anda. Sebelumnya saya ingin minta maaf, saya sebagai dokter dan tim kami sudah berusaha semampu kami, namun Tuhan berkehendak lain.”


Deg.


Tubuh pemuda itu menegang seketika, ia merasakan dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Wajahnya terlihat pucat, terlihat hal-hal yang tidak ia inginkan dalam pikirannya, namun segera ia tepis pikiran buruk itu.


“A-apa maksud Anda, Dokter?” tanya pemuda itu dengan suara yang bergetar.


“Maaf, istri Anda tidak dapat kami selamatkan.”


Perlahan tubuh pemuda itu merosot ke lantai pipinya basah oleh air mata yang tak dapat dibendungnya, ia terisak pelan tanpa suara.


“Pak, Anda harus mengurus administrasi dan menandatangani surat penanganan tindakan pasien, karena putri Anda harus segera mendapatkan tindakan lebih lanjut,” jelas Dokter tersebut setenang mungkin.


Bukan karena Dokter tersebut tidak merasa empati kepada pemuda di depannya, namun beliau harus bersikap profesional sebagai seorang dokter. Bukan hanya satu atau dua kali beliau mendapatkan kasus seperti ini.


Pemuda itu mengangkat wajahnya ketika mendengar dokter di depannya mengatakan tentang putrinya, seketika menyadarkannya dari kuterlurukan.


“A-apa kata Dokter tadi?” tanya pemuda itu memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


Pemuda tersebut kembali berdiri di bantu oleh sang dokter.


“Sungguh keajaiban dari Tuhan, putri Anda berhasil terlahir di dunia ini, Pak.”


“Alhamdulillah. Terima kasih, Dokter!” jawab pemuda itu cepat.


“Namun putri Anda harus segera kami bawa ke ruang NICU karena beberapa hal, putri Anda terlahir prematur di usia kandungan istri Anda yang baru memasuki 28 minggu, dengan berat kurang dari 2000 gram. Dan juga kondisi ibu yang mengalami pendarahan hebat serta cairan ketuban yang pecah lebih cepat. Sehingga putri Anda harus mendapatkan penanganan khusus karena beberapa organ tubuhnya belum bekerja secara sempurna.”

__ADS_1


“Lakukan yang terbaik, Dokter!” ucap pemuda tersebut masih dengan suara seraknya.


“Kalau begitu saya permisi, Pak.”


Pemuda tersebut hanya mampu menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Dokter tadi keluar dari ruang operasi diikuti oleh beberapa perawat yang mendorong inkubator bayi yang berisi bayi mungil di dalamnya.


Setelah kepergian dokter yang menangani istrinya, wanita yang sedari tadi duduk dan hanya menyimak pembicaraan mereka berjalan mendekat ke arah pemuda itu sambil menggendong putri kecilnya yang masih terlelap.


“Mas ...,” panggil wanita itu.


“Aku gagal menjaganya,” lirih pemuda itu.


“Mas, semua ini bukan salah kamu. Mbak Zahira terjatuh bukan salah kamu, Mas Harun!” seru wanita itu menyadarkan pemuda di depannya yang terus menerus menyalahkan dirinya.


“Ini salahku, Tasya! Zahira seperti ini karena aku, andai aku tetap di rumah bersamanya, semua ini tidak akan terjadi. Zahira masih ada bersaku di sini.”


“Sadar, Mas! Jangan menyalahkan dirimu! Ingat, masih ada kami di sini, aku dan Nindy akan selalu bersamamu. Ingat putrimu yang berada di NICU!”


“Semua salahku! Salahku! Aku kehilangan istriku Zahira,” kacaunya dengan air mata yang terus menerobos pertahanannya.


“Aku masih ada di sini, aku juga istrimu, Mas!” seru Tasya membuat putri kecilnya tersentak kaget dalam gendongannya.


“Harun!” seru suara tegas dari seorang pria paruh baya dengan jambang putih di wajahnya.


Harun dan Tasya bersamaan menoleh ke arah sumber suara.


“A-Abi, kapan Abi datang?” tanya Harun tergagap di depan ayah mertuanya.


“Apa maksud dari ucapan wanita itu?” ucap Abi Atha dengan suara datar.


“Emh, Abi, i-itu aku ....” Harun bingung untuk menjelaskan kepada ayah mertuanya, laki-laki yang di segani oleh banyak orang.


“Siapa kamu, Nak?” tanya wanita paruh baya yang berbalut pakaian syar’i menutupi seluruh tubuhnya kepada Tasya.


“Saya istrinya mas Harun, Bu.” Tasya dengan gamblangnya menjawab pertanyaan dari wanita yang menghampirinya.


Bugh!


Satu pukulan berhasil mendarat di wajah Harun, pelakunya adalah seorang lelaki bertubuh kekar dengan memakai jubah putih lengkap dengan peci hitam di atas kepalanya. Setelah mendengar kabar bahwa Zahira masuk rumah sakit, mereka berempat bergegas meninggalkan acara yang mereka hadiri bahkan acara tersebut baru saja dimulai. Namun mereka mendapat kejutan dari Harun dan wanita yang mengaku sebagai istrinya.

__ADS_1


“Apa maksud kamu Harun? Kamu berpoligami tanpa sepengetahuan kami?” marah pria berjubah itu, yang tidak lain adalah kakak dari Zahira.


“Tenang Hamdan! Tahan emosi kamu!” tegas Abi Atha dengan tenang, beliau tidak ingin putranya tidak bisa mengontrol emosinya. Apalagi sampai menimbulkan keributan di tempat itu.


“Tapi Abi, dia-” Hamdan tidak meneruskan perkataannya karena melihat abinya yang menatap tajam ke arahnya, lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah uminya yang juga menggelengkan kepala beliau pelan. Tanda agar Hamdan tidak membantah abinya.


“Di mana putri abi, Harun?” tanya abi Atha.


Harun dan Tasya hanya terdiam, tak ada seorang pun di antara mereka yang berniat untuk buka suara. Hingga pintu ruang operasi tersebut terbuka memperlihatkan beberapa suster tengah mendorong brankar yang terdapat seseorang terbaring di atasnya dengan kain yang menutupi seluruh tubuh orang tersebut.


Semua mata menatap ke arah pintu itu, dengan cepat Harun berlari menghampiri brankar itu dan memeluk tubuh istrinya. Ia menangis di atas tubuh Zahira yang telah terbujur kaku. Perbuatannya itu menimbulkan banyak pertanyaan yang muncul di benak ke empat orang yang berpakaian serba putih itu.


Hamdan dengan keras menarik tubuh Harun membuatnya tersungkur ke belakang.


Sedangkan abi Atha dan istrinya mendekat ke arah brankar itu dengan hati yang berdebar. Perlahan tangan abi Atha membuka kain yang menutupi wajah itu.


Deg.


Semua orang terdiam mematung di tempatnya, umi seketika terduduk dilantai dengan air mata yang berhasil lolos dari matanya. Istri Hamdan segera merengkuh tubuh ibu mertuanya ke dalam pelukannya.


Tuan Harun tersadar dari lamunannya tentang kejadian di masa lalu ketika merasakan seseorang menggoyangkan bahunya.


“Pa!” Zahra menggoyangkan bahu ayahnya yang terdiam sedari tadi.


“Maaf, Sayang. Waktu itu kakek kamu beserta keluarga besarnya belum sempat melihat kehadiran kamu. Mereka mengira kamu tidak terselamatkan bersama dengan kepergian ibu kamu,” terang tuan Harun dengan penuh penyesalan.


“Tapi kenapa Papa tidak memberitahu kepada mereka?” desak Zahra sedikit merasa kesal.


“Maaf, papa tidak ingin kehilangan kamu juga. Kakak kamu sudah tinggal dipesantren sejak usianya 3 tahun, saat itu Zahira ikut papa merantau ke kota, dan 4 tahun kemudian dia meninggalkan papa untuk selamanya.” Terlihat kesedihan di wajah pria paruh baya tersebut, terlihat adanya luka yang terpancar dari matanya.


“Kakek kamu meminta izin kepada papa untuk mengurus jenazah putrinya dan mengebumikannya di kampung halaman mereka, di perkampungan dalam tempat dimana pesantren kakek kamu didirikan. Sedangkan Zahran, papa menyerahkannya kepada Mas Hamdan untuk mendidiknya dan menganggapnya sebagai anak mereka, karena sampai saat ini mereka belum juga memiliki keturunan.”


“Papa jahat!” pekik Zahra lalu berjalan ke arah brankarnya dan naik ke atasnya menjatuhkan tubuhnya lalu menutupinya dengan selimut.


“Sayang ....”


Zain mencegah mertuanya yang hendak menyusul Zahra. “Biarkan dia menenangkan dirinya!”


Hai, salam dari author! Jangan lupa like dan sarannya ya .... Terima kasih. 🤗😻

__ADS_1


__ADS_2